Thursday, September 12, 2019

Sains dan Dunia Islam

Sains dan Dunia Islam
Oleh: Joyo Juwoto

Sains dan Dunia Islam adalah sebuah buku tipis yang disarikan dari pidato yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abdus Salam, di hadapan para ilmuwan, tokoh masyarakat, dan pejabat-pejabat di Kuwait. Beliau adalah seorang ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel bidang fisika tahun 1981.

Buku ini setebal 36 halaman. Cukup tipis jika ditilik dari sebuah buku pada umumnya, walau demikian cukup berat bagi saya untuk membacanya. Kurang lebih dua mingguan buku itu selesai saya baca.

Bagi saya pribadi membaca hal yang berbau Sains, atau tulisan yang bergenre ilmiah cukup berat. Pusing kepala ini dibuatnya. Tidak seperti fiksi, yang kadang kalau sedang keranjingan membaca, saya bisa menyelesaikan membaca sebuah novel yang jumlah halamannya ratusan, bisa sekali atau dua kali duduk khatam.

Lha, ini untuk buku tipis saya harus menguras segala daya dan upaya agar bisa khatam. Paham tidak paham pokoknya saya baca. Alhamdulillah, pagi ini selesai terbaca. Walau saya sendiri sulit mengungkapkan apa yang telah saya baca.

Ada beberapa hal yang saya ingat dan saya pahami dari tulisan Prof. Dr. Abdus Salam, diantaranya adalah, bahwa umat Islam seharusnya mampu menguasai dan mengembangkan teknologi, karena itu bagian dari ilmu agama juga.

Dalam Al Qur'an sendiri banyak sekali petunjuk dan ayat tentang teknologi, dan itu perlu dipecahkan oleh umat Islam. Salah satu contoh petunjuk ilmu teknologi yang diberikan Al Qur'an sebagaimana dalam surat 34 ayat: 10-11 Allah berfirman yang artinya:
*Kami lunakkan besi bagi Daud, buat baju besi.*

Ayat ini menginformasikan tentang teknologi logam dan pertambangan yang harus dikuasai oleh umat Islam. Sebelum pertambangan dan teknologi logam sendiri ada, Al Qur'an sudah lebih dahulu menginformasikan hal ini kepada kita, umat Islam.

Namun sayangnya, umat Islam kurang peka dan tidak mau berfikir mendalam tentang hal ini. Kita masih suka beranggapan bahwa yang namanya ilmu agama itu yang hanya menyangkut kehidupan akhirat saja. Seperti ilmu tafsir, hadits, fikih, dan sejenisnya. Kalau ilmu-ilmu umum kita anggap bukan bagian dari ilmu agama.

Dulu sering kita mendengar, untuk apa belajar matematika, fisika, teknologi, toh itu tidak ditanyakan oleh malaikat di alam kubur, sehingga minat umat Islam terhadap ilmu-ilmu saints sangat rendah. Saya rasa ini adalah fakta yang bisa kita lihat di tengah masyarakat.

Dari pemahaman yang demikian, akhirnya umat Islam ketinggalan dalam dunia sains dan teknologi. Umat Islam sibuk berdebat masalah fighiyah, sibuk mempermasalahkan bilangan shalat tarawih, sibuk antara qunut dan tidak, sehingga energi kita habis hanya untuk perdebatan yang sia-sia.

Dari buku tipis yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdus Salam ini seyogyanya menyadarkan kepada kita semua umat Islam bahwa Sains dan Teknologi wajib hukumnya dipelajari dan dikuasai oleh umat Islam, tanpa meninggalkan ilmu-ilmu yang lain tentunya. Intinya harus seimbang antar ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Bukankah sebelum masa pencerahan/aufklarung dunia barat terbit, umat Islam yang terlebih dahulu menguasai berbagai pengetahuan dan teknologi. Sebut saja Alkhawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Haitam, Jabir bin Hayyan, adalah bukti umat Islam melek sains dan teknologi.

Akhir kata, kita umat Islam  harus bisa mewujudkan doa sapu jagad yang sering kita lantunkan di setiap doa kita "Rabbana aatina fiddun-ya Hasanah, wa file aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban naar".

Saya tutup tulisan saya ini dengan perkataan Al Kindi yang dinukil dalam bukunya Prof. Dr. Abdus Salam di lembar pertama:
"Maka bagi kita tidaklah pada tempatnya untuk malu mengakui kebenaran dan mencernakannya, dari sumber mana pun ia datang kepada kita. Bagi mereka yang menghargai kebenaran, tak ada sesuatu yang lebih tinggi nilainya selain kebenaran itu sendiri; dan ia Tak akan pernah meremehkan ataupun merendahkan martabat mereka yang mencarinya". Sekian, semoga bermanfaat.


*Joyo Juwoto. Santri Kreweng, tinggal di Bangilan Tuban.*

Tuesday, September 3, 2019

Senandung Kidung Kendeng

Senandung Kidung Kendeng
Oleh: Joyo Juwoto

Wadag ragamu laksana pohon jati yang kokoh menghunjam dalam,
pada padas-padas keras

Jiwa batinmu putih, sesuci bebukitan kendeng yang memeluk kesederhanaan, dalam harmoni cinta, pada semesta raya

Di kemarau yang bisu,
Jiwamu berseruling hening,
bersikep laku, berdharma bakti pada bumi aji

Semilir angin berhembus lampus, menerpa daun dan ranting-ranting kering

Daun-daun pun meranggas panas, luruh terjatuh, gugur tersungkur mengubur udzur

Sepanjang waktu jiwaku didera kemarau rindu, pada seulas senyummu, yang menjelma batu dan debu-debu

Pada sepi yang menyendiri, hatiku berbisik lirik, menyebut namamu penuh syahdu

Bukit kendeng
Pohon jati
Sikep
Bersujud keharibaan ibu bumi pertiwi
Nyawiji dalam Saminisme sejati


*Bangilan, 03 September 2019.*

Sunday, September 1, 2019

Inilah Tempat Pertama kalinya Kendurian dilaksanakan oleh Sunan Bonang

Inilah Tempat Pertama kalinya Kendurian dilaksanakan oleh Sunan Bonang

Dalam sarasehan budaya haul ke 510 Sunan Bonang, bersama KH. Agus Sunyoto, yang dilaksanakan di Aula Kampus Stitma Tuban (Ahad, 25/08/2019), KH. Agus Sunyoto banyak membedah jejak langkah yang dilakukan Sunan Bonang dalam mendakwahkan Islam di Nusantara.

Menurut KH. Agus Sunyoto, yang juga sebagai ketua pusat Lesbumi Nahdlatul ulama ini Sunan Bonang adalah salah satu waliyullah yang memiliki banyak keahlian dan metode dalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa.

Salah satu fiqh dakwah Sunan Bonang di tengah masyarakat saat itu adalah ritual kendurian. Jika kita hari ini melihat kendurian sebagai kegiatan membaca kalimat thayyibah, yang kemudian dilanjutkan dengan  makan-makan, dengan lauk panggang ayam, maka tidak demikian dengan adat kenduren yang dilakukan oleh masyarakat di jaman Kanjeng Sunan Bonang.

Jika kita menelisik jejak perjuangan Sunan Bonang dalam rangka membuat upacara kenduren, maka akan kita dapati betapa kendurian saat itu tidak sesederhana seperti yang kita lihat dan kita lakukan seperti hari ini.

Cikal bakal kendurian sudah ada sejak zaman dahulu. Di tanah Jawa khususnya di wilayah Kediri ada sekelompok pemeluk agama BairawaTantrayana.

Kendurian yang dilaksanakan oleh kelompok Bairawa ini cukup mengerikan. Ritualnya namanya Panca Makara, atau disebut Ma5.  Sesaji untuk upacara Panca Makara berupa daging manusia, sedang minumannya adalah darah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kiai Agus Sunyoto.

Oleh karena itu Sunan Bonang mengubah upacara Panca Makara dengan istilah kendurian seperti yang kita kenal sekarang. Tentu kita tidak bisa  membayangkan jika upacara Panca Makara masih dilakukan hingga saat ini. Ngeri.

Tempat pertama kali Sunan Bonang mengadakan upacara kendurian berada di sebuah langgar yang ia bangun. Tepatnya di desa Singkal Nganjuk. Sayangnya langgar itu tidak meninggalkan bekas. Petilasannya pun tidak ada. Demikian ungkap Kiai yang sangat tekun meneliti sejarah keislaman di Nusantara dan mengumpulkan ribuan manuskrip kuno itu. *Joyo Juwoto*

Wednesday, August 14, 2019

Deru Rindu


Deru Rindu

Kau adalah semesta raya
Yang menempati ruang hampa
Dalam labirin semesta
Namun bayangmu menjelma nyata
Mengusik malam-malam yang fana
Aku ingin jelajahi di setiap sudut kotamu
Pada denting sunyi subuh bernyanyi
Aku ingin susuri sungai-sungai waktu
Yang mengalirkan deru rindu
Pada riak-riak arus jiwaku
Aku ingin mendaki pada ketinggian gunung-gunung asa
Yang tak sirna walau gelombang petaka datang mendera
Ingin kucumbui lembah ngarai tubuhmu dan kusesap aroma dupa dan doa
Aku ingin memeluk lubuk jiwamu kemudian tenggelam dalam keheningan dan kebeningan air matamu.
*Joyo Juwoto*

Monday, August 12, 2019

Bertanam Rindu di Lembah Grabagan

Bertanam Rindu di Lembah Grabagan
Oleh: Joyo Juwoto

Grabagan, di sepanjang jalanmu yang berliku
Aku tanam bunga-bunga rindu

Bukit-bukitmu cadas meranggas
Pancaran jiwa patriotikmu yang keras nan lugas

Ladang dan sawahmu resah
Tersapu kemarau membawa risau
Namun jiwamu basah oleh cinta dan kasih sayang

Grabagan
Lembah ngaraimu
Kokoh menopang  sandang pangan
Pada senyum batu-batu kapur

Grabagan
Pagi ini aku mengunjungimu
Membawakan secawan harapan
Juga senampan puja dan doa

Grabagan, 12 Agustus 2019

Tuesday, August 6, 2019

Santri Ponpes ASSALAM Bangilan gelar shalat ghaib untuk Mbah Moen

Santri Ponpes ASSALAM Bangilan gelar shalat ghaib untuk Mbah Moen
Oleh: Joyo Juwoto

Duka yang mendalam menyelimuti tanah air, Syaikhona KH. Maimoen Zubair atau biasa dipanggil Mbah Moen hari ini (06/08/2019) tinimbalan dening Allah swt.

Wafatnya Ulama sepuh yang dimiliki oleh Indonesia ini membuat banyak kalangan berduka cita. Di berbagai media sosial ucapan doa dan belasungkawa banyak menghiasi timeline para santri dan Muhibbin syaikhona Maimoen Zubair.

Mbah Moen memang bukan hanya milik pondok pesantren di Sarang, namun beliau ibarat telah menjadi matahari bagi santri dan masyarakat di seluruh Indonesia. Tidak heran jika berbagai kalangan sama mendoakan beliau.

Hampir seluruh group WhatsApp kebanjiran broadcast tentang kapundutnya Kiai kharismatik. Salah satu pesan dari broadcast tersebut berasal dari putra Mbah Moen, KH. Abdullah Ubab Maimoen:
*Instruksi dari KH Abdullah Ubab Maimoen :*

"Dimohon kepada seluruh alumni sarang dan muhibbin agar ikut mensholati ghoib janazah Syaikhina Maimoen setelah sholat maghrib bersama dengan jama'ahnya masing2".

Walau tanpa pesan tersebut saya yakin para santri akan memberikan takdzim dan penghormatan kepada Syaikhina dengan cara menggelar shalat ghaib.



Di pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, yang diasuh oleh KH. Yunan Jauhar juga menggelar shalat ghaib untuk Syaikhina Mbah Maimoen Zubair. Santri pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, melantunkan dzikir dan tahlil mendoakan beliau yang hari ini dishalatkan dan dimakamkan di pemakaman Ma'la kota Makkah.

Semua berduka, semua berurai air mata, senandung surat Yasin, bacaan tahlil, dan do'a-do'a para santri dan para Muhibbin di tanah air di langitkan mengiringi kepergian sang Ulama yang menjadi punjering kiai Nusantara. Semoga segala dosa beliau diampuni oleh Allah, dan amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Bibarakatiddu'a wa shuurati al-Fatihah, kagem Masyayikh dan guru-guru kita, wa terkhusus teruntuk beliau Syaikhina KH. Maimoen Zubair...al-Fatihah.

*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.*

Memetik Buah Hikmah dari Novel Edelweis Tak Selamanya Abadi

Memetik Buah Hikmah dari Novel Edelweis Tak Selamanya Abadi
Oleh: Joyo Juwoto

Bian, Tya, Sisil, Budhe, Rendra, Hana, Dio, Devan, Belinda, Lexy adalah beberapa nama tokoh yang saya ingat  yang diciptakan oleh Liaiko nama Pena dari Bu Guru  MAN Mojokerto 2 Yulia Yusuf Pratitis dalam novel perdananya yang berjudul "Edelweis Tak Selamanya Abadi (ETSA)". Sedang setting tempat peristiwa dalam novel ini berada Penanjakan, Surabaya, Banyuwangi, dan Lombok.

Sebagai novel perdana ETSA menurut saya berhasil membuat pembaca kagum dan terpesona dengan gaya bahasa dari Liaiko yang sangat nyastra. Membaca novel ETSA seperti dibawa memasuki taman kata yang indah bermekaran, menyusuri sungai diksi yang airnya jernih, dan juga sekaligus memasuki dunia petualangan rasa yang mendebarkan jiwa.

Ada perasaan sedih, gembira berbunga, marah yang menggelora, jiwa pengorbanan, ketololan, cinta yang tulus, dan tentunya dari perjalanan kisah dalam ETSA ini banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari alur takdir yang digariskan oleh penulis terhadap perjalanan tokoh-tokoh di dalam novel ini.

Cinta memang tidak pernah usai dikisahkan, tidak lekang dibincang, dan menjadi legenda sejak Adam dan Hawa dicipta Tuhan hingga akhirnya turun ke muka bumi. Banyak kisah mengabadi karena disentuh energi cinta, hingga kemudian diceritakan secara tutur tinular dari masa ke masa, di tulis oleh para pujangga dan menjadi legenda yang tak pupus oleh sang masa.

Agaknya kisah cinta yang rumit dari seorang Tya dan Bian  akan menjadi legenda layaknya Kisah Laila Majnun, Romeo Juliet, sampek Engtai, Hayati Zainuddin dan legenda kisah percintaan lainnya. Biar sang waktu yang akan berbicara.

Cara Mbak Liaiko menyajikan tulisan di dalam novel ETSA cukup enak untuk dibaca dan mudah dipahami. Karena disetiap paragraf dicantumkan susunan kalimat itu milik siapa. Model tulisan di novel ini seperti skenario dalam naskah drama atau film. Hal ini sangat memudahkan dalam memahami alur cerita dalam novel ETSA.

Secara umum novel mbak Lia ini sangat bagus, yang mungkin menjadi salah satu kekurangan dari novel ini adalah diterbitkan oleh "penerbit indie." Padahal ETSA memenuhi kualifikasi dan standar yang sangat layak untuk diterbitkan oleh penerbit mayor, agar jangkuan dan persebaran novel ini cukup luas. Semoga ke depan ada penerbit mayor yang meminang naskah novel romantis ini.

Sejak di awal sudah saya sebutkan bahwa gaya bahasa yang dipakai oleh mbak Liaiko cukup bagus dan nyastra banget. Pembaca akan dibawa melambung bahagia saat sang tokoh merasakan kebahagiaan, begitu juga ketika sang tokoh dilanda kesedihan, maka pembaca akan ikut merasakan pedih dan perihnya perasaan. Dalam hal gaya bahasa saya memberikan nilai mumtaz untuk penulis.

Mungkin yang menjadi kekurangan lain pada novel ini, yang saya tahu adalah penulisan kata ubah yang mendapat awalan me. Dalam kaidah bahasa Indonesia seharusnya menjadi mengubah, bukan merubah sebagaimana yang seringkali ditulis dalam novel ini. Selain itu saya mendapati kata Universitas Eiden di Belanda (hal. 136). Setahu saya yang benar adalah Leiden. Kemudian di halaman 1221 kata mungkin di tulis mungki, huruf n hilang.

Kekurangan-kekurangan dalam sebuah tulisan saya kira hal yang sangat wajar, toh pembaca bisa menguratori sebuah bahan bacaan baik dari isi maupun penulisannya. Walau tentu akan sangat bagus jika kesalahan penulisan maupun ejaan bisa diminimalisir sedemikian rupa.

Well, novel Edelweis Tak Selamanya Abadi cukup membuat saya tidak tidur hingga tengah malam, dan novel setebal 1300an halaman ini berhasil saya selesaikan sebelum denting pergantian jam berbunyi. Selamat membaca, semoga Anda bahagia.


*Joyo Juwoto, penikmat sastra.*

Wednesday, July 31, 2019

Senandung Rindu "Nadiku Bernada Kamu"

Senandung Rindu "Nadiku Bernada Kamu"
Oleh: Joyo Juwoto

"Nadiku Bernada Kamu", sebuah kalimat yang sangat puitis yang menjadi judul buku yang ditulis oleh Sahabat Nindya Azalea. Seorang penulis produktif yang sekarang sedang menyelesaikan studi matematikanya di bangku perkuliahan.

Akhwat lulusan pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban ini termotivasi untuk menulis setelah bergabung di komunitas Kali Kening, sebuah komunitas yang bergerak di bidang literasi yang ada di kota Bangilan Tuban.

Buku Nadiku Bernada Kamu, bukanlah buku yang pertama ditulisnya, sudah banyak tulisan dari mahasiswi IKIP Bojonegoro ini yang diterbitkan. Buku pertamanya berjudul "Let's move on, bikin patah hati selezat coklat".

Selain itu dari tangan rajinnya banyak tulisan yang dihasilkan dan dimuat di radar Bojonegoro, serta tulisan yang dimuat pada kolom Citizen Reporter milik koran Harian Surya.

Saya sangat beruntung sebelum buku Nadiku Bernada Kamu diterbitkan, saya mendapatkan kehormatan memberikan endors pada buku tersebut. "Membaca puisi bagi saya adalah cara menyelam ke dalam palung hati yang paling dalam, buku yang ditulis oleh Nindya Azalea yang berjudul Nadiku Bernada Kamu bisa menjadi salah satu telaga kata, di mana kita bisa menyelam di tiap bait-bait puisinya yang mempesona." Begitu endors yang saya berikan.

Ketika membaca judulnya saja, saya sudah dibuat terpesona oleh calon buku itu. Selain puitis kalimat yang menjadi judul buku puisi tersebut, saya  mencurigai mengandung senandung perasaan dari si penulis itu sendiri.

Di lembar pertama pada buku tersebut menurut saya bisa menjadi lubang rahasia untuk menengok isi buku bahkan isi hati si penulis. Coba perhatikan baik-baik puisi yang menjadi pembuka buku di halaman iii.

"Kamu senja di bumiku
Mempesona dalam ajakan bait-bait syahdu
Dengan tinta kerinduan yang tak pernah beku
Berkali-kali tumpah dalam aksara temu
Yang menjadi candu
Kini...
Do'a, mimpi, dan asaku hanya kamu."

Kasih standing applaus donk....baguskan puisinya mbak Nindya ini? Saya rasa siapapun yang membaca puisi tersebut akan meleleh hatinya, jaman es mencair akan berulang kembali, dan kalian tentu akan bersenang hati menjadi pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkan sang tuan putri...haha...apaan sich. Gak nyambung blas ya?.

Saya menulis ini pada saat sedang sadar sesadar-sadarnya, saya tidak sedang dipengaruhi oleh candu atau apapun yang membius kesadaran saya, tetapi saya tidak bisa memungkiri kadang bait-bait puisi justru bisa menjadikan saya mabuk kepayang.

Mohon maaf sedang dirundung wuyung dalam secawan sajak-sajak  Nadiku Bernada Kamu. Salam.


*Bangilan, 31 Juli 2019*

I'm Ready For Lomba Puisi Nasional

*I'm Ready For Lomba Puisi Nasional*
Oleh: Joyo Juwoto

Sekitar tanggal 13 bulan Juli yang lalu, tak sengaja saya membuka akun Instagram, di salah satu timeline teman, ada pamflet yang bunyinya "I'm Ready For Lomba Puisi Nasional". Biasanya dengan lomba-lomba apapun saya sering mengabaikan, tapi entah kali ini terbetik penasaran di dalam dada. Ingin hati ini mengikuti lomba puisi  Nasional yang diadakan oleh akun Instagram @pemudapena.id.

Akun Instagram pemudapena sendiri diikuti oleh oleh 29.9 ribu follower, saya kira akan banyak yang mengikutinya, apalagi ini eventnya adalah event nasional. Tentu para penyair dari berbagai wilayah akan berdatangan untuk meramaikan kompetisi dan pertarungan diajang bergengsi ini.

Hadiah yang ditawarkan dalam event nasional ini cukup menggoda, juara pertama, kedua dan ketiga mendapatkan paket liburan gratis jalan-jalan ke Singapura, Malaysia, dan Thailand, juara harapan mendapatkan uang saku, dan 30 karya terbaik akan mendapatkan hardpiagam, medali dan buku. Wow...!!! pengin rasanya jalan-jalan ke luar negeri berbekal nggombal dalam bait-bait puisi. Bismillah saya harus ikut lomba.

Setelah menelusuri akun @pemudapena.id, saya pun menyiapkan puisi dan hal-hal yang akan saya kirimkan untuk lomba tersebut. Deadline lomba tanggal 16 Juli 2019, karena waktunya mepet saya segera mengirimkan puisi saya. Ada tiga judul puisi yang saya kirim, yaitu Sajak Air Mata, Seraut Wajah Tuhan, dan Hikayat Senyuman.

Alhamdulillah, sebelum deadline puisi-puisi saya berhasil saya kirimkan, tinggal menunggu pengumuman lomba yang akan dirilis tanggal 28 Juli 2019.

Ada yang bilang menunggu adalah pekerjaan membosankan, namun bagi saya menunggu adalah saat-saat di mana kita bisa intim dan benar-benar bisa merasakan akan kesejatian dengan apa yang sedang kita tunggu. Budayawan Sujiwo Tejo mengatakan: "Yang paling sanggup menerjemahkan cinta hanyalah penantian, Kekasih.” haha....gak ada hubungannya kali ya?

Setelah menunggu penuh  rindu di bawah rindangnya pohon randu, tanpa saya minta, tanpa saya usahakan tanggal masa pengumuman pemenang lomba puisi Nasional pun tiba. Pagi saya membuka Instagram untuk melihat pengumuman, tapi ternyata belum ada, baru menjelang senja penghabisan pengumuman itu dirilis di timeline @pemudapena.id.

Saya lihat pamflet pemenang pertama, kedua, dan ketiga. Ternyata nama saya tidak ada di sana. Alhamdulillah gumam saya. Ternyata saya bukan termasuk raja gombal, buktinya saya tidak masuk kategori juara. Begitu pula ketika pengumuman juara harapan satu, dua, dan tiga, lagi-lagi nama saya tidak ada. Fix, saya bukan bagian dari raja gombal Nasional. Haha...

Setelah tidak masuk kategori juara dan juara harapan, saya masih punya harapan masuk 30 besar. Sayangnya saat itu  yang kategori 30 besar belum dirilis, dan diminta menunggu sampai nanti tengah malam. Alamat begadang nih.

Harap-harap cemas tentu ada, tapi karena sudah tidak masuk kategori yang jalan-jalan gratis maka saya lebih baik menunggu rilis 30 besar sambil tidur saja. Ayem.

Di sepertiga malam saya terbangun, jika ada yang mengatakan bahwa orang berkacamata itu tidak setia, karena bangun tidur yang dicari kacamatanya, bukan istri atau suaminya, maka saya yang setia istri, bangun yang saya cari adalah hp, karena istri masih di samping dan tidak perlu saya cari.

Setelah mode data saya aktifkan, saya pun membuka Instagram. Pengumuman kategori 30 puisi terpilih sudah dirilis. Setelah saya lihat nama saya  ada di sana diurutan nomer sembilan.   Urutan nomor satu sampai enam adalah milik sang juara dan juara harapan, sedang saya berada di urutan ke sembilan.

 Alhamdulillah, walau batal menjadi jagoan nggombal nasional, ternyata saya masih masuk kategori nomer 9 raja gombal Nasional. Astaghfirullah, taubat, taubat.

Setelah masuk kategori 30 besar lomba puisi Nasional, kami oleh panitia dibuatkan group khusus untuk memudahkan koordinasi. Hadiah yang akan kami terima dikirimkan besok tanggal 5 Agustus 2019. Alhamdulillah, saatnya kembali memadu rindu untuk menunggu.

*Bangilan, 31 Juli 2015*

Saturday, July 20, 2019

Pada Pucuk Pinus

Pic: www.xtsquare.co.id
Pada Pucuk Pinus
Oleh: Joyo Juwoto


Di ketinggian pucuk pinus pada ranting yang aus
Angin menderu membawa kabar rindu
Pada  semesta yang bertasbih syahdu

Pohon-pohon Pinus saling berjajar, khusyu' bertafakur
dalam jejak bayang alif menjulang tinggi ke puncak langit

Dedaunan pun turut berdzikir,
dalam kesunyian gunung-gunung dan hutan

Rumput-rumput dan ilalang,
memberikan dekapan rindu dan kasih sayang yang luas membentang

Lembah,  ngarai, dan sungai-sungai berselimut kabut
Menyebut asma-asma-Mu

Bayang-bayang Pinus mengambang tenang
Dalam bening air telaga
Membasuh keruh noda-noda jelaga

Semesta raya memeluk keheningan, dalam melodi desir sang bayu
yang menerpa Pinus rentamu.

Pacet, 28/06/19

Thursday, July 18, 2019

Hikayat Wanita dengan seekor kucing yang bahagia dalam pangkuannya

Hikayat Wanita dengan seekor kucing yang bahagia dalam pangkuannya
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam terang purnama, rembulan tersenyum penuh pesona.
Lekuk pipinya merona
Memendar  binar cahaya, memandikan anak-anak desa selepas isya.

Selembar tikar digelar, di sebuah halaman rumah, sambil menikmati sajian cerita, dari sang kakek ihwal seekor kucing yang bahagia, dalam pangkuan seorang wanita.

Disetiap purnama ke-lima belas, wanita itu selalu hadir dengan senyumannya, dan juga seekor kucing meringkuk bahagia.
Sedang sang kakek kembali bercerita sama di halaman rumah, pada selembar tikar dan juga anak-anak desa yang menungguinya.

Siklus purnama selalu bercerita tentang wanita dan kucingnya, yang menebar senyum  bahagia pada semesta raya, sambil menunggu penuh kerinduan pada  sang kekasih yang menjemputnya pulang.

Wanita yang bahagia dengan kucing dipangkuannya itu selalu setia, walau menunggu seribu purnama, ia selalu hadir dengan senyuman yang jelita.
Wanita itu purnama, kucingnya adalah cahaya.


*Di bawah cahaya purnama, 18 Juli 2019*

Sunday, July 14, 2019

Bernostalgia dengan Senja dan burung-burung pemakan kenangan

Bernostalgia dengan Senja dan burung-burung pemakan kenangan
Oleh: Joyo Juwoto

Jika senja datang dipastikan kondisinya sedang damai dan sejuk-sejuknya, semilir angin sepoi-sepoi nan melenakan, kecuali jika senja datang diiringkan dengan hujan dan badai, hal ini tentu pengecualian. Oleh karena itu, tidak heran jika orang-orang yang menyukai senja.

Saya tidak tahu, sejak kapan tepatnya orang-orang menyukai senja, walau banyak pula yang berburu sunrise juga, tetapi biasanya di kalangan seniman banyak menyukai senja dibandingkan dengan terbitnya fajar. Terbukti banyak sekali puisi tentang senja, lukisan tentang senja, maupun syair lagu yang juga bertema tentang tenggelamnya matahari ini.

Sastrawan ternama Sena Gumira Ajidarma menulis cerpen "Sepotong Senja untuk Pacarku", Chairil Anwar menulis puisi "Senja di Pelabuhan Kecil", dan Sujiwo Tejo juga termasuk salah satu seniman yang menyukai senja. Dalam cuitan Twitternya ia menulis: "Kenapa aku suka senja, karena bangsa ini kebanyakan pagi, kekurangan senja. Kebanyakan gairah, kurang perenungan" begitu yang dituliskannya dalam #talijiwo.

Berbicara mengenai senja, saya sendiri punya beberapa puisi tentang matahari yang mulai tenggelam dan hari yang mulai malam. Saya entah suka entah tidak tetapi ternyata senja berhasil menggerakkan pena saya untuk menulis tentang senja. Namun, kali ini bukan itu yang ingin saya bahas.


Di sini saya menyediakan waktu khusus bernostalgia dengan sebuah buku yang di tulis oleh salah satu anggota komunitas kali kening. Judul bukunya "Senja dan Burung-burung Pemakan Kenangan". Buku ini ditulis oleh Adib Riyanto, seorang lelaki yang meneladani Sujiwo Tejo dalam merenungkan siklus alam di penghujung hari ini.

Dalam pengantar bukunya, Mas Adib sendiri mengakui kalau dirinya adalah orang yang menyukai senja. Dari rasa suka dan perenungan tentang senja ini ia tuangkan dalam cerpen-cerpennya.

Cerita-cerita yang ditulis oleh Mas Adib ini cukup melankolis bagi saya, karena sudut ceritanya banyak mengambil kisah-kisah keseharian penduduk desa. Saya merasa diajak bernostalgia oleh penulis untuk melihat kembali masa kecil saya di desa.

Selain membicarakan tentang senja, penulis juga membumbui dengan kisah asmara sepasang muda-mudi yang juga menyertakan senja di dalamnya. Kalau saya tidak salah menduga bagi penulis senja adalah sebuah kenangan yang indah dan susah untuk dilupakan. Entah senja yang bagaimana yang pernah dilalui oleh si penulis ini.

Ada sebanyak 13 cerpen dalam buku Senja dan Burung-burung Pemakan Kenangan ini. Buku ini adalah buku perdana yang diterbitkan oleh penulisnya yang kemudian dilaunching dalam festival Kali Kening tahun 2017 bersama dengan 15 judul buku lainnya.

Saat saya melihat sampul buku yang berwarna biru tua bergambar seekor burung, yang berada di rak buku saya tadi siang, saya kemudian terbawa kenangan dan merindukan moment bersama komunitas kali kening yang merintis kebahagiaan dengan membaca dan menulis.

*Bangilan, di sudut kerinduan, 14 Juli 2019*

Saturday, June 29, 2019

Pada Secangkir Teh di Hutan Pinus

Pada Secangkir Teh di Hutan Pinus
Oleh: Joyo Juwoto

Di sela-sela bebatuan dan percikan air sungai
Diantara bayang-bayang pinus dan kabut yang mulai turun
Dingin terasa

Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan
Harum mewangi menerbangkan angan dan mimpi

Pada secangkir teh dengan aroma wangi bunga melati
Menghangat gairah cinta dan rinduku padamu

Aku peram seribu rindu
Aku pendam sejagad cinta
Pada lembah dan ngarai
Pada percik air sungai
Pada gunung-gunung
Dan pada semesta raya

Aku dekap jagad semesta
Pada setitik debu yang berhamburan di aspal dan jalan
Aku arungi luasnya samudera
pada setitik air embun yang menggantung di pucuk daun

Pacet, 28-06-2019

Monday, June 24, 2019

Selaksa Do'a dan Air Mata

Selaksa Do'a dan Air Mata
Oleh: Joyo Juwoto

Sajak-sajakmu sungguh memilu
Untaian kalimat di setiap baitmu terasa mengharu sendu
Diksi-diksimu mewakili jeritan hati yang tersakiti

Ada kepahitan yang kau sembunyikan dalam senyuman
Ada kepedihan yang kau simpan dalam genggaman

Kusediakan selaksa doa tuk sembuhkan sembilu-sembilu kepedihan

Kesediakan selaksa air mata
Tuk membasuh luka duka lara

Ah, selaksa do'a dan air mata
Kupanjatkan ke langit jiwa
Kugelar dalam altar suci permohonan

Kutaburkan bunga-bunga doa dan harapan
Memohon anugerah dan kekuatan
Dalam dekapan cinta dan  kasih sayang Tuhan

Bangilan, 23 Juni 2019

Saturday, June 22, 2019

Mekar Sakura di Langit Senja

Mekar Sakura di Langit Senja

Di pelataran senja yang merona
saat langit berwarna jingga
Sakura tersenyum indah menggoda jiwa

Apapun tentangmu sakuraku,  adalah citra keindahan
Mekarmu memacu harapan
Bagi cinta dan kesetiaan

Mekar Sakura di langit senja
Bercerita di setiap helai kelopakmu
Pada binar yang memerah indah nan merekah

Mempesona bagi jiwa-jiwa
Yang terbakar  asmaradahana

Pada sepasang kekasih
Yang berjanji di penghujung musim semi
Saling bertemu dalam taman rindu yang menggebu

Mekar Sakura di langit senja
Menyatu dalam dekap ruang rindu

Mekar Sakura di langit senja
Meluruh runtuh
Dalam kesatuan jiwa.


*Bangilan, Di bawah pohon imaji Sakura*.

Friday, June 21, 2019

Mata Air Keberkahan Bumi Tremas Pacitan

Mata Air Keberkahan Bumi Tremas Pacitan
Oleh: Joyo Juwoto

Pesantren Tremas Pacitan berada di ujung selatan pulau Jawa, jaraknya dari tempat saya tinggal sekitar 200 KM. Untuk mencapai lokasi pesantren bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Medan dan viewnya  cukup bagus bagi yang suka petualang.

Secara umum letak geografis  daerah Pacitan bagian utara sebagian besar berkontur pegunungan yang kering dan panas di musim kemarau,  sedang Pacitan bagian selatan berupa pantai-pantai yang cukup menawan.

Jalur dari Ponorogo menuju Pacitan cukup indah namun sangat menantang. Di satu sisi jalan raya Pacitan berupa tebing-tebing yang cukup tinggi, sedang di sisi lainnya adalah bentangan sungai. Sayangnya waktu saya lewat kondisi sungai mengering. Saya membayangkan betapa indahnya jika sungainya mengalir jernih. Eksotik sekali.

Alhamdulillah, walau bukan sebagai santri pondok Tremas, kemarin saat liburan lebaran saya bersama teman-teman santri berkesempatan menginjakkan kaki kami di bumi Tremas yang penuh barakah. Kami sowan kepada Kiai Luqman, salah satu pengasuh pesantren Tremas generasi ke enam.

"Pondok pesantren Tremas termasuk salah pondok tertua di Nusantara". "Pondok Tremas ini berdiri sekitar tahun 1820 M, sekitar jaman Pangeran Diponegoro." Begitu dawuhnya Mbah Yai Luqman saat kami sowan  ke ndalem beliau.

Saya sendiri awal kali mendengar dan mengenal nama Pondok Tremas dari dawuhnya Mbah Yai saya,  Almaghfurlah KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Saat itu beliau bercerita kalau adik iparnya nyantri di sana.

Menurut kisah yang beredar di kalangan santri, jika mondok di Tremas kuat Istiqomah mondok dan tidak pulang selama tiga tahun insyaallah menjadi orang yang alim, kalaupun jika tidak alim insyaallah diganjar barakah gampang golek rejeki. Itu yang pernah diceritakan oleh Mbah Yai saya dulu.

Kisah seperti ini tentu bukan isapan jempol semata, tercatat banyak santri Tremas yang berhasil dan akhirnya menjadi kiai yang alim dan masyhur. Bahkan Kiai Mahfudz At-Termasie termasuk punjernya Kiai di Nusantara. Pendiri NU Mbah Hasyim Asy'ari  pernah nyantri di Tremas, KH. Munawir Krapyak Jogjakarta juga santri Tremas, salah satu pendiri Gontor, KH. Sahal juga pernah menjadi santri di Tremas. Dan masih banyak Kiai-kiai yang pernah menyesap mata air keberkahan dari pesantren Tremas ini.

Semoga keberkahan bumi Tremas menyebar semakin luas, dan memberikan keberkahan dan kebaikan bagi bumi Nusantara tercinta ini. Aamiin. Salam Santri sowan lan Sungkeman.

Thursday, June 20, 2019

Keajaiban Sowan kepada Kiai Luqman Harits di Tremas Pacitan

Keajaiban Sowan kepada Kiai Luqman Harits di Tremas Pacitan
Oleh: Joyo Juwoto

Mumpung suasana masih lebaran dan pesantren di mana saya belajar masih libur, saya bersama kang-kang santri lainnya berkunjung ke beberapa Kiai, sebagaimana beberapa tulisan yang telah saya posting sebelumnya.

Jika kemarin saya menulis tentang Mbah Moen, Gus Qoyyum, dan insyaallah nanti berlanjut mengenai Gus Ulil dan Mbah Mus,  juga tentu Gus Baha' di mana saya sowan ke beliau-beliau, maka edisi tulisan ini saya ingin sedikit bercerita tentang perjalanan kami ke Pacitan.

Semoga tulisan-tulisan saya dari hasil pengalaman sowan ke beberapa kiai ada manfaatnya, khususnya tentu buat saya pribadi. Setidaknya sowan kami kepada para kiai adalah salah satu upaya mendekatkan diri kepada orang sholeh dan juga sebagai wujud mahabbah santri kepada Kiai.

Ketika berbicara tentang Pacitan mungkin yang terbayang di benak kita adalah tanah kelahiran Pak Susilo Bambang  Yudhoyono (SBY), tapi jangan lupa di Tremas ada sebuah pesantren tertua ke-5 di Nusantara, yaitu Pondok pesantren Tremas Pacitan yang telah berusia sekitar 200 tahun.

Nama pesantren Tremas cukup dikenal dan menjadi jujugan para santri dalam menuntut ilmu di Indonesia, ini semua tidak terlepas dari peran kiai KH. Muhammad Mahfudz At-Termasie salah seorang ulama Nusantara yang produktif dalam menulis kitab.

Para santri dari generasi ke generasi tentu memiliki kisah dan pengalaman yang cukup menarik dan berkesan dalam perjalanan hidupnya, karena bagi santri pesantren bukan berarti sekedar tempat menuntut ilmu se
mata, namun lebih daripada itu pesantren adalah bagian dari kekudusun atau punden bagi kehidupan seorang santri.

Dalam khasanah pesantren, kisah-kisahnya kadang tidak masuk di akal, namun nyata adanya. Saya sendiri pernah mendengar salah satu cerita tentang pesantren Tremas dari Mbah Yai saya, di lain waktu nanti akan saya ceritakan. Untuk tulisan ini saya akan bercerita tentang hal yang saya anggap sebagai sebuah keajaiban.

Ceritanya begini, setelah saya dan temen-temen santri sowan di ndalemnya kiai Luqman Harits, kami pun berpamitan. Tentunya setelah kami seruput teh yang disuguhkan kepada kami. Selain mendapatkan suguhan jajan dan minuman kami sebelum pamitan didoakan kebaikan dan keselamatan oleh Kiai Luqman.

Sebenarnya, selain Kiai Luqman, kami juga akan sowan kepada Kiai Fuad yang juga pengasuh pesantren Tremas. Tapi karena beliau sedang tidak enak badan, kami pun mencukupkan diri sowan kiai Luqman. Setelah itu kami pun serombongan meluncur pulang.


Ketika perjalanan pulang sampai di kota Ponorogo, ada operasi kendaraan bermotor. Mobil dan sepeda motor dihentikan oleh pak Polisi, begitu juga mobil yang kami tumpangi dihentikan oleh salah seorang polisi yang sedang bertugas.

Saya sempat khawatir, karena saat itu saya membawa sebongkah batu sebesar kelapa. Batu itu saya pakai untuk ngganjel mobil saat kami naik ke puncak bukit Tompe. Karena medannya cukup terjal, kami berjaga-jaga dengan batu jika sewaktu-waktu mobilnya tidak kuat menanjak, maka batu itu bisa menjadi penolong. Dan benar memang, mobil yang kami tumpangi berhenti sejenak memulihkan tenaga, dan batu itu pun berjasa, sebagai ganjel ban belakang.

Lebih terkejut lagi mungkin Mas Tris, teman kami yang bagian nyopiri mobil. Karena sabuk pengamannya tidak dipasang. Wah gawat, alamat kena tilang ini, karena memang biasanya seperti itu.

Saat itu saya duduk di kursi bagian tengah, kondisi kaca mobil terbuka, dan batu itu berada di dekat kaki saya. Pak polisi yang menghentikan mobil kami menengok ke dalam mobil di mana saya duduk. Deg, saya sempat kaget, jangan-jangan  batu yang tadi sempat berjasa kepada kami menjadi biang masalah.

Setelah menengok ke dalam mobil, entah karena apa tiba-tiba pak Polisi yang baik hati itu bilang, "Wis ndang lanjut!" Plong rasanya, tidak ada masalah dengan sabuk pengaman yang tak terpasang, dan juga batu yang berjasa kepada kami itu. Padahal saat itu pak polisi sama sekali tidak menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan dan juga SIM dari pengendara. Alhamdulillah.

Saat kendaraan berjalan kembali, saya merasa mendapatkan keberkahan dan keajaiban. Karena saya memiliki keyakinan bahwa apapun yang sedang kita jalani tidak terlepas dari orang-orang baik yang telah mendoakan kebaikan, keberkahan, dan keselamatan kita dalam menjalani kehidupan ini.

Oleh karena itu jangan pernah meremehkan orang lain, karena kita tidak pernah tahu darimana doa-doa kebaikan dan keselamatan yang kita terima itu dipanjatkan. Yang kita tahu bahwa doa saudara-saudara umat Islam di mana pun berada ditujukan untuk keselamatan dan kebaikan kita semuanya.

Salam Santri Sowan lan Sungkeman.

Monday, June 17, 2019

Inilah Dawuhnya Mbah Moen kepada Gus Yunan

Inilah Dawuhnya Mbah Moen kepada Gus Yunani
Oleh: Joyo Juwoto

KH. Yunan Jauhar, atau akrab dipanggil Gus Yunan, pengasuh pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban suatu ketika sowan riyayan ke ndalemnya Mbah Maimun Zubair Sarang atau Mbah Moen.

Gus Yunan adalah Gus saya, yaitu putra kedua  dari KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan, semoga Allah memuliakan beliau.


Memang lazim adanya di kalangan kiai maupun santri untuk saling berkunjung dan bersilaturahmi kepada yang lebih sepuh. Jadi ketika musim riyayan biasanya para kiai maupun santri sama sowan kepada kiai-kiai sepuh. Mbah Moen ini termasuk salah satu kiai sepuh yang ada di Jawa, bahkan mungkin se-Indonesia.

Mbah Moen sendiri pernah dirawuhkan ke pondok pesantren ASSALAM Bangilan, memberikan mauidzoh hasanah saat Haflah Akhirussanah beberapa tahun silam.

Saat sowan di Sarang Gus Yunan didawuhi oleh Mbah Moen, "Muhith, Muhaimin, Hanifah, Hasyim wes podho kapundut, kuwo seng istiqomah yo cung". Demikian yang disampaikan oleh Mbah Moen kepada Gus Yunan.

Mbah Moen punya harapan besar kepada Gus Yunan agar beristiqomah dalam ngemong santri, meneruskan perjuangan Abahnya sebagai pengasuh pondok pesantren ASSALAM, sebagai Medan perjuangan di tengah-tengah masyarakat. Karena pesantren adalah salah satu benteng moral dan peradaban umat.

Selain itu, Mbah Moen juga bercerita:
"Biyen mbah Tamam lan mbah Muzadi nek sowan mbah Zubair, gak oleh kundur karo bapakku yen durung melu jama'ah dzuhur lan asar".

"Terus trukke mbah Tamam dikebakki gabah lan beras dibagi-bagi kiai-kiai sek nek Sarang kene". Lanjut Mbah Moen bercerita tentang hubungan dzurriah Gus Yunan dengan Mbah Zubair dan Kiai-kiai di Sarang.

Demikian cerita yang dibagikan oleh Gus Yunan tentang sowan beliau ke Sarang.

Menelisik Jejak Buku Cerita Naila dan Nafa

Menelisik Jejak Buku Cerita Naila dan Nafa
Oleh: Joyo Juwoto

Cerita Naila dan Nafa adalah buku keempat saya yang terbit tahun 2018, namun karena suatu hal buku ini baru bisa dicetak tahun 2019 oleh penerbit Niramedia.

Buku saya ini bergenre fiksi, yang berisi 15 judul kumpulan cerita anak. Buku ini saya tulis dan saya persembahkan untuk anak-anakku dan juga anak-anak di seluruh penjuru dunia dengan dunia ceria dan kegembiraan yang melekat pada mereka semuanya.

Buku yang berlatar belakang cerita keseharian anak saya ini saya tulis dalam rentang waktu seenaknya saja, lepas tanpa deadline tanpa ketergesaan, dan tidak ada tekanan dari pihak manapun. Karena memang saya menulis sekedar memenuhi kebahagiaan saja.

Tulisan sederhana tentang dunia bermain anak-anak saya ini kemudian saya kumpulkan, saya baca ulang untuk saya teliti dan akhirnya saya punya keinginan untuk membukukannya.

Setelah terkumpul sebanyak 15 judul cerita akhirnya kumpulan tulisan itu saya beri judul Cerita Naila dan Nafa, saya ambil dari kedua nama anak saya. Kemudian naskah itu saya kirimkan ke teman yang memiliki penerbitan buku untuk memprosesnya.



Alhamdulillah, ketepatan saya punya teman juga yang pinter membuat lukisan anak. Namanya mbak Rosita, beliau ini selain pelukis juga pinter nulis, sebuah kemampuan yang cukup luar biasa. Dari tangan pakar mbak Rosita inilah cover buku, hingga ilustrasi gambar di setiap cerita di buku menjadi "sempurna" untuk disajikan kepada pembaca.

Walau demikian, tentu saya akui banyak kekurangan dalam buku yang saya lahirkan, dan saya berharap kritik serta saran dari pembaca untuk lebih baiknya lagi buku-buku saya ke depan. Semoga buku sederhana tersebut bisa memberikan manfaat dan memperkaya khasanah bacaan anak-anak kita.

Untuk menghibur dan memberikan apresiasi serta hadiah terhadap diri saya sendiri, saya kutip sebuah quote yang cukup bagus, "Karya yang bagus adalah karya yang selesai" jadi saya cukup bangga tulisan saya selesai dan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Salam Pena.

Friday, June 14, 2019

Meneladani semangat Literasi Gus Qoyyum Lasem

Meneladani semangat Literasi Gus Qoyyum Lasem
Oleh: Joyo Juwoto

Saat saya bersama rombongan road sowan sungkeman lebaran di Gus Qoyyum Lasem, kami ditanya oleh beliau:
"Niki rombongan saking pundi?" Tanya Gus Qoyyum

Saya yang kebetulan berada di posisi yang dilihat oleh beliau, saya pun menyahuti: " Saking Bangilan-Tuban, Bah. Pondok ASSALAM Bangilan" jawab saya.

Mendengar jawaban saya, Gus Qoyyum menimpali: "Owh, saking pondoknya keluarga Mbah Hasyim Muzadi" lanjut beliau di hadapan tamu yang lainnya.

Selanjutnya Gus Qoyyum bercerita kalau dulu Mbah   Muchith Muzadi pernah mondok di Kajen Pati. Beliau juga bercerita kalau Abahnya Gus Qoyyum saat nyantri satu pondok dengan Mbah Muchith Muzadi.

Bangilan memang bukan kota kecamatan yang terkenal, namun dari kota Bangilan terdapat  sosok-sosok yang luar biasa, semisal mbah Hasyim Muzadi, mbah Muchit Muzadi, mbah Misbah. Selain itu, di wilayah Senori ada Mbah Abu Fadhol, di Laju Singgahan ada Mbah Sarbini. Dahulu  orang-orang menyebut wilayah ini bukan berdasarkan kecamatan, namun menyebutnya sebagai Bangilan-Senori digabungkan menjadi sebuah identitas.

Jika di Bangilan ada Mbah Bah yang cukup produktif menulis dan menerjemahkan kitab, di Senori ada Mbah Dhol yang juga memiliki puluhan karya berbahasa Arab, maka kita patut bangga di tengah minimnya semangat menulis para Santri bahkan Kiai di era ini, ternyata masih ada juga ulama yang hari ini  memiliki semangat dan keahlian dalam menulis. Salah satunya adalah Gus Qoyyum Lasem.

Gus Qoyyum sendiri saat kami sowan sungkeman di ndalemnya, beliau mengomentari bahwa Mbah Misbah sangat produktif dalam menulis. "Ulama dahulu memang sangat produktif dalam menulis, tapi sekarang sudah mulai berkurang" dawuh Gus Qoyyum di hadapan para tamu.

Kita tentu sangat bangga, di saat dunia literasi masyarakat cukup rendah, ternyata Gus Qoyyum memberikan teladan bagi kita untuk terus menulis dan menulis. Yang luar biasa beliau ini menulis dalam bahasa Arab. Luar biasa.

Diantara kitab-kitab yang telah ditulis oleh Gus Qoyyum diantaranya adalah: Nuurun 'ala Nur, As-Sholeh wat thooleh, al-Aalim wal Aalam, Risaalatul Hindi, Ayyuhan Nas, 'Ajaaibut Tauhid, Risaalatul Junuudi, Al-Insaniyyah min Turaasi Afghanistan Wa Fadhoiluha, Risaalatu Arba'iina Indonesiatin Fil Hayawaani.

Karya-karya dari Gus Qoyyum cukup banyak sekali, sayang sekali kemarin saat sowan sungkeman saya belum bisa berburu kitab-kitab beliau. Semoga di lain waktu bisa ke Lasem sowan beliau sambil berburu kitab-kitab yang di tulis oleh ulama jenius dari Lasem yang tidak lulus SD dan tidak pernah mondok ini. Subhanallah.

Thursday, June 13, 2019

Sungkem Mbah Maimun Zubair

Sungkem Mbah Maimun Zubair
Oleh: Joyo Juwoto

Ini adalah tulisan edisi lebaran setelah kemarin saya menuliskan perjalanan road sowan sungkeman ke berbagai Mbah Yai. Jika kemarin saya menulis secara panjang dan global, maka di edisi ini saya ingin meninggalkan jejak dan berusaha mencari hikmah dari road sowan sungkeman kepada para Yai yang saya kunjungi bersama teman-teman santri lainnya.

Saya percaya bahwa tidak ada di dunia ini yang sia-sia, apapun itu ada banyak hikmah dan pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari setiap jejak perjalanan anak manusia. Sekecil apapun suatu peristiwa pada dasarnya banyak hal yang tersurat maupun yang tersirat yang dapat kita tafsirkan dan kita jadikan renungan.  Tinggal seberapa pintar dan bijak kita menyikapi semuanya.

Pertama saya akan mengulas sungkeman di Sarang, yaitu saat sowan dan sungkem di Mbah Moen. Untuk sowan di Sarang tentu tidak mudah bisa langsung ketemu dan meminta dawuh ataupun nasehat dari Mbah Moen. Selain kesibukan beliau tentu faktor usia juga sangat mempengaruhi intensitas menemui tamu. Apalagi saat ini adalah hari raya, yang mana tamu beliau tentu sangat banyak.

Tetapi Alhamdulillah, walau hanya sekedar hadir untuk salaman kepada Mbah Moen tanpa mendapatkan wejangan atau dawuhnya saya pribadi merasa mendapat semacam energi positif, atau dalam bahasa khas pesantren mendapatkan barakah.

Dalam pujian yang dilantunkan di langgar-langgar desa, diantara obat hati yang lima salah satunya adalah dekat dengan orang Sholeh. "Wong kang Sholeh kumpulono". Sowan kepada para Yai adalah upaya untuk berkumpul dengan orang-orang Sholeh.

Perintah kumpul dengan orang Sholeh ini bukan hanya kita harusengaji berbagai disiplin ilmu pengetahuan darinya, bisa  kumpul saja, tanpa melakukan apapun saya kira sudah sangat bermanfaat. Inilah yang saya sebut sebagai barakah.

Jalma lipat seprapat prasasat tamat, begitu idiom kearifan petuah Jawa, jika kita dianugerahi Tuhan sebuah kemampuan lebih dalam menyerap suatu hikmah, maka walau hanya secercah cahaya maka kita mampu memanfaatkan cahaya itu sebagai obor bagi laku kehidupan kita di dunia.

Begitupula walau hanya sekedar bersentuhan tangannya Kiai, mencium tangannya Kiai akan ada aliran keberkahan yang akan melingkupi kehidupan kita insyaallah.

*Sarang, 07 Syawal 1440 H.*

Tuesday, June 11, 2019

Road Sowan Sungkeman di hari Lebaran


Road Sowan Sungkeman di hari Lebaran
Oleh: Joyo Juwoto

Sungkeman adalah tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat kita, khususnya di perayaan  hari raya idul Fitri. Tradisi sungkeman adalah tradisi mengunjungi dari yang muda kepada yang lebih tua, atau yang dituakan. Tradisi saling meminta maaf dan saling merelakan atas segala salah dan khilaf, yang disengaja atau mungkin yang tak tersengaja.

Tepat di hari ketujuh dari hari raya idul Fitri saya bersama teman-teman santri, mengadakan road sowan sungkeman ke beberapa kiai, yaitu ke Mbah Maimun Zubair Sarang, berlanjut ke ndalem Gus Qoyyum Lasem, lalu meluncur ke Leteh Rembang, di kediaman Mbah Yai Mustofa Bisri.

Dalam edisi road sowan sungkeman ini, saya tidak  tertarik untuk menanggapi atau mempermasalahkan hukum boleh tidaknya tradisi sowan dan Sungkeman di hari raya idul Fitri. Biar pakarnya pakar, core of the core saja, yang menjlentrehkannya secara gamblang, bernas dan bersanad tentunya.

Bagi saya pribadi semua tradisi baik di tengah masyarakat yang tidak menyalahi syariat, tidak ada alasan untuk kita tolak dan kita hapuskan. Justru tradisi itu perlu kita ikuti, kita jaga, dan kita lestarikan, asal sesuai dan tidak menyelisihi ajaran agama. "Antum a'lamu bi umuuri dun-yaakum", masalah tradisi adalah masalah sosial kemasyarakatan, bukan masalah ibadah mahdhoh.

Kembali ke perjalanan road sowan kami, sebanyak 8 sepeda motor meluncur dari Bangilan menuju Sarang, Alhamdulillah sesampainya di Sarang diterima  dan langsung sowan dan sungkem ke Mbah Moen tanpa menunggu terlebih dahulu. Anti antri, langsung masuk ndalem.


Karena saat itu tamu cukup banyak kami, hanya bersalaman dan kemudian duduk di beranda depan. Setelah sungkem, kami langsung pamitan, karena Mbah Moen harus segera istirahat, maklum beliau yang begitu sepuh masih sempat-sempatnya kersa menerima tamu yang selalu ngantri berhari-hari.

Dari Mbah Moen rombongan meluncur ke Lasem. Sepanjang perjalanan pemandangannya cukup indah. Birunya laut menghampar di sepanjang perjalanan, kapal-kapal milik nelayan berjajar di pinggir pantai,  khususnya di jalur pantai Kec. Sluke hingga di pantai dekat pasujudan Sunan Bonang Lasem. Di sepanjang jalan banyak toko yang menjual ikan yang dikeringkan (ikan gereh), didisplay bergantung di depan toko.

Setelah perjalanan sekitar 15 menitan kami sampai di pusat kota Lasem, yaitu di pertigaan lampu merah dekat masjid agung Lasem. Ndalemnya Gus Qoyyum sudah dekat, kami pun segera meluncur ke kelurahan Soditan. Alhamdulillah, saat itu Gus Qoyyum sedang menerima tamu, kami pun langsung bergabung serta dengan tamu-tamu lainnya.

Gus Qoyyum dengan Bangilan desa kami,  ternyata sudah cukup akrab. Menurut cerita beliau Mbah Yai Muchith Muzadi salah seorang tokoh NU dan pengawal khittah NU  pernah nyantri di Pati, yaitu di pondoknya Mbah Sahal Mahfudz Al maghfurlah. Gus Qoyyum memang masih kerabat dengan pesantren di mana saat mbah Muchith mondok di Pati.

Setelah acara sungkeman selesai, kami serombongan motor pun bergerak ke barat ke arah kota Kartini Rembang. Tujuan selanjutnya adalah sungkem di Gus Mus. Jarak Lasem-Rembang tidak jauh, Pondok pesantren di mana Gus Mus tinggal berada di sebelah barat alun-alun kota Rembang.

Tidak sulit untuk mencapai lokasi ndalemnya Gus Mus, setalah sampai di pondok kami langsung njujug ke ruang tamu. Karena Gus Mus sedang tidak enak badan, kami ditemui oleh putra menantu beliau, Gus Ulil Abshar Abdalla.

Kami serombongan memperkenalkan diri dari Bangilan. Gus Ulil tentu sangat tidak asing dengan nama kampung kami, karena di sana ada famili dari Gus Mus, yaitu beliau almaghfurlah KH. Misbah Zainal Mustofa, pengasuh pondok pesantren Al-Balagh Karang Tengah Bangilan. Mbah Bah, ini seorang penulis kitab yang produktif dari Bangilan-Tuban. Karya-karya beliau banyak dikaji dan dijadikan rujukan di pesantren-pesantren di Jawa.

Setelah dirasa cukup kami pun pamitan. Sebelum pulang saya beranikan diri minta foto sama Gus Ulil, untuk gantinya merepotkan Shohibul bait untuk foto, saya berikan hadiah kagem Mbah Mus buku saya yang berjudul "Dalang Kentrung Terakhir", semoga beliau berkenan membacanya. Selain itu tentu saya juga berharap Gus Ulil ikut serta membaca buku saya.

Seperti sebelumnya, sebelum pamitan kami dibarakahi doa oleh tuan rumah, baik di Mbah Moen maupun di Gus Qoyyum, baru kemudian kami pamit pulang untuk menyelesaikan misi sowan selanjutnya, yaitu ke Gus Baha' di Narukan Kragan Jawa Tengah.

Kami serombongan kembali ngegas menuju Narukan. Sesampainya di sana, kami harus menunggu Gus Baha'. Karena beliau sedang istirahat dan baru bisa menemui tamu sesudah shalat Ashar. Tak mengapa kami pun menunggu sambil menikmati hidangan yang disiapkan untuk tamu.

Setelah jama'ah sholat Ashar kami pun diterima Gus Baha' di ndalem beliau yang sangat sederhana, sebagaimana penampilan dari Gus Baha' sendiri. Saya pernah ikut ngaji tafsir di Gus Baha', beliau penampilannya memang sangat sederhana dengan ciri kopyah hitam dipakai dengan agak miring, atau agak ndangak. Satu-satunya hal yang sangat istimewa dari Gus Baha' adalah keilmuannya yang sangat mumpuni dalam agama, baik bidang tafsir, hadits, fikih, dan logika dalam beragama.

Setelah mendengarkan pengajian-pengajian dari Gus Baha' menjalankan ajaran agama terasa cukup simpel dan mudah. Karena memang logika beragama yang dibangun beliau bernas dan sesuai dengan standar keilmuan para ulama salafus Sholih. Saya sendiri cukup suka mendengarkan pengajian beliau lewat YouTube.

Dari Sungkeman di Gus Baha' kami pun pulang dan mampir untuk bersilaturahmi di rumah teman yang kebetulan juga berada di Kec. Kragan. Kami mampir di rumah sdr. Abdur Rouf di desa Tanjung Sari. Di sini kami makan kupat dengan sayur lodeh yang dihidangkan oleh tuan rumah. Kebetulan besok hari raya kupatan. Alhamdulillah.

Karena nuansa desa Tanjung Sari berbukit,  kami pun tak melewatkan berfoto dengan latar belakang hijaunya tanaman padi dengan lanskap pegunungan yang mengitari desa yang cukup indah itu.

Saya pernah baca banyak cerita tentang kearifan lokal desa Tanjung Sari, semoga ke depan saya bisa menghadirkan edisi tulisan tersendiri tentang desa Tanjung Sari yang penduduknya cukup ramah dan guyup.

Selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

*07 Syawal 1440 H*

Wednesday, June 5, 2019

ISBAT bersama Dompet Peduli Dulur Tuban Santuni Yatama dan Dhuafa Di Kecamatan Bangilan

*ISBAT bersama Dompet Peduli Dulur Tuban Santuni Yatama dan Dhuafa Di Kecamatan Bangilan*
Oleh: Joyo Juwoto

Di penghujung Ramadan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt, ISBAT bersama Dompet Peduli Dulur Tuban (DPD Tuban) mengadakan kegiatan santunan yatama dan dhuafa sekecamatan Bangilan yang di gelar pendopo Kec. Bangilan (04/05/2019).

Kegiatan santunan yang dihadiri anak yatim-piatu dan dhuafa  ini terlaksana berkat sinergitas yang positif seluruh elemen masyarakat di kecamatan Bangilan. "Semoga acara santunan Yatama dan Dhuafa berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala, itu harapan kita semua" kata ketua ISBAT Pak Muin Bekam.

Acara yang dipandu oleh ibu Siti Rokhani berjalan cukup baik sesuai dengan harapan bersama. Setelah mahallul qiyam acara demi acara pun berjalan.

"Ada sejumlah 50 yatama dan 25 dhuafa perwakilan dari seluruh desa di kecamatan Bangilan, yang sore ini mendapat santunan dari ISBAT bersama DPD Tuban " demikian yang dipaparkan oleh pihak ISBAT yang diwakili oleh ust. Mulyadi, salah seorang pengajar di Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban.

Dalam mauidzoh yang disampaikan oleh Pak Kiai Dardiri, beliau mengajak agar masyarakat memperbanyak syukur. Beliau juga menanamkan pesan kepada anak-anak yang hadir, melalui cerita tentang ketaatan seorang anak kepada orang tuanya yang berbuah keberkahan di dalam hidup si anak.

Kang Chipnal selaku ketua DPD Tuban, dalam sambutannya mengatakan: "Dompet Peduli Dulur Tuban hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Tuban, oleh karena itu kita mohon kerjasama seluruh masyarakat demi kebaikan bersama."

Lebih lanjut inisiator pendekar siaga dari Montong ini mengatakan bahwa kepedulian perlu digerakkan untuk memberikan motivasi dan keteladanan untuk generasi mendatang. "Cita-cita baik harus kita perjuangkan bersama" kata Mas Chip menutup sambutannya.

Selain Mas Chip, hadir pula founder Dompet Peduli Dulur Tuban, Pak Adi Widodo.  Beliau mengajak masyarakat Tuban, dan Bangilan khususnya untuk selalu menebar kebaikan di manapun berada, karena setiap amal kebaikan bernilai sedekah. Demikian ucap tokoh muda kelahiran Bangilan itu.

Bapak Camat Bangilan, yang diwakili Pak Eko sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh ISBAT, yang bekerja sama dengan Dompet Peduli Dulur Tuban, beliau memberikan dua jempol untuk ISBAT atas kiprahnya selama ini, di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Bangilan.

Setelah acara santunan kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan buka bersama dengan undangan di pendopo kecamatan Bangilan.

*Bangilan, 04 Mei 2019.*

Friday, May 24, 2019

Mengenal Sosok Jagoan Coding Dari Bancar Tuban


Mengenal Sosok Jagoan Coding Dari Bancar Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

Pembaca dan peselancar dunia maya mungkin pernah membaca artikel di sebuah blog yang cukup familiar di dunia blogger Tuban, blognya adalah  http://perahulayarkertas.com dan juga mengelola https://andhikanurafian.web.id/. Blog ini tampilannya cukup dinamis  dan menyediakan konten-konten yang layak untuk kita baca dan kita telusuri guna menambah wawasan berfikir dan ilmu pengetahuan kita.

Jika para pembaca menyempatan diri untuk kepoin blog tersebut, maka pembaca akan tahu bahwa yang menakhkodai dari blog tersebut adalah seorang pemuda ganteng yang bernama  Andhika Nur Afian. Dari profilnya pemuda yang pakar dalam bidang Web Develover, Android Development, dan juga seorang Analis IT/IS ini berasal dari Dsn. Kradenan RT03 RW01 Sukolilo Bancar Kab. Tuban.

Pemuda yang bekerja di Pelabuhan Perikanan Pantai Bulu ini selain menekuni dunia blogger juga menekuni dunia coding. Saya sendiri tidak begitu paham berbagai istilah di dunia percodingan. Mumet sekali bagi kalangan awam seperti saya ini. Seperti yang saya katakana di awal mas Andhika ini jago coding, sehingga tidak heran jika beliau banyak membuat aplikasi berbasis android yang kemudian di upload di play store.

Silakan di cek di sinihttps://play.google.com/store/apps/dev?id=6275316945841358488. Ada beberapa aplikasi yang telah dibuat oleh pemuda lulusan Unirow jurusan teknik informatika ini, diantaranya adalah:

Program-program aplikasi berbasis android yang dibuat oleh Mas Andhika cukup bagus, dan ini sangat dibutuhkan oleh generasi anak bangsa era milenial ini.

Kita doakan, semoga Mas Andhika sehat dan sukses selalu, dan ke depannya, Mas Andhika terus dan terus bisa berkarya menciptakan program-program lain yang lebih banyak lagi, karena memang generasi milenial sekarang lebih banyak membuka dan mengenal dunia maya, untuk belajar dan meningkatkan kopetensinya di berbagai bidang.

Demikian sekilas mengenai sosok Mas Andhika jagoan coding kita dari Bancar, semoga karya-karya beliau menginspirasi kita semua. Aamiin.

Wednesday, May 15, 2019

Mau tahu dukunnya Pernak-pernik dunia web di Tuban?


Mau tahu dukunnya Pernak-pernik dunia web di Tuban?
Oleh: Joyo Juwoto

Saya membuat blog sudah cukum lama, sekitar tahun 2009. Waktu itu saya hanya iseng-iseng saja membuat blog dengan media hp. Mumpung internet mulai dikenal dan hp-hp yang mempunyai fasilitas online ke internet mulai dikenal di tengah masyarakat saya. Selain membuat blog saya juga membuat media sosial facebook, yang waktu itu penggunanya di tempat saya masih minim.

Walau  cukup lama, ternyata saya tidak mengalami perkembangan apapun di dunia blog ini, istilah-istilahnya saja saya gagap untuk menyebutkannya. Karena memang saya membuat blog waktu itu hanya untuk menyimpan dan mempublis tulisan yang saya buat ala kadarnya. Jadu jangan heran walaupun saya sudah lama ngeblog, tetapi saya masih sangat asing dengan pernak-pernik dunia web ini.

Dari keisengan saya membuat blog waktu itu saya banyak membuat blog, mulai dari blogspot.com, wordpress.com, multiply.com dan satu lagi saya lupa platform blognya yang pasti semua gratis tanpa membayar dan tinggal memakai dari subernya secara langsung.

Waktu terus berlalu dan saya terus ngeblog secara ototidak, tepatnya saya menulis di blog saya, dan saya bagikan di media sosial, blog saya yang aktif saya isi waktu itu adalah www.4bangilan.blogspot.com. Walaupun dalam dunia perbloggeran saya hanya focus di dubia tulis menulis saya cukup merasa senang, aktivtas saya inilah yang akhirnya mengantarkan saya masuk dan menjadi anggota Blogger Tuban.

Dari sini saya banyak mengenal para blogger yang cukup luar biasa, salah satunya adalah Mas Bakhtiyar. Sosok bapak-bapak muda ini cukup piawai dalam dunia blogger. Beliau tidak hanya sekedar sebagai pengguna dan pemakai blogger pasif seperti saya, namun mas Bek ini, juga menekuni pernak-pernik dunia web, apapun tentang web beliau ini dukunnya.

Dari dunia blogger inilah akhirnya blog saya yang awalnya gratisan dari google akhirnya saya pesankan domain di https://hosterbyte.com/ milik mas bakhtiyar, setelah memikir dan menimbang blogspot saya domainnya saya ubah menjadi www.joyojuwoto.com, sesuai dengan nama saya. Dari perubahan nama ini saya merasa menjadi orang yang keren. Hehe..pd dikit gak papa kan?

Proses perubahan domain di https://hosterbyte.com/ yang dikelola oleh mas Bek saya kurang paham, saya hanya pasrah saja kepada beliaunya, tompo resik dan harganya cukup murah meriah sekali.

Selain melayani domain https://hosterbyte.com/ ini juga melayani hosting, VPS, dan masih banyak lagi yang saya tidak begitu paham istilah-istilahnya. Jika berkenan menengoknya silakan di akses di sini https://masbek.id/hosting-website-di-tuban-ada-di-hosterbyte-com/ semuanya komplit tinggal dibaca. Jika pembaca masih kurang paham, bisa mengontak langsung Mas Bakhtiyar dukunnya weblog di kota Tuban.


Pemilu, Kretek Dan Secangkir Kopi Untuk Negeriku


Pemilu, Kretek Dan Secangkir Kopi Untuk Negeriku
Oleh: Joyo Juwoto


Hiruk pikuk pemilu tlah usai kawan
Mari menepi kembali
Di meja-meja warung kopi
Kita angkat secangkir kopi persaudaraan
Yang  menyatukan kembali kerukunan kita

Pemilu tlah kita lewati penuh kedamaian kawan
Mari Kita hisap bersama
Harumnya kretek-kretek keguyuban
yang asap tembakau dan cengkehnya
mengingatkan kita akan ke-Indonesiaan

Wahai kawan!
Pemilu bukan untuk berseteru
tapi pemilu adalah pesta kemenangan rakyat
pesta demokrasi kita bersama
pesta dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat

Seharusnya begitu
Walau mungkin,banyak hal yang belum
seperti itu
tapi bukan berarti wajah demokrasi
kita lukis dengan kanvas anarkhi

Wahai kawan!
Pemilu adalah ajang bersatu
wahai politisi, wahai para caleg, wahai semua rakyat

jangan kau kotori pemilu dengan ambisi dan nafsumu
mari rajut kembali semua perbedaan
dalam kebhinekaan yang tunggal ika

Kita minum dari air yang sama
kita menghirup udara nusantara
kita berdiri di bumi persada Indonesia
saatnya kita kembali dalam pangkuan ibu pertiwi
mengeyahkan segala perbedaan

rapikan bendera parpol
lipat kembali bendera ormas
singkirkan bendera ego
dan kita kibarkan bersama merah putih
di seantero bumi Nusantara tercinta.

*Puisi ini dibacakan saat acara scooterist for Indonesia di gedung serbaguna kec. Bangilan.