Tuesday, April 23, 2019

Kartini milenial di era digital


*Kartini milenial di era digital*
Oleh: Joyo Juwoto

Peringatan hari Kartini memang identik dengan perayaan hal-hal yang identik dengan kaum perempuan, seperti tata rias dengan segala asesorisnya, lomba berpakaian kebaya, memakai sanggul dan konde dan lain sebagainya.

Hal ini tentu tidak terlepas dari sosok Kartini yang memang kebetulan berjenis perempuan, namun bukan berarti hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pernak-pernik perempuan menjadi kurang afdhol dipakai untuk merayakan hari Kartini.

Saya sering menuliskan bahwa sejatinya peringatan hari Kartini bukan hanya sekedar peringatan tentang keperempuanan belaka, namun sejatinya hari Kartini adalah hari yang memiliki muatan semangat untuk berliterasi. Walau demikian, segala perayaan yang hari ini kita nikmati bersama,  saya tidak berani mengatakan itu salah, itu benar.

Jika kita mencermati semangat Kartini pasti sangat gamblang bahwa Kartini adalah sosok yang berjuang mencerdaskan kehidupan kaum perempuan dengan jalan pendidikan yang layak untuk kaumnya yang saat itu menjadi kelompok yang termarjinalkan oleh lingkungannya.

Kartini juga mengabadi dengan karya-karyanya yang berupa surat yang dikirimkan kepada koleganya Nyonya Abendanon di Belanda. Surat-surat Kartini inilah yang nantinya dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Dari narasi yang saya sajikan di atas saya rasa cukup jelas, bahwa hari Kartini sebenarnya tidak jauh dari semangat berliterasi.

Oleh karena itu, narasi hari Kartini sebagai hari untuk menguatkan literasi Nasional perlu mendapatkan porsi yang banyak untuk kita viralkan bersama baik melalui media cetak maupun media sosial yang hari ini cukup signifikan pengaruhnya.

Jika dahulu Kartini menulis melalui media surat, hari ini cukup banyak media yang bisa kita manfaatkan untuk menebar kebaikan melalui media sosial. Kita bisa menggunakan WhatsApp, line, massanger, Twitter, Instagram, FB, watpad, konten blog dan lain sebagainya.

Hari ini adalah eranya Kartini milenial, di mana kesempatan untuk berbagi kebaikan bisa dilakukan melalui jejak-jejak digital. Hari ini dunia berada di genggaman masyarakat yang berwujud smartphone, oleh karena itu peluang untuk menebar manfaat bisa dilakukan dengan sangat mudah, semudah menjentikkan jari-jari kita di layar sentuh smartphone kita.

 Semangat Kartini ini tentu bukan hanya untuk kaum perempuan saja, namun tentunya juga menginspirasi seluruh elemen masyarakat dari berbagai kalangan, apapun itu jenis kelaminnya. Jadi menurut saya peringatan Kartini adalah peringatan untuk berjuang melalui jalur literasi, bukan hanya sekedar menampilkan bedak dan lipstik semata.

Selamat hari Kartini dan selamat menuju hari buku sedunia, semoga bermanfaat. Salam Kartinian salam berliterasi.

*Joyo Juwoto, Penulis buku anak "Cerita Naila dan Nafa",  tinggal di Bangilan-Tuban.*

Merayakan Hari Buku Sedunia bersama IGI Bumi Wali

*Merayakan Hari Buku Sedunia bersama IGI Bumi Wali*
Oleh: Joyo Juwoto

Hari buku memang selalu sunyi dan sepi, tidak semeriah hari-hari lainnya, yang dirayakan secara besar-besaran dan masif, semisal hari Kartini yang jatuh satu hari sebelum hari buku dunia yang jatuh pada tanggal 23 April.

Hari buku tidak begitu familiar di telinga masyarakat kita, bahkan mungkin sangat sedikit sekali yang mengetahui keberadaan hari peringatan ini. Hal ini tentu sangat menyedihkan, ketika pemerintah melalui kementerian pendidikan Nasional menggalakkan program literasi sekolah, namun banyak sekolah sama sekali tidak merespon, bahkan sangat abai dengan gerakan yang berskala nasional ini.

Walau demikian bukan berarti gerakan literasi Nasional tidak ada gaungnya sama sekali. Melalui IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang saya tahu memiliki program yang cukup bagus, yaitu sagusabu (satu guru satu buku). Dari revolusi gerakan ini menurut pengamatan saya ada kemajuan bagi guru-guru yang tergabung dalam komunitas IGI bersemangat menulis buku.

Sekecil apapun geliat gerakan literasi ini perlu kita syukuri dan kita sebarkan agar menjadi pemantik bagi lembaga-lembaga yang menaungi institusi pendidikan lainnya. Kita tentu berterima kasih dengan usaha yang telah dilakukan oleh IGI yang sangat menginspirasi ini.

Di tempat saya, di kota  kabupaten Tuban, gerakan IGI dalam menggaungkan dunia literasi juga sudah sangat terasa. Walau terbilang baru IGI mampu memberikan teladan bagi dunia literasi Nasional kita.

Saya bukan termasuk anggota IGI, walau saya masuk dan menjadi anggota di group WhatsApp IGI. Saya sangat bangga dan berterima kasih sekali  dapat belajar banyak dari semangat teman-teman dan senior IGI Tuban dalam mengembangkan dunia literasi.

Banyak para pakar di IGI yang sangat intens sekali bergerak membangunkan peradaban dengan tulisan. Sebut saja ada Cak Sarib, Pak Rofiq, dan juga Yai Lurah, panggilan akrab Cak Mujihadi dan tentunya teman-teman IGI lainnya yang penuh semangat menggelorakan literasi di bumi wali.

Alhamdulillah kebersamaan saya dengan IGI tahun lalu melahirkan sebuah buku Antologi yang cukup menarik, judulnya "Saat Ramadhan Hampir Usai". Buku ini adalah buku pertama saya bersama IGI Tuban. Saya berharap kegiatan menerbitkan buku ini bisa dilanjutkan baik oleh masing-masing individu dan juga Antologi bersama teman-teman IGI Bumi Wali.

Selamat hari buku sedunia, 23 April 2019. Terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk semua teman-teman IGI di seluruh Indonesia. Salam Literasi.

*Joyo Juwoto, Penulis buku Cerita Naila dan Nafa. Tinggal di Bangilan-Tuban*

Friday, April 12, 2019

Batik dan Penanda Identitas ke-Indonesiaan Kita


Batik dan Penanda Identitas ke-Indonesiaan Kita
Oleh: Joyo Juwoto

Ketika kita berbicara tentang identitas maka ada hal unik, original, dan khas tentang suatu hal yang menandai sebuah objek yang sedang kita bicarakan. Jika Eropa identik dengan pakaian jasnya, bangsa Arab tampak dari pakaian jubahnya, maka Indonesia juga memiliki kekhasan, yaitu pakaian batiknya.
Suatu bangsa yang memiliki kekhasan yang menjadi warisan intelektual dan budaya masyarakat, adalah bangsa yang memiliki kebesaran sebagai sebuah bangsa. Kekhasan itu menjadi sebuah wisdom lokal yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, ini yang menjadikan kekhasan atau ciri lokal menjadi pembentuk sebuah identitas.
Berbicara mengenai ciri lokal, bangsa Indonesia termasuk gudangnya wisdom lokal. Kita memiliki ratusan suku, ratusan bahasa daerah, hingga berbagai kearifan lain yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia, salah satunya adalah batik.
Batik di Indonesia jenisnya sangat banyak, hampir di setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri. Kita mengenal batik Solo, batik Jogja, batik Pekalongan, batik Cirebon, batik Lasem, batik Tuban, dan masih banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan di sini, karena saking banyaknya.
Selain itu setiap daerah juga memiliki corak batik yang beraneka ragam, menyesuaikan dengan corak budaya, geografis, sosiologis, nilai-nilai religius bahkan fungsi dari penggunaan batik itu sendiri.
Di daerah Tuban tempat di mana saya tinggal, juga memiliki jenis batik yang dikenal dengan sebutan batik Gedog. Nama batik gedog ini sendiri diambil dari cara membuat kain dengan alat yang disebut sebagai jantra. Suara alat pemintal benang ini berbunyi dog dog dog, sehingga nama kain batiknya disebut sebagai batik gedog. Sebuah pengambilan nama yang cukup sederhana.
Berbicara mengenai batik gedog di Tuban saya punya seorang teman di komunitas blogger Tuban, namanya mbak Nur Rochmah, beliau seorang yang ibu rumah tangga yang tekun menggeluti dunia perbloggeran. Selain itu Mbak Nur Rochmah ini juga mempunyai toko batikdi Jl. AKBP Suroko no. 21 Tuban Jawa Timur. Kemampuan mbak Nur dalam literasi dan dunia perbloggeran ternyata sangat membantu dan bermanfaat bagi pengembangan bisnisnya di dunia perbatikan.
Walau terbilang pemain baru, dan bukan orang yang mengerti betul tentang seluk beluk perbatikan, ternyata mbak Nur mempunyai target bisnis yang cukup bagus, beliau menyebutnya sebagai resolusi bisnis tahun 2019. Untuk melihat langkah dan usaha beliau dalam mengembangkan bisnisnya dalam perbatikan ini bisa kita sima lebih detailnya di blognya mbak Nur di laman https://www.nurrochma.com/2019/01/resolusi-bisnis-2019-batik-tulis-gedog-online.html
Selain memiliki toko di kota Tuban, Mbak Nur juga memperkenalkan batik-batiknya di instagram. Pembaca bisa mengunjungi akun instagram batiknya Mbak Nur Roghmah di @versia.batik. Semoga ke depan Mbak Nur Rochmah rajin ikut serta mensosialisasikan batik melalui akun instagramnya tersebut, agar masyarakat luas tahu tentang dunia perbatikan di Tuban maupun di wilayah-wilayah sekitarnya.
Karena bagaimanapun juga, budaya batik memiliki muara untuk dipasarkan dan diperkenalkan di pasaran. Sebaik apapun produk tentu memiliki fungsi yang salah satunya harus marketable, layak jual. Selain untuk fungsi-fungsi yang lainnya, seperti fungsi budaya, ketrampilan, nilai filosofis, dan tentu nilai ekonomis bagi masyarakat perlu mendapatkan perhatian.
Dari sini toko batik memiliki peran penting dalam proses penjualan dan pendistribusian hasil karya batik masyarakat. Oleh karena itu guna menunjang industri batik masyarakat, Perlu adanya konsep penjualan yang bisa dilirik pasar lokal maupun pasar global. Di sinilah peran toko batik ikut serta menyemarakkan budaya perbatikan nasional.

Tuesday, April 9, 2019

Sekuntum Mawar Hitam

http://gambarpedia.org

Sekuntum Mawar Hitam
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam temaram senjakala kueja seraut muka
Yang bercengkrama bersama gelap
Engkau adalah bunga penghias malam
Dengan kelopak hitammu yang bermekaran
Mengabadi dalam gulita tanpa pelita

Engkaulah sekuntum mawar hitam
Yang mewangi bagai sedap malam
Menghiasi koridor-koridor waktu
Dan bercumbu dengan remang senja
Dalam kehampaan nir-rasa

Senandung sajak senja kau mantrakan
Dalam kidung-kidung pilu
lalu menyeruak ke dalam jantung malam
Menyisakan aroma wangi mekarmu
Yang sunyi

Sekuntum mawar hitam tenggelam
Dan luruh dalam keheningan malam
Bersujud dan bermunajat
Menghaturkan sembah wangi
Pada Gusti yang Maha Suci

Bangilan Kalasenja, 9-4-19




Thursday, March 21, 2019

Gemar Membaca dan Buku Cerita Anak Kita

Gemar Membaca dan Buku Cerita Anak Kita
Oleh: Joyo Juwoto

Gemar membaca itu ternyata menular. Anda tidak perlu sibuk memerintahkan anak anda, atau siapapun untuk gemar membaca, tapi berilah keteladanan dari diri anda sendiri.

Ini bukan klaim kalau saya cinta membaca, hanya kadang-kadang saja, itu pun kalau sedang butuh pencitraan. Hahaha. Tapi yang pasti dengan keteladanan kebaikan itu lebih cepat menular.

Selain memberikan keteladanan membaca siapkan juga buku yang bisa diakses dan dibaca anak. Soal buku anak, buku-buku cerita fabel bisa menjadi pilihan. Biasanya anak-anak senang membaca buku cerita tentang hewan-hewan.

Buku cerita anak-anak harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak, orang tua harus memilih buku yang sesuai dengan umur anak. Karena banyak buku cerita yang seharusnya bukan untuk dikonsumsi anak, tetapi dibaca anak.

Semisal tontonan di televisi, walaupun berupa film kartun, tapi kadang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis anak kita. Saya kesulitan memberikan contohnya, karena kebetulan tidak ada televisi di rumah kami.

Oleh karena itu, itu adalah PR bagi orang tua dan juga bagi penulis untuk menyediakan buku yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Karena jiwa anak harus tumbuh berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang anak.

Sebenarnya, banyak juga tontonan film kartun anak maupun buku-buku cerita yang telah diterbitkan untuk memenuhi standar bacaan anak kita. Tinggal kita sebagai orang tua harus pinter-pinter memilah dan memilihnya.

Dari kondisi yang sedemikian itu, saya juga memikirkan bacaan anak saya yang mulai menyukai aktivitas membaca. Akhirnya saya berupaya menulis cerita berdasarkan keseharian anak saya. Jadilah buku Cerita Naila dan Nafa.

Buku ini selain berisi cerita keseharian anak saya dan teman-temannya, juga berisi apa yang ada dalam pikiran saya tentang dunia anak. Jadi bukan melulu cerita anak saya saja.

Selain berisi cerita keseharian yang sederhana, buku Cerita Naila dan Nafa, di setiap judul terdapat ilustrasi yang menarik. Illustrator buku tersebut adalah Kakak Rosita. Beliau seorang yang berjasa besar terhadap buku saya.

Mungkin buku sederhana yang saya tulis dan diilustrasi oleh kak Rosita  bisa menjadi salah satu buku bacaan anak-anak panjenengan semua. Jika menginginkan buku itu dekat sedang masa pre-order. Insyaallah bulan depan terbit di hadapan pembaca yang budiman.

Terima kasih.

Wednesday, March 6, 2019

Sajak Air Mata

Sajak air mata
Oleh: Joyo Juwoto


Air matanya menggenang
Tenang menyejukkan pandangan
Air mata yang menjadi mata air
Bagi telaga jiwa yang kering kerontang

Air mata itu adalah air mata keberkahan
Yang menyirami tunas-tunas muda
Menumbuhkan bunga-bunga harapan

Air mata itu memupus haus
Dari dahaga-dahaga kemarau berkepanjangan

Air mata itu air mata kasih dan cinta
Yang menghapuskan gundah gulana

Air mata itu telaga kasih
Tempat rindu berpulang
Dalam hangatnya dekapan cinta

Bangilan, 2/3/19

Saturday, February 23, 2019

Bermain Boneka Berbie Jagung


Bermain Boneka Berbie Jagung

Matahari belum beranjak tinggi, udara masih terasa dingin, angin bertiup dari tegalan membawa harum aroma tumbuhan yang banyak di tanam oleh petani. Ada tanaman jagung  yang mulai berbunga dengan tongkol-tongkolnya yang masih hijau, tanaman lombok yang sedang berbunga, dan juga tanaman lainnya yang menghijaukan ladang penduduk desa.

Naila, Nafa, Agis, dan Windi menyusuri pematang tegalan milik kakek dan neneknya, mereka berjalan sambil menenteng rinjing kecil yang dibawa dari rumah. Tampak Naila dan Windi yang diikuti oleh Nafa dan Agis, mereka memilah-milah pohon jagung dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka seakan sedang mengamati sesuatu.

“Ini ada kateknya (tongkol jagung muda), Win! seru Naila sambil mengambil sepotong tongkol jagung yang masih hijau, kemudian ia memasukkannya ke dalam rinjing yang dibawanya.

‘Iya, ini saya juga dapat. Ini bagus sekali, rambut jagungnya lebat dan pirang”. Sahut Windi yang juga sedang mengambil salah satu tongkol jagung muda.

Gadis-gadis itu ternyata sedang mengambil tongkol jagung muda yang tumbuh di batang pohon jagung. Tongkol-tongkol yang diambil adalah yang tumbuh dobel di satu batang pohon, jika tidak diambil biasanya pertumbuhan tongkolnya kurang bagus, oleh karena itu para petani biasanya mengambil salah satu tongkol, agar bisa tumbuh dengan baik dan berbiji bagus.

“Saya juga dapat, saya juga dapat!” seru Nafa dan Agis sambil mengacung-acungkan tongkol yang mereka ambil. Kemudian mereka berdua memasukkan hasil buruannya ke rinjing bambu yang dibawa Naila. Gadis-gadis kecil itu bergembira sekali mendapatkan apa yang mereka cari. Di sela-sela pohon jagung yang menghijau gadis-gadis itu terus memilah dan memilih tonggkol jagung yang akan dibuat mainan.

Setelah mendapatkan banyak tongkol jagung mereka kemudian memutuskan untuk pulang, rinjing yang dibawa Naila dan Windi  sudah terisi cukup banyak, hingga membuat gadis kecil itu keberatan.

“Gis, Fa...ayo bantu bawa rinjingnya” teriak Naila meminta bantuan kepada adiknya. Kemudian rinjing bambu itu digotong secara bersama untuk dibawa pulang ke rumah nenek.

Sesampainya di rumah, mereka kemudian duduk melingkar di halaman rumah. Mereka ramai sekali mendandani tongkol jagung itu menjadi boneka. Rambut jagung yang memang sudah pirang menjadikannya cocok didandani menjadi boneka yang lucu, ada yang dibiarkan terurai, ada pula yang di klabang. lucu imut sekali.

Gadis-gadis kecil itu terus asyik membuat boneka dari tongkol jagung. Mereka menyebutnya sebagai boneka barbie, seperti yang ada di televisi, walaupun tentu tidak sama. Tapi, raut muka gadis-gadis kecil itu sangat bahagia.

Thursday, February 21, 2019

Kemurnian Cinta


Kemurnian Cinta

Kemurnian cinta menjadi penjamin hubungan jiwa diantara orang yang saling mencintai, tiada jarak yang mampu memisahkan rasa cinta, dimensi waktu tak mampu menghalangi perasaan cinta, tingginya gunung, dalamnya lembah, terjalnya batu karang, luasnya lautan, tak mampu menandingi ketinggian dan keluasan cinta itu sndiri. Kata cinta menjadi semacam mantra ajaib yang dapat menaklukkan hal apapun di dunia ini. Ya, cinta memang benar-benar sebuah keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan.

Ketika cinta seorang hamba kepada Tuhannya adalah cinta yang murni dan hakiki, cinta yang sebenar-benarnya cinta, maka bisa dibayangkan bagaimana energi cinta itu akan melingkupi alam semesta raya. Dunia akan dipenuhi kebun-kebun surgawi, karena pada dasarnya cinta adalah bunga-bunga yang dipetik dari bentangan kebun-kebun tempat para bidadari. Harumya bunga-bunga cinta akan semerbak mewangi memenuhi bumi.

Dalam buku “Mereguk Cinta Rumi”, yang ditulis Haidar Bagir, Maulana Jalaluddin Rumi, menuliskan bait syairnya dengan indah penuh pesona, tentang kedahsyatan sebuah cinta:

Cinta adalah
penyembuh. Cinta
adalah kekuatan
cinta adalah
penggerak ajaib
perubahan. Cinta
adalah cermin
keindahan Tuhan

Begitu dahsyatnya kekuatan cinta, begitu  agungnya rasa cinta dalam diri manusia,  hingga Rumi menggambarkan bahwa cinta adalah penyembuh dan penawar segala luka dan duka, cinta adalah kekuatan tak terkalahkan, cinta adalah penggerak ajaib fragmen kehidupan, dan yang paling dahsyat tentu adalah, cinta merupakan cermin keindahan Tuhan yang Maha Indah itu sendiri. Tiada yang lebih indah kecuali cinta memang bermuara pada Dzat Yang Maha Indah itu sendiri.

Energi yang terkandung dalam asma cinta perlu mendapatkan jalan, agar cinta benar-benar memiliki makna. Oleh karena itu, kita perlu mengendalikan dan mengarahkan, energi cinta ke hal-hal yang bermartabat dan mulia. Jangan sampai kesucian dan kemurnian cinta, ternodai oleh hal yang hina-dina dan nista. Karena energi cinta adalah energi yang bersumber dari nilai-nilai kemurnian semesta raya.

Tuhan menganugerahkan perasaan cinta kepada seluruh makhluk-Nya di dunia. Cinta menjadi semacam  energi yang menggerakkan kehidupan semesta. Bumi, langit, tumbuhan, hewan, manusia, bintang-bintang, matahari, rembulan, dan seluruh jagad semesta adalah pendar-pendar cinta yang maujud dari Tuhan Sang Maha Pecinta.

Thursday, February 7, 2019

Sejarah Komunitas Caping Gunung

*Sejarah Komunitas Caping Gunung*
Oleh: Joyo Juwoto

Ada icon baru yang muncul untuk sebuah nama, caping gunung. Masyarakat pedesaan era 90-an dipastikan sangat akrab dan mengenal baik dengan lagu Caping Gunung yang diciptakan oleh Ki Gesang, lambat laun lagu ini tidak begitu moncer di jagad permusikan kita.

Saya di sini tidak akan membahas lagu caping gunung yang sudah jarang kita dengar, tapi di sini saya ingin mengurai icon baru caping gunung yang digagas oleh Kiai Budi Harjono pengasuh pondok pesantren Al Islah Meteseh, Tembalang, Semarang.

Tulisan saya ini terkait dengan lorong-lorong waktu saat saya sowan Kiai Budi di pondok Al Islah Meteseh, Tembalang tempo hari. Dalam obrolan kami bersama Kiai Budi di ruang ndalem,  beliau banyak bercerita, dan cerita itu saya eksplorasi menjadi apa yang saya sajikan kepada pembaca.

Berbicara mengenai Kia Budi memang tidak lengkap rasanya jika tidak membahas tema caping gunung dengan segala filosofinya, karena beliau adalah icon dari simbol caping ini. Beruntung saat saya sowan Kiai Budi bercerita mengenai asal-usul terbentuknya komunitas caping gunung yang beliau inisiasi.

"Caping gunung ini sangat erat kaitannya dengan sosok seorang ibu, dari beliaulah ide ini muncul. Ibu saya, ibu Rukhanah adalah petani biasa, yang menggarap sawah dan ladangnya seperti petani-petani desa kebanyakan."

Cerita ini sepertinya sudah dituliskan dalam cerpen yang pernah diunggah di laman Facebook, sayang saya lupa judulnya dan tak cari namun saya tidak menemukannya. Namun tidak ada salahnya saya mengulasnya kembali sebagaimana yang Kiai Budi ceritakan saat saya sowan ke sana. Begini kisahnya:

Pada suatu pagi yang mendung, saat diriku masih tertidur pulas, petir menyambar cukup keras hingga membangunkan tidurku. Aku mencari ibuku yang pada saat itu sedang ngggecrek jagung untuk sarapan pagi kami. Melihat kedatanganku, ibuku memeluk diriku sambil berkata:

"Jangan takut nak, sini ibu gendong, tidurlah kembali" kata ibuku menenangkan diriku yang tampak ketakutan."

Aku pun tertidur kembali dalam gendongannya ibu. Sesudah nggejrek jagung ibu pun memasaknya hingga menjadi karon, sebelum menjadi nasi jagung. Ibu tahu, karon adalah kesukaan anak-anaknya, termasuk diriku.

"Nak, bangunlah, ini karonnya sudah matang" kata ibu lirih membangunkan tidurku. Diriku pun diturunkan dari gendongannya.

"Nak, sarapanlah yang kenyang, ibu harus ke sawah untuk memanen padi yang mulai menguning" kata ibuku kalem sambil beliau setengah berdiri mengelus kedua pundakku.

Aku pun berlari ke dapur, mengambil caping usang yang biasa dipakai ibu ke sawah. Aku pakaikan caping itu sambil aku pandangi bola mata ibu yang penuh cinta. Hatiku bergetar terkena pancaran kasih sayang dan cinta beliau."

"Dahsyat! Kata Kiai Budi memotong ceritanya, kami yang berada di ruangan itu tertegun, semua terdiam mendengarkan kisah dari Kiai Budi. Saya sendiri seakan melayang melewati lorong-lorong waktu menuju masa silam, masa di mana saya juga melewati masa sebagaimana yang dialami oleh Kiai Budi.

Dari kisah Kiai Budi memasangkan caping kepada ibunya, Ibu Rukhanah, kemudian dari sumber pancaran cinta dan kasih sayang dari bola mata ibundanya tercinta inilah Kiai Budi menebar cinta ke segenap semesta, dan dari peristiwa sakral ini terbentuklah komunitas caping gunung, komunitas yang berusaha menyambungkan cinta kasih kepada sesama manusia. Salam cinta.

*Joyo Juwoto,  santri pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, penulis buku "Dalang Kentrung Terakhir"*

Wednesday, February 6, 2019

Menelusuri lorong-lorong waktu bersama Kiai Budi Harjono

*Menelusuri lorong-lorong waktu bersama Kiai Budi*
Oleh: Joyo Juwoto

Sore itu setelah melewati banyak labirin waktu dengan segala lorong-lorongnya, sampailah saya di padepokan Kiai Budi, Tembalang Semarang. Udara sejuk sehabis hujan turun dari langit, maklum ini bulan Februari di mana hujan masih sering mengguyur bumi.

Bersama dengan beberapa teman kami mengobrol di ruang depan ndalemnya Kiai Budi Harjono, menunggu beliau yang baru saja datang dari pedalaman Jepara. Di temani segelas teh hangat dengan aroma yang menggoda, kami terus mengobrol gayeng dengan tamu dari Boyolali dan Mranggen.

Dua tamu yang tampaknya memiliki tujuan sama dengan kami ternyata mahasiswa UIN Semarang yang sedang KKN. Saya lupa, kami entah sempat saling memperkenalkan diri atau belum, tapi kami begitu akrab saling bercerita tentang masa kecil kami. Bercerita tentang alam desa, bercerita tentang anak-anak desa yang bermain air hujan, lumpur, mencari ikan di sungai dan berbagai kenangan indah lainnya.

Tak terasa cukup lama kami bercerita, hingga teh dalam gelas kami habis mengering. Suguhan yang disajikan ndalem pun kami sikat dengan lahap, tak berselang lama, Kiai Budi keluar ndalem menemui kami. Wajah beliau masih kelihatan capek tapi sumringah.

Dengan senyumnya yang khas, Kiai Budi menyapa kami penuh rasa peseduluran, keakraban dan rasa cinta, baru ini saya ketemu beliau, tapi ada rasa yang tak bisa saya gambarkan dalam tulisan ini. Kiai Budi hanya memakai kaos, dan bersarung hitam dengan tema gambar tari sufi. Saya tidak tahu apakah sarung itu ada duanya atau limited edition, yang pasti saya tertarik dengan sarung itu. Uapik rek.

Kiai Budi membuka percakapan sore itu dengan cerita. Beliau bercerita saat memberikan mauidzoh hasanah di daerah Jepara, kemudian bercerita mengenai masa silam, yang menurut Kiai Budi adalah usaha untuk menelusuri lorong-lorong waktu.

Usaha menelusuri lorong-lorong waktu ini, oleh Kiai Budi  biasanya dilukiskan dalam bentuk tulisan. Ada beberapa buku beliau yang berhasil ditulis dari menelusuri peristiwa-peristiwa yang telah dilaluinya.

 "Jika kita mampu menangkap untaian peristiwa yang kita lalui, sesederhana apapun itu, bisa kita tulis, dan pasti banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik" ungkap Kiai Budi.

Selain sibuk memberikan ceramah ke sana kemari, Kiai Budi ternyata juga menyempatkan diri menulis. Di laman fbnya saya juga sering membaca tulisan-tulisan beliau, sore itu tanpa disangka Kiai Budi membabarkan proses kreatif menulisnya.

Ada banyak mutiara hikmah yang dapat saya punguti di saat sowan Kiai Budi di sore itu, jika ada kesempatan saya akan menulis kembali apa yang saya tangkap dari bagian lorong waktu di Bumi Tembalang Semarang.

saya merasa sangat senang bisa bertemu beliau, seorang Kiai yang sangat baik hati, penuh paseduluran, penuh cinta dan keakraban. Ada banyak cinta dan Rahmat dari Kiai Budi untuk kemanusiaan dan semesta. Sebagaimana filosofi penari sufi di sarung Kiai Budi. Salam Cinta.

*Joyo Juwoto, santri pondok pesantren ASSALAM Bangilan-Tuban, penulis buku "Dalang Kentrung Terakhir*

Friday, February 1, 2019

Raja Dangdut H. Rhoma Irama Dolan Ke Kampung KH. Hasyim Muzadi

*Raja Dangdut H. Rhoma Irama Dolan Ke Kampung KH. Hasyim Muzadi*
Oleh: Joyo Juwoto

Kampung KH. Hasyim Muzadi ternyata menarik perhatian Bang Haji Rhoma Irama. Pada hari Rabu, 30 Januari 2019, di sela-sela kesibukannya mendampingi ketua MPR Zulkifli Hasan, Bang Haji menyempatkan diri dolan ke Bangilan, Kampung kelahiran mantan ketua Umum PBNU sebelum KH. Said Aqil Siradj.

Bang Haji menjadi tamu pondok pesantren ASSALAM Bangilan sekaligus didaulat memberikan mauidzoh hasanah di hadapan para santri. Dalam sambutannya, Bang Haji berpesan agar santri-santri memiliki pandangan kebangsaan yang luas dan konstruktif.

"Ini tahun politik, jangan karena beda pilihan akhirnya bermusuhan, jangan karena beda arah negara jadi terbelah. Yang terpenting adalah selalu jaga kerukunan dan persatuan antar umat beragama." Pesan Bang Haji dengan suara khasnya.

Di sela-sela memberikan mauidzoh hasanah Bang Haji bernostalgia dengan suara merdunya menyanyikan beberapa potong lagu-lagu beliau yang sudah masyhur dan akrab di telinga pendengarnya.

Sebenarnya karena suatu hal Raja Dangdut ini nyaris batal mengunjungi Bangilan padahal posisi beliau sudah di kota Tuban, namun karena demi menghormati sahabatnya, yaitu alm. KH. Hasyim Muzadi beliau menegaskan harus ke dolan ke Bangilan, kampungnya Mbah Hasyim.

"Saya itu dengan KH. Hasyim Muzadi sangat dekat, ada kisah menarik antara saya dengan beliau. Saya mendirikan masjid, masjid itu saya beri nama masjid Husnul khatimah. Takmir masjid dan kepengurusannya saya bentuk dengan melibatkan masyarakat setempat."

Suatu ketika saya pergi dalam jangka waktu yang lama, eh, saya kaget, saat saya pulang dan saya shalat jama'ah di masjid yang saya dirikan banyak perubahan. Takmir dan kepengurusan masjid banyak yang ganti personil. Begitu juga dengan amaliahnya, berganti aliran dari ahlussunah wal jama'ah ala NU menjadi aliran selain itu.

Saya temui takmirnya dan saya tanya mengapa kok terjadi perubahan dalam masjid ini. Mereka bilang begini dan begitu, lalu dengan tegas saya katakan ini masjid yang membangun saya, kondisi masjid harus kembali seperti semula. Jawab saya tegas.

Dari peristiwa ini kemudian menemui Kiai Hasyim dan tokoh-tokoh dari teman-teman Muhammadiyah apakah ada masjid mereka yang direbut dan dikuasai oleh kelompok tertentu. Dari pertemuan dan dialog itulah kemudian kami berinisiatif membuat satu forum yang dikenal dengan nama Fahmi Tamami (Forum Silaturahmi Ta'mir Masjid dan Mushola Indonesia). Tujuan dari forum ini adalah mewujudkan ukhuwah islamiah yang kaffah dan total.

Fahmi Tamami ini oleh forum saya ditunjuk sebagai ketuanya. Jadi Bang Haji tidak hanya sebagai raja dangdut, tapi juga ketua takmir masjid dan musholla se-Indonesia." Kata bang Haji yang kemudian disambut dengan tepuk tangan yang membaha dari peserta yang hadir."

Setelah menceritakan kejadian yang dialaminya, Bang Haji menghimbau agar para santri waspada terhadap gerakan-gerakan yang justru melemahkan kekuatan umat Islam itu sendiri. Setelah Bang Haji turun panggung beliau dikerumuni hadirin untuk berswa foto, sedangkan saya menyempatkan diri minta tanda tangan Sang Raja Dangdut dan tentu ada team yang memfoto saya.

Thursday, January 31, 2019

NU Nggendong dan Nggandeng Indonesia


NU Nggendong dan Nggandeng Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto

Hari ini Nahdlatul Ulama (NU) berulang tahun yang ke 93 tahun, sebuah usia yang cukup matang bagi sebuah organisasi untuk mentasbihkan dirinya sebagai organisasi besar dengan jumlah masa yang cukup banyak dan beragam.  Mau tidak mau dengan adanya proses dan dinamika yang cukup panjang yang menyertai perjalanan NU dengan segala jejak sejarah yang dilaluinya, menjadikan jam’iyyah ini menjadi sebuah rumah besar, aset ideologis, dan pengayom bagi masyarakat Indonesia.
Secara historis kita semua tahu bahwa NU adalah salah satu dari kakak kandung jabang bayi yang bernama Indonesia. NU dilahirkan sembilan belas tahun lebih tua dibandingkan dengan negara Indonesia. NU bersama kakak kandung organisasi lainnya seperti Muhammadiyah ikut serta merawat, ngemong, nggendong, nggandeng bahkan ikut serta membidani lahirnya negara kesatuan republik Indonesia. Saya rasa semua tahu dan tidak memungkiri akan hal ini, sejarah telah mencatatnya dengan baik.
Peran NU dalam membersamai Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak perlu diragukan dan dipertanyakan, jauh sebelum negara Indonesia lahir, Mbah Wahab Chasbullah setelah kepulangannya dari menuntut ilmu di Makkah, beliau mendidik para pemuda dalam wadah Nahdlatul Wathan. Mbah Wahab yang terkenal cerdik ini mengajarkan ilmu pengetahuan dan menggembleng para pemuda untuk cinta terhadap tanah airnya.
Setiap akan memulai kegiatan belajar mengajar, bersama santri-santrinya, mbah Wahab menyanyikan lagu Yaa Lal Wathan atau dikenal dengan mars Syubbanul Wathan (Pemuda cinta tanah air) yang lagunya sering dinyanyikan dalam perayaan-perayaan dan kegiatan Nahdlatul Ulama. Mbah Wahab menanamkan dalam dada para pemuda benih-benih rasa cinta tanah air, rasa nasionalisme, sehingga kelak bibit-bibit itu akan menjadi tanaman yang subur dan melimpah di Bumi Nusantara.
Pada kenyataannya memang apa yang menjadi cita-cita besar mbah Wahab, Mbah Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai dalam wadah NU terbukti. Sebelum Indonesia lahir peran besar para santri, kiai, dan pesantren dalam mewujudkan negara kesatuan republik Indonesia menjadi bukti nyata. Pada saat penjajahan Belanda, Jepang, dan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan sejarah telah mencatat dengan tinta keabadian bahwa di situ ada peran NU, ada laskar Hisbullah, ada Banser, ada peran dan suwuk dari Kiai-kiai NU.
Saat republik Indonesia baru seumur jagung, pascakemerdekaan Indonesia baru saja dikumandangkan, tentara Belanda ingin kembali menguasai bekas negara jajahannya, Bung Karno sebagai pemimpin besar revolusi Indonesia meminta saran dan fatwa dari Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Jawaban dari Mbah Hasyim adalah resolusi 22 Oktober 1945, seruan jihad fi sabilillah menggelora penuh tekad dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari penjahahan Belanda. Hasilnya adalah perang besar 10 Nopember di Surabaya, yang melegenda seantero dunia.
Dalam setiap tahapan sejarah dengan segala konsekuensinya NU selalu tampil terdepan nggendong dan nggandeng negara Indonesia. Hampir tidak pernah organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari meninggalkan Indonesia seorang diri. NU ibarat kakak kandung yang mengerti lahir batinnya Indonesia, karena kedekatan secara emosional inilah NU mengerti apa yang baik dan yang kurang baik bagi ke-Indonesiaan. NU selalu hadir dan tampil di garda terdepan sebagai penjaga, pembela, pengayom bagi ke-Indonesiaan kita.
NU sesuai dengan tagline Harlah NU yang ke-93 “Menyebarkan Islam yang damai dan toleran” karena NU selalu mampu menemukan bentuk Islam yang mengalir dan meresap dalam nilai dan kultur budaya bangsa Indonesia tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman itu sendiri, NU selalu bisa menerjemahkan dan membuat pola Islam yang ramah sebagai perwujudan dari rahmatan lil ‘alamin, atau memayu hayuning bawana dalam nilai ke-Indonesiaan-ke-Nusantaraan.

Semoga Nahdatul Ulama selalu bisa nggendong dan ngandeng negara Indonesia. Dirgahayu yang ke- 93, rahayu, rahayu, Semoga NU selalu menjadi rumah besar bagi ke-Indonesiaan yang rahmatan lil ‘alamin. Amin.
Semoga di harlah yang ke- 93 ini NU terus istiqomah mewujudkan kedamaian di bumi Nusantara dan menjadi salah satu wasilah menuju Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, Indonesia yang baik yang adil, makmur, sejahtera, damai penuh keberkahan dan dalam lindungan dan ampunan dari Allah swt.


*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban. Penulis Buku Dalang Kentrung Terakhir.

Wednesday, January 30, 2019

Inilah wasiat Mbah Hasyim Muzadi kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan

*Inilah wasiat Mbah Hasyim Muzadi kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan*
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam kunjungannya di pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, ketua MPR Zulkifli Hasan menceritakan pesan yang bisa disebut sebagai wasiat dari KH. Hasyim Muzadi yang ditujukan kepada beliau beberapa bulan sebelum Mbah Hasyim kapundut. Pesan ini menyangkut dengan urusan umat dan kebangsaan.

Pesan ini belum pernah beliau publikasikan dan beliau ceritakan kepada publik, entah apa alasannya. Namun ketika beliau hadir dalam acara sosialisasi empat pilar kebangsaan yang dilaksanakan di pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, Rabu, 30 Januari 2019, Bang Zul, panggilan akrab Zulkifli Hasan menceritakan wasiat yang telah diterimanya kepada para santri dan asatidz ponpes ASSALAM Bangilan Tuban.

"Saya harus menyampaikan pesan dan wasiat mbah Hasyim Muzadi ini, karena ini adalah kampung beliau." Ujar Bang Zul.

"Saya dan Kiai Hasyim Muzadi berkawan cukup lama dan cukup dekat sekali, oleh karena itu beliau menitipkan ini kepada saya."

"Pesan beliau sebelum meninggal dunia ada dua. Pertama, saya disuruh menghadap bapak Jokowi agar Ibu Khofifah Indar Parawansa diijinkan mencalonkan diri sebagai gubernur Jatim. Alhamdulillah pesan ini sudah saya laksanakan, dan Bu Khofifah sudah saya kawal hingga ke kursi gubernur, sebagaimana pesan dari Mbah Hasyim."

"Pesan kedua yang disampaikan kepada saya dan sampai saat ini belum saya laksanakan adalah saya diminta untuk mengumpulkan 6000 kiai dan ulama, dan saya telah mendapatkan dokumennya, cuma saya kalau ingat ini merasa berdosa, karena belum melaksanakan permintaan beliau."

Selain menceritakan pesan dari Mbah Hasyim, Bang Zul juga memberikan motivasi kepada santri untuk terus semangat berjuang dengan tanpa lelah untuk meraih apa yang dicita-citakan.
"Hidup ini tidak mudah maka perlu perjuangan yang keras." Kata Bang Zul menutup pidatonya.

Monday, January 28, 2019

Menyesap Barakah Bumi Tulungagung

*Menyesap Barakah Bumi Tulungagung*
Oleh: Joyo Juwoto

Tulungagung, sebuah kota kabupaten yang berada di 166 Km ke arah selatan dari tempat  tinggal saya. Di kota Tulungagung inilah kopdar II komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) digelar. Sebagai salah satu anggota komunitas SPK, saya meniatkan diri untuk hadir di kopdar yang dilaksanakan pada Minggu, 26 Januari 2019 bertempat di gedung rektorat IAIN lantai 3 Tulungagung.

Saya termasuk anggota yang selalu punya seribu alasan untuk tidak hadir, entah itu karena kesibukan ataupun karena hal-hal lain,  walaupun sebenarnya kondisi itu bisa diubah menjadi selalu punya seribu alasan untuk hadir, Sebagaimana yang dikatakan oleh pak Emcho, panggilan akrab pak Much. Khoiri, salah satu senior di SPK.

Karena suatu hal, sabtu malam sesudah adzan isya' saya baru bisa berangkat menuju Tulungagung naik sepeda motor. Saya rasa jarak 166 km belum terlalu jauh bagi usia saya yang masih diangka 30an. Walau belum pernah pergi ke Tulungagung saya tak berfikir banyak, selagi roda berputar saya yakin pasti sampai di tempat tujuan. Apalagi sekarang jamannya GPS.

Rute terdekat yang harus saya tempuh sebagaimana petunjuk mbah GPS, dari Bangilan menuju Bojonegoro lanjut ke arah jalur selatan melewati jalur hutan sepanjang kurang lebih 30 KM sebelum memasuki perkampungan di kabupaten Nganjuk. Sebenarnya istri saya tidak tega membiarkan suaminya menempuh hutan bersepeda sendirian di tengah malam, namun niat dan tekad saya purna, saya harus datang di kopdar bagaimanapun caranya. 

Karena memang belum tahu rutenya, saya mengandalkan mbah GPS memandu perjalanan saya di malam gelap yang sesekali diiringi rintik hujan, sungguh syahdu sekali. Sekitar pukul 23.30 WIB saya sampai di Kediri, karena capek dan mengantuk saya istirahat dan tidur di salah satu masjid di sana. Pagi sesudah subuh perjalanan saya lanjutkan hingga akhirnya sampai juga di gerbang IAIN Tulungagung. Lega.

Seharian penuh seluruh rangkaian acara kopdar saya simak dan saya ikuti, mulai dari pembukaan, materi kepenulisan bersama pak Wawan Susetya, pak Yusri Fajar, dan juga pak Ngainun Naim, hingga acara ramah tamah khusus anggota SPK yang berlangsung sesudah seminar literasi, juga saya ikuti hingga selesai sekitar pukul 16.30 WIB. Sesudah itu dilanjutkan foto-foto bersama. Saya tentu sangat senang bisa mengikuti seluruh rangkaian acara kopdar hingga selesai. 

Setelah itu sekitar pukul 17.30 WIB saya langsung pulang diantar Mas Agus Hariono sampai di Kediri, sekalian dibontoti oleh-oleh khas kota Kediri. Perjalanan selanjutnya sama dengan keberangkatan saya, yaitu berjalan dalam gelap diiringi rintik hujan sambil  menyimak komando Mbah GPS yang mengarahkan perjalanan saya hingga sampai di rumah kembali. Alhamdulillah.

Kopdar SPK di Tulungagung memang sudah saya rencanakan dan saya niatkan jauh-jauh hari untuk hadir, oleh karena itu bagaimanapun kondisinya saya berusaha datang. Selain untuk kopdar saya meniatkan perjalanan saya menuju Tulungagung adalah perjalanan ibadah dan tholabul ilmi. Sebagaimana yang saya pahami dari hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi: *"Man salaka thoriiqan yaltamisu fiihi Ilman sahhalallahu lahu thoriiqan ilal jannah".*

Selain itu dalam menempuh perjalanan menuju Tulungagung saya juga berkhusnudzon, qadarullah bisa menyesap barakah dari bumi Tulungagung. Tulungagung sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Jawa yang artinya pertolongan besar. Berarti sesuai namanya tempat ini dulu punya akar sejarah yang berkaitan dengan pertolongan. Saya hanya menduga secara linguistik saja, entah benar entah salah. 

Menurut saya masyarakat Jawa memang memiliki tradisi unik ketika menamai sesuatu. Ada doa dan harapan yang biasanya diselipkan dalam sebuah nama, entah itu nama anak, nama tempat, termasuk nama kota Tulungagung tentunya. 

Melewati kota Kediri sambil beristirahat saya mengotak-atik makna dari nama tersebut. Kediri menurut saya memiliki makna simbolik yang luar biasa, Ke(diri), berarti menuju kepada diri sendiri. Maksudnya manusia sesibuk apapun jangan lupa menengok kedalam batinnya, ke dalam jiwanya, karena di situlah terdapat telaga kontemplasi di mana manusia bisa merenungkan kesejatian dan makna hidup yang hakiki. Rasulullah Saw bersabda: *istafti qalbaka* mintalah fatwa pada hati nuranimu. 

Jadi setelah perjalanan menempuh Ke(diri) kita akan sampai pada pertolongan agung, atau sampai ke Tulungagung. Mungkin makna ini hanya sekedar perenungan dan cara saya mbombong diri di tengah perjalanan menuju kopdar ke Tulungagung. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rektor IAIN Tulungagung, Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag ternyata memang benar, dalam sejarahnya Tulungagung pada zaman dahulu mempunyai peranan besar dalam memberikan pengajaran agama untuk kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Jika dulu di Kediri ada kerajaan Daha, di Ponorogo ada Wengker, di Sidoarjo ada Jenggala, maka Tulungagung menjadi tempatnya para resi atau disebut sebagai keresian. Hal ini yang mungkin berkaitan dengan nama Tulungagung. Karena biasanya karesian ini digunakan pihak kerajaan maupun  masyarakat tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan.

Apapun itu, saya menuju Tulungagung untuk kopdar dengan anggota SPK dalam rangka mencari pertolongan besar guna meningkatkan kembali semangat saya dalam menulis yang mulai kendor, semoga pertemuan dengan para guru, sahabat, dan para sesepuh SPK di Tulungagung menjadikan semangat berliterasi kembali membara. Salam.

*Joyo Juwoto, penulis Dalang Kentrung Terakhir. Tinggal di Bangilan Tuban.*

Sunday, January 20, 2019

Belajar Menulis di SPK

Belajar Menulis di SPK
Oleh: Joyo Juwoto

Belajar apapun membutuhkan waktu yang cukup lama, begitu juga dengan belajar menulis sebagaimana yang saya rasakan sendiri cukup lama dan tidak ada masa selesainya. Semenjak gabung di group kepenulisan saya merasa makin lama makin banyak hal yang tidak saya ketahui. Ternyata memang tidak ada yang instan di dunia ini semua ada waktu dan proses panjang di mana kita harus terus bersabar untuk menjadi seorang pembelajar.

Tidak mudah memang untuk terus berproses menjadi sesuatu atau meraih sesuatu namun ternyata di tengah perjalanan banyak hal yang kadang tidak bisa kita prediksi dan kita bayangkan. Sebagaimana perjalanan belajar menulis saya di Sahabat Pena Kita (SPK) yang belum ada progres dan kemajuan berarti, padahal sudah cukup lama saya berada di sana, bahkan bisa dibilang termasuk dari kelompok "assabiqunal awwalun" di dalam group yang sudah mengalami metamorfosa itu.

Untuk nama group SPK sendiri memang baru berjalan satu semester, namun sebelum SPK group yang bernama SPN sudah ada sejak tahun 2015, dan saya sudah memulai belajar di sana. Karena suatu dinamika akhirnya group SPN berubah nama menjadi SPK dan saya masih tetap setia melanjutkan belajar saya hingga detik ini.

Dari masa SPN hingga berganti nama menjadi SPK saya berusaha untuk memenuhi kewajiban sebagai anggota, yaitu mengirimkan tulisan wajib dan tulisan sunnah. Sebenarnya kalau dipikir-pikir kewajiban itu sangat ringan, bayangkan menulis satu tema dalam satu bulan tentu bukan hal yang sulit, walau demikian ternyata banyak juga beberapa anggota yang tidak setor tulisan, termasuk saya pernah telat kurang dari lima menit sehingga harus mendapatkan pentol hitam sebagai hukumannya.

Jika di group SPK ada sistem perankingan tentu saya berada di level paling bawah, saya menyadari itu, karena menurut pengamatan saya, selain rutin mengirimkan tulisan wajib dan sunnah, para anggota di SPK memang sudah terbiasa menulis setiap hari sedang saya  kebanyakan memang hanya menulis untuk setoran wajib dan sunnah saja. Dan ini tentu menjadi koreksi bagi diri saya sendiri.

Walaupun demikian, mumpung ada kesempatan menulis untuk mengungkapkan harapan dan keinginan demi kemajuan seluruh anggota SPK, yang tentu setidaknya setiap anggota SPK mempunyai karya yang diterbitkan oleh penerbit mayor, saya berharap ada program pendampingan intensif bagi anggota yang belum mampu menembus penerbit mayor seperti saya ini.

Bagaimanapun juga sebuah karya yang mampu menembus penerbit mayor tentu akan menjadikan si penulis pemula lebih pede dan mempunyai "rasa" sebagai penulis, walaupun memang bukan itu yang sebenarnya menjadi tolak ukur dalam berkarya. Tentu selain kebanggaan  yang paling penting adalah standar  kepenulisan  kita  sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh penerbit mayor. Saya rasa alasan terakhir ini yang menjadikan penulis pemula punya keinginan karyanya masuk dapur penerbit mayor.

Saya tentu sangat senang jika SPK ada program pendampingan yang demikian, karena saya termasuk salah satu anggota yang belum mampu menerbitkan buku di penerbit mayor, kalau menerbitkan buku solo secara mandiri saya kira cukup mudah, bisa dibilang jika cukup punya kemampuan finansial dan mau tentu karya indie bisa segera terealisasikan. Pertanyaannya walaupun karya kita terbitkan secara indie apakah buku itu sebenarnya memang layak untuk terbit?

Layak terbit di sini tentu bukan sekedar materi yang ada di dalam buku, namun juga bagaimana mengelola pemasaran pasca penerbitan juga bagian terpenting bagi sebuah dunia perbukuan, karena pada dasarnya menulis buku untuk dibaca khalayak umum tentunya. Jika buku kita tersebar luas dimungkinkan buku itu banyak dibaca, dan ini tentu yang menjadi salah satu alasan mengapa menulis buku.

Oleh karena itu diakui atau tidak sebuah karya tulis bisa terbit di penerbit mayor tentu menjadi salah satu target bagi seorang penulis, termasuk saya tentunya. Walau sampai detik ini saya belum mencapai maqam itu, semoga ke depan target itu terpenuhi. Yang paling penting tentu meningkatkan kemampuan menulis dan membaca dan terus berusaha menjadi kunci utama sebuah keberhasilan untuk mencapai apa yang kita targetkan. Salam literasi.

*Joyo Juwoto, Penulis buku Dalang Kentrung Terakhir. Tinggal di Bangilan Tuban. Tulisannya juga bisa diakses di www.joyojuwoto.com

Monday, January 14, 2019

Cerita Ludruk dan relevansinya dengan perpolitikan Nasional


Cerita Ludruk dan relevansinya dengan perpolitikan Nasional
Oleh: Joyo Juwoto

Sekitar tahun 80-90an ludruk masih menjadi tontonan yang dipentaskan dan banyak digemari oleh masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Sewaktu kecil saya sering menonton ludruk yang biasa pentas di gedung pertunjukan yang dibuat semi permanen.  Gedung ludruk dibangun di sebuah tanah lapang di desa saya, dinding pembatasnya memakai seng, di dalamnya ada sebuah panggung untuk pementasan ludruk.

Masyarakat yang menonton ludruk harus melewati pintu loket di pintu depan untuk mendapatkan karcis, dengan selembar karcis itulah masyarakat bisa menikmati seni ludruk yang biasanya dipentaskan sesudah isya’. Cerita ludruk yang masih saya ingat dan populer di tengah masyarakat diantaranya adalah: Maling Cluring, Sampek ingtai, Warok Suromenggolo Suminten Edan, Sogol Pendekar Sumur Gemuling, Sarib Tambak Oso, Jaka Sambang Pendekar Gunung Gangsir dan lain sebagainya.

Saya rasa generasi 80 hingga 90an sangat hapal dengan lakon-lakon yang saya sebutkan di atas, dan mampu membaca lakon-lakon dalam ludruk tersebut mempunyai relevansi nilai sosial, politik dan kebudayaan dalam masyarakat kita hari ini.

Lakon cerita yang dipentaskan dalam seni ludruk hampir memiliki kesamaan alur dan ide cerita, kisah yang dipentaskan cukup dekat dengan kehidupan masyarakat bawah, sarat dengan kondisi masyarakat yang mengalami banyak diskriminasi sosial dan politik kepentingan. Seperti lakon Sogol Pedekar Sumur Gemuling, Sakerah, Jaka Sambang, dan Sarib Tambak Oso. Lakon tersebut mengisahkan perjuangan dari kaum rakyat jelata dalam melawan kesewenang-wenangan penguasa, yaitu kaum ningrat yang didukung oleh goverman Belanda saat itu.

Kesamaan dari lakon-lakon tersebut adalah kisah perjuangan kaum proletar yang membela rakyat jelata, setiap perjuangan mereka selalu saja dikalahkan oleh orang-orang dekat mereka yang menjilat penguasa goverman Belanda. Orang-orang yang mengkhianati perjuangan para tokoh tersebut dengan cara menjual rahasia kelemahan dari kesaktian pendekar-pendekar tersebut,  yang akhirnya perjuangan mereka gagal dan nasib pendekar-pendekar itu tewas di tangan Belanda.

Kisah-kisah yang sedemikian ini tentu memiliki relevansi dengan kondisi sosial politik di tengah masyarakat kita saat ini, apalagi di era tahun politik yang cukup gerah dan memanas, ada saja hal yang dipakai senjata untuk menghancurkan lawan politiknya, baik dengan cara-cara yang konstitusional hingga pada hal-hal yang kadang berada di luar jangkauan akal sehat. Semua itu dilakukan demi politik praktis, demi kekuasaan, demi harta dan hal keduniaan lainnya.

Hari ini kita bisa membaca di tengah masyarakat hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda persatuan terancam pecah, antar teman saling terjadi gesekan, bahkan gara-gara politik juga mayat yang sudah tidak memiliki dosa harus menanggung petaka terancam tidak disholatkan,  kuburan dibongkar juga gara-gara perbedaan pilihan dalam politik. Sungguh mengenaskan.

Dunia perpolitikan kita hari ini begitu memuakkan dan sangat kotor, wajar jika masyarakat kita anti dengan kata politik, masyarakat berusaha menjauhkan aktivitasnya dengan kata politik, lembaga agama dan tokoh-tokohnya berusaha menjaga jarak dengan politik, padahal lembaga-lembaga dalam masyarakat tersebut ada adalah bagian dari perpolitikan juga, sungguh naif.

Semoga kita semuanya menyadari kondisi yang mengkhawatirkan bagi persatuan dan kesatuab nasional kita, seyogyanya kita tahu perbedaan pilihan politik adalah konsekuensi yang harus kita tanggung dalam berdemokrasi yang kita cita-citakan bersama, kalau memang kita tidak memiliki sense terhadap perbedaan apakah perlu kita kembali ke rezim satu kekuasaan yang melahirkan politik tangan besi? saya tentu tak perlu menjawabnya.

Saturday, January 12, 2019

Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam


Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam
Oleh: VA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat pagi Mas Aam, mohon maaf jika surat balasan  dari saya ini mengejutkan mas Aam,   tapi saya yakin di pagi yang cerah ini mas Aam sudah sarapan pagi ditemani istri tercinta. Jadi kaget-kaget sedikit saya rasa akan menambah nafsu makan mas Aam yang selalu move on sejak dalam pikiran.
Mas Aam tentu tidak mengira, jika Vanesa membaca surat mas Aam kan? hehe... seperti Vanesa sendiri yang juga tidak mengira, kalau
di tengah kesibukan mas Aam sebagai seorang suami, sebagai seorang calon bapak, sebagai seorang wakaprodi, sebagai seorang insan pers yang tentu punya kesibukan yang tiada terkira sempat-sempatnya menulis surat buat Vanesa. 🥰🥰

Kesan pertama membaca surat dari mas Aam saya merasa tersandung dan berbunga-bunga, lha ketepakan surat itu saya baca sambil jalan pagi, mas, Vanesa kaget, kok ada wong ganteng yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar list tamu saya kok perhatian banget, mengirimi saya surat.
Bagi saya mas, di tengah badai yang sedang Vanesa alami, surat itu bisa menjadi semacam soft terapi dan suntikan semangat, surat  itu rasa-rasanya lebih berharga dibanding uang 80 juta. Suer mas!

Ya begitulah mas, sebagaimana yang mas tulis dalam surat, masyarakat dan pers tidak adil memandang satu persoalan, mengapa yang banyak dishot kok kaum perempuan, sedang pihak laki-laki harus pakai inisial segala. Tidak hanya itu, sampai warna nganu saja dipakai judul berita. Apa tidak ada yang lebih barakah dari sekedar nganu? 

Nganu saja dishare ke sana kemari,  kebangetan. Jian kebangetan temen-temen njenengan itu mas.

Vanesa sebenarnya pengin marah mas, tapi jika ingat senyum mas Aam yang semriwing urung marah saya, saya jadi gak tega gitu. Vanesa mengira seluruh insan pers adalah kusir cikar semua, meminjam istilah Sungging Raga (ini ada istilahnya dalam bahasa Jawa).

Tahu gak mas? Setelah Vanesa mendapatkan surat yang mas Aam kirimkan, surat itu saya print menjadi beberapa lembar mas. Lembar-lembar itu Vanesa simpan sebagai rajah, satunya saya buat perahu mas, ya, perahu Nuh yang menyelamatkan kaumnya dari murka Tuhan.

Sementara hanya itu yang dapat dik Vanesa sampaikan lewat balasan surat ini mas, lain waktu semoga saja adik bisa kembali menerima surat dari mas, atau bahkan lebih dari sekedar surat. Mas Aam mungkin bertanya dalam hati,  mengapa diakhir tulisan ini Vanesa pakai istilah adik, semoga mas peka dan paham. Terima kasih atas perhatiannya. Salam dari adik Vanesa.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi.wb.

Friday, January 11, 2019

Bacalah bukan bakarlah!

Bacalah bukan bakarlah!
Oleh: Joyo Juwoto

Saya masih ingat ketika pertama kali berkunjung ke perpustakaan pataba milik keluarga Toer, saat masuk ke halaman yang cukup luas saya dan teman-teman disambut oleh beberapa ekor kambing peliharaan mbah soesilo Toer.

Rumah Soesilo Toer yang juga difungsikan sebagai perpustakaan itu banyak ditumbuhi oleh rumput rumput liar, sangat cocok jika kambing-kambing tersebut dibiarkan hidup bebas dan liar.

Tak berselang lama pemilik rumah sekaligus tuan dari kambing-kambing pun ikut keluar menyambut kedatangan kami, beliau adalah soesilo Toer. Kakek yang sudah berumur ini menyambut kami dengan wajah yang sumringah. Senyumnya mengembang diantara kumisnya yang sudah memutih rata.

" Ini dari mana semuanya? Tanya Mbah soesilo Toer ramah. " mari mari silakan masuk" beliau sambil menggamit satu dari kami.

"Oh, kami dari Bangilan Tuban" jawab teman kami yang digamit oleh Mbah soesilo Toer.

Saat akan masuk rumah, saya terpaku melihat sebuah tulisan yang dipasang di dinding perpustakaan pataba. Tulisan itu saya baca keras-keras, "bacalah, bukan bakarlah!

Saya menduga dan pasti dugaan saya benar bahwa tulisan itu sebagai bentuk pembelaan dan protes atas pembakaran buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Jadi saya tidak perlu menanyakan akan hal itu kepada Mbah soesilo Toer.

Walau tidak ditanya, mbah Soes mengatakan kepada kami, "Tulisan bacalah bukan bakarlah! itu kalau dulu karena buku-bukunya Pram banyak yang mendapat perlakuan vandalis, dibakar, oleh siapa? Saya rasa kalian sudah tahu"  Mbah Soes menjelaskan kepada kami, walau tanpa kami pinta.

"Itu dulu, dulu sekali, sekarang, kondisinya sudah berbeda, kalimat sama tersebut dapat kita tafsirkan ulang, "Bacalah dan bakarlah!..., titik-titiknya itu bisa kalian isi sendiri"  lanjut Mbah soes sambil memamerkan gigi-giginya yang sudah ompong beberapa.

Sambil memasuki ruangan perpustakaan yang tidak begitu luas, namun berisi banyak lembaran mutiara, Mbah Soes terus bercerita kepada kami banyak hal, sungguh beliau seorang kakek yang sangat mengasyikkan.

Saya sebenarnya tidak habis pikir, sebuah buku harus dimusuhi sedemikian rupa hingga perlu dibakar segala. Bagi saya membaca apapun it's oke, tidak ada masalah. Mau buku kiri mau buku kanan, mau atas mau bawah no problem. Buku adalah buku yang tetap tunduk di bawah nalar sadar dan pikiran sehat kita.

Mencurigai buku secara berlebihan dan menganggap buku bisa melahirkan kejahatan adalah tanda dari lemahnya literasi kita. Saya maklum ada buku yang ditulis dengan tujuan propaganda namun tetap saja akal sehat yang akan mengeksekusi paham yang ada di dalam buku tersebut. Pembaca tentu boleh berbeda pandangan dalam hal ini dengan apa yang saya kemukakan. Sah.

Jadi membaca bukan sekedar menelan mentah-mentah informasi yang ada di dalam buku, namun seorang pembaca dituntut untuk menjadi pembaca yang aktif, kreatif sekaligus kurator bagi sebuah buku itu sendiri.

Jika budaya literasi tumbuh subur dan menjadi bagian dari gaya hidup dan kebudayaan masyarakat, saya yakin tak ada buku berbahaya di hadapan kita, semua buku adalah sama menyajikan sebuah informasi baik itu kiri maupun kanan, tinggal kita yang akan mengeksekusi di level aksi nyata, "Fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaaha".

Bukan hanya itu saja, masyarakat yang melek literasi menurut pendapat banyak pakar bukan saja mampu menjadikan masyarakat arif dan bijaksana dalam berperilaku, namun juga menjadikan masyarakat mampu memilah dan memilih informasi yang valid  dan dapat dipertanggungjawabkan, serta menghindarkan masyarakat dari berita hoax yang sekarang berada di titik ledaknya.

Benar sekali sebuah tulisan yang di tempel di dinding Pataba yang saya kunjungi beberapa waktu silam, "Bacalah, bukan bakarlah! Salam literasi, salam Iqra'.

Joyo Juwoto, pegiat literasi di Komunitas Kali kening, tinggal di Bangilan Tuban.

Thursday, January 10, 2019

Senja Pada Secangkir Kopi

Senja Pada Secangkir Kopi
Oleh: Joyo Juwoto

Di sebuah beranda rumah
Yang menyimpan sejuta cerita
Di mana kita arungi bersama samudra kehidupan

Dan waktu tak pernah berhenti
Memintal setiap kenangan dan hembusan nafas kita

Anak-anak terlahir dan kemudian beranjak remaja
Menghiasai fragmen sepi dengan canda tawa
Rengekan, dan juga tangisan

Di sebuah beranda rumah
Yang mengukir segala kenangan
Di mana kita berdua menjadi tokoh utama dalam alurnya

Beribu suka dan duka kita eja dalam lembar kehidupan
Dalam dekapan semesta cinta yang kita bangun bersama

Di sebuah beranda rumah
Pada secangkir kopi senja yang kita teguk
Mengabadikan cinta dan kebersamaan dalam mengarungi samudera kehidupan

Bangilan, 10/1/19

Wednesday, January 9, 2019

Mata Senja

Mata Senja
Oleh: Joyo Juwoto

Bening matamu adalah telaga
Yang menggenang tenang
Di tepian senja merona tua
Saat matahari hinggap di pekarangan rumah
Angin sore berhembus mesra
Membisikkan kata-kata cinta
Ah, kau yang telah membersamai hari-hari penuh harmoni
Mengasuh masa bersama membesarkan harapan dan cita-cita
Mari duduk di sini
Di samping kehangatan dan kebersamaan
Mari bersama merajut rindu
Yang tak layu hingga senja tenggelam di ufuk sana
Bangilan, 9/1/19