Sunday, August 19, 2018

The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer


The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer
Oleh : Joyo Juwoto

Tofik Pram, menurut saya adalah seorang yang istimewa dan tidak boleh ditinggalkan jika membahas tentang sosok Pramoedya Ananta Toer (Pram). Saya sendiri baru bertemu dengan Mas Tofik secara sepihak,  berdiskusi tentang pemikiran dan siapa Pram secara mendalam di dalam buku yang ditulisnya, yang kemudian saya jadikan judul tulisan saya ini. Ditilik dari namanya mungkin pembaca menyangka bahwa Tofik Pram memiliki hubungan kekerabatan dengan Pram, namun ternyata tidak sama sekali.

Berdasarkan pengakuan di dalam buku yang ditulisnya, Tofik Pram memang seorang pengagum berat  sastrawan dari Blora ini. Tofik merasa beruntung karena di namanya ada unsur Pramnya, walau dia bukan salah satu dari keluarga Toer. Saya sendiri sangat kagum dengan kisah perkenalan Tofik dengan idolanya, Pram, yang diawali dari membaca buku hadiah dari ayahnya dari kota, buku itu adalah seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia. Perkenalan itu sekitar tahun 1996 saat ia duduk di kelas II SMP.

Di dalam pengantarnya Tofik Pram berkisah bagaimana heroiknya dia saat membaca buku yang dilarang beredar oleh Orde Baru saat itu, buku Pram dianggap mengajarkan paham komunis yang diharamkan oleh negara. Tofik sebenarnya sudah diperingatkan oleh ayahnya agar supaya buku itu hanya dibaca di rumah saja. Dasar watak anak muda, semakin dilarang semakin ingin mencobanya. Akhirnya dengan diam-diam Tofik membaca buku itu di toilet sekolah yang berbau pesing.

Dari aksi nekad ini dan akibat mengabaikan peringatan ayahnya, Tofik mendapatkan imbalan yang setimpal. Ketika sedang asyik membaca tiba-tiba pintu toilet didobrak dari luar. Sebelum habis terkejutnya, buku yang dibaca Tofik telah berpindah tangan dengan kasar, sampul buku itu robek, dan beberapa halamannya tercecer. Guru BP-nya telah merampas keasyikannya menelusuri kisah Minke, Anelis, Nyai Ontosoroh dan tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia yang membuat Tofik terpesona.

Kisah-kisah para pelaku dan pembaca buku-buku Pram yang mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Tofik sering kita dengar, betapa rezim saat itu begitu ketat membelenggu dan membatasi ruang gerak dari pikiran-pikiran Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya buku-bukunya saja yang dilarang dicetak dan diedarkan, namun para pembacanya juga bernasib sama, mengalami diskriminasi dari lingkungan dan dari institusi negara dengan dalih undang-undang.

Saya merasa beruntung tidak mengenal perlakuan diskriminatif sebagaimana yang dirasakan oleh Tofik dan Tofik-Tofik lainnya, karena saat itu saya belum mengenal siapa Pram dan belum pernah melihat apa itu Tetralogi Pulau Buru dan buku-buku Pram lainnya. Saya Cuma mendengar cerita dan dari bisik-bisik mahasiswa pergerakan yang yang tergabung di Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB), itupun masa diskriminasi terhadap karya Pram sudah surut.

Dari bisik-bisik itulah saya merasa penasaran, seperti apa sih tulisan Pram kok sampai negara melarang peredaran karya dari Pramoedya Ananta Toer. Kemudian saya mulai membaca buku Pram, Ada Bumi Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, Midah Si Manis Bergigi Emas, Cerita Dari Blora, Perburuan, Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Cerita Calon  Arang, Panggil  Aku Kartini Saja, dan beberapa buku lainnya saja baca. Saya orangnya memang banyak lupanya jika membaca, namun dari pengalaman membaca buku Pram, saya bingung merumuskan di sisi mana buku Pram itu dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. kebingungan ini saya pendam sendiri sambil terus saya renungi.

Sampai pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan seorang teman mengatakan kepada saya bahwa “Yang menuduh dan tahu ajaran komunis itu, mungkin saja seorang komunis itu sendiri. Atau yang merekayasa tentang ajaran komunis di bukunya Pram,” terangnya. Saya sering mengatakan, apa institusi atau lembaga negara yang mengatakan buku Pram berisi ajaran komunis memangnya sudah pernah membacanya, atau setidaknya mengkonfirmasi tuduhannya tersebut kepada Pram sendiri?

Di dalam pembelaannya, Pram pernah mengatakan sebagaimana yang saya kutip dari tulisan Tofik di halaman 133, Pram menegaskan: “Apa mereka tahu komunisme? Ini sama halnya ketika Kejaksaan Agung mengirimkan tiga jaksa kepada saya, pada 1988. Mereka menuduh saya menyebarkan Marxxisme dan Leninisme. Saya bilang, kalau pemerintah menuduh, silakan buka pengadilan, tapi saya menuntut didampingi pengacara dari negara netral yang tahu betul tentang Marxisme dan Leninisme, Komunisme. Tanpa pendamping, nanti kedodoran. Saya sendiri tidak paham, hakimnya tidak tahu, jaksanya tidak mengerti. Dagelan. Mereka setuju, tapi sampai sekarang tidak dijalankan.”

Lebih lanjut Pram juga membela diri, “Saya tidak pernah pelajari Marx,  jadi saya tidak kenal betul Marx. Saya, dalam pandangan saya, hanya berpihak pada yang adil, benar, dan berperikemanusiaan.” Dan masih banyak lagi argumen yang dibangun oleh Pram, bahwa ia sama sekali tidak paham apa itu Marxisme, Leninisme, Komunisme dalam tataran politik sebagaimana yang dituduhkan oleh rezim Orde Baru.

Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari beberapa pengakuan Pram tentang dirinya dan ajaran komunisme yang selalu dilekatkan pada sosok Pramoedya Ananta Toer. Saya tentu berterima kasih pada Tofik Pram, walau hanya bertemu di untaian tulisannya, sedikit banyak saya mengetahui gambaran dari seorang Pram. Saya juga sangat menyukai dan setuju dengan slogan yang ditulis oleh Tofik, entah itu untuk menggambarkan isi bukunya atau bahkan untuk menggambarkan Pram dalam tulisannya, “Untuk Manusia, Untuk Kebebasan, Untuk Keberanian, Untuk Cinta, Untuk Indonesia.” Sungguh luar biasa.

Menurut saya, Tofik Pram ini orangnya sangat telaten sekali, buku yang ditulisnya yang berjudul The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer berisi apapun yang ditulis Pram baik itu kutipan yang ada dibuku-buku maupun esai-esainya. Dengan teliti Tofik mengumpulkan apapun yang berhubungan dengan Pram kemudian mendokumentasikannya dalam sebuah buku. Sebuah kerja yang patut mendapatkan apresiasi dari para pramis maupun para pembaca buku-buku Pram seperti saya. Terima kasih.


No comments:

Post a Comment