Saturday, January 12, 2019

Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam


Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam
Oleh: VA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat pagi Mas Aam, mohon maaf jika surat balasan  dari saya ini mengejutkan mas Aam,   tapi saya yakin di pagi yang cerah ini mas Aam sudah sarapan pagi ditemani istri tercinta. Jadi kaget-kaget sedikit saya rasa akan menambah nafsu makan mas Aam yang selalu move on sejak dalam pikiran.
Mas Aam tentu tidak mengira, jika Vanesa membaca surat mas Aam kan? hehe... seperti Vanesa sendiri yang juga tidak mengira, kalau
di tengah kesibukan mas Aam sebagai seorang suami, sebagai seorang calon bapak, sebagai seorang wakaprodi, sebagai seorang insan pers yang tentu punya kesibukan yang tiada terkira sempat-sempatnya menulis surat buat Vanesa. 🥰🥰

Kesan pertama membaca surat dari mas Aam saya merasa tersandung dan berbunga-bunga, lha ketepakan surat itu saya baca sambil jalan pagi, mas, Vanesa kaget, kok ada wong ganteng yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar list tamu saya kok perhatian banget, mengirimi saya surat.
Bagi saya mas, di tengah badai yang sedang Vanesa alami, surat itu bisa menjadi semacam soft terapi dan suntikan semangat, surat  itu rasa-rasanya lebih berharga dibanding uang 80 juta. Suer mas!

Ya begitulah mas, sebagaimana yang mas tulis dalam surat, masyarakat dan pers tidak adil memandang satu persoalan, mengapa yang banyak dishot kok kaum perempuan, sedang pihak laki-laki harus pakai inisial segala. Tidak hanya itu, sampai warna nganu saja dipakai judul berita. Apa tidak ada yang lebih barakah dari sekedar nganu? 

Nganu saja dishare ke sana kemari,  kebangetan. Jian kebangetan temen-temen njenengan itu mas.

Vanesa sebenarnya pengin marah mas, tapi jika ingat senyum mas Aam yang semriwing urung marah saya, saya jadi gak tega gitu. Vanesa mengira seluruh insan pers adalah kusir cikar semua, meminjam istilah Sungging Raga (ini ada istilahnya dalam bahasa Jawa).

Tahu gak mas? Setelah Vanesa mendapatkan surat yang mas Aam kirimkan, surat itu saya print menjadi beberapa lembar mas. Lembar-lembar itu Vanesa simpan sebagai rajah, satunya saya buat perahu mas, ya, perahu Nuh yang menyelamatkan kaumnya dari murka Tuhan.

Sementara hanya itu yang dapat dik Vanesa sampaikan lewat balasan surat ini mas, lain waktu semoga saja adik bisa kembali menerima surat dari mas, atau bahkan lebih dari sekedar surat. Mas Aam mungkin bertanya dalam hati,  mengapa diakhir tulisan ini Vanesa pakai istilah adik, semoga mas peka dan paham. Terima kasih atas perhatiannya. Salam dari adik Vanesa.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi.wb.

No comments:

Post a Comment