Thursday, January 11, 2018

Pram dan Pelarangan buku-bukunya

Pram dan Pelarangan buku-bukunya
Oleh : Joyo Juwoto

Buku-buku yang terlahir dari pena sastrawan dari Blora ini cukup banyak, Pram termasuk penulis produktif yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tidak hanya produktif, karya dari Pramoedya Ananta Toer ini juga memiliki ruh yang selalu hidup dan berdenyut hingga sekarang di nadi ideologis para pecintanya,  begitu juga karya Pram masih menjadi hantu yang gentayangan di kepala para pembencinya.

Semboyan Pram menulis adalah tugas pribadi dan tugas nasional, oleh karena itu disepanjang hidupnya ia selalu menulis, menulis dan menulis. Dengan segala keterbatasannya Pram tidak menyerah oleh keadaan. Walau dalam penjara ia terus menulis. Berkat kegigihannya dalam menulis, tidak kurang dari 50 buah judul buku yang terlahir dari goresan tintanya. Sayang, tidak semua karya Pram bisa dinikmati dan dideras oleh para pembacanya, karena beberapa bukunya musnah diterkam kepicikan dan kekerdilan cara berfikir dalam khasanah tradisi literasi bangsa ini.

Saya kadang tidak habis pikir, lembaran-lembaran kertas yang dijilid menjadi sebuah buku bisa begitu ditakuti, dan menjelma menjadi momok yang menakutkan bagi penguasa kala itu. Saya sebenarnya bertanya-tanya, sudahkah buku-buku itu dibaca kemudian apakah benar buku-buku Pram berbahaya? Saya tidak yakin, kelompok-kelompok tertentu yang membakar buku Pram tahu isi dari apa yang telah ditulis oleh Pram. Jangan-jangan hanya karena prasangka, buku itu menjadi korban vandalisme yang yang jauh dari nilai-nilai berkeadaban.

Dosa apa yang dikandung oleh bukunya Pram sehingga buku itu harus dibakar dan dimusnahkan? Seharusnya sebuah buku itu dibaca bukan dibakar. Saya jadi teringat sebuah tulisan yang di pasang di dinding depan Pataba, “Bacalah bukan bakarlah!” Karena tulisan itu sudah terlalu mainstream dan lama menempel di sana, oleh Pak Soesilo Toer sebenarnya tulisan itu mau diganti menjadi begini : “Bacalah, dan bakarlah...,” untuk titik-titiknya bisa diisi sendiri oleh para pembacanya sesuai dengan selera dan mood yang dirasakan saat membaca.

Sejauh yang saya ketahui dan saya baca dari bukunya Pram, saya merasa biasa saja ketika membaca karya-karya beliau. Tidak ada hantu menakutkan di dalam tulisan Pram. Saya mungkin terlalu lugu untuk bisa menilai sebuah tulisan, namun setidaknya saya membaca tuntas buku-buku itu dan saya tidak pernah menemukan hal-hal yang dianggap membahayakan setidaknya menurut nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini saya pahami.

Tradisi vandalisme pembakaran buku memang tidak hanya terjadi pada buku Pram, jauh sebelum itu pembakaran buku-buku yang dianggap berbahaya kerap dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasa punya legalitas terhadap kebenaran sebuah teks. Bukan sejarah baru sebuah buku harus lenyap dengan cara yang tidak manusiawi.

Alasan pemusnahan buku-bukunya Pram mungkin saja ada hubungannya dengan keterlibatan beliau dalam sayap organisasi partai yang saat itu dilarang oleh pemerintah, tetapi seperti yang saya katakan di atas bahwa sejauh yang saya ketahui tulisan Pram sama sekali tidak ada hubungannya dengan partai-partain itu. Saya tidak sedang memberikan pembelaan terhadap Pram, toh ia sudah membayarnya dengan banyak menghabiskan sebagian besar hidupnya di penjara  sebagai konsekuensi dari sikap yang dipilihnya.

Kalau mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat dan pandangan saya maklum saja, karena setiap manusia tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Namun saya hanya ingin memandang dengan kaca mata keadilan terhadap apa yang telah ditulis oleh Pram, bahwa Pram adalah penulis yang sangat peduli dan dipenuhi cinta terhadap tanah air di mana dipijaknya.

Di tulisan ini saya hanya ingin menegaskan sebagaimana yang ditulis oleh Pram dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja”, bahwa tugas manusia ialah menjadi manusia itu sendiri, sehingga tidak layak jika sesama manusia tidak berlaku secara manusiawi. Kita sebagai manusia harus saling mengasihi, saling menghargai, saling asah-asih dan asuh guna mewujudkan kehidupan yang baik dan beradab.

No comments:

Post a Comment