Wednesday, August 14, 2019

Deru Rindu


Deru Rindu

Kau adalah semesta raya
Yang menempati ruang hampa
Dalam labirin semesta
Namun bayangmu menjelma nyata
Mengusik malam-malam yang fana
Aku ingin jelajahi di setiap sudut kotamu
Pada denting sunyi subuh bernyanyi
Aku ingin susuri sungai-sungai waktu
Yang mengalirkan deru rindu
Pada riak-riak arus jiwaku
Aku ingin mendaki pada ketinggian gunung-gunung asa
Yang tak sirna walau gelombang petaka datang mendera
Ingin kucumbui lembah ngarai tubuhmu dan kusesap aroma dupa dan doa
Aku ingin memeluk lubuk jiwamu kemudian tenggelam dalam keheningan dan kebeningan air matamu.
*Joyo Juwoto*

Monday, August 12, 2019

Bertanam Rindu di Lembah Grabagan

Bertanam Rindu di Lembah Grabagan
Oleh: Joyo Juwoto

Grabagan, di sepanjang jalanmu yang berliku
Aku tanam bunga-bunga rindu

Bukit-bukitmu cadas meranggas
Pancaran jiwa patriotikmu yang keras nan lugas

Ladang dan sawahmu resah
Tersapu kemarau membawa risau
Namun jiwamu basah oleh cinta dan kasih sayang

Grabagan
Lembah ngaraimu
Kokoh menopang  sandang pangan
Pada senyum batu-batu kapur

Grabagan
Pagi ini aku mengunjungimu
Membawakan secawan harapan
Juga senampan puja dan doa

Grabagan, 12 Agustus 2019

Tuesday, August 6, 2019

Santri Ponpes ASSALAM Bangilan gelar shalat ghaib untuk Mbah Moen

Santri Ponpes ASSALAM Bangilan gelar shalat ghaib untuk Mbah Moen
Oleh: Joyo Juwoto

Duka yang mendalam menyelimuti tanah air, Syaikhona KH. Maimoen Zubair atau biasa dipanggil Mbah Moen hari ini (06/08/2019) tinimbalan dening Allah swt.

Wafatnya Ulama sepuh yang dimiliki oleh Indonesia ini membuat banyak kalangan berduka cita. Di berbagai media sosial ucapan doa dan belasungkawa banyak menghiasi timeline para santri dan Muhibbin syaikhona Maimoen Zubair.

Mbah Moen memang bukan hanya milik pondok pesantren di Sarang, namun beliau ibarat telah menjadi matahari bagi santri dan masyarakat di seluruh Indonesia. Tidak heran jika berbagai kalangan sama mendoakan beliau.

Hampir seluruh group WhatsApp kebanjiran broadcast tentang kapundutnya Kiai kharismatik. Salah satu pesan dari broadcast tersebut berasal dari putra Mbah Moen, KH. Abdullah Ubab Maimoen:
*Instruksi dari KH Abdullah Ubab Maimoen :*

"Dimohon kepada seluruh alumni sarang dan muhibbin agar ikut mensholati ghoib janazah Syaikhina Maimoen setelah sholat maghrib bersama dengan jama'ahnya masing2".

Walau tanpa pesan tersebut saya yakin para santri akan memberikan takdzim dan penghormatan kepada Syaikhina dengan cara menggelar shalat ghaib.



Di pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, yang diasuh oleh KH. Yunan Jauhar juga menggelar shalat ghaib untuk Syaikhina Mbah Maimoen Zubair. Santri pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, melantunkan dzikir dan tahlil mendoakan beliau yang hari ini dishalatkan dan dimakamkan di pemakaman Ma'la kota Makkah.

Semua berduka, semua berurai air mata, senandung surat Yasin, bacaan tahlil, dan do'a-do'a para santri dan para Muhibbin di tanah air di langitkan mengiringi kepergian sang Ulama yang menjadi punjering kiai Nusantara. Semoga segala dosa beliau diampuni oleh Allah, dan amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Bibarakatiddu'a wa shuurati al-Fatihah, kagem Masyayikh dan guru-guru kita, wa terkhusus teruntuk beliau Syaikhina KH. Maimoen Zubair...al-Fatihah.

*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.*

Memetik Buah Hikmah dari Novel Edelweis Tak Selamanya Abadi

Memetik Buah Hikmah dari Novel Edelweis Tak Selamanya Abadi
Oleh: Joyo Juwoto

Bian, Tya, Sisil, Budhe, Rendra, Hana, Dio, Devan, Belinda, Lexy adalah beberapa nama tokoh yang saya ingat  yang diciptakan oleh Liaiko nama Pena dari Bu Guru  MAN Mojokerto 2 Yulia Yusuf Pratitis dalam novel perdananya yang berjudul "Edelweis Tak Selamanya Abadi (ETSA)". Sedang setting tempat peristiwa dalam novel ini berada Penanjakan, Surabaya, Banyuwangi, dan Lombok.

Sebagai novel perdana ETSA menurut saya berhasil membuat pembaca kagum dan terpesona dengan gaya bahasa dari Liaiko yang sangat nyastra. Membaca novel ETSA seperti dibawa memasuki taman kata yang indah bermekaran, menyusuri sungai diksi yang airnya jernih, dan juga sekaligus memasuki dunia petualangan rasa yang mendebarkan jiwa.

Ada perasaan sedih, gembira berbunga, marah yang menggelora, jiwa pengorbanan, ketololan, cinta yang tulus, dan tentunya dari perjalanan kisah dalam ETSA ini banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari alur takdir yang digariskan oleh penulis terhadap perjalanan tokoh-tokoh di dalam novel ini.

Cinta memang tidak pernah usai dikisahkan, tidak lekang dibincang, dan menjadi legenda sejak Adam dan Hawa dicipta Tuhan hingga akhirnya turun ke muka bumi. Banyak kisah mengabadi karena disentuh energi cinta, hingga kemudian diceritakan secara tutur tinular dari masa ke masa, di tulis oleh para pujangga dan menjadi legenda yang tak pupus oleh sang masa.

Agaknya kisah cinta yang rumit dari seorang Tya dan Bian  akan menjadi legenda layaknya Kisah Laila Majnun, Romeo Juliet, sampek Engtai, Hayati Zainuddin dan legenda kisah percintaan lainnya. Biar sang waktu yang akan berbicara.

Cara Mbak Liaiko menyajikan tulisan di dalam novel ETSA cukup enak untuk dibaca dan mudah dipahami. Karena disetiap paragraf dicantumkan susunan kalimat itu milik siapa. Model tulisan di novel ini seperti skenario dalam naskah drama atau film. Hal ini sangat memudahkan dalam memahami alur cerita dalam novel ETSA.

Secara umum novel mbak Lia ini sangat bagus, yang mungkin menjadi salah satu kekurangan dari novel ini adalah diterbitkan oleh "penerbit indie." Padahal ETSA memenuhi kualifikasi dan standar yang sangat layak untuk diterbitkan oleh penerbit mayor, agar jangkuan dan persebaran novel ini cukup luas. Semoga ke depan ada penerbit mayor yang meminang naskah novel romantis ini.

Sejak di awal sudah saya sebutkan bahwa gaya bahasa yang dipakai oleh mbak Liaiko cukup bagus dan nyastra banget. Pembaca akan dibawa melambung bahagia saat sang tokoh merasakan kebahagiaan, begitu juga ketika sang tokoh dilanda kesedihan, maka pembaca akan ikut merasakan pedih dan perihnya perasaan. Dalam hal gaya bahasa saya memberikan nilai mumtaz untuk penulis.

Mungkin yang menjadi kekurangan lain pada novel ini, yang saya tahu adalah penulisan kata ubah yang mendapat awalan me. Dalam kaidah bahasa Indonesia seharusnya menjadi mengubah, bukan merubah sebagaimana yang seringkali ditulis dalam novel ini. Selain itu saya mendapati kata Universitas Eiden di Belanda (hal. 136). Setahu saya yang benar adalah Leiden. Kemudian di halaman 1221 kata mungkin di tulis mungki, huruf n hilang.

Kekurangan-kekurangan dalam sebuah tulisan saya kira hal yang sangat wajar, toh pembaca bisa menguratori sebuah bahan bacaan baik dari isi maupun penulisannya. Walau tentu akan sangat bagus jika kesalahan penulisan maupun ejaan bisa diminimalisir sedemikian rupa.

Well, novel Edelweis Tak Selamanya Abadi cukup membuat saya tidak tidur hingga tengah malam, dan novel setebal 1300an halaman ini berhasil saya selesaikan sebelum denting pergantian jam berbunyi. Selamat membaca, semoga Anda bahagia.


*Joyo Juwoto, penikmat sastra.*