Saturday, February 23, 2019

Bermain Boneka Berbie Jagung


Bermain Boneka Berbie Jagung

Matahari belum beranjak tinggi, udara masih terasa dingin, angin bertiup dari tegalan membawa harum aroma tumbuhan yang banyak di tanam oleh petani. Ada tanaman jagung  yang mulai berbunga dengan tongkol-tongkolnya yang masih hijau, tanaman lombok yang sedang berbunga, dan juga tanaman lainnya yang menghijaukan ladang penduduk desa.

Naila, Nafa, Agis, dan Windi menyusuri pematang tegalan milik kakek dan neneknya, mereka berjalan sambil menenteng rinjing kecil yang dibawa dari rumah. Tampak Naila dan Windi yang diikuti oleh Nafa dan Agis, mereka memilah-milah pohon jagung dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka seakan sedang mengamati sesuatu.

“Ini ada kateknya (tongkol jagung muda), Win! seru Naila sambil mengambil sepotong tongkol jagung yang masih hijau, kemudian ia memasukkannya ke dalam rinjing yang dibawanya.

‘Iya, ini saya juga dapat. Ini bagus sekali, rambut jagungnya lebat dan pirang”. Sahut Windi yang juga sedang mengambil salah satu tongkol jagung muda.

Gadis-gadis itu ternyata sedang mengambil tongkol jagung muda yang tumbuh di batang pohon jagung. Tongkol-tongkol yang diambil adalah yang tumbuh dobel di satu batang pohon, jika tidak diambil biasanya pertumbuhan tongkolnya kurang bagus, oleh karena itu para petani biasanya mengambil salah satu tongkol, agar bisa tumbuh dengan baik dan berbiji bagus.

“Saya juga dapat, saya juga dapat!” seru Nafa dan Agis sambil mengacung-acungkan tongkol yang mereka ambil. Kemudian mereka berdua memasukkan hasil buruannya ke rinjing bambu yang dibawa Naila. Gadis-gadis kecil itu bergembira sekali mendapatkan apa yang mereka cari. Di sela-sela pohon jagung yang menghijau gadis-gadis itu terus memilah dan memilih tonggkol jagung yang akan dibuat mainan.

Setelah mendapatkan banyak tongkol jagung mereka kemudian memutuskan untuk pulang, rinjing yang dibawa Naila dan Windi  sudah terisi cukup banyak, hingga membuat gadis kecil itu keberatan.

“Gis, Fa...ayo bantu bawa rinjingnya” teriak Naila meminta bantuan kepada adiknya. Kemudian rinjing bambu itu digotong secara bersama untuk dibawa pulang ke rumah nenek.

Sesampainya di rumah, mereka kemudian duduk melingkar di halaman rumah. Mereka ramai sekali mendandani tongkol jagung itu menjadi boneka. Rambut jagung yang memang sudah pirang menjadikannya cocok didandani menjadi boneka yang lucu, ada yang dibiarkan terurai, ada pula yang di klabang. lucu imut sekali.

Gadis-gadis kecil itu terus asyik membuat boneka dari tongkol jagung. Mereka menyebutnya sebagai boneka barbie, seperti yang ada di televisi, walaupun tentu tidak sama. Tapi, raut muka gadis-gadis kecil itu sangat bahagia.

No comments:

Post a Comment