Thursday, December 13, 2018

Pohon Murbei di Pekarangan Rumah Nenek


Pohon Murbei di Pekarangan Rumah Nenek
Oleh : Joyo Juwoto

Buah murbei adalah buah kesukaan Naila, sayangnya di rumah Naila tidak ada pohon murbei. Di rumah nenek ada pohon murbei yang cukup subur,pohonnya menulang tinggi dengan daun yang menghijau, sejuk dipandang mata. Jika musim berbuah, pohon murbei kelihatan merah merona dahan dan rantingnya dipenuhi buah murbei yang ranum menggoda. Apabila buah murbei telah masak warnanya berubah kehitaman, seperti buah anggur yang berwarna hitam. Rasanya manis-manis kecut.
Bulan ini pohon murbei sedang berbuah lebat, biasanya anak-anak kampung sama berebutan mengambil buah murbei yang telah masak, ada yang memakai galah, ada yang memanjat pohon murbei, karena pohon murbei agak rapuh, biasanya jika ada anak yang memanjat dilarang oleh nenek, agar batang pohon dan ranting murbei tidak patah, serta membahayakan anak yang memanjatnya.
Selain disukai oleh anak-anak, buah murbei yang telah masak juga disukai oleh burung-burung kecil pemakan buah, di pagi hari biasanya burung-burung itu telah berbondong-bondong hinggap di dahan dan ranting pohon murbei. Burung-burung itu bercericit ramai sekali, berpesta ria buah murbei. Setelah dirasa kenyang burung-burung itu kemudian terbang ke angkasa dan menghilang entah ke mana.
Pada suatu sore Naila dan Nafa yang sedang berkunjung di rumah neneknya melihat buah murbei di samping rumah neneknya berbuah lebat. Naila dan Nafa ingin sekali memetik buah murbei itu. “Nafa, ambil galah di pojokan rumah, ayo kita memetik buah murbei” ajak Naila kepada adiknya yang saat itu sedang bermain pasir di halaman rumah nenek, bersama teman-temannya.
“Wow, buahnya banyak sekali ya, mbak Naila. Aku juga ingin memetiknya” ucap Nafa. Dua gadis kecil itu bersama teman-temannya kemudian sibuk memetik buah murbei dengan galah. Buah-buah itu kemudian dikumpulkan dan di makan bersama.
Gadis-gadis kecil itu bergembira ria memanen buah murbei yang ada di pekarangan rumah nenek. Mereka berlomba-lomba mendapatkan buah murbei sebanyak-banyaknya.
Karena di rumah Naila tidak ada pohon murbei, ia ingin sekali menanam pohon murbei di samping rumahnya. Naila yang belum tahu caranya bertanam murbei bertanya kepada neneknya. “Nek, Naila ingin punya pohon murbei sendiri di rumah, bagaimana cara menanamnya?”
Sang nenek yang saat itu sedang duduk-duduk di serambi depan rumah kemudian beranjak menuju ke arah pohon murbei.  Kemudian dengan sebilah sabit, nenek memotong salah satu dahan pohon itu. Cres!, sekali tebas dahan itu telah terpotong. “Dahan ini bawa pulang, besok pagi tancapkan saja ke tanah, kemudia jangan lupa sirami setiap hari, pagi dan sore hari”
“Nanti setelah beberapa minggu pasti tunasnya telah tumbuh, yang penting  Naila harus rajin-rajin menyiramnya ya?” begitu petunjuk nenek kepada Naila dalam bertanam murbei kesayangannya.
“Wah...ternyata sangat mudah ya bertanam murbei? kata Naila. “Cukup ditancapkan dahannya, kemudian rajin menyiramnya”.
Naila sangat senang sekali, ia akan segera mempunyai pohon murbei sendiri. Terbayang di pikirannya sebuah pohon murbei dengan daun yang segar menghijau, menyejukkan pandangan di halaman rumahnya. Ia tentu akan sangat senang jika pohon murbei itu kemudian tumbuh besar dan subur, kemudian menghasilkan buah yang lebat dan ranum. “Alangkah indahnya, oh...pohon murbei”. bisik Naila dalam hati sambil ia tersenyum-senyum sendiri.

Friday, November 30, 2018

Bhineka Tunggal Ika mengikat Persatuan Bangsa


Bhineka Tunggal Ika mengikat Persatuan Bangsa
Oleh: Joyo Juwoto

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Hal ini bisa dibuktikan baik secara teoritis maupun secara historis. Banyak sekali ragam suku bangsa, bahasa, ras kebudayaan, bahkan keyakinan yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Ini menjadi penanda bahwa kita, bangsa Indonesia memiliki apapun yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Bisa kita bayangkan, beban moral sebuah negara dengan ragam suku bangsa yang berbeda-beda, tentu akan banyak menimbulkan masalah dan berbagai pertentangan yang dialami bangsa ini. Namun nyatanya bangsa Indonesia bisa hidup rukun berdampingan tanpa mempermasalahkan segala macam perbedaan yang ada. Tentu ada hal yang istimewa yang menjadikan bangsa yang terdiri dari berbagai kelompok, suku, dan golongan ini bisa hidup dalam satu langit dan bumi negara kesatuan republik Indonesia.
Tentu ada filosofis luar biasa yang diletakkanndan dibangun sebagai batu pondasi yang menjadikan kokohnya bangsa ini. Kita patut dan layak berterima kasih kepada the founding father's bangsa Indonesia, yang telah mewariskan pusaka leluhur bangsa, yaitu persatuan. Persatuan bangsa Indonesia disimbolkan dalam lambang negara, yaitu garuda Pancasila yang mencengkram mantra sakti warisan para Mpu masa silam, yang diambil dari kitab Sutasoma. Mantra itu berbunyi "Bhinneka tunggal Ika."
Kalimat Bhinneka tunggal Ika adalah pondasi awal yang menjadikan bangsa ini bersatu dalam kibaran panji-panji sang saka merah putih. Bhinneka tunggal Ika berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna kurang lebih, berbeda-beda namun tetap satu jua. Kita boleh berbeda secara suku, ras, bahasa, budaya, bahkan agama, namun jangan sampai terpecah belah, dan tercerai berai karena perbedaan.

Saya tidak tahu, laku dan tirakat seperti apa yang telah dilakukan oleh penggagas kalimat ini, sehingga kalimat Bhinneka tunggal Ika menjadi mantra sakti yang mengayomi segala perbedaan yang ada di negeri kita, Indonesia raya. Bukan hanya Indonesia, bahkan jauh.sebelum itu, Imperium Majapahit pun pernah berjaya karena tuah dari bhinneka tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua.
Sejarah sudah membuktikan, bahwa persatuan dalam perbedaan yang telah melahirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, makmur, dan sejahtera. Tidak boleh satu suku, satu ras, maupun satu golongan penganut agama di negeri ini yang boleh mengklaim, bahwa bangsa ini adalah hasil perjuangan kelompok mereka. Bangsa Indonesia bisa kuat, bisa jaya karena persatuan yang diikat dengan semangat bhinneka tunggal Ika tadi.
Jadi sangat tepat sekali ketika para begawan yang membidani kelahiran bangsa Indonesia ini merumuskan bahwa tujuan dari terbentuknya negara kesatuan republik Indonesia sebagaimana dalam amanat pembukaan UUD 1945 adalah terbentuknya negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Kalimat yang dikandung dalam pembukaan UUD 1945 ini haruslah menjadi dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Persatuan menjadi salah satu pilar bagi terbentuknya bangsa Indonesia, karena bapak-bapak pendiri bangsa menyadari tanpa persatuan maka mimpi dan cita-cita untuk membangun bangsa ini hanyalah utopia belaka. Dan nilai persatuan ini harus kita pupuk, kita pelihara, dengan semboyan luhur Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

Friday, November 9, 2018

Kedelai

Kedelai
Oleh: Joyo Juwoto

Kedelai adalah jenis tanaman polong-polongan sebagai salah satu sumber utama protein nabati. Keledai bisa diolah menjadi berbagai macam bahan pangan, seperti tempe, tahu, kecap, tauco dan lain sebagainya. Selain itu kedelai juga bisa dikonsumsi dengan cara digodog, digoreng, maupun dibakar secara langsung.
Dulu di kampung jika musim panen kedelai, anak-anak kampung biasa membakar kedelai sesudah acara panen raya. Biasanya acara bakar-bakaran ini digelar di halaman langgar atau halaman rumah sambil jagongan sesudah sholat isya'.
Kedelai  dibakar di tumpukan jerami kering atau klobot jagung, karena memang membakar kedelai tidak memerlukan api yang panas membara. Api dari jerami, klaras (pelepah pisang yang sudah kering) atau klobot jagung cukup untuk membuat kedelai matang dan siap disantap beramai-ramai.
Setelah kobaran api dari pembakaran padam, dipastikan kedelai telah matang, bahkan ada yang gosong. Setelah itu kedelai dinikmati bersama di tempat sisa pembakaran tanpa perlu menyediakan wadah. Tentu saja kedelainya masih bercampur dengan abu hitam sisa pembakaran.
Tidak heran jika setelah pesta makan kedelai tangan dan mulut clontengan berwarna hitam. Tidak jarang anak-anak kampung sambil nglethik kedelai bakar saling mencoreng muka temannya dengan abu sisa pembakaran, sehingga setelah pesta makan muka mereka seperti Kopasus yang baru saja mengikuti ujian pembaretan.
Setelah selesai makan-makan biasanya anak-anak kampung berlarian menuju sungai untuk mandi. Kegembiraan masa anak-anak di kampung  yang sedemikian menjadi hal yang sangat dirindukan.
Berbicara mengenai kedelai dengan segala  varian masa silamnya terasa indah dan penuh dengan kenangan, apalagi kita menjadi bagian dari romantika perkedelaian. Namun sayang nasib kedelai pribumi tidak seindah kenangan yang pernah singgah di hati.
Harga kedelai pribumi masih kalah jauh dengan kedelai impor, industri pertempean kita juga belum bisa berpaling dari turis kedelai luar negeri, sekedar melirik kedelai pribumi pun enggan. Hal ini tentu menjadi masalah bagi para petani kedelai di negeri ini.
Banyak faktor mengapa kedelai luar negeri masih mendominasi, salah satunya adalah kualitas kedelai luar negeri memang lebih bagus dari kedelai pribumi, selain itu kebijakan dari pemerintah mengenai impor kedelai juga perlu ditinjau ulang.
Kakak saya memproduksi tempe, jadi sedikit banyak saya tahu mengenai kualitas kedelai turis dan kedelai pribumi. Kedelai turis tampilannya lebih putih dan bersih, tampangnyanya juga lebih besar dibandingkan dengan kedelai pribumi. Oleh karena itu, jika kedelai pribumi ingin merebut kemerdekaan di tanah tumpah bibitnya, maka perlu ada perbaikan kualitas tentunya.
Mengingat tempe yang berbahan baku kedelai masih menjadi primadona di kancah perdapuran emak-emak. Jadi perlu adanya kebijakan dan terobosan baru yang bisa memberikan ruang bagi perkedelaian pribumi untuk tumbuh berkembang dengan baik.
Bangilan, 9/11/2018

Saturday, October 27, 2018

Nyunggi Kitab Suci

Nyunggi Kitab Suci
Oleh: Joyo Juwoto 


Jika kita pernah nyantri, atau setidaknya pernah mengaji di langgar dengan seorang Kiai kampung tentunya kita paham makna dari nyunggi kitab suci. Istilah nyunggi kitab suci ini saya kutip dari tulisan Cak nun, kalau tidak salah di bukunya yang berjudul "Indonesia bagian terpenting dari desa saya. Bukunya ini hadiah dari seorang mahasiswa LIPIA yang saat itu mengadakan daurah bahasa Arab di pesantren di mana saya belajar.
Saya memang bukan santri tulen yang mondok puluhan tahun di pesantren, yang menghafal ribuan bait alfiah, atau mengaji dan mengkhatamkan ribuan kitab kuning, saya hanyalah seorang santri kalong di sebuah pesantren dan pernah mengaji dan mengkhatamkan kitab-kitab seperti sulam supinah, ta'limul mutaallim, Akhlakul banin,  dan tentu tidak ketinggalan kitab turutan yang saya khatamkan di langgar  kampung.
Di pesantren maupun di langgar saya diajarkan menghormati kitab suci, sekalipun itu bagian terkecil dari kitab suci yang sobek atau tercecer di lantai atau di tanah, ada nilai penghormatan dan kesakralan yang luar biasa yang di tanamkan oleh Kiai kepada para santrinya.
Jika kita tanpa sengaja menjatuhkan kitab suci, maka kita di suruh nyunggi itu kitab suci, kemudian dengan takdzim kita menciuminya sebanyak  tiga kali dengan penuh penghormatan. Kitab suci memang sangatlah kuddus dan sakral.
Bukan hanya itu saja, untuk menghormati kitab suci diantara adabnya adalah jangan sampai posisi kitab suci lebih rendah dari pusar kita, atau meletakkan kitab suci di tempat sembarangan. Seorang santri akan memondong kitabnya di dada, penuh takdzim penuh hormat, begitulah memang adab yang diajarkan kepada kami.
Kitab suci atau bagian dari kitab suci di kalangan santri dihormati sedemikian rupa, tidak hanya penghormatan dari bentuk fisiknya, namun juga benar-benar disucikan ruh dan jiwanya. Oleh karena itu, untuk menjaga kesuciannya, kita tidak boleh sembarangan dalam memberlakukannya. Jika ada yang tercecer harus segera diambil dan diletakkan pada tempat yang semestinya, jika terpaksa harus membakar atau menguburnya harus dengan penuh khidmat. Begitulah akhlak seorang santri.
Jangan memegang kitab suci kalau tidak sedang suci, kalau tidak punya air wudhu, walau kata suci ini maknanya masih debatle. Kitab suci ini benar-benar disucikan, tidak bisa dibuat mainan. Itu yang tertanam dalam kalbu sanubari para santri.
Hari-hari ini media sosial digaduhkan dengan peristiwa pembakaran kalimat suci yang menjadi bagian dari kitab suci, ada yang mengecam, ada yang mendukung, sehingga dunia maya terpolarisasi menjadi dua kelompok, pro dan kontra. Hampir setiap jeda waktu, beranda Facebook dipenuhi adu kepintaran dan kedigdayaan, adu dalil maupun dalih dari kedua kubu berlangsung seru. Silat lidah menjadi primadona di dunia maya.
Saya hanya diam, menyimak dan membaca. Saya yang merasa tidak memiliki kapasitas keilmuan apapun mencukupkan diri dengan diam saja. Mau membela salah satu kelompok, saya tidak tega dengan kelompok yang satunya lagi. Begitu pula sebaliknya. Saya hanya bisa berdoa semoga kegaduhan dan keriuhan ini segera menemui jalan cahaya, jalan di mana kita semua tunduk dan patuh pada titah-Nya.

Monday, October 15, 2018

Merayakan dan Merasakan Sastra Tuban Rasa Jogja


Merayakan dan Merasakan Sastra Tuban Rasa Jogja
Oleh: Joyo Juwoto


Sebenarnya saya sudah lumayan lama vacum dari menulis, setidaknya dapat dilihat di blog saya yang rata-rata tiap bulan di tahun 2018 ini tidak lebih dari sepuluh tulisan, tidak seperti di tahun sebelumnya. Namun karena saya rasa ini ada event penting yang harus saya ikat dalam monument-monumen kalimat, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Walau dengan tersendat-sendat dan tertatih, saya berusaha menyelesaikan tulisan ini. Semoga tulisan yang saya buat dengan pemaksaan diri ini, bisa menjadi sebuah tugu peringatan yang bermanfaat bagi saya pribadi tentunya, maupun untuk hal lain jika ada.

Event penting yang saya maksudkan adalah Tuban Art Festival (TAF) yang ke-3, sebuah acara tahunan yang secara ramai-ramai diadakan oleh Dewan Kesenian Tuban (DKT). TAF sendiri sejatinya acaranya cukup banyak, diantaranya adalah festival seni lukis, festival teater, festival seni rakyat yang diadakan di Sukorejo Parengan, dan terbaru adalah festival seni sastra  yang baru saja dilaksanakan di tahun ini di resto Kono-Kene.

Saya secara pribadi tentu sangat senang, pada tahun ini seni sastra ikut serta ambil bagian meramaikan TAF ke-3 di bawah komando Bapak Djoko Wahono. Kerja kilat, cermat, nan hebat dari para panitia dan komisi sastra yang ada di komite DKT patut diacungi banyak jempol, walau resiko harus pinjam jempol tetangga. Di waktu yang cukup singkat panitia berhasil membuat acara dengan tema “Merayakan Sastra Tuban.” Ini adalah acara yang cukup unik dan langka, Tuban ternyata punya potensi menjadi ladang sastra, kebun kata, dan tentunya bisa menjadi bagian terpenting bagi perkembangan literasi nasional juga tentunya.

Hal ini terbukti makin hari geliat literasi di Bumi Wali begitu terasa dan terasah tajam. Banyak jawara-jawara menulis dari Tuban maupun dari luar kota Tuban yang menggerakkan penanya menuliskan dan mengabadikan apapun tentang kota Tuban dalam karya-karyanya. Kita patut bersyukur bibit-bibit muda penulis Tuban mulai bertunas segar, boleh saja orang bilang bahwa kiblat para penulis adalah kota Jogja, namun jangan pernah lupakan bahwa kota Tuban pun sedang merentangkan sayap untuk terbang ke angkasa sastra Nusantara.

Jika berbicara masalah sastra Tuban, Anda wajib ‘ain hukumnya mengenal orang-orang yang sedang saya bicarakan ini, orang-orang yang menggawangi perayaan sastra Tuban, orang yang mendedikasikan segala perhatiannya untuk sebuah ruang yang bernama sastra. Sekali lagi kayaknya saya harus pinjam jempol masyarakat Tuban untuk me-nge-like kerja dan pengabdian sastrawan Tuban ini.

Merayakan sastra Tuban yang diadakan hari Sabtu lalu (13/10/18) cukup istimewa, walau jauh saya berusaha untuk hadir, padahal saat itu saya sedang tidak enak badan, sangat tidak enak harus berkendara motor di aspal yang panas, menempuh jarak lebih dari 50 Km. Tapi sebagaimana pepatah, manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan, dalam kepahitan berkendara akhirnya saya dapat manisnya juga, setelah sampai di lokasi perayaan, bertemu dengan orang-orang yang cakep dan manis-manis, ada orang Tuban rasa Jogja, orang Rembang Rasa Tuban, dan orang-orang lainnya yang berasa luar biasa. Sungguh tidak sia-sia saya merelakan diri berkendara seorang diri.



Acara dalam Perayaan Sastra Tuban terbagi menjadi dua session, pertama bedah buku oleh dua penulis muda berbakat, Daruz Armedian dan Umar Afiq. Kedua, launcing buku para penulis Tuban yang tergabung dalam antologi cerpen dan puisi. Saya dengan penuh khidmad dan seksama dalam tempo yang cukup lama mengikuti acara yang dipandu oleh Mbak Hiday Nur yang juga seorang penulis Tuban.

Saya merasa dua anak muda ini cukup keren, satunya dari Tuban, Mas Daruz yang sedang beruzlah ke kota Jogja, dan yang kedua Kisanak Umar dari Rembang yang justru mengembangkan bakat  menulisnya di kotanya Kanjeng Sunan Bonang. Mas Daruz ini penulis berbakat kelahiran Medalem, Senori, Tuban yang sudah banyak malang melintang di dunia sastra di Jogja, aroma gudeg Jogja, eh, maksudnya sastra Jogja di bawa sampai di dapur Perayaan Sastra Tuban yang kemudian disajikan di atas meja bedah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya ngeri, “Dari Batu Jatuh Samai Pelabuhan Rubuh” buku ini berisi puisi yang menceritakan lokalitas Tuban. Sedang Mas Umar Affiq membedah kumpulan cerpennya yang berjudul “Di Surga Kita Dilarang Bersedih” buku ini tentu cakep kayak penulisnya. Dan saya tidak akan mengomentari penulis yang satu ini, karena saya tidak mau melangkahi manajernya.

Setelah bedah buku, acara dilanjutkan istirahat, makan, ngobrol santai, kemudian sholat bagi yang tidak berhalangan. Kemudian sesi kedua Perayaan Sastra Tuban diisi dengan launcing dua buku karya para penulis Tuban. Buku tersebut berjudul "Kitab Pangeran Bonang dan "Setelah Arus Tak Mungkin Berbalik." Di sesi ini, para kurator, editor, penanggung jawab naskah, dan bagian penerbitan buku menceritakan hal ihwal mulai titik nol hingga akhirnya menjadi sebuah karya bersama. Ini adalah perjuangan yang cukup luar biasa, saya pribadi tentu sangat berterima kasih kepada para bagian di sini yang menyertakan tulisan saya di antologi bersama penulis Tuban.

Semoga tahun depan event Perayaan Sastra Tuban ini bisa dilangsungkan kembali dan tentu dengan format yang lebih progress serta jangkauan yang skalanya lebih luas lagi, agar gaung sastra Tuban berasa Jogja untuk kita rayakan kembali bersama.

Sunday, October 7, 2018

Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?


Pic. by google.com
Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?
Oleh: Joyo Juwoto

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Rahman-Rahim-Mu bukan kemurkaan

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Maghfiroh-Mu bukan ancaman

Aku tak akan mampu menolak apapun dari-Mu
Segala daya dan upaya 

Hanyalah semata dari Engkau jua
Dan bagaimana mungkin aku bisa selamat melewati gerbang kefanaan

Menuju alam keabadian
Tanpa maunah dan taufiq-Mu

Tuhan

Dalam lirih aku berusaha bertasbih
Memanggil asma-asma-Mu

Tuhan 

Aku rindu menunggu panggilan-Mu
Sebagaimana engkau memanggil orang-orang yang Engkau ridhoi

Yaa ayyatuhan nafsul Muthmainah
Irji'ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyatan

Bangilan, 7-10-18

Wednesday, October 3, 2018

Hamba Menghiba di Keharibaan-Mu

Pic. by google.com
Hamba menghiba di Keharibaan-Mu
Oleh: Joyo Juwoto


Berjalan di jalan-jalan terjal penuh onak duri
Menyusuri labirin waktu yang semu
Tersesat dalam kabut duka nan nestapa]

Perjalanan ini penuh luka
Bermandi darah dan air mata
Mencari shirathol Mustaqim yang entah di mana

Bunga-bunga berguguran di sepanjang jalan
Mewangi memenuhi rongga hati
Tak ketinggalan debu-debu berhamburan

Menelan wajah-wajah lelah
Perjalanan panjang yang entah di mana garis ujungnya
Di bawah panas bara yang membakar telapak kaki

Adakah secauk air yang menghapuskan dahaga ini?
Atau di manakah telaga salsabil penyembuh segala luka dan dahaga?

Hanya harapan pada-Mu yang menguatkan langkahku
Hanya pelukan hangat-Mu yang mengokohkan perjalanan

Jika saatnya nanti aku kembali
Terima daku dengan segala rindu

Jika saatnya nanti aku datang mengetuk pintu-Mu
Bawa daku bersujud di altar suci-Mu

Duhai Tuhan
Hamba terjatuh
Hamba bersimpuh

Hamba yang hina menghiba
Di keharibaan-Mu

Terimalah hambamu ini
Dalam samudera rahman dan rahim-Mu

Tuhan
Rengkuh raga dan jiwaku dalam Maghfiroh-Mu

Bangilan, 3/10/18

Tuhan Peluk Aku

Pic. by google.com
Tuhan Peluk Aku
Oleh: Joyo Juwoto

Tuhan
Samuderakan hatiku
Agar mampu menampung segala asa asin garam kehidupan

Tuhan
Kosongkanlah ruang jiwaku
Agar panah-panah resah tak mampu menyentuh dan melukaiku

Tuhan
Ruhanikan segala rasa duniawi
Agar tidak ada rasa kepemilikan terhadap dunia

Tuhan peluk dan renggut
Jiwa ragaku

Hancur dan leburkan
Ego serta keakuanku

Bakarlah diriku dalam kobaran api cinta-Mu

Tuhan
Al-Ahadu, al-Ahadu, al-Wakhidu
...
Tuhan
Satukan aku dalam kesatuan-Mu

Bangilan, 3/10/18

Thursday, September 20, 2018

Gerimis Asyura'

Gerimis Asyura
Oleh: Joyo Juwoto



Gerimis Asyura
membawa gerimis hatiku
Mendung langitmu
Sendu batinku

Gerimis Asyura
Gerimis luka duka dan nestapa
Padang Karbala menangis darah
Memeluk kekasihnya dalam dekapan debu bisu

Gerimis Asyura
Wahai Kasan wahai kusen
Wahai Zaenab

Wahai kekasih bumi
Wahai kekasih langit

Darah dan air matamu
Membasuh Angkara murka

Memadam  api dendam
Meremas culas dalam dada

Wahai para pemuda penghulu surga
Wahai kekasih sang Datuk mulia
Shalawat dan salamku terangkai dalam untaian tasbih dan doa-doa


Saturday, September 15, 2018

Genthilut

*Genthilut*
Oleh: Joyo Juwoto

Entah nama makanan tradisional dari ketela pohon (menyok) ini ada dalam KBBI atau tidak, saya sendiri belum pernah mengeceknya, namun yang pasti genthilut adalah salah satu makanan khas dari ketela pohon yang cukup familiar menjadi camilan masyarakat yang ada di desa saya.

Membahas makanan tradisional di Nusantara, khususnya Jawa memang tidak pernah ada habisnya. Berbagai ragam makanan ataupun jajanan tradisional sangat banyak sekali, bisa dikatakan Nusantara adalah surganya kuliner dunia. Dari satu bahan saja bisa menghasilkan beraneka ragam makanan yang bisa kita nikmati.

Hal ini tentu tidak terlepas dari kreativitas dan daya cipta masyarakat dalam mewujudkan wisdom lokal yang berkaitan dengan kuliner Nusantara. Kebudayaan berkuliner masyarakat kita sangatlah kreatif, inovatif, dan beragama, hal ini merupakan kekayaan budaya yang harus kita syukuri dan kita lestarikan bersama. Sayangnya kekayaan lokal kita semakin hari semakin menipis, terkikis oleh era globalisasi dan modernisasi yang mengangkangi negeri ini.

Seperti yang saya bahas di depan, bahwa genthilut mungkin sudah sangat asing di telinga anak-anak kita, dan kita sebagai orang tua juga tidak merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan genthilut kepada anak cucu kita.

Hari ini kita lebih merasa bangga jika mengajak dinner keluarga di restoran mahal, hari ini kita merasa bergengsi jika pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh kentacky, pizza hut, dan apapun yang berbau barat. Seakan praduk Barat adalah jaminan modernitas dan kegagahan.

Jadi jangan melulu menyalahkan keadaan jika dari hal yang terkecil mulai hilang dan langka dari peradaban kita, jangan heran jika anak cucu kita tidak mengenal pohon silsilah, buyut, canggih, wareng, udeg-udeg  siwur  dan  sebagainya, karena kita ikut serta menjadi aktor melemahnya karakteristik budaya bangsa.

Ah, mungkin rasa-rasanya terlalu berlebihan dan lebay jika saya menghubungkan genthilut dengan peradaban bangsa, toh genthilut hanyalah salah satu produk olahan ketela pohon yang menjadi soko guru ketahanan pangan Nusantara.

Ketela pohon bisa bertahan berbulan-bulan dengan cara dikeringkan dan tetap bisa diolah menjadi makanan khas yang luar biasa enaknya, sebut saja ketiwul. Selain itu biasanya ketela juga dibiarkan kering bahkan hingga membusuk di atas genting rumah penduduk, kelak saat musim hujan tiba, ketela itu akan menjelma juga menjadi makanan khas yang lain lagi nama dan rasanya, walau sama-sama dari ketela. Gatot, namanya.

Dan masih banyak lagi peradaban ketela yang dimiliki oleh bangsa kita, belum peradaban-peradaban lainnya. Begitulah kehebatan, kreativitas dan daya tahan masyarakat kita dalam hal pangan, mereka tidak pernah ambil pusing dengan yang namanya dolar naik ataupun perekonomian global yang sekarat, karena pada dasarnya ekonomi kita adalah ekonomi kerakyatan yang ditopang oleh perketelaan yang beraneka ragam. Tinggal pintar-pintar kita dalam mengolahnya.

*Joyo Juwoto, penulis adalah santri Ponpes ASSALAM,  tinggal di Bangilan Tuban.*

Sunday, September 2, 2018

Filosofi Rumah

*Filosofi Rumah*
Oleh : Joyo Juwoto
Bulan Dzulhijjah atau orang Jawa menyebutnya sebagai bulan besar adalah bulan yang biasanya dipakai oleh masyarakat untuk menyelenggarakan hajatan, khususnya pernikahan. Tidak heran jika pada bulan besar kita sering panen resepsinan, baik itu undangan teman, kerabat, dan juga tetangga-tetangga dekat.
Kemarin saya menghadiri pernikahan salah satu teman yang ada di luar kecamatan. Seperti biasanya jika ada undangan tentu dengan senang hati saya pun datang. Bersama teman-teman yang lain kami pun berangkat rombongan dengan bersepeda motor. Maklum tempatnya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di tempat hajatan, kami disambut oleh penerima tamu. Kami pun duduk sambil menikmati jajanan yang diberikan oleh penerima tamu di depan.
Tak berselang lama acara inti, yaitu mauidzoh temanten  disampaikan oleh Gus Maimoen Zubair dari Sarang Rembang. Saya pun menyimak dan mencatat beberapa nasehat yang disampaikan oleh putra dari Kiai sepuh nan kharismatik, Mbah Maimoen Zubair.
Diantara nasehat pernikahan yang disampaikan membahas akar dan makna dari rumah.
Makna rumah dari kosakata bahasa Arab banyak memiliki arti, yaitu:
*1. Baitun* : dari kata: baata-yabiitu maknane kanggo nginep dalu. Usahakan agar kita selalu tidur di rumah. Jangan hanya menjadikan rumah sebagai tempat singgah sementara.
*2. Maskan* : panggonan tenange ati. Dalam ayat dikatakan, Litaskunuu ilaiha.
Rumah bisa menjadi maskan, syaratnya ada dua:
1. Mawaddah, cinta yang dinyatakan dan dibuktikan dengan perbuatan nyata.
2. Rohmah, ingat segala kebaikan dari kedua belah pihak.
*3. Daarun* bermakna perputaran, atau kantornya rumah tangga. Hal ini berarti segala kegiatan suami istri  dilakukan  di dalam rumah.
*4. Manzilun* Rumah berfungsi sebagai tempat persinggahan. Jadi rumah juga berfungsi sebagai tempat melepas segala beban dan lelah dari pekerjaan kita di luar rumah.
Demikian beberapa makna rumah sekaligus fungsi dari rumah.
*Nasehat pernikahan dari Gus Ghofur Maemoen dengan tambahan penjelasan dari penulis*

Friday, August 31, 2018

Utopia Gudeg Jogja Di Kopdar SPK


 Utopia Gudeg Jogja Di Kopdar SPK
Oleh : Joyo Juwoto

Kota Yogjakarta atau sering ditulis dan diucapkan juga dengan istilah Jogja memang istimewa, baik dari segi politik, ekonomi, budaya, pendidikan, sejarah dan lain sebagainya. Keistimewaan Jogja  tidak hanya berkenaan dengan hal-hal besar saja, sampai hal yang terkecil dan remeh pun Jogja selalu saja istimewa dan melegenda. Sebut saja ada Angkringan Jogja, Sego Kucing Jogja, hingga Gudeg Jogja yang melegenda sepanjang perjalanan sejarah kota keraton ini. Tidak heran jika kota yang berada di lerng gunung Merapi dan juga memiliki bentang laut di pesisir selatan Jawa ini menjadi tujuan berbagai kalangan.

Walau berkali-kali saya datang ke Jogja untuk tujuan wisata, namun entah karena apa saya belum pernah mencicipi kuliner Gudeg Jogja. Ketika di group kepenulisan Sahabat Pena Kita (SPK) yang saya ikuti di WhatsApp merencakan kopdar (kopi darat) di Jogja, pertama kali justru Gudeg ini yang memenuhi angan dan harapan saya untuk datang ke sana. Alangkah sedap dan nikmatnya jika saya ke Jogja untuk kopdar, kemudian meluangkan waktu bersama para sahabat mencicipi gudeg Jogja yang melegenda.

Sayang sekali, saat kopdar tiba justru saya tidak jadi berangkat. Gudeg Jogja yang aromanya jauh hari telah tercium sejak dalam pikiran seketika sirna. Hari di mana seharusnya saya menghadiri kopdar, atau saat di mana saya menikmati gurih dan lezatnya Gudeg Jogja ternyata hanya utopia,  tepat di hari kopdar SPK, saya masih di rumah dan tidak jadi berangkat karena ada tugas lain yang tidak bisa saya tinggalkan. Ah, nasib selalu memiliki cara tersendiri yang membuat harapan saya untuk kopdar hangus pupus.

Untung saja  dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan kita untuk mengetahui hal yang jaraknya tak terjangkau dengan indera. Dengan kemajuan teknologi segala kegiatan kopdar yang tidak bisa saya hadiri secara fisik dapat terpantau lewat layar handphone. Saya tentu sangat berterima kasih dengan para sahabat yang meluangkan waktunya mengupdate kegiatan kopdar mulai dari pra acara hingga acara kopdar selesai. Ibaratnya segala postingan di group WhatsApp yang berkenaan dengan kopdar sebagai tombo kangen, karena tidak bisa menghadiri kopdar secara langsung. Tak ada akar rotan pun jadi, begitulah kira-kira.

Entah kebetulan entah memang sengaja saya hubung-hubungkan, saat kopdar yang seharusnya lidah ini dimanjakan dengan Gudeg sebagaimana yang saya ceritakan di atas, ternyata sepulang dari sekolah saat saya sampai di rumah, istri saya memasak sayur lodeh tewel muda. Tentu semua maklum bahwa sayur Gudeg Jogja berbahan dasar tewel muda. Bagi saya Gudeg Jogja itu ya hampir sama dengan sayur tewel sebagaimana yang dimasak oleh istri saya siang itu. Padahal saya sama sekali tidak memberitahu istri, kalau saya sedang mengangankan Gudeg Jogja. Ya begitulah, kadang apa yang kita pikirkan datang begitu saja tanpa kita duga.

Tentu saja makan siang saya siang itu cukup lahap, tak ada Gudeg Jogja tewel muda buatan istri pun jadi. Sambil makan saya merenung tentang masa depan SPK. Group literasi SPK sebenarnya adalah metamorfosis dari group sebelumnya, yaitu Sahabat Pena Nusantara (SPN), karena di SPN ada dinamika perubahan maka lahirlah SPK yang dideklarasikan untuk pertama kalinya di Jogja, dan saya berhalangan hadir. Oleh karena itu di tulisan ini saya ingin menitipkan aspirasi dan harapan saya untuk SPK ke depan.

Selain melestarikan tradisi menulis setiap bulan, kemudian menerbitkannya menjadi sebuah buku yang dikelola oleh pengurus SPK, ada beberapa hal yang segera mungkin dilakukan oleh SPK, diantaranya adalah menata sistem keorganisasian, agar SPK menjadi komunitas dengan tata keorganisasian yang profesional. Jika organisasi di SPK tertata dengan baik tentu komunitas ini bisa kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Dan saya kira para pengurus di SPK sudah memikirkan akan hal ini.

Selain itu berdasarkan pengalaman di group sebelumnya yang begitu aktif dalam menulis dan menerbitkan buku, SPK sebagai metamorfosisnya juga harus menapak langkah dan meniti jejak untuk terus berkiprah dalam dunia literasi khususnya dalam menerbitkan buku. Jika buku antologi biasanya diterbitkan secara indie oleh komunitas, saya berharap SPK mampu menjembatani buku tersebut bisa dicetak oleh penerbit mayor. Jika buku-buku produk SPK bisa masuk ranah mayor tentu banyak keuntungan yang bisa diambil, selain persebaran bukunya yang lebih luas, tentu honor dari penerbitan bisa dipakai komunitas untuk mengembangkan sayap SPK.

Selain meretas jalan penerbitan mayor, buku-buku SPK juga bisa diterbitkan oleh yayasan buku yang menerbitkan untuk amal. Jadi buku-buku SPK bisa didonasikan oleh yayasan tersebut. Hal ini kalau tidak salah sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh guru kita di SPK, Prof Chirzin yang memberikan naskahnya untuk dicetak oleh yayasan amal buku kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan. Jika hal demikian bisa dilakukan tentu karya dari SPK akan mengabadi dan bermanfaat bagi para pembaca di manapun berada.

Tak terasa suap demi suap nasi di piring habis, walau gudeg Jogja hanya ada di kepala namun aromanya sampai di meja makan saya siang itu. Sayur tewel muda buatan istri tercinta menjadi stutnman, eh, maksudnya menjadi pengganti sayur gudeg yang belum pernah saya cicipi walau hanya dalam mimpi. Semoga kelak saya bisa mencicipinya dalam dunia yang sebenar-benarnya, bukan mimpi dan bukan maya. Jogja saya selalu merinduimu. Salam Literasi.

*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, Penulis aktif di www.joyojuwoto.com. Saat ini telah menulis beberapa buku solo, Jejak Sang Rasul; Secercah Cahaya Hikmah, Dalang Kentrung Terakhir (2017), Cerita Dari Desa, Cerita untuk Naila dan Nafa. Selain it ujuga menulis puluhan buku antologi. Silaturrahmi dengan penulis via Whatshap dinomor  085258611993 atau email di joyojuwoto@gmail.com.

Sunday, August 26, 2018

Filosofi Pohon Sawo

Pohon Sawo di tepi Jalan Desa Kedung Jambangan

Filosofi Pohon Sawo
Oleh : Joyo Juwoto

Minggu pagi yang cerah, sebelum matahari bertengger di ufuk timur, saya kayuh sepeda menyusuri jalanan sepi. Udara pagi cukup sejuk, polusi udara akibat dari deru mesin kendaraan bermotor belum banyak, sehinga waktu pagi sangat cocok dipakai bersepeda ria, menghirup kemurnian oksigen sambil menyambut semburat jingga matahari pagi.

Di tengah perjalanan tepatnya di desa Kedungjambangan, di beberapa rumah penduduk tumbuh subur pohon sawo, desa yang dibelah aliran sungai kali kening ini memang terkenal dengan produksi sawonya yang legit, biasanya, saya membeli di pasar Bangilan untuk merasakan buah sawo, karena memang saya tidak memiliki pohonnya. 

Sawo adalah jenis buah dari tanaman pohon yang berkayu keras berwarna coklat kemerahan, pohonnya tinggi dan bisa dipakai untuk peralatan rumah tangga. Jenis sawo sendiri cukup banyak, diantara yang saya tahu hanya tiga jenis yaitu sawo coklat, sawo kecik dan sawo susu. Dari ketiga jenis sawo itu saya pernah memakannya, kecuali yang sawo kecik, saya belum pernah mencicipinya.

Sawo coklat setelah saya cari di google ternyata memiliki nama sawo manila, sawo ini warnanya coklat rasa buahnya manis jika masak, di dalam daging buah ada bijinya berwarna hitam berbentuk lonjong, sedang sawo susu setelah saya google ternyata memiliki nama sawo duren, kulit buahnya berwarna hijau kemerahan, dalamnya putih susu, rasanya manis dan kenyal. Sedang sawo kecik buahnya lebih kecil dari kedua jenis sawo yang saya sebutkan tadi, warnanya juga agak merah, entah rasanya.

Demi melihat pohon sawo, sambil mengayuh sepeda saya mengingat kembali apa yang dulu pernah dilakukan oleh sisa-sisa laskar Pangeran Diponegoro, tokoh sentral perang Jawa yang hampir membuat Belanda bangkrut. Para pengikut Pangeran Diponegoro konon menanam pohon sawo. Pohon sawo menjadi penanda jejak dan jaringan para pengikut Pangeran Diponegoro yang tersebar di berbagai wilayah di pulau Jawa. Sawo ini berarti sawwu sufufakum, yang artinya “rapatkan barisanmu” sebagai sandi untuk merapatkan barisan kembali ketika seruan jihad dikumandangkan.

Selain bermakna sawwu sufufakum, pada jenis sawo kecik, menurut filosofi orang Jawa berasal dari kata “Sarwo becik” artinya adalah selalu dalam kebaikan, maksudnya seseorang diharapkan selalu memberikan kebaikan untuk orang lain di manapun ia berada.

Dari persebaran pasukan Pangeran Diponegoro yang kebanyakan para ulama inilah yang akhirnya menjadi jaringan dakwah pesantren di berbagai daerah di tanah jawa. Karena perang fisik jihad fi sabilillah telah usai, para pengikut Pangeran Diponegoro mengubah pola perjuangannya dari jihad fisik menjadi jihad di jalur pendidikan pesantren untuk mengkader umat.

Di desa Kedungjambangan pohon sawo juga tumbuh cukup banyak, ketepatan desa ini juga pernah mempunyai pesantren tua, sayangnya pesantren ini belum bertunas kembali, padahal trah Kedungjambangan menjadi cikal-bakal pesantren-pesantren ternama di sekitarnya, diantaranya adalah Pondok Pesantren Tanggir yang ada di kecamatan Singgahan.







Sunday, August 19, 2018

The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer


The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer
Oleh : Joyo Juwoto

Tofik Pram, menurut saya adalah seorang yang istimewa dan tidak boleh ditinggalkan jika membahas tentang sosok Pramoedya Ananta Toer (Pram). Saya sendiri baru bertemu dengan Mas Tofik secara sepihak,  berdiskusi tentang pemikiran dan siapa Pram secara mendalam di dalam buku yang ditulisnya, yang kemudian saya jadikan judul tulisan saya ini. Ditilik dari namanya mungkin pembaca menyangka bahwa Tofik Pram memiliki hubungan kekerabatan dengan Pram, namun ternyata tidak sama sekali.

Berdasarkan pengakuan di dalam buku yang ditulisnya, Tofik Pram memang seorang pengagum berat  sastrawan dari Blora ini. Tofik merasa beruntung karena di namanya ada unsur Pramnya, walau dia bukan salah satu dari keluarga Toer. Saya sendiri sangat kagum dengan kisah perkenalan Tofik dengan idolanya, Pram, yang diawali dari membaca buku hadiah dari ayahnya dari kota, buku itu adalah seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia. Perkenalan itu sekitar tahun 1996 saat ia duduk di kelas II SMP.

Di dalam pengantarnya Tofik Pram berkisah bagaimana heroiknya dia saat membaca buku yang dilarang beredar oleh Orde Baru saat itu, buku Pram dianggap mengajarkan paham komunis yang diharamkan oleh negara. Tofik sebenarnya sudah diperingatkan oleh ayahnya agar supaya buku itu hanya dibaca di rumah saja. Dasar watak anak muda, semakin dilarang semakin ingin mencobanya. Akhirnya dengan diam-diam Tofik membaca buku itu di toilet sekolah yang berbau pesing.

Dari aksi nekad ini dan akibat mengabaikan peringatan ayahnya, Tofik mendapatkan imbalan yang setimpal. Ketika sedang asyik membaca tiba-tiba pintu toilet didobrak dari luar. Sebelum habis terkejutnya, buku yang dibaca Tofik telah berpindah tangan dengan kasar, sampul buku itu robek, dan beberapa halamannya tercecer. Guru BP-nya telah merampas keasyikannya menelusuri kisah Minke, Anelis, Nyai Ontosoroh dan tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia yang membuat Tofik terpesona.

Kisah-kisah para pelaku dan pembaca buku-buku Pram yang mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Tofik sering kita dengar, betapa rezim saat itu begitu ketat membelenggu dan membatasi ruang gerak dari pikiran-pikiran Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya buku-bukunya saja yang dilarang dicetak dan diedarkan, namun para pembacanya juga bernasib sama, mengalami diskriminasi dari lingkungan dan dari institusi negara dengan dalih undang-undang.

Saya merasa beruntung tidak mengenal perlakuan diskriminatif sebagaimana yang dirasakan oleh Tofik dan Tofik-Tofik lainnya, karena saat itu saya belum mengenal siapa Pram dan belum pernah melihat apa itu Tetralogi Pulau Buru dan buku-buku Pram lainnya. Saya Cuma mendengar cerita dan dari bisik-bisik mahasiswa pergerakan yang yang tergabung di Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB), itupun masa diskriminasi terhadap karya Pram sudah surut.

Dari bisik-bisik itulah saya merasa penasaran, seperti apa sih tulisan Pram kok sampai negara melarang peredaran karya dari Pramoedya Ananta Toer. Kemudian saya mulai membaca buku Pram, Ada Bumi Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, Midah Si Manis Bergigi Emas, Cerita Dari Blora, Perburuan, Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Cerita Calon  Arang, Panggil  Aku Kartini Saja, dan beberapa buku lainnya saja baca. Saya orangnya memang banyak lupanya jika membaca, namun dari pengalaman membaca buku Pram, saya bingung merumuskan di sisi mana buku Pram itu dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. kebingungan ini saya pendam sendiri sambil terus saya renungi.

Sampai pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan seorang teman mengatakan kepada saya bahwa “Yang menuduh dan tahu ajaran komunis itu, mungkin saja seorang komunis itu sendiri. Atau yang merekayasa tentang ajaran komunis di bukunya Pram,” terangnya. Saya sering mengatakan, apa institusi atau lembaga negara yang mengatakan buku Pram berisi ajaran komunis memangnya sudah pernah membacanya, atau setidaknya mengkonfirmasi tuduhannya tersebut kepada Pram sendiri?

Di dalam pembelaannya, Pram pernah mengatakan sebagaimana yang saya kutip dari tulisan Tofik di halaman 133, Pram menegaskan: “Apa mereka tahu komunisme? Ini sama halnya ketika Kejaksaan Agung mengirimkan tiga jaksa kepada saya, pada 1988. Mereka menuduh saya menyebarkan Marxxisme dan Leninisme. Saya bilang, kalau pemerintah menuduh, silakan buka pengadilan, tapi saya menuntut didampingi pengacara dari negara netral yang tahu betul tentang Marxisme dan Leninisme, Komunisme. Tanpa pendamping, nanti kedodoran. Saya sendiri tidak paham, hakimnya tidak tahu, jaksanya tidak mengerti. Dagelan. Mereka setuju, tapi sampai sekarang tidak dijalankan.”

Lebih lanjut Pram juga membela diri, “Saya tidak pernah pelajari Marx,  jadi saya tidak kenal betul Marx. Saya, dalam pandangan saya, hanya berpihak pada yang adil, benar, dan berperikemanusiaan.” Dan masih banyak lagi argumen yang dibangun oleh Pram, bahwa ia sama sekali tidak paham apa itu Marxisme, Leninisme, Komunisme dalam tataran politik sebagaimana yang dituduhkan oleh rezim Orde Baru.

Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari beberapa pengakuan Pram tentang dirinya dan ajaran komunisme yang selalu dilekatkan pada sosok Pramoedya Ananta Toer. Saya tentu berterima kasih pada Tofik Pram, walau hanya bertemu di untaian tulisannya, sedikit banyak saya mengetahui gambaran dari seorang Pram. Saya juga sangat menyukai dan setuju dengan slogan yang ditulis oleh Tofik, entah itu untuk menggambarkan isi bukunya atau bahkan untuk menggambarkan Pram dalam tulisannya, “Untuk Manusia, Untuk Kebebasan, Untuk Keberanian, Untuk Cinta, Untuk Indonesia.” Sungguh luar biasa.

Menurut saya, Tofik Pram ini orangnya sangat telaten sekali, buku yang ditulisnya yang berjudul The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer berisi apapun yang ditulis Pram baik itu kutipan yang ada dibuku-buku maupun esai-esainya. Dengan teliti Tofik mengumpulkan apapun yang berhubungan dengan Pram kemudian mendokumentasikannya dalam sebuah buku. Sebuah kerja yang patut mendapatkan apresiasi dari para pramis maupun para pembaca buku-buku Pram seperti saya. Terima kasih.


Saturday, August 18, 2018

Peringati Kemerdekaan RI yang Ke 73, ISBAT bersama Camat Bangilan Membagikan 73 Paket Sembako

Doc. ISBAT
Menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 73, Komunitas Informasi Seputar Bangilan Tuban (ISBAT) kemarin (16-17 Agustus 2018) menggelar kegiatan ketuk pintu bagi sembako kepada sejumlah 73 orang dhuafa'  yang ada di wilayah kecamatan Bangilan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Bangsa Indonesia Tercinta. 

Selain membagikan paket sembako, ISBAT juga menyalurkan bantuan yang diberikan oleh Baznas Tuban. Turut serta dalam kegiatan ini Ibu Iin Fatimah, Kasi Kesra Kecamatan Bangilan, dan juga bapak camat Bangilan, Bapak Deny Susilo Hartono. Beliau berdua ikut serta memeriahkan dan mensuport kegiatan yang dilaksanakan oleh teman-teman ISBAT. Pak Camat yang masih muda ini turun langsung ke lapangan menyapa masyarakat, bersalaman, dan turut serta berpanas ria dengan rombongan ISBAT keliling ke desa-desa.

"Mari kita selalu fastabiqul khoirot, lanjutkan perjuangan!" Kata Pak Deny, memberikan suntikan semangat kepada teman-teman ISBAT.

Pak Camat Bangilan memang sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan ketuk pintu bagi sembako yang dilaksanakan oleh ISBAT, sehingga beliau bisa  terjun langsung ke pelosok-pelosok desa melihat dan menyapa masyarakat secara langsung. 

"Paket sembako yang dibagikan ISBAT biasanya lebih dari 73 paket, namun karena menyamakan dengan momentum kemerdekaan RI yang ke 73, maka ISBAT sengaja membagikan sejumlah 73 paket sembako kepada dhuafa.'" Tutur salah seorang anggota ISBAT yang ikut serta dalam kegiatan ketuk pintu yang dilaksanakan oleh team ISBAT.


Selain pembagian paket sembako dan penyaluran dana Baznas, kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan RI yang ke 73, ISBAT juga menggelar bazar pada malam harinya di lapangan gelora 17 Agustus Bangilan. Walau di siang harinya capek keliling desa membagikan sembako, pada malam harinya teman-teman ISBAT penuh semangat mensukseskan kegiatan bazar. Kegiatan bazar ISBAT ini juga mendapatkan support yang luar biasa dari masyarakat.

"Selain kerja keras dari anggota ISBAT, dalam pelaksanaan bazar kita disupport oleh banyak pihak,  seperti Wings Food, toko Lukito, juga temen-temen ISBAT yang ikut meramaikan bazar ISBAT.  Sebagaimana tema kemerdekaan tahun ini "Kerja kita Prestasi Bangsa." Kata Pak Maskin, koordinator sekaligus motor penggerak dari kegiatan  ISBAT.