Saturday, May 19, 2018

Misteri Kakek Tua dan Sangkar Burung Emas

Misteri Kakek Tua dan Sangkar Burung Emas
Oleh : Joyo Juwoto

Hutan jati di lembah bukit Lodito itu cukup sepi, pohon-pohon besar nan lebat serta semak-semak liar dan rimbun membentang luas.  Selain ditumbuhi pohon jati, hutan itu juga menyimpan berbagai ragam flora dan fauna. Ada pohon mahoni, trembesi, kelor, randu, klanding, gedrek, kenitu, ploso, asem jawa, dan berbagai macam tanaman perdu lainnya seperti secang, serut, kloya-klayu, sidomabur, wangon, dan juga klorak. Di hutan itu juga berdiam binatang-binatang liar seperti Kijang, Celeng, monyet, trenggiling, landak, musang, ayam hutan, merak, burung kutilang, kepodang, cendet, betet, elang, dan berbagai ragam burung lainnya. Selain penghuni yang kelihatan oleh mata, tentu hutan juga memiliki penghuni yang tidak kasat mata, tersembunyi di dalam palung misteri diantara semak-semak dan belukar hutan.

Di sebuah lembah di kaki bukit sebelah timur di tengah belantara hutan, teradapat sebuah gubuk yang tersembunyi. Gubuk itu dikelilingi pagar tanaman hidup, kebanyakan adalah tanaman klanding, kares, residi, kelor dan jaranan.  Gubuk itu cukup sederhana, beratapkan ilalang kering yang dianyam dan ditata sedemikian rupa, melindungi dari terik matahari dan hujan. Di depan gubuk terdapat dingklik bambu dan sebuah meja kecil dari pohon gembol yang banyak tumbuh di sekitar hutan.

Di belakang gubuk terdapat sebuah sendang kecil, airnya sangat jernih. Sendang itu dikelilingi beberapa pohon gayam, sehingga membuat suasana menjadi rindang dan sejuk. Di dalam sendang terdapat ikan-ikan yang bebas berkeliaran tanpa takut disakiti oleh makhluk Tuhan yang lainnya.

Di pekarangan gubuk tumbuh tanaman jagung, ketela pohon, ketela rambat, tomat, lombok, terong dan aneka sayur-sayuran. Hal itu menandakan gubuk itu tidak kosong, namun dihuni oleh seseorang yang sengaja hidup jauh dari keramaian pedesaan, memilih menyendiri di tengah hutan belantara.

Entah sebab apa di hari seperti ini ada orang yang memilih menepi dari kehidupan, bersunyi seorang diri hidup jauh dari hiruk-pikuk dunia, apakah dia seorang pertapa? ataukah seorang pengembara yang tersesat kemudian menetap di sana? atau mungkin memang ia serta merta ingin berada di tengah hutan tanpa alasan apapun? tentu semua pertanyaan itu adalah misteri, dan saya tidak mengetahui jawabannya.

        Pagi itu, saat saya mencari rumput tidak sengaja saya jauh masuk ke tengah hutan. Ceritanya saya mengejar seekor burung yang saya pelet dengan getah pohon nangka. Sayang daya lekatnya kurang kuat sehingga burung yang telah kena pelet berhasil meloloskan diri. Saya pun mengejarnya hingga jauh masuk ke hutan.

Ketika menyusuri semak-semak di hutan itulah, saya tidak sengaja melihat gubuk tua di lembah sebelah timur bukit Lodito. “Itu ada gubuk, siapa kira-kira yang menempatinya ya? batinku, sambil mendekat perlahan ke arah gubuk yang beratapkan rumbai-rumbai ilalang.

“Guk...guk...guk! tiba-tiba saya dikejutkan oleh gonggongan seekor anjing besar berwarna hitam. Anjing itu berjarak beberapa tombak dari semak-semak tempat saya berdiri. Hampir saja saya lari ketika anjing itu menunjukkan taringnya dan bersiap melompat ke arah persembunyian saya. Saya gemetar, tubuh saya seakan lekat dengan tanah, mau lari namun tidak bisa.

Di tengah situasi yang genting, tiba-tiba terdengar suara seseorang memecahkan keheningan. “Hai Gogor, diam jangan ganggu orang yang sedang lewat” Seperti kena daya kekuatan mantra pembungkam, anjing hitam yang menyalak galak dan siap menerkam itu kemudian terdiam. Anjing itu membalikkan badannya, sambil mengibas-kibaskan ekornya anjing itu kemudian pergi meninggalkan saya yang masih diam terpaku di antara semak-semak sidomabur.

Dari dalam gubuk keluar seorang kakek tua dengan membawa cangkul di pundaknya, sedang tangan kanannya menggenggam sabit. Kemudian saya pun keluar dari semak dan mendekati kakek tadi. Dengan agak takut saya pun menyapa kakek tua itu. “Kek, Kek...terima kasih ya, hampir saja lepas jantung saya, gara-gara anjing hitam itu” Kata saya sambil menunjuk seekor anjing yang berada di sisi kaki sang kakek.

“Hehe...tidak apa-apa ngger, memangnya kamu sedang apa berada di rerimbunan semak itu? “Tadi saya mengejar burung Kek, larinya ke arah sini” jawabku. “Apa burung itu yang kamu kejar? tanya kakek sambil menunjuk ke arah dahan pohon kares yang tidak begitu tinggi dengan buah yang menggoda selera. Pohon Kares memang pohon kesukaan anak-anak desa, jika musimnya berbuah anak-anak desa akan suka menghabiskan waktunya di atas pohon. Walaupun buahnya kecil-kecil, tetapi anak-anak tergiur dengan warna merah dan manisnya buah kares.

Saya menoleh mengikuti arah jari kakek itu, benar di sebuah dahan pohon kares bertengger dengan tenangnya seekor burung dengan bulu keemasan, ya burung itu yang terkena pelet saya, namun sayang, burung itu bisa melepaskan diri kemudian terbang, dan kukejar sampai di sebuah gubug tua yang kemudian mempertemukan saya dengan kakek yang misterius ini.

          “Ke sini cucuku, duduklah! Kata kakek sambil mengajak saya duduk disebuah dingklik dari bambu. Di depan kursi terdapat meja dari pohon gembol. Saya pun duduk menuruti ajakan kakek yang rambutnya sudah hampir memutih semua. Warna rambut kakek itu seperti cahaya keperakan ditimpa matahari sore yang lembut.

“Dengar cucuku, kalau kamu mau, ambillah burung itu, tidak perlu kau memeletnya burung itu akan ikut bersamamu jika engkau mau.” Jawab kakek itu.

“Benarkah Kek, burung itu bisa saya bawa pulang? sambut saya penuh kegirangan.

“Iya, cucuku. Ketahuilah bahwa burung itu bukan burung biasa, warna kuning pada bulu-bulu burung itu adalah emas murni, dan kau bisa memiliki burung emas di pohon itu jika cucuku juga memiliki sangkar dari emas murni pula. Karena burung itu hanya mau berada di sangkar yang menjadi takdir dan jodohnya.”

Suasana menjadi hening, saya tertunduk memikirkan perkataan kakek pemilik gubug di tengah hutan. Bayangan untuk memiliki burung dengan warna emas berkelebat di dalam pikiran saya, bayangan apakah saya sanggup mendatangkan sangkar emas menghapus bayangan burung itu. Bayangan satu dengan bayangan yang kedua saling berganti-ganti memenuhi pikiran, hingga tidak sadar suasana sudah semakin gelap.

“Wah berat sekali Kek syaratnya? Sangkar emas, dari mana saya bisa mendapatkannya? Tanya saya lirih, sebagai tanda saya sedang pesimis untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Heuheue, heuheue… cucuku, burung dan sangkar emas itu sebenarnya pralambang saja. Ketahuilah, sangkar itu ibarat badan wadagmu, jika engkau mampu membersihkan kotoran-kotoran dari babahan hawa sanga yang ada di tubuhmu, maka dirimu bagaikan emas murni, maka dengan sendirinya burung itu akan bersarang di dalam tubuh dan jiwamu. Sedangkan burung emas itu adalah ndaru keberuntungan, dengan tanpa kau cari ia akan datang sendiri jika jiwa dan ragamu suci dari debu-debu duniawi. Maka pulanglah, tak usah kau kejar burung itu, persiapkan saja sangkarnya, ia akan datang seiring dengan takdir dan jodohmu.”

“Cucuku, kau tak perlu tergesa memahami apa yang saya omongkan ini, waktu yang akan mengabarimu akan pralambang burung emas beserta sangkarnya.”

Saya tercenung bingung mendengar penuturan kakek mengenai filosofi burung emas, dan mengenai sangkar emas yang menjadi rumah bagi burung itu. Apalagi tentang pralambang-pralambang yang sulit untuk saya mengerti diusia saya yang masih muda. Tapi kata-kata kakek itu seperti dituliskan begitu saja di lempengan batin saya. Semakin saya memikirkan kata-kata sang kakek semakin pikiran ini menjadi buntu. Suasana menjadi bisu dan sunyi.

“Guk…guk..guk…aauu, guk…guk!!!”


          Entah berapa lama saya diam merenung, tenggelam dalam telaga keheningan, saya baru kembali di ruang sadar ketika suara longgongan suara anjing terdengar seram di pedalaman hutan. Nun jauh di sana, adzan magrib terdengar dari langgar perkampungan. Saya celingukan ke kiri dan ke kanan, entah  sedang berada di mana, semua gelap, semua lenyap, hanya rerimbunan ilalang dan sebongkah batu hitam tempat saya duduk bersila. 

No comments:

Post a Comment