Wednesday, July 31, 2019

I'm Ready For Lomba Puisi Nasional

*I'm Ready For Lomba Puisi Nasional*
Oleh: Joyo Juwoto

Sekitar tanggal 13 bulan Juli yang lalu, tak sengaja saya membuka akun Instagram, di salah satu timeline teman, ada pamflet yang bunyinya "I'm Ready For Lomba Puisi Nasional". Biasanya dengan lomba-lomba apapun saya sering mengabaikan, tapi entah kali ini terbetik penasaran di dalam dada. Ingin hati ini mengikuti lomba puisi  Nasional yang diadakan oleh akun Instagram @pemudapena.id.

Akun Instagram pemudapena sendiri diikuti oleh oleh 29.9 ribu follower, saya kira akan banyak yang mengikutinya, apalagi ini eventnya adalah event nasional. Tentu para penyair dari berbagai wilayah akan berdatangan untuk meramaikan kompetisi dan pertarungan diajang bergengsi ini.

Hadiah yang ditawarkan dalam event nasional ini cukup menggoda, juara pertama, kedua dan ketiga mendapatkan paket liburan gratis jalan-jalan ke Singapura, Malaysia, dan Thailand, juara harapan mendapatkan uang saku, dan 30 karya terbaik akan mendapatkan hardpiagam, medali dan buku. Wow...!!! pengin rasanya jalan-jalan ke luar negeri berbekal nggombal dalam bait-bait puisi. Bismillah saya harus ikut lomba.

Setelah menelusuri akun @pemudapena.id, saya pun menyiapkan puisi dan hal-hal yang akan saya kirimkan untuk lomba tersebut. Deadline lomba tanggal 16 Juli 2019, karena waktunya mepet saya segera mengirimkan puisi saya. Ada tiga judul puisi yang saya kirim, yaitu Sajak Air Mata, Seraut Wajah Tuhan, dan Hikayat Senyuman.

Alhamdulillah, sebelum deadline puisi-puisi saya berhasil saya kirimkan, tinggal menunggu pengumuman lomba yang akan dirilis tanggal 28 Juli 2019.

Ada yang bilang menunggu adalah pekerjaan membosankan, namun bagi saya menunggu adalah saat-saat di mana kita bisa intim dan benar-benar bisa merasakan akan kesejatian dengan apa yang sedang kita tunggu. Budayawan Sujiwo Tejo mengatakan: "Yang paling sanggup menerjemahkan cinta hanyalah penantian, Kekasih.” haha....gak ada hubungannya kali ya?

Setelah menunggu penuh  rindu di bawah rindangnya pohon randu, tanpa saya minta, tanpa saya usahakan tanggal masa pengumuman pemenang lomba puisi Nasional pun tiba. Pagi saya membuka Instagram untuk melihat pengumuman, tapi ternyata belum ada, baru menjelang senja penghabisan pengumuman itu dirilis di timeline @pemudapena.id.

Saya lihat pamflet pemenang pertama, kedua, dan ketiga. Ternyata nama saya tidak ada di sana. Alhamdulillah gumam saya. Ternyata saya bukan termasuk raja gombal, buktinya saya tidak masuk kategori juara. Begitu pula ketika pengumuman juara harapan satu, dua, dan tiga, lagi-lagi nama saya tidak ada. Fix, saya bukan bagian dari raja gombal Nasional. Haha...

Setelah tidak masuk kategori juara dan juara harapan, saya masih punya harapan masuk 30 besar. Sayangnya saat itu  yang kategori 30 besar belum dirilis, dan diminta menunggu sampai nanti tengah malam. Alamat begadang nih.

Harap-harap cemas tentu ada, tapi karena sudah tidak masuk kategori yang jalan-jalan gratis maka saya lebih baik menunggu rilis 30 besar sambil tidur saja. Ayem.

Di sepertiga malam saya terbangun, jika ada yang mengatakan bahwa orang berkacamata itu tidak setia, karena bangun tidur yang dicari kacamatanya, bukan istri atau suaminya, maka saya yang setia istri, bangun yang saya cari adalah hp, karena istri masih di samping dan tidak perlu saya cari.

Setelah mode data saya aktifkan, saya pun membuka Instagram. Pengumuman kategori 30 puisi terpilih sudah dirilis. Setelah saya lihat nama saya  ada di sana diurutan nomer sembilan.   Urutan nomor satu sampai enam adalah milik sang juara dan juara harapan, sedang saya berada di urutan ke sembilan.

 Alhamdulillah, walau batal menjadi jagoan nggombal nasional, ternyata saya masih masuk kategori nomer 9 raja gombal Nasional. Astaghfirullah, taubat, taubat.

Setelah masuk kategori 30 besar lomba puisi Nasional, kami oleh panitia dibuatkan group khusus untuk memudahkan koordinasi. Hadiah yang akan kami terima dikirimkan besok tanggal 5 Agustus 2019. Alhamdulillah, saatnya kembali memadu rindu untuk menunggu.

*Bangilan, 31 Juli 2015*

No comments:

Post a Comment