Monday, January 27, 2020

Maafkan Saya Bang Grab

Maafkan Saya Bang Grab
Oleh: Joyo Juwoto

Di era modern ini, atau orang-orang menyebutnya sebagai era informasi dan teknologi, menjadikan kehidupan manusia menjadi mudah, bahkan sangat mudah sekali.  Saya lebih suka menyebutnya era ini sebagai era "Nutul centris" karena hampir semuanya permasalahan bisa selesai hanya dengan nutul layar hape.

Layar hape menjadi semacam tempat mencari solusi dan inspirasi bagi kebutuhan manusia, bahkan termasuk pada hal yang sepele sekalipun, contohnya urusan cemilan, atau sekedar urusan hiburan dan bergame ria. Hampir semua pertanyaan yang kita ajukan di mesin pencarian Google bisa dijawab olehnya, walau Google tidak pernah bisa menjawab pertanyaan jomlo kapan ia menemukan serpihan dari tulang rusuknya yang entah ada di mana.

Walau saya termasuk kaum ndeso, saya juga tidak mau ketinggalan dengan tren anak-anak milenial yang hampir seluruh aktivitasnya bersinggungan dengan dunia maya itu. Sebagai kaum milenial ndeso saya gak mau kalah dengan mereka-mereka itulah.

Saya punya pengalaman lucu sekaligus tragis saat mencoba menggunakan fasilitas daring ini. Saat itu saya akan menghadiri Kopdar Ke-IV Sahabat Pena Kita yang diadakan di UNISMA Malang. Karena berangkat dari rumah sore hari, sedang perjalanan menuju kota Malang dari tempat tinggal saya sekitar 5 jam, karena macet dan sebagainya sekitar jam 24.00 WIB saya baru turun dari bis di terminal Arjosari.

Sebenarnya saya sudah berniat menginap di terminal (dan memang saya benar-benar menginap di sana) tapi entah karena apa saya kok pengin menggunakan fasilitas transportasi online. Padahal saat itu saya ditawari oleh ojek konvensional. Akhirnya saya mendownload aplikasi Grab.

Setelah aplikasi terinstall, saya mulai pesan ojek Grab. Tul tul tul... terpesanlah ojek online, dan dan berselang lama saya mendapat balasan bahwa ojek segera meluncur. Apesnya, saat saya memesan ojek, lokasi belum saya sesuaikan dengan tempat di mana saya berada. Saya mengira auto lokasi, eh, ternyata perlu disetting dulu,  jadi saya tidak begitu memperhatikannya.

Mungkin karena Bang Grabnya tidak menemukan saya dilokasi yang tertera di aplikasi, bang Grab menelepon saya.

"Halo mas, kamu di mana, saya sudah di lokasi?"

Dengan pede dan senang karena mendapat telepon cinta dari bang Grab saya pun menjawabnya.

"Saya di depan terminal Arjosari, pak."

"Lha, tadi pesannya di Alfamart, kok jadinya di terminal?"

Mendengar protes dari Bang Grab saya agak gugup. Saya melihat aplikasi kembali ternyata benar, saya salah menentukan lokasinya. Dengan tergagap saya pun menjawab protes bang Grab.

"Mohon maaf pak, saya di terminal Arjosari, njenengan ke sini bisa?"

Mungkin karena sudah tengah malam dan kondisi yang agak gerimis, Bang Grab dengan agak marah bilang ke saya dari seberang telepon.

"Nggak mas, batalkan saja pesanannya, jangan bermain-main dengan orang yang sedang bekerja." Katanya dengan nada marah.

"Ngapunten, pak, ngapunten...kulo mboten paham." Kata saya meminta maaf. Tak lama kemudian sambungan telepon pun terputus.

Saya sama sekali tidak berniat mempermainkan Bang Grab, hanya karena kurang kefahaman dan kecermatan saya terhadap aplikasi tersebut, yang menyebabkan  tragedi di tengah malam tersebut terjadi. Tentu itu karena kesalahan saya yang kurang cermat dan hati-hati.

Tulisan ini saya buat sekaligus sebagai permohonan maaf kepada bang Grab yang telah saya rugikan. Saya berdoa semoga beliaunya dikaruniai nikmat sehat,  mendapatkan rejeki yang turah-turah dan barakah. Aamiin.


*Bangilan, 27/01/2020*

Saturday, January 25, 2020

Kopdar SPK Ke-IV dan Menziarahi (Sejarah) Kota Malang

Kopdar ke-IV SPK dan menziarahi (sejarah) Kota Malang
Oleh: Joyo Juwoto

Kota Malang bisa disebut sebagai kota pendidikan, sederet nama kampus beken ada di sana. Selain itu kota yang berudara sejuk ini juga menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat. Walau demikian, jika saya ke kota Malang, salah satu yang selalu saya ingat adalah sepenggal kisah sejarahnya yang melegenda "Ken Dedes, Ken Arok, dan ken ken yang lain". Saya memang suka cerita-cerita sejarah, apalagi yang berbumbu mitos dan menjadi foklore masyarakat.

Ken Dedes adalah seorang gadis ayu dari lembah Panawijen,. putri seorang pendeta Budha, Mpu Parwa. Sekarang nama Panawijen sudah tidak ada, kemungkinan besar nama itu mengalami perubahan vonem menjadi Polowijen Blimbing. Karena di desa tersebut ditemukan sebuah situs yang dikenal dengan nama Sumur Windu Ken Dedes atau sumur upas.

Ken Arok adalah seorang anak terbuang yang menjadi brandal ternama,  ia terlahir dari sebuah skandal asmara yang rumit. Dari ide gilanya-lah tercipta pusaka sakti Keris Empu Granding yang meminta tumbal darah tujuh turunan. Ken Arok dan Ken Dedes inilah yang nantinya mendirikan wangsa baru dalam sejarah kerajaan di Jawa, wangsa Rajasa Sang Amurwabumi.

Kisah tentang Ken Dedes dan Ken Arok dengan segala drama perebutan kekuasaan yang dibumbui kisah romantis bisa pembaca dalam novel Ken Arok; Cinta dan Takhta karya Zhaenal, atau kalau mau lebih revolusioner lagi silakan baca buku Arok Dedesnya Pramoedya Ananta Toer, ada banyak sudut pandang lain yang dihidangkan Pram untuk pembaca. Dan Pram memang selalu berbeda dan memiliki tafsir yang unik yang berkenaan dengan kisah Arok-Dedes dalam suksesi raja-raja Jawa.

Kedatangan saya di Malang Hari ini bukan  dalam rangka mendedah sejarah ataupun foklore Arok-Dedes, tapi dalam Kopdar Literasi bersama Sahabat Pena Kita (SPK) yang diselenggarakan di Kampus UNISMA. Jadi saya mencukupkan diri membahasnya sampai di situ saja. Selanjutnya saya ingin bercerita kedatangan kopdar saya di komunitas literasi di mana saya belajar menulis di sana.

Setiap enam bulan sekali SPK mengadakan kopdar,  saat kopdar di UNISMA adalah kopdar yang keempat. Karena kopdar sebelumnya saya tidak hadir, maka di kopdar ke-IV ini saya mewajibkan diri saya hadir. Seribu alasan untuk tidak hadir telah saya hapus dari pikiran saya. Saya wajib hadir titik.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, niat baik dan tekad yang kuat selalu menemukan jalannya untuk berhasil. Tepat tadi malam jam 00.00 saya sampai di Malang, tepatnya di terminal Arjosari. Saya memilih tidur di terminal menemani tukang ojek, bakul kopi, dan angkringan di pinggir jalan yang tak lelah mengais rezeki dan barakah. Sampai larut malam mereka mengabdikan tenaganya untuk melayani penumpang yang sampai larut malam baru tiba di terminal.

Saya menikmati dinginnya kota Malang dengan bahagia, menghitung jumlah bintang yang alpa di cakrawala, menikmati secangkir jahe anget, dan kemudian tidur di emperan toko di tepi jalan raya, setelah Shubuh saya   meluncur ke kampus UNISMA dan bersiap untuk silaturahmi dan thalabul Ilmi dalam kopdar SPK.

*Arjosari, 25/01/2020*

Wednesday, January 22, 2020

Menjelajahi Belantara Diksi Puisi


Menjelajahi Belantara Diksi Puisi

Ada yang bilang entah siapa, bahwa puisi yang baik dan bernilai tinggi nan sastrawi adalah puisi yang tak terpahami oleh pembaca. Ungkapan ini bisa iya bisa tidak, tergantung sudut pandang yang menilai dan memberikan apresiasi dan kritik terhadap sebuah puisi itu sendiri. Saya pribadi menilai puisi tidak sekedar dengan logika makna semata, kadang juga melibatkan intuisi dan frekuensi bahasa jiwa. Gampangnya saya tidak begitu ambil pusing dengan segala teori menulis puisi itu yang bagaimana, yang terpenting saya menulisnya dan selesai.
Mohon dimaafkan, mungkin saja saya terlalu naif, tapi ya begitulah, sebagai seorang yang awam dengan sastra puisi itu sendiri, saya kadang lebih mengedepankan kebahagiaan dengan puisi yang selesai saya tulis, ada perasaan yang membuncah saat puisi itu mencapai titik akhir penulisan.  Entah apa jadinya nanti, apakah puisi saya itu sesuai dengan wadah atau model yang telah disiapkan oleh aturan yang bernama teori menulis puisi, atau tidak. Saya hanya berusaha menulis dengan hati itu saja. Sederhana.
Oleh karena itu, disekian waktu saya menulis dan menerbitkan buku, baru kali ini saya memberanikan diri menerbitkan puisi saya, itupun karena dibersamai oleh sahabat saya, Yulia Pratitis Yusuf yang bernama pena Liaiko, jika tidak, saya mungkin belum tentu mampu mengumpulkan keberanian untuk menerbitkan kumpulan puisi saya sendiri.
Bagi saya pribadi puisi itu tidak harus dengan kalimat mengharu biru, tidak wajib juga penuh diksi yang menyihir dan membuat bengong para pembaca, atau dengan kalimat bunga-bunga yang mempesona, yang terpenting menurut saya adalah bagaimana seorang penulis bisa menuangkan ide dan gagasannya dalam bait-bait puisinya.
Saya menyukai hampir diseluruh rangkaian kata dalam sebuah puisi yang ditulis oleh penulisnya, saya meyakini setiap penulis berusaha mengungkapkan hal terbaik yang terbetik dalam hati, walau kadang hasilnya biasa-biasa saja, tak apalah dunia memang rupa-rupa, puisi juga demikian, tak harus yang menghanyutkan perasaan itu yang disebut puisi, kadang datar dan biasa saja, kadang melompat, kadang terguling tidak berbentuk pun tak apalah, karena semuanya menuju pada muara untuk menciptakan karya yang bernama puisi. Walau nanti bisa kita sebut sebagai puisi yang gagal.
Bagi saya puisi itu alat, bisa sebagai alat propaganda, alat menyampaikan suatu ide, alat protes, menuangkan suasana kegembiraan dan kesedihan hati penulisnya, bahkan mungkin alat untuk lari dari kenyataan sekalipun. Saya sangat suka dengan ungkapan yang ditulis oleh Sujiwo Tejo. Beliau bilang begini: Tahukah kamu orang yang paling tak berperasaan? Dia yang jauh dari kekasih di saat hujan, tapi tak menghasilkan puisi.”
Saya sebenarnya mencurigai ungkapan presiden Jancukers Indonesia ini terinspirasi dari qoulnya Hujjatul Islam Imam Al Ghazali yang saya intip di beranda facebooknya salah seorang teman
“Orang yang tak tersentuh hatinya melihat bunga-bunga yang bermekaran di musim semi dan tak bergetar jiwanya mendengar alunan merdu dawai kecapi, maka orang itu rusak mentalnya, taka da obatnya.”
Tampaknya dua ungkapan yang cukup indah itu, bisa mewakili dan menjadi hujjah serta dalil atau mungkin juga sebagai dalih untuk menulis bait-bait puisi, selain tentu apa yang pernah diungkapkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang menyatakan “Ajarilah anak-anakmu sastra, lantaran sastra menciptakan anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”
Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, dan bagaimanapun bentuknya, saya berdoa dan berharap tulisan dalam buku Antologi Puisi “AKU Api Kamu Air” menjadi salah satu karya sastra yang bisa menginspirasi kepada pembaca. Kritik dan saran dari para budiman tentu sangat kami harapkan. Sekian dan terima kasih.


Bangilan, 20 Januari 2020
Penulis