Thursday, July 19, 2018

Yang Terkenang Dari Langgar Kampung

Berbahagialah jika Anda masih berada di kampung, atau di sebuah kota atau tempat mana saja yang masih memegang teguh dan mempertahankan adat tradisi Islam Nusantara. Adat-adat ini biasanya menjadi pengobat kerinduan bagi orang-orang yang hidup di perantauan, atau jauh dari kampung halamannya.

Salah satu dari tradisi Islam Nusantara  adalah puji-pujian yang dikumandangkan untuk menunggu imam langgar datang dan memimpin shalat berjamaah. Tradisi ini tentu tidak ditemui di negara-negara Timur Tengah, karena memang puji-pujian ini adalah bagian dari tradisi Islam Nusantara.

Tidak semua tempat ibadah baik itu masjid ataupun langgar yang ada di Indonesia yang melakukan tradisi puji-pujian ini,  karena biasanya masjid atau langgar yang dikelola oleh Islam moderat tidak ada puji-pujian. Islam yang berbasis ormas Muhammadiyah juga tidak ada pujiannya, begitu pula Islam yang berbasis Salafi, dan Islam perkotaan kebanyakan tidak pujian sebelum shalat didirikan.

Masalah puji-pujian kadang menjadi perdebatan diantaranya ormas-ormas agama Islam, namun di sini saya tidak sedang membahas perbedaan pendapat diantara banyak kubu dan ormas. Saya hanya ingin menuliskan kerinduan masa kecil saya dan mungkin juga kerinduan  Anda dengan dunia langgar yang mengasyikkan.

Biar para pakar dan ahli yang membahas apakah puji-pujian sebelum shalat itu bid'ah atau tidak? Apakah hal itu pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw,  para sahabat, dan para ulama shalafus sholeh? Apakah puji-pujian itu ada dalilnya atau tidak? Jika dilakukan berpahala atau berdosa? Dan masih banyak pertanyaan yang mungkin mengganjal. Karena saya bukan pakarnya, maka saya hanya ingin berbagi kerinduan dengan orang-orang yang sehati dengan kerinduan hati saya ini.

Bagi saya, puji-pujian yang dilantunkan di langgar - langgar ataupun masjid sebelum shalat adalah sesuatu yang terkenang indah di palung kenangan jiwa, suara dari orang-orang yang melantunkan pujian dengan sepenuh hati terasa menyentuh perasaan.

Puji-pujian itu menjadi daya cinta dan rindu terhadap altar suci ketuhanan dan pemupuk terhadap kerinduan kepada Nabi Muhammad saw. Itu yang saya pahami dari tradisi pujian yang menjadi produk dari Islam Nusantara. Saya tidak melihat gelagat adanya punya kepentingan membuat sesuatu yang baru dalam beribadah, apalagi upaya - upaya menandingi ajaran baku yang telah digariskan oleh kitabullah wa sunnatarrasul.

Berikut saya tuliskan pujian yang tadi baru saya dengar di langgar yang ada di kampung saya menjelang shalat Isya'. Sebenarnya saya ingin menulis dan mengumpulkan banyak puji-pujian tersebut. Kalau perlu didokumentasikan dalam bentuk audio agar tidak hilang dan terlupakan oleh sejarah. Agar generasi mendatang tahu salah satu produk kearifan dari sebuah peradaban Islam Nusantara, sebuah peradaban langgar.

Allahumma shalli ala Muhammad,
Allahumma shalli alaihi wa sallim 2x

Nabi Muhammad iku nabi kang mulya
Moco sholawat iku diakeh-akehono
Mumpung lawang tobat lawange iseh mengo
Yen wis ditutup bakal susah awak ira.

Jika kebetulan para pembaca memiliki dokumentasi puji-pujian ini, saya sangat senang dan bergembira. terlebih sekiranya pembaca juga mengirimkan filenya kepada saya, baik itu berupa dokumentasi tulisan maupun audio. File bisa diemailkan di joyojuwoto@gmail.com atau lewat Whatshap di 085258611993. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment