Thursday, December 5, 2019

Eksistensi Sandur Tuban

Foto: Umar Afiq
Eksistensi Sandur Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

Kesenian sandur Tuban ternyata masih eksis. Saya menyangka kesenian ini sudah mati, setidaknya ini yang saya rasakan. Terakhir kali saya melihat pertunjukan sandur di masa kecil, sekitar usia 9 atau 10 tahunan, dan pertunjukan sandur itu tidak pernah saya lihat dan saya dengar lagi hingga usia saya menginjak 40 tahunan.

Dulu ditempat saya tinggal, tepatnya di tetangga desa ada group sandur. Saya hanya melihat dan membaca plat nama yang ditempelkan di depan rumah, entah namanya apa, saya lupa. Saya sendiri belum pernah mendengar ada pertunjukan sandur yang digelar di wilayah kecamatan di mana saya tinggal.

Sebenarnya saya juga sayup-sayup mendengar, ada sandur di wilayah Tuban bagian timur, tapi saya juga belum pernah mendengar pentas sandur. Jadi, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa Sandur Tuban mati suri.

Setelah waktu berlangsung lama, dan kehidupan berjalan dengan segala dinamikanya, bunyi gendang sandur dan sorak panjak hore nyaris tak terdengar. Sandur menjadi salah satu kesenian lokal yang tidak begitu diminati oleh masyarakat. Sandur masih kalah dengan kesenian lokal Tuban lainnya, tayub misalnya. Kira-kira demikian.

Dalam perjalanan waktu, sandur Tuban terdengar sayup-sayup mulai menyeruak ke permukaan. Saya merasa senang, sandur Tuban mulai ditampilkan ke ranah publik. Masyarakat akan kembali mendengar dialog Cawik, Balong, Tangsil yang mendayu-dayu dalam teater rakyat pinggiran ini. Sungguh menggembirakan.

Hari menggembirakan yang saya tunggu akhirnya datang juga. Dalam perhelatan Akbar Tuban Art Festival (ART) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Tuban (DKT) tahun 2019, ada pertunjukan sandur. Wow...saya berniat untuk menontonnya, walau tempatnya lumayan jauh dari rumah saya.

Secara umum saya berterima kasih kepada segenap punggawa DKT, yang dikomandani Bapak Joko Wahono atas terselenggaranya pentas sandur yang sudah saya impikan sejak lama. Sebagai lembaga yang mengurusi masalah kesenian dan kebudayaan di Tuban DKT layak mendapat apresiasi atas segala kegiatannya selama ini.

Saat pertunjukan sandur yang digelar di halaman gedung Budaya Loka Tuban, saya hadir dan melihat kemeriahanndan kehebohan malam puncak kegiatan Dewan Kesenian Tuban yang dihadiri penonton yang cukup banyak. Luar biasa.

Dari pertunjukan sandur yang tampil meramaikan malam itu cukup menjadi jawaban kegelisahan saya tentang eksistensi Sandur Tuban yang mati suri. Ah...sandur Tuban masih ada. Saya berharap kesenian lokal ini bisa lestari dan diwariskan generasi muda kita hari ini. Sekian.

Saturday, November 30, 2019

Ndolani Kanca

Ndolani Kanca
Dening: Joyo Juwoto


Alhamdulillah, awan Iki atiku seneng banget, bungah ra kaprah-kaprah. Sebabe aku iso ndolani kancaku, sing wis suwe ra ketemu. Kanca naliko ning SD. Asmane Kang Sumadi sing saiki manggon ing tlatah Bojonegoro. Aku ya pengin dolan lan silaturahmi ning kanca-kancaku liyane. Mugi-mugi kasembadan opo kang dadi kekarepane atiku.

Pas wayah dolan aku disuguhi kopi ireng. Anget-anget seger, tur maknyus sruputane. Sakliyane kuwi ono uga bakso. Wis komplit.
 Pokoke. Alhamdulillah berkah silaturahmi, mugi-mugi dadi jalaran awak sehat, lan manfaat. Shohibul bait ugi pikantuk rejeki Gangsar kang turah-turah saha berkah.

Sakwuse ndolani kancaku mau, aku pamitan mantuk, amerga wis nyedaki wayah Jumatan, banjur aku mampir masjid Gedhe ing kutho Bojonegoro,  nglampahi wajibing Gusti nindaake sholat Jumat.

Saking jarak kang iseh lumayan adoh saka masjid, pas iseh ing dalan aku wis krungu khutbahe khotib kang disiarke nganggo toa. Suarane banter tur jelas banget.

Inti khutbahe mangkene, "Naliko hari pembalasan ing akhirat, ono salah sijine Kawulo kang dilebetke neraka kalih Gusti Allah. Kawula Kuwi duweni kanca kang banget Sayange Karo dewekne. Kancane kawula mau kersane Allah kok mlebu suwarga.  Nanging, sakdurunge mlebu suwarga, dewekne tingak-tinguk nggoleki koncone kok gak ono. Akhire dewekne takon Karo malaikat.

"He...malaikat, opo Sira ngerti Fulan bin Fulan Iki? Malaikat njawab, oh, Kuwi panggonane Ning neraka."

Banjur wong Iki mau njaluk supaya kancane sing mlebu suwarga ditekno lan dijak bareng mlebu suwargo Karo dewekne. Alhamdulillah, penjaluke diijabahi kaliyan Gusti Allah. Dadi suk emben Kuwi kanca apik iso paring syafaat maring kancane sing mlebu neraka.

Tasih dawuhe khotib Jumat ing
Masjid alon-alon Bojonegoro Iki mau, Ing salah sijine dawuh, Kanjeng Nabi Nate ngendikan kalih Sayyidina Ali. "He...Ali, akih-akihno kekancan marang wong kang becik, soale kanca kang becik bakal iso nulungi awak nira besok ing tembe mburi."

Mekaten Niki wau, sekedik keterangan isi khutbah sing tak rungokke ing mesjid Gedhe Bojonegoro. Mugi-mugi kita pikantuk syafaatipun Kanjeng Nabi lan syafaatipun konco ingkang sae. Matur nuwun.


*Bojonegoro, 29 November 2019.*

Saturday, November 2, 2019

Mula Malapetaka

*Mula Malapetaka*
Oleh: Joyo Juwoto

Mula Malapetaka adalah sebuah novel terjemahan yang dialih bahasakan oleh Novia Stephanie. Novel ini judul aslinya The Bad Beginning yang ditulis oleh Lemony Snicket. Saya baru saja membaca buku 1, entah sampai berapa jilid buku ini, saya sendiri belum tahu. Maklum novel ini dipinjami teman.

Cerita dalam buku ini diawali dari sebuah permainan anak-anak di sebuah pantai yang disebut sebagai pantai payau, tempat di mana tiga bersaudara Baudelaire menghabiskan waktunya. Tiga bersaudara tersebut adalah Violet si sulung yang suka melempar batu ke arah laut, Klaus, si anak tengah yang gemar mengamati hewan-hewan, dan si bungsu Sunny yang suka menggigit-gigit barang yang dipegangnya.

Kegembiraan dan keasyikan mereka di pantai pupus dengan kedatangan sosok tinggi seram yang mendekati mereka bertiga. Ternyata, sesosok itu adalah Pak Poe yang mereka kenal. Pak Poe datang membawa nasib suram bagi ketiga bersaudara tersebut.



Pak Poe datang membawa kabar bahwa rumah keluarga Baudelaire (Halah susah banget ngucap dan nulisnya) mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan rumah mereka, bukan hanya itu orang tua mereka juga berpulang. Begitu kabar dari Pak Poe.

Kejadian ini tentu mengubah kehidupan tiga bersaudara yang malang ini. Mereka akhirnya diajak ke rumah pak Poe, dan tinggal bersama keluarga mereka. Tentu dengan kondisi yang serba baru, membuat tiga bersaudara ini tidak betah, mereka konflik dengan anak-anak pak Poe.

Kemalangan-kemalangan tiga bersaudara ini tidak berhenti di sini, akan banyak drama kesedihan yang mereka alami setelah mereka tinggal dengan seorang laki-laki aneh yang akrab dengan tato mata di dalam kehidupannya. Entah karena apa, Pak Poe mengirimkan mereka pada laki-laki aneh yang bernama Count Olaf.

Kisah dramatisasi kesedihan tiga bersaudara ini bisa dibaca di bab 4. Dengan cukup indah namun tragis, penulis menutup kesedihan tiga bersaudara ini dengan narasi yang menusuk hati. "Cahaya bulan menyorot lewat jendela dan jika ada yang mengintip ke dalam kamar anak-anak Baudelaire, ia akan menemukan mereka menangis diam-diam sepanjang malam.'

Sang penulis, Lemony Snicket sangat pintar dan detail  menggambarkan setting dan alur dalam cerita ini. Saya berusaha belajar dari tulisan yang diilustrasi oleh Brett Helquist. Ah, nama-nama yang sungguh asing dan susah untuk saya ingat dan saya ucapkan di lodah medok Jawa ini. ( Bersambung)