Monday, March 16, 2020

Pembelajaran Daring di Era Covid-19

Pagebluk Corona Covid-19 belum usai, libur sekolah diperpanjang. Ini adalah tantangan tersendiri buat para guru dan wali murid juga. Pembelajaran dilaksanakan secara online, bisa lewat aplikasi WhatsApp maupun aplikasi lainnya. Oleh karena itu, siapapun kita, hari ini harus melek IT, melek perkembangan dan perubahan zaman yang cukup revolosioner.

Mungkin era pembelajaran hari ini tidak pernah terpikirkan oleh kita semua, namun nyatanya hari ini kita dihadapkan pada kondisi di mana manusia sebagai makhluk sosial dibatasi kegiatan sosialnya. Namun bagaimana lagi, karena memang kondisi yang memaksa maka segala kegiatan yang melibatkan perkumpulan manusia harus dibatasi dan aiatur dengan tegas.

Demi kesehatan, demi nyawa manusia, demi nilai-nilai kemanusiaan, kebijakan sosial distancing/ physikal distancing perlu kita taati bersama, termasuk dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yang oleh Mas Menteri Nadiem Makarim harus dikerjakan dari rumah.

Untuk menindaklanjuti kebijakan belajar di rumah, maka guru harus kreatif dalam memberikan materi pembelajaran siswa melalui daring. Guru bisa mengirimkan url dari YouTobe tentang Corona Covid-19 kepada siswa, agar siswa bisa memperoleh informasi dengan benar. Berikut link channel YouTobe yang bisa dilihat oleh siswa tentang informasi Covid-19.


Selain itu guru juga bisa membuat video pembelajaran yang menarik dengan memakai aplikasi edir video, semisal Kine Master atau aplikasilain yang mampu dikuasai oleh seorang guru.

Tidak hanya itu saja, guru juga dituntut bisa mengoperasikan program penilaian berbasis online, agar siswa bisa mengerjakan tugas yang diberikan guru di rumah. Ada beberapa program yang bisa dipakai, bisa memakai google form, atau juga bisa menggunakan microsoft form. Kalau kesulitan guru bisa melihat tutprial di YouTobe. Berikut soal PTS yang saya buat online untuk pembelajaran siswa.

https://forms.office.com/Pages/ResponsePage.aspx?id=DQSIkWdsW0yxEjajBLZtrQAAAAAAAAAAAANAASSKvfhUQjFFUE1HSjA3VlJPU0dIN0hXOUE1STE0UC4u

Seorang guru memang harus selalu mengapdate pengetahuan tentang apapun lebih-lebih tentang kemajuan pembelajaran di era daring, karena hal ini sudah menjadi tuntutan zaman. Seorang guru jangan sampai ketinggalan dengan kemajuan teknologi dan informasi. Kuncinya jika ada kemauan pasti ada jalan. Jarrib wa laahid, takun 'aarifan.


Thursday, March 12, 2020

Hadiah Buku dari Dr. Taufiqi

Hadiah Buku dari Dr. Taufiqi
Oleh: Joyo Juwoto

Kehidupan ini fana, yang abadi adalah amal kebajikan. Kehidupan ini sementara yang melegenda adalah kenangan, khususnya kenangan dengan orang-orang yang kita cintai.

Saya punya sedikit lembar kenangan di dalam hati dengan Dr. Taufiqi. Lembar di mana jejak langkah Mr. Vicky, panggilan akrab beliau akan saya kenang dan menjadi cerita keabadian kebaikan untuk beliau.

Pak Vicky adalah seorang Kiai, dosen, trainer Nasional, dan juga seorang penulis yang baik. Buku-buku beliau terjual ribuan eksemplar di setiap pelatihan yang beliau adakan.

Alhamdulillah, saya beruntung walau belum pernah mengikuti pelatihan yang beliau adakan, saya mendapatkan hadiah sebuah buku yang beliau tulis. Buku itu berjudul  "Graphology for Teaching Parenting Therapy". Buku yang cukup bagus bagi seorang guru maupun orang tua.

Saya mengenal Mr. Vicky di group WhatsApp Sahabat Pena Nusantara kala itu. Sayangnya saat kopdar di Pesantren An-Nur Bululawang, saya berhalangan hadir. Otomatis, pertemanan dengan beliau hanya terjalin lewat dunia maya.

Hingga pada saat kopdar di Pondok pesantren Darul Istiqomah Bondowoso yang ketepatan pendiri dan pengasuhnya  KH. Masruri Abdul Muchit menjadi anggota group juga. Di kota tape  inilah saya berkesempatan hadir. Di sinilah untuk pertama kalinya saya dipertemukan dengan teman-teman group dari berbagai wilayah di Indonesia.

Saya itu orangnya agak pendiam dan pemalu, dan ini kadang menjadi hal yang saya sesali. Waktu itu saya tidak berani berfoto dengan senior-senior di group literasi, sehingga saya tidak punya foto secara pribadi dengan beliau-beliau. Termasuk saya tidak punya foto dengan Pak Vicky.

Ketika ada berita tentang kewafatan beliau dari WA Prof. Imam Suprayogo, saya tersentak kaget. Memang saya sempat mendengar beliau sedang sakit. Tapi jika melihat kondisi fisik beliau yang masih kelihatan segar bugar, saya tidak menyangka pak Vicky akan pergi secepat itu. Saya masih melihat foto-foto beliau tampak ceria bersama teman-teman saat kopdar di Semarang sekitar enam bulan sebelum kepergian beliau.

Jika boleh usul, tentu kita menginginkan orang-orang baik, Sholeh, dan pintar kayak ustadz Vicky ini diberi panjang umur, sehat, dan selalu bisa menebar manfaat. Tapi masalah kematian memang menjadi urusan Tuhan. Kita tidak bisa memajukan maupun menundanya. Itu ranah ketuhanan.

Pak Vicky orangnya baik, Sholeh, keluarga, handai tolan dan anak-anak beliau mendoakan, santri-santri beliau juga  banyak mendoakan,  jariyah ilmunya banyak,  termasuk hadiah buku yang diberikan kepada saya salah satunya.

Saya jadi ingat sebuah gambar screenshot dari status Facebook Pak Vicky, yang dishare oleh Pak Emcho. Tulisan tersebut saya kutipkan di sini:

"Jika Kelak aku tlah tiada
Kau tetap bisa menelusuri jejak langkahku
Dari goresan-goresan pena
Di atas lembar-lembar kertas keabadian".

(Dr. HM. Taufiqi)

Pak Vicky telah tiada, dan kita tetap bisa menziarahi beliau, dari lembar-lembar kertas keabadian yang telah beliau goreskan dengan penuh cinta dan pengabdian.

Pak Vicky telah berpulang dengan tenang. Tinggal kita di sini, mengenang dan mendoakan beliau, semoga segala salah dan khilafnya diampuni Allah, dan beliau ditempatkan di sisi-Nya. Aamiin.


*Joyo Juwoto, Santri pondok pesantren Assalam Bangilan Tuban.*