Saturday, November 2, 2019

Mula Malapetaka

*Mula Malapetaka*
Oleh: Joyo Juwoto

Mula Malapetaka adalah sebuah novel terjemahan yang dialih bahasakan oleh Novia Stephanie. Novel ini judul aslinya The Bad Beginning yang ditulis oleh Lemony Snicket. Saya baru saja membaca buku 1, entah sampai berapa jilid buku ini, saya sendiri belum tahu. Maklum novel ini dipinjami teman.

Cerita dalam buku ini diawali dari sebuah permainan anak-anak di sebuah pantai yang disebut sebagai pantai payau, tempat di mana tiga bersaudara Baudelaire menghabiskan waktunya. Tiga bersaudara tersebut adalah Violet si sulung yang suka melempar batu ke arah laut, Klaus, si anak tengah yang gemar mengamati hewan-hewan, dan si bungsu Sunny yang suka menggigit-gigit barang yang dipegangnya.

Kegembiraan dan keasyikan mereka di pantai pupus dengan kedatangan sosok tinggi seram yang mendekati mereka bertiga. Ternyata, sesosok itu adalah Pak Poe yang mereka kenal. Pak Poe datang membawa nasib suram bagi ketiga bersaudara tersebut.



Pak Poe datang membawa kabar bahwa rumah keluarga Baudelaire (Halah susah banget ngucap dan nulisnya) mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan rumah mereka, bukan hanya itu orang tua mereka juga berpulang. Begitu kabar dari Pak Poe.

Kejadian ini tentu mengubah kehidupan tiga bersaudara yang malang ini. Mereka akhirnya diajak ke rumah pak Poe, dan tinggal bersama keluarga mereka. Tentu dengan kondisi yang serba baru, membuat tiga bersaudara ini tidak betah, mereka konflik dengan anak-anak pak Poe.

Kemalangan-kemalangan tiga bersaudara ini tidak berhenti di sini, akan banyak drama kesedihan yang mereka alami setelah mereka tinggal dengan seorang laki-laki aneh yang akrab dengan tato mata di dalam kehidupannya. Entah karena apa, Pak Poe mengirimkan mereka pada laki-laki aneh yang bernama Count Olaf.

Kisah dramatisasi kesedihan tiga bersaudara ini bisa dibaca di bab 4. Dengan cukup indah namun tragis, penulis menutup kesedihan tiga bersaudara ini dengan narasi yang menusuk hati. "Cahaya bulan menyorot lewat jendela dan jika ada yang mengintip ke dalam kamar anak-anak Baudelaire, ia akan menemukan mereka menangis diam-diam sepanjang malam.'

Sang penulis, Lemony Snicket sangat pintar dan detail  menggambarkan setting dan alur dalam cerita ini. Saya berusaha belajar dari tulisan yang diilustrasi oleh Brett Helquist. Ah, nama-nama yang sungguh asing dan susah untuk saya ingat dan saya ucapkan di lodah medok Jawa ini. ( Bersambung)

Thursday, October 31, 2019

Dakwah Pangeran Bonang

Dakwah Pangeran Bonang
Oleh: Joyo Juwoto

Bagi saya, membaca kisah-kisah  orang-orang sholih cukup menyenangkan, begitu juga membaca cerita Walisongo juga tak kalah menariknya. Saya selalu betah dan suka membaca cerita-cerita, apalagi ada bumbu-bumbu mistik di dalamnya. Selain itu tentu ada banyak hikmah yang bisa kita gali dan kita petik darinya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit mengenai kisah dakwah dan perjuangan salah satu Walisongo yang masyhur, yaitu Raden Makhdum Ibrahim, atau dikenal dengan sebutan sunan Bonang.

Buku yang saya baca tentang Sunan Bonang tergolong sangat tipis. Tebalnya hanya 39 halaman. Buku ini adalah salah satu serial dari buku Walisongo yang ditulis oleh M. Hariwijaya. Saya sebenarnya sempat mencari seri buku wali lainnya, tapi saya belum menemukan, mungkin saja sudah tidak dicetak.

Walau terbilang tipis, buku ini cukup bagus dan enak untuk dibaca. Buku yang dicetak di Yogyakarta tahun 2006 silam ini memuat lima bab.
Bab 1 Raden Makhdum Ibrahim
Bab 2 Mengungguli Ilmu para Brahmana
Bab 3 Pondok pesantren Bonang
Bab 4 Sufisme Sunan Bonang
Bab 5 Akhir Hayat Sunan Bonang

Dari bab 1 hingga bab 5 kisah dari Sunan Bonang dikisahkan relatif enak dan mudah dipahami. Saya lancar-lancar saja dalam membacanya. Karena kisah-kisah tersebut sudah sering saya baca di buku-buku lainnya. Hanya pada bab ke-4 saya agak kesusahan dalam memahami ajaran sufisme Sunan Bonang.

Di bab 4 ini banyak ajaran tasawuf yang dibabar oleh penulis. Perlu pendalaman dan referensi yang banyak untuk memahami ajaran sufisme Sunan Bonang, semisal ajaran shalat yang bukan hanya sekedar shalat secara Syara' saja. Di bab itu menyinggung shalat Daim dan juga sembahyang. Di halaman 24, sunan Bonang menanggapi pertanyaan Wujil tentang sembahyang. Sunan Bonang menjawab:
"Janganlah menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat."

Selain membahas sembahyang, juga membahas ilmu filsafat tentang anasir api, air, angin, dan juga tanah. Lebih lanjut di buku itu dijelaskan nilai filosofisnya yang saya sendiri belum begitu memahaminya. Tua muda adalah sifat unsur bumi, kalau tua kapan mudanya, kalau muda kapan tuanya. Unsur api bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di mana lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Unsur angin sifatnya ada dan tiada. Jika ada di mana tiadanya, jika tiada di mana adanya. Sedang unsur air bersifat mati-hidup. Kalau mati kapan hidupnya, kalau hidup kapan matinya. Wow... pusing!!!

Dan masih banyak hal yang dibahas secara filosofis di bab 4 tentang wejangan sunan Bonang kepada murid kinasihnya yaitu Wujil. Wejangan sunan Bonang inilah yang nantinya dikenal sebagai Suluk Wujil.

Saya tidak tahu apakah manuskrip suluk wujil ini masih ada atau tidak, mungkin temen saya *Mbak Hiday* bisa menjelaskan. Soalnya beliaunya yang intens meneliti mengenai manuskrip sunan Bonang. Bahkan beliaunya sudah melanglang buana hingga ke Leiden demi berjumpa dengan manuskrip asli Primbon Sunan Bonang yang dikenal dengan Het book Van Bonang.

Sebagai orang Tuban, tentu saya ingin mengetahui secara detail tentang tokoh yang berjasa terhadap dakwah Islam di bumi Ranggalawe ini. Semoga apapun tentang Sunan Bonang bisa kita baca dan kita jadikan pijakan dalam melangkah ke depan demi membangun Tuban lebih baik, sebagaimana citra yang dibangun oleh Bapak Bupati Fatkhul Huda, bahwa Tuban adalah bumi Wali. Sekian terima kasih.

*Bangilan, 31 Oktober 2019*

Wednesday, October 30, 2019

Juwet, buah nostalgia generasi 90an

Juwet, buah nostalgia generasi 90an
Oleh: Joyo Juwoto

Entah hari ini anak-anak kita mengenal atau tidak dengan buah juwet ini. Buah juwet identik dengan alam liar, karena buah ini jaman dahulu memang tidak dibudidayakan. Pohon juwet tumbuh liar begitu saja di gerumbul-gerumbul, di pekuburan atau juga di tepian sungai. Dulu pohon ini liar dan siapapun boleh mengambil buahnya, untuk dinikmati.

Buah dengan warna ungu kehitaman ini menjadi favorit anak-anak gembala, selain tentu buah lainnya. Hari ini budaya menggembala sudah hampir punah, hanya ada beberapa saja masyarakat yang menggembalakan ternaknya. Kebanyakan ternak sekarang makannya dibelikan. Bisa tebon, rumput gajah, dedak, maupun ongsok kering.

Jika engkau terlahir di era 80-90an, tentu masa kanak-kanakmu dipenuhi kenangan indah dan nostalgia tak terlupakan dengan buah juwet ini. Pastinya kalian pernah memakan buah ini demi memamerkan lidah dan gigi kalian yang berubah warna. Wow... Indah sekali.

Sangat disayangkan sekali sebenarnya, jika hari ini generasi milenial tidak mengenal buah juwet,  yang sangat asyik dinikmati langsung di atas pohonnya yang rindang. Kita bisa makan sepuasnya sambil duduk-duduk santai di dahan pohon juwet.

Buah juwet memang rasanya tidak begitu manis, bahkan justru cenderung sepet. Tapi anak jaman dahulu apapun masuk perut, jangankan yang sepet-sepet manis, yang kecut sekelas mangga muda saja habis disikat. Entah, dulu mungkin makanan tidak seenak dan sebanyak hari ini.

Walau sepet, buah yang berbentuk lonjong kecil-kecil, berwarna ungu tua ini ternyata memiliki banyak manfaat. Diantara adalah mengobati penyakit diabetes. Mungkin bisa dicoba ya. Selain mengobati diabetes, warna ungu dari buah juwet memiliki kandungan zat yang menjada kesehatan gusi dan gigi. Ternyata buah juwet memiliki banyak manfaat juga.

Alhamdulillah, setelah sekian lama saya tidak merasakan buah juwet, tadi pagi saat belanja di pasar, saya bertemu dengan penjual juwet.
"Bu, juwete saking pundi Niki? Kulo tumbas enggih?"
"Owh enggih, mangga, Niki saking Jatirogo, mas." Si ibu penjual menimpali.
Tanpa ba-bi-bu langsung saya beli itu buah. Ada kerinduan tersendiri untuk kembali menikmati buah tersebut.

Penjual menawarkan harga sepuluh ribu untuk satu kilo juwet. Tanpa tawar menawar, saya langsung setuju dan membelinya. Senang rasanya kembali melihat dan mencicipi buah favorit masa menggembala sapi di kampung halaman. Hemm...serasa kembali ke masa silam. Selamat menikmati buah juwet. Terima kasih.

Bangilan, 30 Oktober 2019