Thursday, December 13, 2018

Pohon Murbei di Pekarangan Rumah Nenek


Pohon Murbei di Pekarangan Rumah Nenek
Oleh : Joyo Juwoto

Buah murbei adalah buah kesukaan Naila, sayangnya di rumah Naila tidak ada pohon murbei. Di rumah nenek ada pohon murbei yang cukup subur,pohonnya menulang tinggi dengan daun yang menghijau, sejuk dipandang mata. Jika musim berbuah, pohon murbei kelihatan merah merona dahan dan rantingnya dipenuhi buah murbei yang ranum menggoda. Apabila buah murbei telah masak warnanya berubah kehitaman, seperti buah anggur yang berwarna hitam. Rasanya manis-manis kecut.
Bulan ini pohon murbei sedang berbuah lebat, biasanya anak-anak kampung sama berebutan mengambil buah murbei yang telah masak, ada yang memakai galah, ada yang memanjat pohon murbei, karena pohon murbei agak rapuh, biasanya jika ada anak yang memanjat dilarang oleh nenek, agar batang pohon dan ranting murbei tidak patah, serta membahayakan anak yang memanjatnya.
Selain disukai oleh anak-anak, buah murbei yang telah masak juga disukai oleh burung-burung kecil pemakan buah, di pagi hari biasanya burung-burung itu telah berbondong-bondong hinggap di dahan dan ranting pohon murbei. Burung-burung itu bercericit ramai sekali, berpesta ria buah murbei. Setelah dirasa kenyang burung-burung itu kemudian terbang ke angkasa dan menghilang entah ke mana.
Pada suatu sore Naila dan Nafa yang sedang berkunjung di rumah neneknya melihat buah murbei di samping rumah neneknya berbuah lebat. Naila dan Nafa ingin sekali memetik buah murbei itu. “Nafa, ambil galah di pojokan rumah, ayo kita memetik buah murbei” ajak Naila kepada adiknya yang saat itu sedang bermain pasir di halaman rumah nenek, bersama teman-temannya.
“Wow, buahnya banyak sekali ya, mbak Naila. Aku juga ingin memetiknya” ucap Nafa. Dua gadis kecil itu bersama teman-temannya kemudian sibuk memetik buah murbei dengan galah. Buah-buah itu kemudian dikumpulkan dan di makan bersama.
Gadis-gadis kecil itu bergembira ria memanen buah murbei yang ada di pekarangan rumah nenek. Mereka berlomba-lomba mendapatkan buah murbei sebanyak-banyaknya.
Karena di rumah Naila tidak ada pohon murbei, ia ingin sekali menanam pohon murbei di samping rumahnya. Naila yang belum tahu caranya bertanam murbei bertanya kepada neneknya. “Nek, Naila ingin punya pohon murbei sendiri di rumah, bagaimana cara menanamnya?”
Sang nenek yang saat itu sedang duduk-duduk di serambi depan rumah kemudian beranjak menuju ke arah pohon murbei.  Kemudian dengan sebilah sabit, nenek memotong salah satu dahan pohon itu. Cres!, sekali tebas dahan itu telah terpotong. “Dahan ini bawa pulang, besok pagi tancapkan saja ke tanah, kemudia jangan lupa sirami setiap hari, pagi dan sore hari”
“Nanti setelah beberapa minggu pasti tunasnya telah tumbuh, yang penting  Naila harus rajin-rajin menyiramnya ya?” begitu petunjuk nenek kepada Naila dalam bertanam murbei kesayangannya.
“Wah...ternyata sangat mudah ya bertanam murbei? kata Naila. “Cukup ditancapkan dahannya, kemudian rajin menyiramnya”.
Naila sangat senang sekali, ia akan segera mempunyai pohon murbei sendiri. Terbayang di pikirannya sebuah pohon murbei dengan daun yang segar menghijau, menyejukkan pandangan di halaman rumahnya. Ia tentu akan sangat senang jika pohon murbei itu kemudian tumbuh besar dan subur, kemudian menghasilkan buah yang lebat dan ranum. “Alangkah indahnya, oh...pohon murbei”. bisik Naila dalam hati sambil ia tersenyum-senyum sendiri.

No comments:

Post a Comment