Thursday, December 5, 2019

Eksistensi Sandur Tuban

Foto: Umar Afiq
Eksistensi Sandur Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

Kesenian sandur Tuban ternyata masih eksis. Saya menyangka kesenian ini sudah mati, setidaknya ini yang saya rasakan. Terakhir kali saya melihat pertunjukan sandur di masa kecil, sekitar usia 9 atau 10 tahunan, dan pertunjukan sandur itu tidak pernah saya lihat dan saya dengar lagi hingga usia saya menginjak 40 tahunan.

Dulu ditempat saya tinggal, tepatnya di tetangga desa ada group sandur. Saya hanya melihat dan membaca plat nama yang ditempelkan di depan rumah, entah namanya apa, saya lupa. Saya sendiri belum pernah mendengar ada pertunjukan sandur yang digelar di wilayah kecamatan di mana saya tinggal.

Sebenarnya saya juga sayup-sayup mendengar, ada sandur di wilayah Tuban bagian timur, tapi saya juga belum pernah mendengar pentas sandur. Jadi, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa Sandur Tuban mati suri.

Setelah waktu berlangsung lama, dan kehidupan berjalan dengan segala dinamikanya, bunyi gendang sandur dan sorak panjak hore nyaris tak terdengar. Sandur menjadi salah satu kesenian lokal yang tidak begitu diminati oleh masyarakat. Sandur masih kalah dengan kesenian lokal Tuban lainnya, tayub misalnya. Kira-kira demikian.

Dalam perjalanan waktu, sandur Tuban terdengar sayup-sayup mulai menyeruak ke permukaan. Saya merasa senang, sandur Tuban mulai ditampilkan ke ranah publik. Masyarakat akan kembali mendengar dialog Cawik, Balong, Tangsil yang mendayu-dayu dalam teater rakyat pinggiran ini. Sungguh menggembirakan.

Hari menggembirakan yang saya tunggu akhirnya datang juga. Dalam perhelatan Akbar Tuban Art Festival (ART) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Tuban (DKT) tahun 2019, ada pertunjukan sandur. Wow...saya berniat untuk menontonnya, walau tempatnya lumayan jauh dari rumah saya.

Secara umum saya berterima kasih kepada segenap punggawa DKT, yang dikomandani Bapak Joko Wahono atas terselenggaranya pentas sandur yang sudah saya impikan sejak lama. Sebagai lembaga yang mengurusi masalah kesenian dan kebudayaan di Tuban DKT layak mendapat apresiasi atas segala kegiatannya selama ini.

Saat pertunjukan sandur yang digelar di halaman gedung Budaya Loka Tuban, saya hadir dan melihat kemeriahanndan kehebohan malam puncak kegiatan Dewan Kesenian Tuban yang dihadiri penonton yang cukup banyak. Luar biasa.

Dari pertunjukan sandur yang tampil meramaikan malam itu cukup menjadi jawaban kegelisahan saya tentang eksistensi Sandur Tuban yang mati suri. Ah...sandur Tuban masih ada. Saya berharap kesenian lokal ini bisa lestari dan diwariskan generasi muda kita hari ini. Sekian.

Saturday, November 30, 2019

Ndolani Kanca

Ndolani Kanca
Dening: Joyo Juwoto


Alhamdulillah, awan Iki atiku seneng banget, bungah ra kaprah-kaprah. Sebabe aku iso ndolani kancaku, sing wis suwe ra ketemu. Kanca naliko ning SD. Asmane Kang Sumadi sing saiki manggon ing tlatah Bojonegoro. Aku ya pengin dolan lan silaturahmi ning kanca-kancaku liyane. Mugi-mugi kasembadan opo kang dadi kekarepane atiku.

Pas wayah dolan aku disuguhi kopi ireng. Anget-anget seger, tur maknyus sruputane. Sakliyane kuwi ono uga bakso. Wis komplit.
 Pokoke. Alhamdulillah berkah silaturahmi, mugi-mugi dadi jalaran awak sehat, lan manfaat. Shohibul bait ugi pikantuk rejeki Gangsar kang turah-turah saha berkah.

Sakwuse ndolani kancaku mau, aku pamitan mantuk, amerga wis nyedaki wayah Jumatan, banjur aku mampir masjid Gedhe ing kutho Bojonegoro,  nglampahi wajibing Gusti nindaake sholat Jumat.

Saking jarak kang iseh lumayan adoh saka masjid, pas iseh ing dalan aku wis krungu khutbahe khotib kang disiarke nganggo toa. Suarane banter tur jelas banget.

Inti khutbahe mangkene, "Naliko hari pembalasan ing akhirat, ono salah sijine Kawulo kang dilebetke neraka kalih Gusti Allah. Kawula Kuwi duweni kanca kang banget Sayange Karo dewekne. Kancane kawula mau kersane Allah kok mlebu suwarga.  Nanging, sakdurunge mlebu suwarga, dewekne tingak-tinguk nggoleki koncone kok gak ono. Akhire dewekne takon Karo malaikat.

"He...malaikat, opo Sira ngerti Fulan bin Fulan Iki? Malaikat njawab, oh, Kuwi panggonane Ning neraka."

Banjur wong Iki mau njaluk supaya kancane sing mlebu suwarga ditekno lan dijak bareng mlebu suwargo Karo dewekne. Alhamdulillah, penjaluke diijabahi kaliyan Gusti Allah. Dadi suk emben Kuwi kanca apik iso paring syafaat maring kancane sing mlebu neraka.

Tasih dawuhe khotib Jumat ing
Masjid alon-alon Bojonegoro Iki mau, Ing salah sijine dawuh, Kanjeng Nabi Nate ngendikan kalih Sayyidina Ali. "He...Ali, akih-akihno kekancan marang wong kang becik, soale kanca kang becik bakal iso nulungi awak nira besok ing tembe mburi."

Mekaten Niki wau, sekedik keterangan isi khutbah sing tak rungokke ing mesjid Gedhe Bojonegoro. Mugi-mugi kita pikantuk syafaatipun Kanjeng Nabi lan syafaatipun konco ingkang sae. Matur nuwun.


*Bojonegoro, 29 November 2019.*

Saturday, November 2, 2019

Mula Malapetaka

*Mula Malapetaka*
Oleh: Joyo Juwoto

Mula Malapetaka adalah sebuah novel terjemahan yang dialih bahasakan oleh Novia Stephanie. Novel ini judul aslinya The Bad Beginning yang ditulis oleh Lemony Snicket. Saya baru saja membaca buku 1, entah sampai berapa jilid buku ini, saya sendiri belum tahu. Maklum novel ini dipinjami teman.

Cerita dalam buku ini diawali dari sebuah permainan anak-anak di sebuah pantai yang disebut sebagai pantai payau, tempat di mana tiga bersaudara Baudelaire menghabiskan waktunya. Tiga bersaudara tersebut adalah Violet si sulung yang suka melempar batu ke arah laut, Klaus, si anak tengah yang gemar mengamati hewan-hewan, dan si bungsu Sunny yang suka menggigit-gigit barang yang dipegangnya.

Kegembiraan dan keasyikan mereka di pantai pupus dengan kedatangan sosok tinggi seram yang mendekati mereka bertiga. Ternyata, sesosok itu adalah Pak Poe yang mereka kenal. Pak Poe datang membawa nasib suram bagi ketiga bersaudara tersebut.



Pak Poe datang membawa kabar bahwa rumah keluarga Baudelaire (Halah susah banget ngucap dan nulisnya) mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan rumah mereka, bukan hanya itu orang tua mereka juga berpulang. Begitu kabar dari Pak Poe.

Kejadian ini tentu mengubah kehidupan tiga bersaudara yang malang ini. Mereka akhirnya diajak ke rumah pak Poe, dan tinggal bersama keluarga mereka. Tentu dengan kondisi yang serba baru, membuat tiga bersaudara ini tidak betah, mereka konflik dengan anak-anak pak Poe.

Kemalangan-kemalangan tiga bersaudara ini tidak berhenti di sini, akan banyak drama kesedihan yang mereka alami setelah mereka tinggal dengan seorang laki-laki aneh yang akrab dengan tato mata di dalam kehidupannya. Entah karena apa, Pak Poe mengirimkan mereka pada laki-laki aneh yang bernama Count Olaf.

Kisah dramatisasi kesedihan tiga bersaudara ini bisa dibaca di bab 4. Dengan cukup indah namun tragis, penulis menutup kesedihan tiga bersaudara ini dengan narasi yang menusuk hati. "Cahaya bulan menyorot lewat jendela dan jika ada yang mengintip ke dalam kamar anak-anak Baudelaire, ia akan menemukan mereka menangis diam-diam sepanjang malam.'

Sang penulis, Lemony Snicket sangat pintar dan detail  menggambarkan setting dan alur dalam cerita ini. Saya berusaha belajar dari tulisan yang diilustrasi oleh Brett Helquist. Ah, nama-nama yang sungguh asing dan susah untuk saya ingat dan saya ucapkan di lodah medok Jawa ini. ( Bersambung)

Thursday, October 31, 2019

Dakwah Pangeran Bonang

Dakwah Pangeran Bonang
Oleh: Joyo Juwoto

Bagi saya, membaca kisah-kisah  orang-orang sholih cukup menyenangkan, begitu juga membaca cerita Walisongo juga tak kalah menariknya. Saya selalu betah dan suka membaca cerita-cerita, apalagi ada bumbu-bumbu mistik di dalamnya. Selain itu tentu ada banyak hikmah yang bisa kita gali dan kita petik darinya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit mengenai kisah dakwah dan perjuangan salah satu Walisongo yang masyhur, yaitu Raden Makhdum Ibrahim, atau dikenal dengan sebutan sunan Bonang.

Buku yang saya baca tentang Sunan Bonang tergolong sangat tipis. Tebalnya hanya 39 halaman. Buku ini adalah salah satu serial dari buku Walisongo yang ditulis oleh M. Hariwijaya. Saya sebenarnya sempat mencari seri buku wali lainnya, tapi saya belum menemukan, mungkin saja sudah tidak dicetak.

Walau terbilang tipis, buku ini cukup bagus dan enak untuk dibaca. Buku yang dicetak di Yogyakarta tahun 2006 silam ini memuat lima bab.
Bab 1 Raden Makhdum Ibrahim
Bab 2 Mengungguli Ilmu para Brahmana
Bab 3 Pondok pesantren Bonang
Bab 4 Sufisme Sunan Bonang
Bab 5 Akhir Hayat Sunan Bonang

Dari bab 1 hingga bab 5 kisah dari Sunan Bonang dikisahkan relatif enak dan mudah dipahami. Saya lancar-lancar saja dalam membacanya. Karena kisah-kisah tersebut sudah sering saya baca di buku-buku lainnya. Hanya pada bab ke-4 saya agak kesusahan dalam memahami ajaran sufisme Sunan Bonang.

Di bab 4 ini banyak ajaran tasawuf yang dibabar oleh penulis. Perlu pendalaman dan referensi yang banyak untuk memahami ajaran sufisme Sunan Bonang, semisal ajaran shalat yang bukan hanya sekedar shalat secara Syara' saja. Di bab itu menyinggung shalat Daim dan juga sembahyang. Di halaman 24, sunan Bonang menanggapi pertanyaan Wujil tentang sembahyang. Sunan Bonang menjawab:
"Janganlah menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat."

Selain membahas sembahyang, juga membahas ilmu filsafat tentang anasir api, air, angin, dan juga tanah. Lebih lanjut di buku itu dijelaskan nilai filosofisnya yang saya sendiri belum begitu memahaminya. Tua muda adalah sifat unsur bumi, kalau tua kapan mudanya, kalau muda kapan tuanya. Unsur api bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di mana lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Unsur angin sifatnya ada dan tiada. Jika ada di mana tiadanya, jika tiada di mana adanya. Sedang unsur air bersifat mati-hidup. Kalau mati kapan hidupnya, kalau hidup kapan matinya. Wow... pusing!!!

Dan masih banyak hal yang dibahas secara filosofis di bab 4 tentang wejangan sunan Bonang kepada murid kinasihnya yaitu Wujil. Wejangan sunan Bonang inilah yang nantinya dikenal sebagai Suluk Wujil.

Saya tidak tahu apakah manuskrip suluk wujil ini masih ada atau tidak, mungkin temen saya *Mbak Hiday* bisa menjelaskan. Soalnya beliaunya yang intens meneliti mengenai manuskrip sunan Bonang. Bahkan beliaunya sudah melanglang buana hingga ke Leiden demi berjumpa dengan manuskrip asli Primbon Sunan Bonang yang dikenal dengan Het book Van Bonang.

Sebagai orang Tuban, tentu saya ingin mengetahui secara detail tentang tokoh yang berjasa terhadap dakwah Islam di bumi Ranggalawe ini. Semoga apapun tentang Sunan Bonang bisa kita baca dan kita jadikan pijakan dalam melangkah ke depan demi membangun Tuban lebih baik, sebagaimana citra yang dibangun oleh Bapak Bupati Fatkhul Huda, bahwa Tuban adalah bumi Wali. Sekian terima kasih.

*Bangilan, 31 Oktober 2019*

Wednesday, October 30, 2019

Juwet, buah nostalgia generasi 90an

Juwet, buah nostalgia generasi 90an
Oleh: Joyo Juwoto

Entah hari ini anak-anak kita mengenal atau tidak dengan buah juwet ini. Buah juwet identik dengan alam liar, karena buah ini jaman dahulu memang tidak dibudidayakan. Pohon juwet tumbuh liar begitu saja di gerumbul-gerumbul, di pekuburan atau juga di tepian sungai. Dulu pohon ini liar dan siapapun boleh mengambil buahnya, untuk dinikmati.

Buah dengan warna ungu kehitaman ini menjadi favorit anak-anak gembala, selain tentu buah lainnya. Hari ini budaya menggembala sudah hampir punah, hanya ada beberapa saja masyarakat yang menggembalakan ternaknya. Kebanyakan ternak sekarang makannya dibelikan. Bisa tebon, rumput gajah, dedak, maupun ongsok kering.

Jika engkau terlahir di era 80-90an, tentu masa kanak-kanakmu dipenuhi kenangan indah dan nostalgia tak terlupakan dengan buah juwet ini. Pastinya kalian pernah memakan buah ini demi memamerkan lidah dan gigi kalian yang berubah warna. Wow... Indah sekali.

Sangat disayangkan sekali sebenarnya, jika hari ini generasi milenial tidak mengenal buah juwet,  yang sangat asyik dinikmati langsung di atas pohonnya yang rindang. Kita bisa makan sepuasnya sambil duduk-duduk santai di dahan pohon juwet.

Buah juwet memang rasanya tidak begitu manis, bahkan justru cenderung sepet. Tapi anak jaman dahulu apapun masuk perut, jangankan yang sepet-sepet manis, yang kecut sekelas mangga muda saja habis disikat. Entah, dulu mungkin makanan tidak seenak dan sebanyak hari ini.

Walau sepet, buah yang berbentuk lonjong kecil-kecil, berwarna ungu tua ini ternyata memiliki banyak manfaat. Diantara adalah mengobati penyakit diabetes. Mungkin bisa dicoba ya. Selain mengobati diabetes, warna ungu dari buah juwet memiliki kandungan zat yang menjada kesehatan gusi dan gigi. Ternyata buah juwet memiliki banyak manfaat juga.

Alhamdulillah, setelah sekian lama saya tidak merasakan buah juwet, tadi pagi saat belanja di pasar, saya bertemu dengan penjual juwet.
"Bu, juwete saking pundi Niki? Kulo tumbas enggih?"
"Owh enggih, mangga, Niki saking Jatirogo, mas." Si ibu penjual menimpali.
Tanpa ba-bi-bu langsung saya beli itu buah. Ada kerinduan tersendiri untuk kembali menikmati buah tersebut.

Penjual menawarkan harga sepuluh ribu untuk satu kilo juwet. Tanpa tawar menawar, saya langsung setuju dan membelinya. Senang rasanya kembali melihat dan mencicipi buah favorit masa menggembala sapi di kampung halaman. Hemm...serasa kembali ke masa silam. Selamat menikmati buah juwet. Terima kasih.

Bangilan, 30 Oktober 2019

Thursday, October 3, 2019

Ayo Sukseskan Gelem: Gerakan Literasi Madrasah

Ayo Sukseskan Gelem: Gerakan Literasi Madrasah
Oleh: Joyo Juwoto

Tahun ini (2019) Madrasah di wilayah kementerian agama Jawa Timur akan mencanangkan gerakan satu guru satu buku, satu siswa satu buku. Program ini dikenal dengan istilah Gelem (Gerakan Literasi Madrasah).

Sebenarnya program ini sudah lama dicanangkan oleh kementerian pendidikan Nasional yaitu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), diantara program berkelanjutan dari GLS adalah mengkondisikan siswa untuk membaca buku non materi pelajaran 15 menit sebelum pelajaran sekolah berlangsung.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) dari Kemendikbud telah lebih dahulu mengeksekusi progam ini dengan cukup masif. IGI sendiri punya program literasi untuk para guru dan siswa. Program Satu guru satu buku atau dikenal dengan istilah Sagusabu cukup banyak diminati oleh para guru, kendati mereka harus merogoh kocek sendiri untuk mengikuti pelatihan dan workshop literasi.

Selain program Sagusabu, IGI juga punya program satu siswa satu buku. Hal ini tentu dalam rangka mengejar ketertinggalan dalam dunia literasi. Program literasi IGI berjalan cukup bagus, saya salut dengan program IGI dalam meningkatkan mutu literasi di lingkungan pendidikan mereka.

Sedang di lingkungan Kemenag, gerakan  literasinya termaktub di dalam salah satu program Geram (Gerakan Membangun Madrasah). Salah satu klausul dari Geram adalah Gerakan Literasi Madrasah atau disingkat  Gelem. ini  Kemenag segera melaunching progam ini. Targetnya kementerian agama harus menghasilkan 25 ribu buku.

Menurut Kasi Pendma Kemenag Tuban, Kabupaten Tuban akan segera menggalakkan program Gelem. Saat ini dilakukan pendataan karya bapak dan ibu guru serta murid-murid madrasah. Puncaknya nanti pada saat HAB Kemenag akan digelar festifal literasi madrasah, dengan memejang karya-karya dari para bapak ibu guru.

Seyogyanya, madrasah memiliki kans besar dalam dunia literasi, karena memang madrasah memiliki basis pengetahuan agama yang cukup kuat dan pengetahuan umum pula. Khasanah pesantren cukup kaya dengan sumber-sumber literasi. Oleh karena itu jangan sampai madrasah kalah dengan lembaga lain dalam bidang literasi ini.

Gerakan literasi pada hakekatnya bukan hanya sekedar melek baca dan melek tulis semata, namun lebih luas lagi literasi berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Kita tentu berharap kemampuan literasi di lingkungan Kemenag khususnya bisa ditingkatkan, sehingga stigma rangking paling buncit di level internasional minimal bisa terkurangi. Dan yang lebih penting lagi, kemampuan literasi seseorang berbanding dengan tingkat dan kualitas belajar seseorang. Salam literasi.

Dendang Cinta Ibn ‘Arabi


Dendang Cinta Ibn ‘Arabi

Bagi para penjelajah di dunia sufi mungkin tidak asing dengan beliau, Ibn ‘arabi, seorang Syekh Sufi Agung nan Akbar yang banyak menuai kontroversi di dunia Islam. Saya sendiri bukanlah seorang yang menekuni di dunia kesufian, atau melakukan penelitian yang mendalam tentang tokoh-tokoh sufi, saya hanyalah pmbelajar yang sedang memiliki kecenderungan untuk membaca beberapa karya tokoh-tokoh sufi, termasuk di dalamnya adalah Muhammad Ibn ‘Ali Muhammad Ibn ‘Arabi at-Ta’i al-Hatimi, atau yang masyhur dipanggil dengan sebutan Muhyi ad-Din Ibn ‘Arabi.

Walau ketenaran dari Ibn ‘Arabi banyak diungkapkan oleh orang-orang Barat, namun ternyata umat Islam secara mayoritas banyak yang tidak mengenal beliau. Jika di dunia pesantren sangat akrab dengan karya ulama-ulama terkemuka seperti Ihya’ Ulumuddinnya Imam Al Ghazali, sangat dekat dengan kitab monumentalnya Ibn Athaillah as-Sakandari yaitu kajian Al Hikam, kemudian santri-santri pondok pesantren juga sangat familiar dengan kitab-kitab dalam disiplin ilmu fikih semisal Taqrib, Safinatun Najah, dan ratusan kitab fikih lainnya, namun tidak dengan karya ulama-ulama sufi semisal Ibn ‘Arabi, maupun Jalaluddin Rumi.

Saya sendiri belum pernah melihat para santri mengaji kitab-kitabnya dua ulama sufi yang saya sebutkan di atas, bahkan saya saya sendiri belum pernah melihat wujud fisik kitabnya Ibn ‘Arabi. Saya tertarik dengan Ibn ‘Arabi dari pauisi-puisi dan ajaran cinta yang beliau tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Baik itu tulisan yang berupa kutipan yang banyak berseliweran di media sosial, maupun dari buku-buku yang saya baca. Dari ketertarikan tersebut kemudian saya membaca buku Semesta Cinta Ibn ‘Arabi yang diterjemahkan oleh Kiai Aguk Irawan MN. dan Kaserun, kemudian saya juga membaca Semesta Cinta, Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi karya Haidar Bagir. Karena rasa penasaran dengan Ibn ‘Arabi semakin menjadi, kemudian saya membaca buku Fusus Al-Hikam, hasilnya mumet sendiri.
Ibn ‘Arabi adalah salah seorang tokoh sufi falsafi yang terlahir di kota Murcia Spanyol, pada tanggal 27 Ramadan 560 H atau bertepatan tanggal 17 Agustus 1165 M. Ibn ‘Arabi banyak berguru kepada ulama-ulama besar pada zamannya, namun yang akhirnya mampu menjadikannya  sebagai sufi besar adalah guru beliau, seorang gnostikus wanita dari Sevilla, yang bernama Fatimah binti al-Musanna. Kepada gurunya inilah Ibn ‘Arabi mendarma baktikan hidupnya selama beberapa tahun untuk Sang guru. Menurut penuturan dari Ibn ‘Arabi gurunya pernah berkata kepadanya demikian:

“Aku adalah ibu spiritual dan cahaya ibu duniawimu.”

Dari perkataan ini jelas sekali bahwa spiritual Ibn ‘Arabi sangat diperhatikan oleh gurunya yang saat itu sudah berusia sekitar sembilan puluh lima tahun. Usia yang sudah cukup tua. Walau demikian kebijaksanaan dan nilai spritual Fatimah binti Al-Musanna tidak diragukan lagi.

Pada dasarnya pemikiran dari Ibn ‘Arabi didasarkan pada pemahaman sebuah hadits qudsi yang berbunyi:
كنت كنزا لم أعرف فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق وتعرّفتُ إليهم فعرفونى

Artinya, “Aku adalah harta terpendam yang tak dikenal. Aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk, lalu aku memperkenalkan diri kepada mereka, hingga mereka mengenal-Ku.”

             Cinta menjadi alasan bagi Allah swt menciptakan makhluk dan semesta raya ini, agar Ia dikenali sebagai Sang Pencipta, agar Ia dikenali entitasnya sebagai Tuhan semesta raya. Dalam sebuah puisinya Ibn ‘Arabi berdendang:

             Bila tiada cinta, maka tak dikenallah Sang Pencinta
             Bila tiada kefakiran, maka tak disembahlah Sang Penderma
Kami ada karena Dia, dan kami adalah milik-Nya semua
Dari cintaku lah kepada-Nya bertaut
Bila Tuhan menghendaki wujud entitas
Yang Dia kehendaki, maka berlalulah pertentangan
Kami ada di sini “Kun” tanpa pengangguhan
Sifat jagad inilah yang diambil guna
Entitas cinta adalah entitas jagad semesta
yang diidentifikasi lalu ditimbulkan oleh cinta
            
             Dari konsep hadits qudsi inilah kemudian dikembangkan dan diolah oleh Ibn ‘Arabi menjadi puisi-puisi dan ajaran filsafat mahabbah (cinta), yang akhirnya mengilhami banyak karya terlahir dari rahim pemikiran beliau.

             Di dalam Al-Qur’an maupun hadits sendiri sebenarnya banyak memuat tentang konsep mahabbah (cinta). Dalam surat Ali Imron ayat 31 Allah berfirman: “Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu.” Dalam sebuah hadits Nabi dikatakan: “Salah seorang di antara kamu tidaklah beriman (secara sempurna), sebelum mencintai aku lebih dari harta, anak, keluarga dan jiwa yang ada dalam dirinya.” Dalam hadits Qudsi Allah swt juga berfirman:

“Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan mengerjakan ibdah-ibadah sunah, hingga Aku mencintainya.”

             Dalam sebuah syairnya, Ibn ‘Arabi mendendangkan puisi tentang kemuliaan dari cinta:
             Dari cinta kita muncul dan atas cinta kita dicipta
Karena itu, sengaja kita datang padanya
dan karena inilah, kita benar-benar diterima
(Fushush al-Hikam:2/322)


Walau belum begitu memahami jejak pemikiran Ibn ‘Arabi secara mendalam, saya berkhusnudzon saja, semoga kelak pada suatu waktu Allah membukakan kefahaman tentang pengetahuan tersebut. Saya selalu mempercayai bahwa apapun yang kita baca walau mungkin belum paham sekalipun, ada hikmah yang bisa kita petik, ada hal bisa kita ambil sebisa kita yang membawa perubahan positif dalam diri ini. Setidaknya ajaran cinta dan kasih sayang yang diajarkan oleh ulama-ulama tersebut bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita. sekecil apapun itu.

Jadi, ilmu itu sebenarnya di tingkah laku dan perbuatan, bukan hanya sekedar menguasai banyak teori pengetahuan namun nir amal. Orang Jawa bilang “Ngelmu iki kalakone kanthi laku.” sebanyak apapun teori pengetahuan kita hafal di luar kepala, jika tidak kita implementasikan dalam perbuatan nyata dalam kehidupan, maka hal tersebut hanyalah kesia-siaan belaka. Tidak ada nilainya di hadapan Allah swt. Oleh karena itu ketika saya membaca buku-buku yang berkenaan dengan Ibn ‘Arabi, saya punya harapan bisa tertulari kekuatan cinta, dan hidup dalam bingkai cinta kepada Tuhan dan juga cinta terhadap nilai-nilai kemanusiaan tentunya.

Monday, September 30, 2019

Meneladani Kisah dan Spirit Hijrahnya Nabi Muhammad Ke Kota Madinah


Meneladani Kisah dan Spirit Hijrahnya Nabi Muhammad Ke Kota Madinah
Oeh: Joyo Juwoto

Perayaan tahun baru Islam atau atau dikenal sebagai tahun baru hijriyah memang tidak semeriah peringatan tahun baru masehi. Namun bukan berarti tahun baru hijriyah tidak memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat khususnya tentu umat Islam. Jika tahun baru masehi dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Isa, sedang tahun baru Islam dihitung dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Secara historis tahun baru hijriyah ini memiliki makna yang tentu tidak jauh dari spirit peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari kota Makkah menuju kota Yatsrib yang nantinya disebut kota Madinah.

Kita tahu, hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah dipicu oleh kondisi dakwah Islam yang mengalami kemandegan. Setelah wafatnya Abu Thalib paman Nabi, dan Siti Khadijah istri Nabi, dakwah Islam di Makkah stagnan. Orang-orang kafir Makkah bukan saja menolak dakwahnya Nabi, namun mereka sudah berani mengancam dan memberikan tekanan fisik terhadap umat Islam. Gangguan dakwah semakin hari semakin berat, sehingga Nabi sendiri sempat mencari suaka politik ke Thaif. Namun di kota ini pun Nabi Muhammad ditolak mentah-mentah, bahkan beliau diusir dan disakiti.

Melihat kondisi dakwah yang tidak menguntungkan Nabi pun berbenah, beliau berfikir mencari daerah sasarn baru untuk dakwah Islam. Kesempatan itu pun dating. Pada musim haji tahun ke-12 kenabian datanglah rombongan haji dari Yatsrib. Di bukit Aqabah, Nabi menemui mereka dan menawarkan dakwah Islam. Alhamdulillah mereka merespon positif ajakan Nabi untuk memeluk dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman. Peristiwa ini dikenal sebagai baiatul aqabah.

Dari peristiwa baiatul aqabah dengan penduduk Yatsrib inilah dakwah nabi mendapatkan jalan untuk menjemput cahaya keislaman bersinar di bumi Madinah kelak. Dari peristiwa hijrah inilah umat Islam bisa mengembangkan dakwah dan menjalankan syariat Islam dengan lebih leluasa.
Selain factor di atas, sebagai seorang utusan Allah tentu Nabi telah mendapatkan perintah dari melalui petunjuk wahyu  agar beliau dan para sahabat hijrah ke Madinah. Dalam surat An-Nisa’ ayat 100 Allah swt berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Setelah ada perintah wahyu dari Allah swt, maka para sahabat mulai berhijrah menuju kota Yatsrib. Karena ketakutan akan datangnya halangan dan gangguan dari orang-orang kafir Quraiys, para sahabat hijrah secara bertahap dan secara sembunyi-sembunyi. Nabi pun berangkat hijrah dengan sembunyi-sembunyi pula, ditemani oleh Sahabat Abu Bakar As-Siddiq. Sedang menurut sebagian riwayat hanya Sahabat Umar bin Khattab yang mengumumkan bahwa dirinya akan berangkat hijrah ke Yatsrib.

Drama perjalan hijrahnya Nabi ke Madinah tidak berjalan mulus, beberapa kali hampir saja orang-orang kafir Quraiys memergoki kepergian beliau. Namun dengan perjuangan yang berat akhirnya Nabi bersama Abu Bakar berhasil sampai di kota Yatsrib, tepatnya pada hari Jumat 13 Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 24 September 622 M.

Di kota Yatsrib, Nabi dan Abu Bakar disambut dengan sambutan yang meriah dari para penduduk yang memang kebanyakan sudah menyatakan keislamannya. Mereka menabuh rebana untuk menyambut Nabi yang diumpamakan sebagai bulan purnama bagi kota Yatsrib.

Dari kisah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw yang saya ceritakan secara ringkas di atas banyak hal yang bisa kita petik guna kita ambil hikmah bagi kehidupan umat Islam hari ini.
Bagi pembaca yang budiman, silakan digali dan disimpulkan narasi hijrahnya nabi Muhammad saw kemudian dijadikan pedoman dan pelajaran dalam meneladani perjuangan Nabi Muhammad saw. Bagaimanapun juga, sejarah selalu memiliki nilai edukatif dan inspiratif guna memberikan arahan bagi kehidupan masa kini.


Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Jawa Timur, Penulis aktif di www.joyojuwoto.com. Saat ini telah menulis beberapa buku solo, diantaranya: Jejak Sang Rasul; Secercah Cahaya Hikmah, Dalang Kentrung Terakhir (2017), Cerita Dari Desa, Cerita untuk Naila dan Nafa. Selain itu juga telah menulis puluhan buku antologi. Silaturrahmi dengan penulis via Whatshap dinomor  085258611993 atau email di joyojuwoto@gmail.com.





Sunday, September 29, 2019

Jalaluddin Ar-Rumi Sufi Penyair Terbesar

Jalaluddin Ar-Rumi Sufi Penyair Terbesar
Oleh: Joyo Juwoto

Jika mendengar nama Jalaluddin Rumi, maka yang pertama kali muncul dalam pikiran adalah tentang tari sufi dengan para penari yang berputar bagai gasing, dan juga tentang syair-syair cinta dan syair ketuhanan.

Sufi besar yang terlahir di kota Balkha Afganistan ini memang luar biasa, ia tidak hanya dikenal dalam khasanah dunia Islam saja, namun orang-orang Barat juga sangat mengidolakan beliau.

Maulana Jalaluddin Rumi memang kesohor sebagai penyair terbesar yang dimiliki oleh umat Islam, selain itu Jalaluddin Ar-Rumi adalah sosok pribadi yang pintar dalam ilmu filsafat, dan memiliki wawasan yang luas. Demikian yang saya baca dalam bukunya Abdul Hasan An-Nadwi.

Tidak heran memang, karena Jalaluddin Ar-Rumi terlahir dari seorang ayah yang juga seorang ulama dan guru besar di zamannya. Buah memang lebih banyak jatuh dekat dengan pohonnya, begitu pula Maulana Ar-Rumi mengikuti jejak ayahnya, sebagai seorang guru besar.

Jalaluddin Ar-Rumi banyak belajar pada ulama-ulama terkemuka seperti Kamaluddin bin al-Adim, dan bertemu dengan guru-guru hebat semisal Syekh Muhyiddin ibn Arabi, Sa'aduddin al-Hamawi, Utsman Ar-Rumi, Auhaduddin al-Karmani, dan Shadruddin al- Qounawi.

Setelah ayahnya wafat, Maulana Jalaluddin Ar-Rumi menggantikan beliau menjadi guru besar. Murid-murid Jalaluddin Ar-Rumi sangat banyak, mencapai sekitar 4.000 santri. Semenjak itu beliau mengajar dan memberikan fatwa kepada masyarakat di sekitarnya.

Nama dan kebesaran Jalaluddin Ar-Rumi mulai muncul saat tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang misterius yang nanti menjadi gurunya. Seorang sufi dari Tabriz wilayah Iran. Orang tersebut bernama Muhammad bin Ali bin Malik Daad, atau lebih terkenal dengan nama Syamsi Tabriz. Dari pertemuan dengan lelaki misterius inilah  proses karya besar Jalaluddin Ar-Rumi yang berjudul al-Matsnawi al-Maknawi  akan menemukan takdirnya.

Entah karena apa, seakan Jalaluddin menemukan sesuatu yang baru dari diri gurunya itu. Siang dan malam Jalaluddin Ar-Rumi selalu membersamai Syamsi Tabriz. Ada pesona yang seakan membuatnya menemukan banyak rahasia ilahiah yang terpendam. Dalam sebuah sajaknya, Jalaluddin menulis tentang gurunya:

"Sesungguhnya Syamsi Tabriz itulah yang telah menunjukiku jalan kebenaran. Dialah yang mempertebal keyakinan dan keimananku."

Karena keintiman Jalaluddin Ar-Rumi dengan guru barunya ini menyebabkan ia meninggalkan murid-muridnya. Hal ini tentu membuat murid-murid Jalaluddin Ar-Rumi menjadi membencinya, termasuk Sultan Walad, anak dari Jalaluddin sendiri, juga galau dengan kehadiran Syamsi Tabriz. Sultan Walad pun tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, dan ia mengomentari hubungan ayahnya dengan lelaki misterius tersebut:

"Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan Zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya."

Jalaluddin benar-benar bagai tersihir jiwanya, ia tidak bisa berpaling dari pesona gurunya itu, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengurusi murid-muridnya, hal ini berdampak pada kemarahan murid-muridnya yang kemudian berujung pada pengusiran Syamsi Tabriz dari kota Kauniyah di mana mereka tinggal.

Tanpa sepengetahuan Jalaluddin, Syamsi Tabriz meninggalkan Jalaluddin Ar-Rumi, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 643 H. Setelah ditinggal gurunya pergi, Jalaluddin menjadi sedih tak terkira. Ia kemudian banyak menyendiri, menyepi,  meninggalkan keramaian dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Setelah sibuk dalam kesendirian, pada suatu hari ada surat dari Damaskus, ternyata surat tersebut dari Syamsi Tabriz, alangkah gembiranya hati Jalaluddin, sehingga saat itu pula ia mengakhiri uzlahnya, dan mulai mengajar kembali murid-muridnya yang sekian lama tidak ia perhatikan dan ia tinggalkan.

Seperti telaga bening yang menyejukkan, dari kedalaman hatinya yang menyimpan rindu yang menggebu, Jalaluddin Ar-Rumi menulis sepucuk surat untuk gurunya tercinta:

O cahaya yang semburat dalam hati, kemarilah
Tambatan nurani dan segala damba, datanglah
Wahai pendahulu yang aku lebih dahulu darimu
Yang memiliki cinta sejati, kemarilah
Wahai kesenangan dan kebahagiaan manakala datang
Dan wahai kesusahan dan kesedihan apabila hilang
Engkau bagai mentari nan dekat namun jauh
Wahai orang yang dekat namun jauh, kemarilah.

Betapa bahagianya Jalaluddin, kekasih hati yang dirindukan segera datang, tidak ada obat bagi penyakit rindu kecuali sebuah pertemuan. Jalaluddin pun sangat bahagia bertemu kembali dengan gurunya, setelah sekian lama tidak bersua. Jalaluddin terus bersama gurunya, seakan ia tidak mau dipisahkan oleh apapun dan siapapun. Namun takdir berkata lain, ia harus kembali berpisah dengan gurunya, bahkan perpisahan ini membuatnya kehilangan sosok yang dicintainya.

Perpisahan kedua ini benar-benar  memukul jiwa dan perasaannya. Jalaluddin berusaha mencari gurunya ke segala penjuru. Namun sayang, gurunya seperti raib ditelan bumi. Dalam masa pencarian inilah, dengan tanpa sadar Jalaluddin sering membaca sajak dan kasidah-kasidah, kalimat-kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Jalaluddin terus mencari dan mencari, ia tidak pernah bosan untuk menjelajahi dari satu tempat ke tempat lain demi bertemu dengan gurunya. Namun Syamsi Tabriz tak pernah ditemukan. Setiap orang ia tanya tentang keberadaan sang guru, siapapun yang memberikan petunjuk, atau bercerita tentang gurunya, ia dengan suka hati memberikan hadiah kepada orang tersebut.

Walaupun dalam perjalanan mencari gurunya tidak berhasil, lama kelamaan hati dan jiwanya  menjadi tenang. Ia terus berjalan dan mencari, hingga akhirnya ia punya satu kesimpulan bahwa gurunya sebenarnya tidak pernah hilang dan berpisah dengan dirinya. Jalaluddin berkata kepada dirinya sendiri:

"Antara aku dan Syamsuddin sama sekali tidak ada bedanya. Jika dia matahari, aku serbuk cahayanya. Jika ia laut, aku adalah bahteranya. Serbuk cahaya bersumber pada matahari dan kehidupan perahu (bahtera) pada laut."

Setelah pencarian panjang tidak mendapatkan hasil, Jalaluddin kembali ke Kauniyah tempat ia tinggal. Ia pun menyibukkan diri dengan mengajar kembali murid-muridnya. Namun kerinduan terhadap sosok sang guru terus menggelora. Ia mulai menata diri dan hati, bahwa antara dirinya dan gurunya sebenarnya tidak ada beda. Kau adalah Aku, dan aku adalah engkau dalam bentuk lain. Begitu kira-kira.

Dalam salah satu puisinya Jalaluddin menulis:

"Aku tidak akan lagi mencari. Aku akan mencari diriku sendiri, sebab segala yang ada dalam diri Syamsuddin, juga ada dalam diriku."

Walaupun demikian, tak dapat dipungkiri Jalaluddin merasakan kesepian dalam jiwanya. Dalam kesepian karena ditinggal gurunya inilah, Jalaluddin ditemani Sholahuddin Ad-Dukak, selama sepuluh tahun. Pada tahun 658 H Sholahuddin wafat, hal ini juga menyebabkan Kegoncangan hati Jalaluddin.

Setelah itu, Jalaluddin ditemani oleh Syal Hasamuddin sebagai kawan dukanya. Pada saat inilah Jalaluddin banyak menulis puisi. Ia menulis dan mengalir begitu saja tanpa berfikir dari akal pikirannya. Puisi ini kelak dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul al-Matsnawi al-Maknawi yang dianggap sebagai kitab sucinya orang Persia yang fenomenal itu.

*Bangilan, 29/09/19*

Thursday, September 26, 2019

Cahaya Dari Kendeng


Cahaya Dari Kendeng
Oleh: Joyo Juwoto



Cahaya…
Engkaulah cahaya
Yang berpendar dari sebongkah berlian permata 
Raden Qohar, gelar dan namamu begitu sangar menggelegar
Engkau…Rembesing madu trahing kusuma

Namun, bukan karena itu kemuliaanmu
Bukan karena nasab radenmu
Bukan karena gelar kebangsawananmu
Bukan,
Sekali lagi bukan

Engkau mulia karena darma
Dan bakti suci pada Bumi Pertiwi
Tulus ikhlas demi negeri
Di bumi yang engkau diami
Bumi yang engkau cintai

Raden Qohar… Samin Surosentiko
Tlah engkau wariskan api dalam darah kami
Tlah engkau kobarkan sumbu perlawanan
Yang membakar segala sampah kesewenangan
Melawan segala bentuk tirani dan penindasan
Karena darahmu adalah darah perjuangan

Eyang Samin Surosentiko
Aku mencari jejak perlawananmu
Pada cadas yang keras
Pada debu dan batu-batu
Dan pada kalbu serta laku
Sedulur sikep, Samin; Sami-sami amin.


Bangilan, 19/09/2019.

Thursday, September 12, 2019

Sains dan Dunia Islam

Sains dan Dunia Islam
Oleh: Joyo Juwoto

Sains dan Dunia Islam adalah sebuah buku tipis yang disarikan dari pidato yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abdus Salam, di hadapan para ilmuwan, tokoh masyarakat, dan pejabat-pejabat di Kuwait. Beliau adalah seorang ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel bidang fisika tahun 1981.

Buku ini setebal 36 halaman. Cukup tipis jika ditilik dari sebuah buku pada umumnya, walau demikian cukup berat bagi saya untuk membacanya. Kurang lebih dua mingguan buku itu selesai saya baca.

Bagi saya pribadi membaca hal yang berbau Sains, atau tulisan yang bergenre ilmiah cukup berat. Pusing kepala ini dibuatnya. Tidak seperti fiksi, yang kadang kalau sedang keranjingan membaca, saya bisa menyelesaikan membaca sebuah novel yang jumlah halamannya ratusan, bisa sekali atau dua kali duduk khatam.

Lha, ini untuk buku tipis saya harus menguras segala daya dan upaya agar bisa khatam. Paham tidak paham pokoknya saya baca. Alhamdulillah, pagi ini selesai terbaca. Walau saya sendiri sulit mengungkapkan apa yang telah saya baca.

Ada beberapa hal yang saya ingat dan saya pahami dari tulisan Prof. Dr. Abdus Salam, diantaranya adalah, bahwa umat Islam seharusnya mampu menguasai dan mengembangkan teknologi, karena itu bagian dari ilmu agama juga.

Dalam Al Qur'an sendiri banyak sekali petunjuk dan ayat tentang teknologi, dan itu perlu dipecahkan oleh umat Islam. Salah satu contoh petunjuk ilmu teknologi yang diberikan Al Qur'an sebagaimana dalam surat 34 ayat: 10-11 Allah berfirman yang artinya:
*Kami lunakkan besi bagi Daud, buat baju besi.*

Ayat ini menginformasikan tentang teknologi logam dan pertambangan yang harus dikuasai oleh umat Islam. Sebelum pertambangan dan teknologi logam sendiri ada, Al Qur'an sudah lebih dahulu menginformasikan hal ini kepada kita, umat Islam.

Namun sayangnya, umat Islam kurang peka dan tidak mau berfikir mendalam tentang hal ini. Kita masih suka beranggapan bahwa yang namanya ilmu agama itu yang hanya menyangkut kehidupan akhirat saja. Seperti ilmu tafsir, hadits, fikih, dan sejenisnya. Kalau ilmu-ilmu umum kita anggap bukan bagian dari ilmu agama.

Dulu sering kita mendengar, untuk apa belajar matematika, fisika, teknologi, toh itu tidak ditanyakan oleh malaikat di alam kubur, sehingga minat umat Islam terhadap ilmu-ilmu saints sangat rendah. Saya rasa ini adalah fakta yang bisa kita lihat di tengah masyarakat.

Dari pemahaman yang demikian, akhirnya umat Islam ketinggalan dalam dunia sains dan teknologi. Umat Islam sibuk berdebat masalah fighiyah, sibuk mempermasalahkan bilangan shalat tarawih, sibuk antara qunut dan tidak, sehingga energi kita habis hanya untuk perdebatan yang sia-sia.

Dari buku tipis yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdus Salam ini seyogyanya menyadarkan kepada kita semua umat Islam bahwa Sains dan Teknologi wajib hukumnya dipelajari dan dikuasai oleh umat Islam, tanpa meninggalkan ilmu-ilmu yang lain tentunya. Intinya harus seimbang antar ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Bukankah sebelum masa pencerahan/aufklarung dunia barat terbit, umat Islam yang terlebih dahulu menguasai berbagai pengetahuan dan teknologi. Sebut saja Alkhawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Haitam, Jabir bin Hayyan, adalah bukti umat Islam melek sains dan teknologi.

Akhir kata, kita umat Islam  harus bisa mewujudkan doa sapu jagad yang sering kita lantunkan di setiap doa kita "Rabbana aatina fiddun-ya Hasanah, wa file aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban naar".

Saya tutup tulisan saya ini dengan perkataan Al Kindi yang dinukil dalam bukunya Prof. Dr. Abdus Salam di lembar pertama:
"Maka bagi kita tidaklah pada tempatnya untuk malu mengakui kebenaran dan mencernakannya, dari sumber mana pun ia datang kepada kita. Bagi mereka yang menghargai kebenaran, tak ada sesuatu yang lebih tinggi nilainya selain kebenaran itu sendiri; dan ia Tak akan pernah meremehkan ataupun merendahkan martabat mereka yang mencarinya". Sekian, semoga bermanfaat.


*Joyo Juwoto. Santri Kreweng, tinggal di Bangilan Tuban.*

Tuesday, September 3, 2019

Senandung Kidung Kendeng


Senandung Kidung Kendeng
Oleh: Joyo Juwoto


Pada siang yang gersang
Pada kemarau yang risau
Pada debu-debu di jalanan berliku
Pada hutan jati yang sunyi
Aku telusuri ceruk wajahmu yang pias membisu

Wadag ragamu laksana pohon jati yang kokoh
terpasak pada padas-padas keras
Jiwa batinmu putih, sesuci bebukitan kendeng
yang memeluk kesederhanaan,
dalam harmoni cinta, pada semesta raya

Di kemarau yang bisu,
Jiwamu berseruling hening,
bersikep laku, berdharma bakti pada bumi aji
Semilir angin berhembus lampus
menerpa daun dan ranting-ranting kering

Daun-daun pun meranggas panas,
luruh terjatuh
gugur tersungkur mengubur udzur

Sepanjang waktu jiwaku didera kemarau rindu
 pada seulas senyummu
 yang menjelma batu dan debu-debu

Pada sepi yang menyendiri
Pada sunyi yang menyepi
 hatiku berbisik lirih
 Menyebut namamu penuh syahdu

Sedulur Sikep
Samin
Bukit kendeng
Dan pohon-pohon jati

Manunggal tunggal
Nyawiji dalam Saminisme sejati
Bersujud keharibaan ibu bumi pertiwi


Bangilan, 09/09/2019.