Monday, October 15, 2018

Merayakan dan Merasakan Sastra Tuban Rasa Jogja


Merayakan dan Merasakan Sastra Tuban Rasa Jogja
Oleh: Joyo Juwoto


Sebenarnya saya sudah lumayan lama vacum dari menulis, setidaknya dapat dilihat di blog saya yang rata-rata tiap bulan di tahun 2018 ini tidak lebih dari sepuluh tulisan, tidak seperti di tahun sebelumnya. Namun karena saya rasa ini ada event penting yang harus saya ikat dalam monument-monumen kalimat, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Walau dengan tersendat-sendat dan tertatih, saya berusaha menyelesaikan tulisan ini. Semoga tulisan yang saya buat dengan pemaksaan diri ini, bisa menjadi sebuah tugu peringatan yang bermanfaat bagi saya pribadi tentunya, maupun untuk hal lain jika ada.

Event penting yang saya maksudkan adalah Tuban Art Festival (TAF) yang ke-3, sebuah acara tahunan yang secara ramai-ramai diadakan oleh Dewan Kesenian Tuban (DKT). TAF sendiri sejatinya acaranya cukup banyak, diantaranya adalah festival seni lukis, festival teater, festival seni rakyat yang diadakan di Sukorejo Parengan, dan terbaru adalah festival seni sastra  yang baru saja dilaksanakan di tahun ini di resto Kono-Kene.

Saya secara pribadi tentu sangat senang, pada tahun ini seni sastra ikut serta ambil bagian meramaikan TAF ke-3 di bawah komando Bapak Djoko Wahono. Kerja kilat, cermat, nan hebat dari para panitia dan komisi sastra yang ada di komite DKT patut diacungi banyak jempol, walau resiko harus pinjam jempol tetangga. Di waktu yang cukup singkat panitia berhasil membuat acara dengan tema “Merayakan Sastra Tuban.” Ini adalah acara yang cukup unik dan langka, Tuban ternyata punya potensi menjadi ladang sastra, kebun kata, dan tentunya bisa menjadi bagian terpenting bagi perkembangan literasi nasional juga tentunya.

Hal ini terbukti makin hari geliat literasi di Bumi Wali begitu terasa dan terasah tajam. Banyak jawara-jawara menulis dari Tuban maupun dari luar kota Tuban yang menggerakkan penanya menuliskan dan mengabadikan apapun tentang kota Tuban dalam karya-karyanya. Kita patut bersyukur bibit-bibit muda penulis Tuban mulai bertunas segar, boleh saja orang bilang bahwa kiblat para penulis adalah kota Jogja, namun jangan pernah lupakan bahwa kota Tuban pun sedang merentangkan sayap untuk terbang ke angkasa sastra Nusantara.

Jika berbicara masalah sastra Tuban, Anda wajib ‘ain hukumnya mengenal orang-orang yang sedang saya bicarakan ini, orang-orang yang menggawangi perayaan sastra Tuban, orang yang mendedikasikan segala perhatiannya untuk sebuah ruang yang bernama sastra. Sekali lagi kayaknya saya harus pinjam jempol masyarakat Tuban untuk me-nge-like kerja dan pengabdian sastrawan Tuban ini.

Merayakan sastra Tuban yang diadakan hari Sabtu lalu (13/10/18) cukup istimewa, walau jauh saya berusaha untuk hadir, padahal saat itu saya sedang tidak enak badan, sangat tidak enak harus berkendara motor di aspal yang panas, menempuh jarak lebih dari 50 Km. Tapi sebagaimana pepatah, manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan, dalam kepahitan berkendara akhirnya saya dapat manisnya juga, setelah sampai di lokasi perayaan, bertemu dengan orang-orang yang cakep dan manis-manis, ada orang Tuban rasa Jogja, orang Rembang Rasa Tuban, dan orang-orang lainnya yang berasa luar biasa. Sungguh tidak sia-sia saya merelakan diri berkendara seorang diri.



Acara dalam Perayaan Sastra Tuban terbagi menjadi dua session, pertama bedah buku oleh dua penulis muda berbakat, Daruz Armedian dan Umar Afiq. Kedua, launcing buku para penulis Tuban yang tergabung dalam antologi cerpen dan puisi. Saya dengan penuh khidmad dan seksama dalam tempo yang cukup lama mengikuti acara yang dipandu oleh Mbak Hiday Nur yang juga seorang penulis Tuban.

Saya merasa dua anak muda ini cukup keren, satunya dari Tuban, Mas Daruz yang sedang beruzlah ke kota Jogja, dan yang kedua Kisanak Umar dari Rembang yang justru mengembangkan bakat  menulisnya di kotanya Kanjeng Sunan Bonang. Mas Daruz ini penulis berbakat kelahiran Medalem, Senori, Tuban yang sudah banyak malang melintang di dunia sastra di Jogja, aroma gudeg Jogja, eh, maksudnya sastra Jogja di bawa sampai di dapur Perayaan Sastra Tuban yang kemudian disajikan di atas meja bedah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya ngeri, “Dari Batu Jatuh Samai Pelabuhan Rubuh” buku ini berisi puisi yang menceritakan lokalitas Tuban. Sedang Mas Umar Affiq membedah kumpulan cerpennya yang berjudul “Di Surga Kita Dilarang Bersedih” buku ini tentu cakep kayak penulisnya. Dan saya tidak akan mengomentari penulis yang satu ini, karena saya tidak mau melangkahi manajernya.

Setelah bedah buku, acara dilanjutkan istirahat, makan, ngobrol santai, kemudian sholat bagi yang tidak berhalangan. Kemudian sesi kedua Perayaan Sastra Tuban diisi dengan launcing dua buku karya para penulis Tuban. Buku tersebut berjudul "Kitab Pangeran Bonang dan "Setelah Arus Tak Mungkin Berbalik." Di sesi ini, para kurator, editor, penanggung jawab naskah, dan bagian penerbitan buku menceritakan hal ihwal mulai titik nol hingga akhirnya menjadi sebuah karya bersama. Ini adalah perjuangan yang cukup luar biasa, saya pribadi tentu sangat berterima kasih kepada para bagian di sini yang menyertakan tulisan saya di antologi bersama penulis Tuban.

Semoga tahun depan event Perayaan Sastra Tuban ini bisa dilangsungkan kembali dan tentu dengan format yang lebih progress serta jangkauan yang skalanya lebih luas lagi, agar gaung sastra Tuban berasa Jogja untuk kita rayakan kembali bersama.

Sunday, October 7, 2018

Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?


Pic. by google.com
Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?
Oleh: Joyo Juwoto

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Rahman-Rahim-Mu bukan kemurkaan

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Maghfiroh-Mu bukan ancaman

Aku tak akan mampu menolak apapun dari-Mu
Segala daya dan upaya 

Hanyalah semata dari Engkau jua
Dan bagaimana mungkin aku bisa selamat melewati gerbang kefanaan

Menuju alam keabadian
Tanpa maunah dan taufiq-Mu

Tuhan

Dalam lirih aku berusaha bertasbih
Memanggil asma-asma-Mu

Tuhan 

Aku rindu menunggu panggilan-Mu
Sebagaimana engkau memanggil orang-orang yang Engkau ridhoi

Yaa ayyatuhan nafsul Muthmainah
Irji'ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyatan

Bangilan, 7-10-18

Wednesday, October 3, 2018

Hamba Menghiba di Keharibaan-Mu

Pic. by google.com
Hamba menghiba di Keharibaan-Mu
Oleh: Joyo Juwoto


Berjalan di jalan-jalan terjal penuh onak duri
Menyusuri labirin waktu yang semu
Tersesat dalam kabut duka nan nestapa]

Perjalanan ini penuh luka
Bermandi darah dan air mata
Mencari shirathol Mustaqim yang entah di mana

Bunga-bunga berguguran di sepanjang jalan
Mewangi memenuhi rongga hati
Tak ketinggalan debu-debu berhamburan

Menelan wajah-wajah lelah
Perjalanan panjang yang entah di mana garis ujungnya
Di bawah panas bara yang membakar telapak kaki

Adakah secauk air yang menghapuskan dahaga ini?
Atau di manakah telaga salsabil penyembuh segala luka dan dahaga?

Hanya harapan pada-Mu yang menguatkan langkahku
Hanya pelukan hangat-Mu yang mengokohkan perjalanan

Jika saatnya nanti aku kembali
Terima daku dengan segala rindu

Jika saatnya nanti aku datang mengetuk pintu-Mu
Bawa daku bersujud di altar suci-Mu

Duhai Tuhan
Hamba terjatuh
Hamba bersimpuh

Hamba yang hina menghiba
Di keharibaan-Mu

Terimalah hambamu ini
Dalam samudera rahman dan rahim-Mu

Tuhan
Rengkuh raga dan jiwaku dalam Maghfiroh-Mu

Bangilan, 3/10/18

Tuhan Peluk Aku

Pic. by google.com
Tuhan Peluk Aku
Oleh: Joyo Juwoto

Tuhan
Samuderakan hatiku
Agar mampu menampung segala asa asin garam kehidupan

Tuhan
Kosongkanlah ruang jiwaku
Agar panah-panah resah tak mampu menyentuh dan melukaiku

Tuhan
Ruhanikan segala rasa duniawi
Agar tidak ada rasa kepemilikan terhadap dunia

Tuhan peluk dan renggut
Jiwa ragaku

Hancur dan leburkan
Ego serta keakuanku

Bakarlah diriku dalam kobaran api cinta-Mu

Tuhan
Al-Ahadu, al-Ahadu, al-Wakhidu
...
Tuhan
Satukan aku dalam kesatuan-Mu

Bangilan, 3/10/18

Thursday, September 20, 2018

Gerimis Asyura'

Gerimis Asyura
Oleh: Joyo Juwoto



Gerimis Asyura
membawa gerimis hatiku
Mendung langitmu
Sendu batinku

Gerimis Asyura
Gerimis luka duka dan nestapa
Padang Karbala menangis darah
Memeluk kekasihnya dalam dekapan debu bisu

Gerimis Asyura
Wahai Kasan wahai kusen
Wahai Zaenab

Wahai kekasih bumi
Wahai kekasih langit

Darah dan air matamu
Membasuh Angkara murka

Memadam  api dendam
Meremas culas dalam dada

Wahai para pemuda penghulu surga
Wahai kekasih sang Datuk mulia
Shalawat dan salamku terangkai dalam untaian tasbih dan doa-doa


Saturday, September 15, 2018

Genthilut

*Genthilut*
Oleh: Joyo Juwoto

Entah nama makanan tradisional dari ketela pohon (menyok) ini ada dalam KBBI atau tidak, saya sendiri belum pernah mengeceknya, namun yang pasti genthilut adalah salah satu makanan khas dari ketela pohon yang cukup familiar menjadi camilan masyarakat yang ada di desa saya.

Membahas makanan tradisional di Nusantara, khususnya Jawa memang tidak pernah ada habisnya. Berbagai ragam makanan ataupun jajanan tradisional sangat banyak sekali, bisa dikatakan Nusantara adalah surganya kuliner dunia. Dari satu bahan saja bisa menghasilkan beraneka ragam makanan yang bisa kita nikmati.

Hal ini tentu tidak terlepas dari kreativitas dan daya cipta masyarakat dalam mewujudkan wisdom lokal yang berkaitan dengan kuliner Nusantara. Kebudayaan berkuliner masyarakat kita sangatlah kreatif, inovatif, dan beragama, hal ini merupakan kekayaan budaya yang harus kita syukuri dan kita lestarikan bersama. Sayangnya kekayaan lokal kita semakin hari semakin menipis, terkikis oleh era globalisasi dan modernisasi yang mengangkangi negeri ini.

Seperti yang saya bahas di depan, bahwa genthilut mungkin sudah sangat asing di telinga anak-anak kita, dan kita sebagai orang tua juga tidak merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan genthilut kepada anak cucu kita.

Hari ini kita lebih merasa bangga jika mengajak dinner keluarga di restoran mahal, hari ini kita merasa bergengsi jika pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh kentacky, pizza hut, dan apapun yang berbau barat. Seakan praduk Barat adalah jaminan modernitas dan kegagahan.

Jadi jangan melulu menyalahkan keadaan jika dari hal yang terkecil mulai hilang dan langka dari peradaban kita, jangan heran jika anak cucu kita tidak mengenal pohon silsilah, buyut, canggih, wareng, udeg-udeg  siwur  dan  sebagainya, karena kita ikut serta menjadi aktor melemahnya karakteristik budaya bangsa.

Ah, mungkin rasa-rasanya terlalu berlebihan dan lebay jika saya menghubungkan genthilut dengan peradaban bangsa, toh genthilut hanyalah salah satu produk olahan ketela pohon yang menjadi soko guru ketahanan pangan Nusantara.

Ketela pohon bisa bertahan berbulan-bulan dengan cara dikeringkan dan tetap bisa diolah menjadi makanan khas yang luar biasa enaknya, sebut saja ketiwul. Selain itu biasanya ketela juga dibiarkan kering bahkan hingga membusuk di atas genting rumah penduduk, kelak saat musim hujan tiba, ketela itu akan menjelma juga menjadi makanan khas yang lain lagi nama dan rasanya, walau sama-sama dari ketela. Gatot, namanya.

Dan masih banyak lagi peradaban ketela yang dimiliki oleh bangsa kita, belum peradaban-peradaban lainnya. Begitulah kehebatan, kreativitas dan daya tahan masyarakat kita dalam hal pangan, mereka tidak pernah ambil pusing dengan yang namanya dolar naik ataupun perekonomian global yang sekarat, karena pada dasarnya ekonomi kita adalah ekonomi kerakyatan yang ditopang oleh perketelaan yang beraneka ragam. Tinggal pintar-pintar kita dalam mengolahnya.

*Joyo Juwoto, penulis adalah santri Ponpes ASSALAM,  tinggal di Bangilan Tuban.*

Sunday, September 2, 2018

Filosofi Rumah

*Filosofi Rumah*
Oleh : Joyo Juwoto
Bulan Dzulhijjah atau orang Jawa menyebutnya sebagai bulan besar adalah bulan yang biasanya dipakai oleh masyarakat untuk menyelenggarakan hajatan, khususnya pernikahan. Tidak heran jika pada bulan besar kita sering panen resepsinan, baik itu undangan teman, kerabat, dan juga tetangga-tetangga dekat.
Kemarin saya menghadiri pernikahan salah satu teman yang ada di luar kecamatan. Seperti biasanya jika ada undangan tentu dengan senang hati saya pun datang. Bersama teman-teman yang lain kami pun berangkat rombongan dengan bersepeda motor. Maklum tempatnya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di tempat hajatan, kami disambut oleh penerima tamu. Kami pun duduk sambil menikmati jajanan yang diberikan oleh penerima tamu di depan.
Tak berselang lama acara inti, yaitu mauidzoh temanten  disampaikan oleh Gus Maimoen Zubair dari Sarang Rembang. Saya pun menyimak dan mencatat beberapa nasehat yang disampaikan oleh putra dari Kiai sepuh nan kharismatik, Mbah Maimoen Zubair.
Diantara nasehat pernikahan yang disampaikan membahas akar dan makna dari rumah.
Makna rumah dari kosakata bahasa Arab banyak memiliki arti, yaitu:
*1. Baitun* : dari kata: baata-yabiitu maknane kanggo nginep dalu. Usahakan agar kita selalu tidur di rumah. Jangan hanya menjadikan rumah sebagai tempat singgah sementara.
*2. Maskan* : panggonan tenange ati. Dalam ayat dikatakan, Litaskunuu ilaiha.
Rumah bisa menjadi maskan, syaratnya ada dua:
1. Mawaddah, cinta yang dinyatakan dan dibuktikan dengan perbuatan nyata.
2. Rohmah, ingat segala kebaikan dari kedua belah pihak.
*3. Daarun* bermakna perputaran, atau kantornya rumah tangga. Hal ini berarti segala kegiatan suami istri  dilakukan  di dalam rumah.
*4. Manzilun* Rumah berfungsi sebagai tempat persinggahan. Jadi rumah juga berfungsi sebagai tempat melepas segala beban dan lelah dari pekerjaan kita di luar rumah.
Demikian beberapa makna rumah sekaligus fungsi dari rumah.
*Nasehat pernikahan dari Gus Ghofur Maemoen dengan tambahan penjelasan dari penulis*

Friday, August 31, 2018

Utopia Gudeg Jogja Di Kopdar SPK


 Utopia Gudeg Jogja Di Kopdar SPK
Oleh : Joyo Juwoto

Kota Yogjakarta atau sering ditulis dan diucapkan juga dengan istilah Jogja memang istimewa, baik dari segi politik, ekonomi, budaya, pendidikan, sejarah dan lain sebagainya. Keistimewaan Jogja  tidak hanya berkenaan dengan hal-hal besar saja, sampai hal yang terkecil dan remeh pun Jogja selalu saja istimewa dan melegenda. Sebut saja ada Angkringan Jogja, Sego Kucing Jogja, hingga Gudeg Jogja yang melegenda sepanjang perjalanan sejarah kota keraton ini. Tidak heran jika kota yang berada di lerng gunung Merapi dan juga memiliki bentang laut di pesisir selatan Jawa ini menjadi tujuan berbagai kalangan.

Walau berkali-kali saya datang ke Jogja untuk tujuan wisata, namun entah karena apa saya belum pernah mencicipi kuliner Gudeg Jogja. Ketika di group kepenulisan Sahabat Pena Kita (SPK) yang saya ikuti di WhatsApp merencakan kopdar (kopi darat) di Jogja, pertama kali justru Gudeg ini yang memenuhi angan dan harapan saya untuk datang ke sana. Alangkah sedap dan nikmatnya jika saya ke Jogja untuk kopdar, kemudian meluangkan waktu bersama para sahabat mencicipi gudeg Jogja yang melegenda.

Sayang sekali, saat kopdar tiba justru saya tidak jadi berangkat. Gudeg Jogja yang aromanya jauh hari telah tercium sejak dalam pikiran seketika sirna. Hari di mana seharusnya saya menghadiri kopdar, atau saat di mana saya menikmati gurih dan lezatnya Gudeg Jogja ternyata hanya utopia,  tepat di hari kopdar SPK, saya masih di rumah dan tidak jadi berangkat karena ada tugas lain yang tidak bisa saya tinggalkan. Ah, nasib selalu memiliki cara tersendiri yang membuat harapan saya untuk kopdar hangus pupus.

Untung saja  dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan kita untuk mengetahui hal yang jaraknya tak terjangkau dengan indera. Dengan kemajuan teknologi segala kegiatan kopdar yang tidak bisa saya hadiri secara fisik dapat terpantau lewat layar handphone. Saya tentu sangat berterima kasih dengan para sahabat yang meluangkan waktunya mengupdate kegiatan kopdar mulai dari pra acara hingga acara kopdar selesai. Ibaratnya segala postingan di group WhatsApp yang berkenaan dengan kopdar sebagai tombo kangen, karena tidak bisa menghadiri kopdar secara langsung. Tak ada akar rotan pun jadi, begitulah kira-kira.

Entah kebetulan entah memang sengaja saya hubung-hubungkan, saat kopdar yang seharusnya lidah ini dimanjakan dengan Gudeg sebagaimana yang saya ceritakan di atas, ternyata sepulang dari sekolah saat saya sampai di rumah, istri saya memasak sayur lodeh tewel muda. Tentu semua maklum bahwa sayur Gudeg Jogja berbahan dasar tewel muda. Bagi saya Gudeg Jogja itu ya hampir sama dengan sayur tewel sebagaimana yang dimasak oleh istri saya siang itu. Padahal saya sama sekali tidak memberitahu istri, kalau saya sedang mengangankan Gudeg Jogja. Ya begitulah, kadang apa yang kita pikirkan datang begitu saja tanpa kita duga.

Tentu saja makan siang saya siang itu cukup lahap, tak ada Gudeg Jogja tewel muda buatan istri pun jadi. Sambil makan saya merenung tentang masa depan SPK. Group literasi SPK sebenarnya adalah metamorfosis dari group sebelumnya, yaitu Sahabat Pena Nusantara (SPN), karena di SPN ada dinamika perubahan maka lahirlah SPK yang dideklarasikan untuk pertama kalinya di Jogja, dan saya berhalangan hadir. Oleh karena itu di tulisan ini saya ingin menitipkan aspirasi dan harapan saya untuk SPK ke depan.

Selain melestarikan tradisi menulis setiap bulan, kemudian menerbitkannya menjadi sebuah buku yang dikelola oleh pengurus SPK, ada beberapa hal yang segera mungkin dilakukan oleh SPK, diantaranya adalah menata sistem keorganisasian, agar SPK menjadi komunitas dengan tata keorganisasian yang profesional. Jika organisasi di SPK tertata dengan baik tentu komunitas ini bisa kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Dan saya kira para pengurus di SPK sudah memikirkan akan hal ini.

Selain itu berdasarkan pengalaman di group sebelumnya yang begitu aktif dalam menulis dan menerbitkan buku, SPK sebagai metamorfosisnya juga harus menapak langkah dan meniti jejak untuk terus berkiprah dalam dunia literasi khususnya dalam menerbitkan buku. Jika buku antologi biasanya diterbitkan secara indie oleh komunitas, saya berharap SPK mampu menjembatani buku tersebut bisa dicetak oleh penerbit mayor. Jika buku-buku produk SPK bisa masuk ranah mayor tentu banyak keuntungan yang bisa diambil, selain persebaran bukunya yang lebih luas, tentu honor dari penerbitan bisa dipakai komunitas untuk mengembangkan sayap SPK.

Selain meretas jalan penerbitan mayor, buku-buku SPK juga bisa diterbitkan oleh yayasan buku yang menerbitkan untuk amal. Jadi buku-buku SPK bisa didonasikan oleh yayasan tersebut. Hal ini kalau tidak salah sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh guru kita di SPK, Prof Chirzin yang memberikan naskahnya untuk dicetak oleh yayasan amal buku kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan. Jika hal demikian bisa dilakukan tentu karya dari SPK akan mengabadi dan bermanfaat bagi para pembaca di manapun berada.

Tak terasa suap demi suap nasi di piring habis, walau gudeg Jogja hanya ada di kepala namun aromanya sampai di meja makan saya siang itu. Sayur tewel muda buatan istri tercinta menjadi stutnman, eh, maksudnya menjadi pengganti sayur gudeg yang belum pernah saya cicipi walau hanya dalam mimpi. Semoga kelak saya bisa mencicipinya dalam dunia yang sebenar-benarnya, bukan mimpi dan bukan maya. Jogja saya selalu merinduimu. Salam Literasi.

*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, Penulis aktif di www.joyojuwoto.com. Saat ini telah menulis beberapa buku solo, Jejak Sang Rasul; Secercah Cahaya Hikmah, Dalang Kentrung Terakhir (2017), Cerita Dari Desa, Cerita untuk Naila dan Nafa. Selain it ujuga menulis puluhan buku antologi. Silaturrahmi dengan penulis via Whatshap dinomor  085258611993 atau email di joyojuwoto@gmail.com.

Sunday, August 26, 2018

Filosofi Pohon Sawo

Pohon Sawo di tepi Jalan Desa Kedung Jambangan

Filosofi Pohon Sawo
Oleh : Joyo Juwoto

Minggu pagi yang cerah, sebelum matahari bertengger di ufuk timur, saya kayuh sepeda menyusuri jalanan sepi. Udara pagi cukup sejuk, polusi udara akibat dari deru mesin kendaraan bermotor belum banyak, sehinga waktu pagi sangat cocok dipakai bersepeda ria, menghirup kemurnian oksigen sambil menyambut semburat jingga matahari pagi.

Di tengah perjalanan tepatnya di desa Kedungjambangan, di beberapa rumah penduduk tumbuh subur pohon sawo, desa yang dibelah aliran sungai kali kening ini memang terkenal dengan produksi sawonya yang legit, biasanya, saya membeli di pasar Bangilan untuk merasakan buah sawo, karena memang saya tidak memiliki pohonnya. 

Sawo adalah jenis buah dari tanaman pohon yang berkayu keras berwarna coklat kemerahan, pohonnya tinggi dan bisa dipakai untuk peralatan rumah tangga. Jenis sawo sendiri cukup banyak, diantara yang saya tahu hanya tiga jenis yaitu sawo coklat, sawo kecik dan sawo susu. Dari ketiga jenis sawo itu saya pernah memakannya, kecuali yang sawo kecik, saya belum pernah mencicipinya.

Sawo coklat setelah saya cari di google ternyata memiliki nama sawo manila, sawo ini warnanya coklat rasa buahnya manis jika masak, di dalam daging buah ada bijinya berwarna hitam berbentuk lonjong, sedang sawo susu setelah saya google ternyata memiliki nama sawo duren, kulit buahnya berwarna hijau kemerahan, dalamnya putih susu, rasanya manis dan kenyal. Sedang sawo kecik buahnya lebih kecil dari kedua jenis sawo yang saya sebutkan tadi, warnanya juga agak merah, entah rasanya.

Demi melihat pohon sawo, sambil mengayuh sepeda saya mengingat kembali apa yang dulu pernah dilakukan oleh sisa-sisa laskar Pangeran Diponegoro, tokoh sentral perang Jawa yang hampir membuat Belanda bangkrut. Para pengikut Pangeran Diponegoro konon menanam pohon sawo. Pohon sawo menjadi penanda jejak dan jaringan para pengikut Pangeran Diponegoro yang tersebar di berbagai wilayah di pulau Jawa. Sawo ini berarti sawwu sufufakum, yang artinya “rapatkan barisanmu” sebagai sandi untuk merapatkan barisan kembali ketika seruan jihad dikumandangkan.

Selain bermakna sawwu sufufakum, pada jenis sawo kecik, menurut filosofi orang Jawa berasal dari kata “Sarwo becik” artinya adalah selalu dalam kebaikan, maksudnya seseorang diharapkan selalu memberikan kebaikan untuk orang lain di manapun ia berada.

Dari persebaran pasukan Pangeran Diponegoro yang kebanyakan para ulama inilah yang akhirnya menjadi jaringan dakwah pesantren di berbagai daerah di tanah jawa. Karena perang fisik jihad fi sabilillah telah usai, para pengikut Pangeran Diponegoro mengubah pola perjuangannya dari jihad fisik menjadi jihad di jalur pendidikan pesantren untuk mengkader umat.

Di desa Kedungjambangan pohon sawo juga tumbuh cukup banyak, ketepatan desa ini juga pernah mempunyai pesantren tua, sayangnya pesantren ini belum bertunas kembali, padahal trah Kedungjambangan menjadi cikal-bakal pesantren-pesantren ternama di sekitarnya, diantaranya adalah Pondok Pesantren Tanggir yang ada di kecamatan Singgahan.







Sunday, August 19, 2018

The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer


The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer
Oleh : Joyo Juwoto

Tofik Pram, menurut saya adalah seorang yang istimewa dan tidak boleh ditinggalkan jika membahas tentang sosok Pramoedya Ananta Toer (Pram). Saya sendiri baru bertemu dengan Mas Tofik secara sepihak,  berdiskusi tentang pemikiran dan siapa Pram secara mendalam di dalam buku yang ditulisnya, yang kemudian saya jadikan judul tulisan saya ini. Ditilik dari namanya mungkin pembaca menyangka bahwa Tofik Pram memiliki hubungan kekerabatan dengan Pram, namun ternyata tidak sama sekali.

Berdasarkan pengakuan di dalam buku yang ditulisnya, Tofik Pram memang seorang pengagum berat  sastrawan dari Blora ini. Tofik merasa beruntung karena di namanya ada unsur Pramnya, walau dia bukan salah satu dari keluarga Toer. Saya sendiri sangat kagum dengan kisah perkenalan Tofik dengan idolanya, Pram, yang diawali dari membaca buku hadiah dari ayahnya dari kota, buku itu adalah seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia. Perkenalan itu sekitar tahun 1996 saat ia duduk di kelas II SMP.

Di dalam pengantarnya Tofik Pram berkisah bagaimana heroiknya dia saat membaca buku yang dilarang beredar oleh Orde Baru saat itu, buku Pram dianggap mengajarkan paham komunis yang diharamkan oleh negara. Tofik sebenarnya sudah diperingatkan oleh ayahnya agar supaya buku itu hanya dibaca di rumah saja. Dasar watak anak muda, semakin dilarang semakin ingin mencobanya. Akhirnya dengan diam-diam Tofik membaca buku itu di toilet sekolah yang berbau pesing.

Dari aksi nekad ini dan akibat mengabaikan peringatan ayahnya, Tofik mendapatkan imbalan yang setimpal. Ketika sedang asyik membaca tiba-tiba pintu toilet didobrak dari luar. Sebelum habis terkejutnya, buku yang dibaca Tofik telah berpindah tangan dengan kasar, sampul buku itu robek, dan beberapa halamannya tercecer. Guru BP-nya telah merampas keasyikannya menelusuri kisah Minke, Anelis, Nyai Ontosoroh dan tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia yang membuat Tofik terpesona.

Kisah-kisah para pelaku dan pembaca buku-buku Pram yang mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Tofik sering kita dengar, betapa rezim saat itu begitu ketat membelenggu dan membatasi ruang gerak dari pikiran-pikiran Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya buku-bukunya saja yang dilarang dicetak dan diedarkan, namun para pembacanya juga bernasib sama, mengalami diskriminasi dari lingkungan dan dari institusi negara dengan dalih undang-undang.

Saya merasa beruntung tidak mengenal perlakuan diskriminatif sebagaimana yang dirasakan oleh Tofik dan Tofik-Tofik lainnya, karena saat itu saya belum mengenal siapa Pram dan belum pernah melihat apa itu Tetralogi Pulau Buru dan buku-buku Pram lainnya. Saya Cuma mendengar cerita dan dari bisik-bisik mahasiswa pergerakan yang yang tergabung di Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB), itupun masa diskriminasi terhadap karya Pram sudah surut.

Dari bisik-bisik itulah saya merasa penasaran, seperti apa sih tulisan Pram kok sampai negara melarang peredaran karya dari Pramoedya Ananta Toer. Kemudian saya mulai membaca buku Pram, Ada Bumi Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, Midah Si Manis Bergigi Emas, Cerita Dari Blora, Perburuan, Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Cerita Calon  Arang, Panggil  Aku Kartini Saja, dan beberapa buku lainnya saja baca. Saya orangnya memang banyak lupanya jika membaca, namun dari pengalaman membaca buku Pram, saya bingung merumuskan di sisi mana buku Pram itu dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. kebingungan ini saya pendam sendiri sambil terus saya renungi.

Sampai pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan seorang teman mengatakan kepada saya bahwa “Yang menuduh dan tahu ajaran komunis itu, mungkin saja seorang komunis itu sendiri. Atau yang merekayasa tentang ajaran komunis di bukunya Pram,” terangnya. Saya sering mengatakan, apa institusi atau lembaga negara yang mengatakan buku Pram berisi ajaran komunis memangnya sudah pernah membacanya, atau setidaknya mengkonfirmasi tuduhannya tersebut kepada Pram sendiri?

Di dalam pembelaannya, Pram pernah mengatakan sebagaimana yang saya kutip dari tulisan Tofik di halaman 133, Pram menegaskan: “Apa mereka tahu komunisme? Ini sama halnya ketika Kejaksaan Agung mengirimkan tiga jaksa kepada saya, pada 1988. Mereka menuduh saya menyebarkan Marxxisme dan Leninisme. Saya bilang, kalau pemerintah menuduh, silakan buka pengadilan, tapi saya menuntut didampingi pengacara dari negara netral yang tahu betul tentang Marxisme dan Leninisme, Komunisme. Tanpa pendamping, nanti kedodoran. Saya sendiri tidak paham, hakimnya tidak tahu, jaksanya tidak mengerti. Dagelan. Mereka setuju, tapi sampai sekarang tidak dijalankan.”

Lebih lanjut Pram juga membela diri, “Saya tidak pernah pelajari Marx,  jadi saya tidak kenal betul Marx. Saya, dalam pandangan saya, hanya berpihak pada yang adil, benar, dan berperikemanusiaan.” Dan masih banyak lagi argumen yang dibangun oleh Pram, bahwa ia sama sekali tidak paham apa itu Marxisme, Leninisme, Komunisme dalam tataran politik sebagaimana yang dituduhkan oleh rezim Orde Baru.

Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari beberapa pengakuan Pram tentang dirinya dan ajaran komunisme yang selalu dilekatkan pada sosok Pramoedya Ananta Toer. Saya tentu berterima kasih pada Tofik Pram, walau hanya bertemu di untaian tulisannya, sedikit banyak saya mengetahui gambaran dari seorang Pram. Saya juga sangat menyukai dan setuju dengan slogan yang ditulis oleh Tofik, entah itu untuk menggambarkan isi bukunya atau bahkan untuk menggambarkan Pram dalam tulisannya, “Untuk Manusia, Untuk Kebebasan, Untuk Keberanian, Untuk Cinta, Untuk Indonesia.” Sungguh luar biasa.

Menurut saya, Tofik Pram ini orangnya sangat telaten sekali, buku yang ditulisnya yang berjudul The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer berisi apapun yang ditulis Pram baik itu kutipan yang ada dibuku-buku maupun esai-esainya. Dengan teliti Tofik mengumpulkan apapun yang berhubungan dengan Pram kemudian mendokumentasikannya dalam sebuah buku. Sebuah kerja yang patut mendapatkan apresiasi dari para pramis maupun para pembaca buku-buku Pram seperti saya. Terima kasih.


Saturday, August 18, 2018

Peringati Kemerdekaan RI yang Ke 73, ISBAT bersama Camat Bangilan Membagikan 73 Paket Sembako

Doc. ISBAT
Menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 73, Komunitas Informasi Seputar Bangilan Tuban (ISBAT) kemarin (16-17 Agustus 2018) menggelar kegiatan ketuk pintu bagi sembako kepada sejumlah 73 orang dhuafa'  yang ada di wilayah kecamatan Bangilan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Bangsa Indonesia Tercinta. 

Selain membagikan paket sembako, ISBAT juga menyalurkan bantuan yang diberikan oleh Baznas Tuban. Turut serta dalam kegiatan ini Ibu Iin Fatimah, Kasi Kesra Kecamatan Bangilan, dan juga bapak camat Bangilan, Bapak Deny Susilo Hartono. Beliau berdua ikut serta memeriahkan dan mensuport kegiatan yang dilaksanakan oleh teman-teman ISBAT. Pak Camat yang masih muda ini turun langsung ke lapangan menyapa masyarakat, bersalaman, dan turut serta berpanas ria dengan rombongan ISBAT keliling ke desa-desa.

"Mari kita selalu fastabiqul khoirot, lanjutkan perjuangan!" Kata Pak Deny, memberikan suntikan semangat kepada teman-teman ISBAT.

Pak Camat Bangilan memang sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan ketuk pintu bagi sembako yang dilaksanakan oleh ISBAT, sehingga beliau bisa  terjun langsung ke pelosok-pelosok desa melihat dan menyapa masyarakat secara langsung. 

"Paket sembako yang dibagikan ISBAT biasanya lebih dari 73 paket, namun karena menyamakan dengan momentum kemerdekaan RI yang ke 73, maka ISBAT sengaja membagikan sejumlah 73 paket sembako kepada dhuafa.'" Tutur salah seorang anggota ISBAT yang ikut serta dalam kegiatan ketuk pintu yang dilaksanakan oleh team ISBAT.


Selain pembagian paket sembako dan penyaluran dana Baznas, kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan RI yang ke 73, ISBAT juga menggelar bazar pada malam harinya di lapangan gelora 17 Agustus Bangilan. Walau di siang harinya capek keliling desa membagikan sembako, pada malam harinya teman-teman ISBAT penuh semangat mensukseskan kegiatan bazar. Kegiatan bazar ISBAT ini juga mendapatkan support yang luar biasa dari masyarakat.

"Selain kerja keras dari anggota ISBAT, dalam pelaksanaan bazar kita disupport oleh banyak pihak,  seperti Wings Food, toko Lukito, juga temen-temen ISBAT yang ikut meramaikan bazar ISBAT.  Sebagaimana tema kemerdekaan tahun ini "Kerja kita Prestasi Bangsa." Kata Pak Maskin, koordinator sekaligus motor penggerak dari kegiatan  ISBAT.  


Friday, August 17, 2018

Merah Putihku

*Merah putihku*
Oleh: Joyo Juwoto

Merah putihku tegar berkibar di seluruh persada Nusantara

Merah putihku gagah berdiri
Mengayomi seluruh sudut bumi Pertiwi 

Merah putihku

Merahmu menyalakan semangat kebangsaan
Putihmu menyucikan cita-cita perjuangan

Merah putihku

Tetaplah tegar berkibar
Kabarkan pada dunia
Bahwa tak ada kata gentar
Untuk melawan segala  kesewenangan

Merah putihku

Teruslah tegak berdiri tinggi
Hadapi segala bentuk penjajahan kemanusiaan

Merah mengalir dalam darahku
Putih menopang tulang-belulangku

Merah putihku
Engkaulah cahaya
Penerang persada Nusantara

Bangilan, 17-08-2018

Thursday, August 16, 2018

Aku Pada-Mu

*Aku Pada-Mu*
Oleh : Joyo Juwoto

Pada keheningan malam aku mengadu
Pada denting sunyi aku berkontemplasi

Bercengkrama dengan gulita
Bercumbu dengan sepi

Bersama Semesta raya melantunkan kidung cinta
bertasbih
Memuji dan mengagungkan-Mu

Gunung-gunung bersenandung
Langit dan bukit bertahmid

Gelombang dan laut bersujud
Batu-batu dan partikel debu menggebu
mengeja asma-asma-Mu

Tanpa alpa, tanpa jeda
Tanpa lelah, penuh gairah
Hanya pada-Mu
Segala perhatian dan rasa tertuju
Pada-Mu, aku Pada-Mu

Ilaahii Anta Maqsuudii
Wa ridhaa-Ka Madluubii

Bangilan bumi cinta, 16-08-18

Percik Cahaya Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan

*Percik Cahaya Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan*
Oleh : Joyo Juwoto

Siang tadi saat menjemput anak saya pulang dari sekolah, saya bertemu dengan bapak K. Mukhlishin, S.Pd.I. Beliau adalah kepala madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan, di mana anak saya bersekolah. Setelah berjabat tangan, dan berbasa-basi, Pak yai Mukhlishin mengundang saya secara lisan untuk menghadiri acara milad Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan yang akan dilaksanakan malam nanti, bakda sholat Isya'.

Saya tentu merasa senang dan terhormat mendapatkan undangan dari pak yai Mukhlishin. Selain sebagai media komunikasi dan informasi antara pihak madrasah dengan wali santri, yang notabene adalah saya sendiri, saya juga ingin ikut menelusuri dan meneladani uswah hasanah, serta limpahan barakah dari para pejuang madrasah.

Walau siang harinya harus bergelut dengan kegiatan gerak jalan, tapi saya sudah meniatkan diri untuk menghadiri undangan yai Mukhlishin yang tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya. Bisa-bisa su'ul adab jika saya tidak mengiyakan undangan beliau. Dan yang terpenting menolak undangan makan bersama bagi saya  adalah sebuah  kerugian yang  nyata. Bismillah, insyaallah berangkat.

Singkat waktu, bakda Isya' tiba, saya pun dengan semangat berangkat mencari berkat, menghadiri malam ulang tahun madrasah salafiyah ibtidaiyyah Bangilan, yang berada di lokasi masjid besar Alfalah Bangilan.

Madrasah salafiyah ibtidaiyyah Bangilan memperingati HUT yang cukup matang, yaitu di angka 72, berarti madrasah ini berdiri tahun 1946 terpaut satu tahun dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Sungguh suatu usia yang cukup matang dan tentunya banyak hal dan sejarah yang telah ditorehkan oleh madrasah generasi awal di kecamatan Bangilan.

Tema yang saya baca di banner yang dijadikan background cukup cetar membahana, sebuah tema reflektif yang menggambarkan dari visi misi madrasah yang berskala nasional dan berwawasan Nusantara yang luar biasa. Berikut saya tuliskan tema yang diusung dalam banner yang merah putih gagah perkasa:

*"Refleksi Kebangsaan*
*73 Tahun Indonesiaku*
*Kerja Kita Prestasi Bangsa*

*72 Tahun MI Salafiyah Bangilan*
*Mendidik Dengan Hati Nurani*
*Menuju Madrasah yang Harmoni*
*Hebat, bermartabat, dan Berakhlakul Karimah"*


Acara yang digelar di halaman madrasah walau sederhana namun cukup khidmat, selain berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi antara madrasah dengan wali santri, dengan tokoh masyarakat, dan hubungan antara madrasah dengan lapisan masyarakat Bangilan, kegiatan ini juga sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat dan karunia Allah swt.

Mengirimkan doa, membaca tahlil, bertawassul dengan membaca dibaiyyah, serta mengingat kebaikan dan jasa para pejuang madrasah adalah salah satu cara menghargai para pendahulu, karena tanpa perjuangan mereka tentu kita bukanlah apa-apa. Oleh karena itu Bung Karno selalu bilang, "Jas Merah" Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pendahulunya.

Setelah rangkaian acara doa dan refleksi selesai, maka acara pun berlanjut dengan membuka tumpeng dan makan bersama. Tumpeng sendiri adalah tumuju marang Pengeran, di mana kita semua berdoa semoga apa yang menjadi harapan baik dari seluruh keluarga besar MI Salafiyah Bangilan terkabulkan. Aamiin allahumma qabul ya Allah ya Rabbal 'alamin.

Saya pun dengan lirih dalam hati yang paling suci, dalam jiwa yang paling bercahaya ikut berdoa, ikut menitipkan asa dan harapan, semoga MI Salafiyah Bangilan menjadi bagian dari percik cahaya Ketuhanan yang menyinari persada bumi Nusantara. Bibarkatil Hadi Muhammad ya Allah, semoga terijabah. Aamiin ya rabbal 'alamin.

*Bangilan, 15 Agustus 2018*

Thursday, August 9, 2018

Memoar Dalang Kentrung Terakhir

Memoar Dalang Kentrung Terakhir
Oleh : Joyo Juwoto

Dalang Kentrung  Terakhir adalah judul buku saya yang terbit tahun 2017 silam, buku ini berisi beberapa kumpulan cerpen yang kemudian saya terbitkan menjadi sebuah buku. Seperti buku-buku saya sebelumnya, Dalang Kentrung Terakhir juga saya terbitkan indie pada penerbit Pataba (Pramoedya Ananta Toer  Anak Semua Bangsa) yang dikelola Mbah Soesilo Toer, adik kandung Pramoedya Ananta Toer. Buku ini juga dipengantari oleh Soesilo Toer, seorang doktor lulusan Rusia.

Saya cukup gembira berhasil menulis beberapa cerpen yang kemudian saya terbitkan, karena bagi saya menulis cerpen cukup sulit, walau menulis yang lainnya juga tidak kalah sulitnya. Cerpen yang berhasil saya tulis hingga selesai di akhir tahun 2016 berjudul Jalan Pulang, yang juga saya masukkan dalam kumpulan cerpen saya Dalang Kentrung Terakhir. Setelah berhasil menyelesaikan cerpen Jalan Pulang, saya mulai menulis beberapa cerpen yang akhirnya cukup saya terbitkan menjadi sebuah buku.

Buku Dalang Kentrung Terakhir nasibnya cukup bagus, saya tidak perlu menawarkan dan menjualnya kepada khalayak, karena buku ini dijualkan oleh Pataba dan dipesan oleh Perpusda sebanyak 16 eksemplar. Bagi saya ini adalah capaian yang luar biasa, dibandingkan dengan dua buku saya sebelumnya, yang harus saya titipkan di toko santri dan menunggu habis. Tapi sebenarnya saya tidak begitu ambil pusing dengan buku saya, bisa menulis dan menerbitkannya menjadi buku sudah cukup membahagiakan, apalagi tulisan itu ada yang ikut membacanya, tentu saya sangat bahagia.

Buku Dalang Kentrung Terakhir yang dibeli Perpusda kemudian dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan yang ada di wilayah Kecamatan, saya pernah difotokan oleh salah seorang teman bahwa buku saya ada di perpustakaan yang ada di wilayah kecamatannya. Tentu berita ini menggembirakan bagi saya dan menjadi motivasi untuk terus berkarya melalui tulisan.

Sebelum menulis genre cerpen, ada dua buku saya yang terlebih dahulu terbit, yaitu Jejak Sang Rasul dan Secercah Cahaya Hikmah. Saya sangat senang berhasil menerbitkan buku walau masih secara indie, dan tentu saya punya keinginan, suatu saat mampu dan berhasil menerbitkan buku di penerbit mayor. Atau setidaknya saya harus mencoba mengirimkan naskah untuk buku di penerbit mayor, masalah berhasil diterbitkan atau tidak itu urusan belakangan.

Soal menulis saya memang masih selalu berkutat pada kesulitan-kesulitan yang laten, walau sudah sering kali mendengar dan membaca motivasi bahwa menulis itu mudah. Tapi nyatanya dan prakteknya saya masih terbelenggu dengan kesulitan dalam hal tulis-menulis. Walau demikian saya berusaha untuk tidak patah arang dan terus menerus belajar dan belajar.

       Saya merencanakan, minimal bisa menerbitkan satu buku dalam satu tahun, target yang memang sangat rendah, tapi dapat memenuhi target itu saya sudah sangat bahagia. Tahun ini (2018) calon buku saya sudah persiapan terbit, nomor ISBN-nya sudah keluar, tinggal menunggu proses selanjutnya. 

Monday, July 30, 2018

Cerita Anak Kucing Yang Malang


Cerita Anak Kucing Yang Malang
Oleh : Joyo Juwoto


Anak kucing malang itu mengeja resah
Diantara deru debu dan panas menyengat
Warna hitam bulunya tampak lusuh
Dan ekor panjangnya menyentuh langit perasaan

Anak kucing yang entah itu
Mengeong-ngeong parau
Menggedor pintu hatimu
Membuka ruang untuk sekedar berteduh

Mencicipi sisa duri dan sekedar remahan
Dari makanan yang tak termakan
menghindar dari haus dan lapar
yang meneror perut dan kerongkongan

Anak kucing yang malang itu
adalah anak-anak waktu
yang menunggu uluran hati
dan tangan-tanganmu


 Bangilan, 30 Juli 2018






Sunday, July 29, 2018

WhatsApp dan Peluru Dakwah Kontemporer


WhatsApp dan Peluru Dakwah Kontemporer
Oleh : Joyo Juwoto

“Satu Peluru Hanya Bisa Menembus Satu Kepala, Tapi Satu Tulisan Bisa Menembus Ribuan Bahkan Jutaan Kepala” (Sayyid Qutub)

Perkataan Sayyid Qutub di atas sangat relevan dengan era sosmed (sosial media) jaman sekarang. Betapa hari ini belantara media sosial dipenuhi dengan arus informasi dan komunikasi yang tak terbatas. Setiap detik, menit, dan jam, disegala waktu tanpa jeda. Desingan peluru dan bombardir informasi dan komunikasi menerjang smarphone yang ada di tangan kita, menghabiskan paketan quota internet dan ruang penyimpanan dan memori smartphone, baik itu berupa pesan yang berbentuk tulisan, gambar, maupun yang berbentuk video.
Berbagai macam konten kiriman di smartphone yang kita pegang tentu sedikit banyak akan kita lihat dan kita baca, jika pesan-pesan itu berisi hal yang bermanfaat tentu akan memberikan dampak kebaikan bagi kita, namun jika pesan-pesan berantai yang masuk di smartphone kita hanya sekedar guyonan atau berisi hal-hal yang kurang bermanfaat tentu juga akan mempengaruhi kita juga. Oleh karena itu pintar-pintarlah memilih group jejaring sosial yang akan kita ikuti, baik itu group WhatsApp, Line, BBM, Wechat, Kakao dan lain sebagainya.
Jejaring media sosial ini pada dasarnya adalah media untuk menjalin komunikasi dengan sekelompok orang atau dengan anggota group, baik itu group profesi tertentu, group famili, group satu hobi, dan group-group lain yang dibuat untuk tujuan tertentu. Namun tidak jarang pesan-pesan di group kadang-kadang keluar dari tema dan tidak terkendali, baik itu berupa berita hoax, ujaran kebencian, kebohongan, gambar-gambar dan video yang tidak pantas dan berbagai macam konten yang jauh dari nilai kebaikan dan tidak mendidik, ini yang perlu kita waspadai.
Sejatinya jika kita mau menyadari dan memanfaatkan jejaring media sosial semisal WhatsApp untuk menangguk amal kebaikan yang berbuah pahala tentu akan sangat berguna sekali. Karena diakui atau tidak hari ini benda yang paling banyak dipegang dan dilihat di setiap waktu adalah smartphone. Bangun tidur pertama kali yang dipegang HP atau smartphone, kumpul-kumpul dengan teman HP tidak akan lepas dari tangan, di rumah, di tempat kerja, di pasar, bahkan di tempat ibadah HP selalu eksis dan tidak pernah ketinggalan.
Jika melihat fenomena perilaku masyarakat yang sedemikian, dan melihat revolusi informasi dan komunikasi di jejaring sosial yang sangat marak, maka ini adalah kesempatan bagi kita untuk menjadikan WhatsApp dan media sosial lainnya sebagai salah satu media alternatif dan jalan dakwah di era sekarang.
Dakwah memiliki banyak jalan, sebagaimana pepatah “Seribu Jalan Menuju Roma” Begitu pula dakwah memiliki seribu jalan yang lika-likunya bisa ditempuh oleh para da’i. Da’i yang saya maksud di sini bukan sekedar para ustadz dan pembicara di mimbar-mimbar agama, di panggung-panggung pengajian, di majelis-majelis ilmu, namun da’i di sini adalah kita semua, seluruh umat Islam yang mempunyai kewajiban untuk berdakwah sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan Al-Banna “Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in” (Kita adalah da’i sebelum segala sesuatu).
Dakwah dengan tulisan sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Qutub di atas sangat cocok dengan model dakwah WhatsApp dan media sosial lainnya. Satu tulisan yang kita lepaskan bisa menjadi peluru dakwah kontemporer yang menembus ribuan bahkan jutaan kepala para pembaca di majelis WhatsApp, oleh karena itu mari menulis dan menyebarkan tulisan yang baik agar tulisan tersebut membawa manfaat dan menjadi media dakwah di media sosial.
Selain menulis sendiri kita juga bisa ikut menyebarkan konten-konten yang bermanfaat yang ditulis dan dibuat oleh orang lain. Hanya saja kita harus saring sebelum sharing berita-berita dan tulisan di media sosial, kita harus mampu menahan jari-jari kita untuk tidak memencet tombol forward tanpa membaca isi dari berita dan mengecek kebenaran suatu berita, atau jika kita memang belum tahu lebih baik kita diam saja tanpa perlu ikut menyebarkan sesuatu yang tidak jelas. Diam dan menahan diri itu lebih baik daripada kita asal pencet, asal share.
Oleh karena itu mari membiasakan diri menulis dan mengeshare sesuatu yang baik dan bermanfaat di group-group media sosial yang kita ikuti, atau setidaknya jangan ikut-ikutan dan latah mengeshare berita-berita yang tidak jelas jluntrungnya.

*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Buku yang sudah ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) Cerita Dari Desa (proses) (2018) dan telah menulis beberapa buku antologi. Penulis bisa dihubungi via whatsApp di nomor 085258611993 atau kunjungi blognya di www.joyojuwoto.com.

Thursday, July 19, 2018

Yang Terkenang Dari Langgar Kampung

Berbahagialah jika Anda masih berada di kampung, atau di sebuah kota atau tempat mana saja yang masih memegang teguh dan mempertahankan adat tradisi Islam Nusantara. Adat-adat ini biasanya menjadi pengobat kerinduan bagi orang-orang yang hidup di perantauan, atau jauh dari kampung halamannya.

Salah satu dari tradisi Islam Nusantara  adalah puji-pujian yang dikumandangkan untuk menunggu imam langgar datang dan memimpin shalat berjamaah. Tradisi ini tentu tidak ditemui di negara-negara Timur Tengah, karena memang puji-pujian ini adalah bagian dari tradisi Islam Nusantara.

Tidak semua tempat ibadah baik itu masjid ataupun langgar yang ada di Indonesia yang melakukan tradisi puji-pujian ini,  karena biasanya masjid atau langgar yang dikelola oleh Islam moderat tidak ada puji-pujian. Islam yang berbasis ormas Muhammadiyah juga tidak ada pujiannya, begitu pula Islam yang berbasis Salafi, dan Islam perkotaan kebanyakan tidak pujian sebelum shalat didirikan.

Masalah puji-pujian kadang menjadi perdebatan diantaranya ormas-ormas agama Islam, namun di sini saya tidak sedang membahas perbedaan pendapat diantara banyak kubu dan ormas. Saya hanya ingin menuliskan kerinduan masa kecil saya dan mungkin juga kerinduan  Anda dengan dunia langgar yang mengasyikkan.

Biar para pakar dan ahli yang membahas apakah puji-pujian sebelum shalat itu bid'ah atau tidak? Apakah hal itu pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw,  para sahabat, dan para ulama shalafus sholeh? Apakah puji-pujian itu ada dalilnya atau tidak? Jika dilakukan berpahala atau berdosa? Dan masih banyak pertanyaan yang mungkin mengganjal. Karena saya bukan pakarnya, maka saya hanya ingin berbagi kerinduan dengan orang-orang yang sehati dengan kerinduan hati saya ini.

Bagi saya, puji-pujian yang dilantunkan di langgar - langgar ataupun masjid sebelum shalat adalah sesuatu yang terkenang indah di palung kenangan jiwa, suara dari orang-orang yang melantunkan pujian dengan sepenuh hati terasa menyentuh perasaan.

Puji-pujian itu menjadi daya cinta dan rindu terhadap altar suci ketuhanan dan pemupuk terhadap kerinduan kepada Nabi Muhammad saw. Itu yang saya pahami dari tradisi pujian yang menjadi produk dari Islam Nusantara. Saya tidak melihat gelagat adanya punya kepentingan membuat sesuatu yang baru dalam beribadah, apalagi upaya - upaya menandingi ajaran baku yang telah digariskan oleh kitabullah wa sunnatarrasul.

Berikut saya tuliskan pujian yang tadi baru saya dengar di langgar yang ada di kampung saya menjelang shalat Isya'. Sebenarnya saya ingin menulis dan mengumpulkan banyak puji-pujian tersebut. Kalau perlu didokumentasikan dalam bentuk audio agar tidak hilang dan terlupakan oleh sejarah. Agar generasi mendatang tahu salah satu produk kearifan dari sebuah peradaban Islam Nusantara, sebuah peradaban langgar.

Allahumma shalli ala Muhammad,
Allahumma shalli alaihi wa sallim 2x

Nabi Muhammad iku nabi kang mulya
Moco sholawat iku diakeh-akehono
Mumpung lawang tobat lawange iseh mengo
Yen wis ditutup bakal susah awak ira.

Jika kebetulan para pembaca memiliki dokumentasi puji-pujian ini, saya sangat senang dan bergembira. terlebih sekiranya pembaca juga mengirimkan filenya kepada saya, baik itu berupa dokumentasi tulisan maupun audio. File bisa diemailkan di joyojuwoto@gmail.com atau lewat Whatshap di 085258611993. Terima kasih.