Thursday, December 12, 2019

Pendar Cahaya di Puncak Gomang

Pendar Cahaya di Puncak Gomang
Oleh: Joyo Juwoto

Gomang, sebuah perkampungan di atas perbukitan, yang berada di tengah hutan jati. Perkampungan ini cukup unik, sebagian wilayahnya masuk kecamatan Singgahan dan sebagian lainnya menjadi bagian dari kecamatan Bangilan.

Di Gomang ini ada pondok pesantren yang fenomenal, Pondok Pesantren Walisongo yang diasuh oleh KH. Noer Nasroh. Beliau masih memiliki hubungan darah dengan keraton Surakarta.

Karena berada di dusun Gomang, pesantren Walisongo ini lebih dikenal dengan nama Pondok Gomang. Saya sendiri sudah sejak lama mendengar keberadaan pondok ini, maklum jaraknya cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Kira-kira sepenghisapan sebatang kretek sudah sampai di lokasi pesantren.

Pesantren Gomang punya icon yang fenomenal, masjid dengan tiang penyangga yang hanya satu batang pohon saja. Masjid pesantren yang unik  ini sering menjadi bahan perbincangan warga masyarakat. Saya sendiri belum melihatnya secara langsung, apesnya tadi malam saya tidak menyempatkan diri untuk melihatnya.

Alhamdulillah, tadi malam saya berkesempatan sowan dan silaturahmi ke pesantren Gomang. Ya, saya sowan ke ndalem Gus Afa pemilik nama lengkap Gus RM. Aflakha Mangkunegara, putra dari Romo Yai Noer Nasroh yang menggawangi Jagad Sholawat dari Bumi Walisongo Gomang.

Dari silaturahmi tadi malam, saya punya harapan untuk bisa ke sana lagi, ingin menyecap barakah ilmu dari beliau, dan setidaknya  ingin kembali menikmati secangkir kopi hitam yang disuguhkan oleh Shohibul bait yang cukup ramah, grapyak sumanak, dengan senyumannya yang khas dan meneduhkan.

Saya merasa beruntung dapat bertemu secara langsung dan memandang wajah keluarga ndalem Pesantren Gomang. Bukankah memandang wajah seorang yang alim adalah anugerah yang tiada tara? Malam itu saya ibarat mendapat pendar cahaya hikmah yang menentramkan dari bumi Gomang.

Selain bertemu Gus Afa, saya juga menyempatkan diri untuk sowan dan mengaji kitab kepada beliau Gus Naja. Beliau juga putra dari Romo Yai Noer Nasroh. Gus Naja ini pakar ilmu, fasih membaca kitab kuning, karena beliau jebolan dari Yaman. Luar biasa. Allahu Akbar.

Dari penampilan beliau, saya bisa menilai kealiman dan kefaqihan dari Gus Naja. Walau demikian beliau sangat tawadhu' sekali. Dengan santri-santri yang mengaji  beliau sangat akrab dan ramah, beliau sama sekali tidak jaim dan menjaga jarak. Sungguh beliau adalah sosok luar biasa dan menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya kisahkan dalam tulisan ini tentang Gomang, mungkin sementara hanya itu saja. Di lain waktu insyaallah saya akan menulis kembali tentang bumi Gomang dengan segala dinamikanya. Di bumi Gomang, saya merasa dekat, seakan menginjak dan pulang ke kampung halaman yang telah lama saya rindukan.

Semoga keberkahan bumi Gomang menjadi mata air yang menyejukkan di bumi Tuban, dan menjadi cahaya yang mampu menyinari persada Nusantara pada umumnya. Aamiin.

*Bumi Gomang, 12/12/19*

Wednesday, December 11, 2019

Jalan Cinta Seorang Hamba


Jalan Cinta Seorang Hamba

Banyak jalan menuju Roma, demikian pepatah yang sering kita dengar, banyak jalan pula menuju pada jalan ketuhanan. Salah satu jalan untuk menuju kepada Tuhan adalah jalan cinta. Secara universal cinta mampu mewadahi suluk seseorang untuk menuju altar suci ketuhanan. Dengan cinta seseorang mampu mereguk manis dan segarnya cawan-cawan anggur ilahiyyah yang memabukkan. Dengan cinta seseorang bisa berma’rifatullah dan bermusahadah kepada Allah Swt.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:
ذَاقَ طَعْمُ حَلاَوَةِ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإسْلاَمِ دِيْناً
Artinya:
“Rasa manis iman hanya bisa dicicipi oleh orang yang telah rida bahwa Allah-lah sebagai Tuhannya dan Islam sebagai agamanya.”

Dari hadits Rasulullah Saw di atas kita tahu bahwa manisnya iman hanya bisa dirasakan dan dicicipi oleh hamba yang memberikan cinta dan ketulusan hatinya kepada Allah Swt. Karena cinta adalah sebuah bentuk keridoan kepada hal yang dicintainya. Dengan cinta seseorang rela memberikan apapun yang menjadi miliknya kepada hal yang dicintainya.
Inilah yang saya sebut sebagai jalan cinta, yaitu salah satu jalan untuk mujahadah seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Mujahadah di sini tentunya melibatkan anggota lahir dan batin yang dilakukanseorang hamba dengan penuh keikhlasan. Karena hati yang ikhlas, hati yang bersih dan suci adalah kunci untuk membuka ruang ketuhanan.
Imam Al Qusyairi berkata: “Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki sirrnya (hatinya) dengan musyahadah.”
Sangat banyak contoh yang telah diberikan oleh para Ulama sufi dalam menapaki jalan cinta ini. Oleh karena itu jalan cinta, atau saya sebut di sini sebagai madzhab agama cinta sama sekali tidak akan menggantikan agama yang kita anut, yaitu Islam, bukan pula mau mengubah syariat dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, tapi agama cinta hanya sebuah tarekat untuk menuju jalan ketuhanan.
Banyak sekali tokoh Ulama tasawuf yang menempuh jalan cinta ini, sebut saja tokoh sufi wanita Rabi’ah al Adawiyah, Maulana Jalaluddin ar Rumi, Abu Mansyur Al Hallaj, Ibnu Arabi, Ibrahim bin Adham, Syekh Abu Hasan as Syadzili dan banyak tokoh lainnya yang tersebar dalam khasanah dunia tasawuf Islam. Tokoh-tokoh sufi tersebut di atas dapat dipastikan memiliki salah satu jalan ketuhanan yaitu jalan cinta.
Apakah ajaran agama cinta ini ada dasarnya? Sebagaimana yang saya kemukakan di atas, bahwa  agama cinta bukan madzhab baru dalam ajaran Islam, agama cinta hanya sekedar jalan menuju ketuhanan semata, bukan mau membuat ajaran baru atau madzhab baru. Tentu saja ajaran cinta di sini muaranya adalah dari Al Qur’an dan Hadits. Banyak sekali tentunya ayat-ayat Al Qur’an yang secara tersurat maupun tersirat menerangkan tentang jalan cinta ini. Dalam surat Al Baqarah ayat 165 Allah swt berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (١٦٥)
Artinya:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Dalam hadits, Rasulullah Saw juga bersabda tentang cinta kepada beliau:
Artinya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ: مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِى لِى حُبّاً نَاسٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِى يَوُدًّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَانِى بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW Bersabda: ‘Salah satu yang paling mencintai aku di antara umatku adalah orang yang hidup speninggalku yang salah satu di antara mereka senang bila melihat aku bersama keluarga dan hartanya.” (HR. Muslim).

Sungguh dari ayat Al Qur’an dan hadits Nabi tentang cinta di atas meyakinkan dan memberikan ketegasan kepada kita semua, bahwa jalan cinta adalah salah satu jalan yang tidak menyelisihi ajaran baku dalam agama Islam. Jalan cinta memberikan ruang bagi seorang hamba untuk mengeksplor rasa cinta dan getar kerinduan yang mendalam terhadap Allah Swt.
Dalam sebuah riwayat: “Tsawban, seorang budak Rasulullah Saw begitu khawatir dan takut untuk berpisah dengan Nabi, hingga keadaan sang budak Rasulullah ini sangat kurus. Ketika Rasulullah mengetahui hal ini, beliau menghibur Tsawban dengan sabdanya: “Seseorang itu berkumpul bersama orang yang dicintainya.” Legalah hati budak Rasulullah Saw setelah mendengar penuturan dari beliau.
Salah seorang ulama sufi, Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi mendendangkan syairnya:
Segala puji bagi Allah yang telah menajdikan cinta sebagai tanah suci yang menjadi tujuan haji bagi hati para sastrawan.
Menjadi Ka’bah yang menjadi tempat thawaf bagi rahasia-rahasia akal orang-orang cerdas.
Dia juga menajdikan perpisahan sebagai cangkir berisi anggur paling pahit yang pernah dicicipi, menjadikan pertemuan terasa insh dan mempesona. Nama-Nya yang indah dan suci bersinar dalam sanubari.
Ketika sanubari tenggelam dalam samudra cinta-Nya, maka pintu pun tertutup lalu pasukan tentara harapan diperintahkan untuk menyabetnya dengan pedang-pedang keinginan.

Demikianlah cinta telah menjadi tanah suci tempat di mana sang pecinta dan yang dicintainya bertemu dalam ruang rahasia hati. Hanya pecinta sejati yang akan menemukan apa yang dicintainya. Dalam Fushush al Hikam dikatakan bahwa cinta adalah sumber suatu perwujudan.
“Dari cinta kita muncul dan atas cinta kita dicipta
Karena itu, sengaja kita datang padanya
dan karena inilah, kita benar-benar diterima
(Fhusush al Hikam: 2/322)

Begitulah jalan cinta adalah jalan mula segalanya ada, tanpa cinta mustahil semesta raya ada. Allah adalah Sang Maha Pecinta dan kita para hamba-Nya berduyun-duyun datang keharibaan-Nya dengan penuh cinta, membawa obor cinta, dan melalui jalan cinta kepada-Nya. Fa Innamaa Nahnu bihi wa lahu. “Kita ada karena Dia dan untuk-Nya.” (Al Hadits).



Thursday, December 5, 2019

Eksistensi Sandur Tuban

Foto: Umar Afiq
Eksistensi Sandur Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

Kesenian sandur Tuban ternyata masih eksis. Saya menyangka kesenian ini sudah mati, setidaknya ini yang saya rasakan. Terakhir kali saya melihat pertunjukan sandur di masa kecil, sekitar usia 9 atau 10 tahunan, dan pertunjukan sandur itu tidak pernah saya lihat dan saya dengar lagi hingga usia saya menginjak 40 tahunan.

Dulu ditempat saya tinggal, tepatnya di tetangga desa ada group sandur. Saya hanya melihat dan membaca plat nama yang ditempelkan di depan rumah, entah namanya apa, saya lupa. Saya sendiri belum pernah mendengar ada pertunjukan sandur yang digelar di wilayah kecamatan di mana saya tinggal.

Sebenarnya saya juga sayup-sayup mendengar, ada sandur di wilayah Tuban bagian timur, tapi saya juga belum pernah mendengar pentas sandur. Jadi, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa Sandur Tuban mati suri.

Setelah waktu berlangsung lama, dan kehidupan berjalan dengan segala dinamikanya, bunyi gendang sandur dan sorak panjak hore nyaris tak terdengar. Sandur menjadi salah satu kesenian lokal yang tidak begitu diminati oleh masyarakat. Sandur masih kalah dengan kesenian lokal Tuban lainnya, tayub misalnya. Kira-kira demikian.

Dalam perjalanan waktu, sandur Tuban terdengar sayup-sayup mulai menyeruak ke permukaan. Saya merasa senang, sandur Tuban mulai ditampilkan ke ranah publik. Masyarakat akan kembali mendengar dialog Cawik, Balong, Tangsil yang mendayu-dayu dalam teater rakyat pinggiran ini. Sungguh menggembirakan.

Hari menggembirakan yang saya tunggu akhirnya datang juga. Dalam perhelatan Akbar Tuban Art Festival (ART) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Tuban (DKT) tahun 2019, ada pertunjukan sandur. Wow...saya berniat untuk menontonnya, walau tempatnya lumayan jauh dari rumah saya.

Secara umum saya berterima kasih kepada segenap punggawa DKT, yang dikomandani Bapak Joko Wahono atas terselenggaranya pentas sandur yang sudah saya impikan sejak lama. Sebagai lembaga yang mengurusi masalah kesenian dan kebudayaan di Tuban DKT layak mendapat apresiasi atas segala kegiatannya selama ini.

Saat pertunjukan sandur yang digelar di halaman gedung Budaya Loka Tuban, saya hadir dan melihat kemeriahanndan kehebohan malam puncak kegiatan Dewan Kesenian Tuban yang dihadiri penonton yang cukup banyak. Luar biasa.

Dari pertunjukan sandur yang tampil meramaikan malam itu cukup menjadi jawaban kegelisahan saya tentang eksistensi Sandur Tuban yang mati suri. Ah...sandur Tuban masih ada. Saya berharap kesenian lokal ini bisa lestari dan diwariskan generasi muda kita hari ini. Sekian.