Sunday, August 19, 2018

The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer


The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer
Oleh : Joyo Juwoto

Tofik Pram, menurut saya adalah seorang yang istimewa dan tidak boleh ditinggalkan jika membahas tentang sosok Pramoedya Ananta Toer (Pram). Saya sendiri baru bertemu dengan Mas Tofik secara sepihak,  berdiskusi tentang pemikiran dan siapa Pram secara mendalam di dalam buku yang ditulisnya, yang kemudian saya jadikan judul tulisan saya ini. Ditilik dari namanya mungkin pembaca menyangka bahwa Tofik Pram memiliki hubungan kekerabatan dengan Pram, namun ternyata tidak sama sekali.

Berdasarkan pengakuan di dalam buku yang ditulisnya, Tofik Pram memang seorang pengagum berat  sastrawan dari Blora ini. Tofik merasa beruntung karena di namanya ada unsur Pramnya, walau dia bukan salah satu dari keluarga Toer. Saya sendiri sangat kagum dengan kisah perkenalan Tofik dengan idolanya, Pram, yang diawali dari membaca buku hadiah dari ayahnya dari kota, buku itu adalah seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia. Perkenalan itu sekitar tahun 1996 saat ia duduk di kelas II SMP.

Di dalam pengantarnya Tofik Pram berkisah bagaimana heroiknya dia saat membaca buku yang dilarang beredar oleh Orde Baru saat itu, buku Pram dianggap mengajarkan paham komunis yang diharamkan oleh negara. Tofik sebenarnya sudah diperingatkan oleh ayahnya agar supaya buku itu hanya dibaca di rumah saja. Dasar watak anak muda, semakin dilarang semakin ingin mencobanya. Akhirnya dengan diam-diam Tofik membaca buku itu di toilet sekolah yang berbau pesing.

Dari aksi nekad ini dan akibat mengabaikan peringatan ayahnya, Tofik mendapatkan imbalan yang setimpal. Ketika sedang asyik membaca tiba-tiba pintu toilet didobrak dari luar. Sebelum habis terkejutnya, buku yang dibaca Tofik telah berpindah tangan dengan kasar, sampul buku itu robek, dan beberapa halamannya tercecer. Guru BP-nya telah merampas keasyikannya menelusuri kisah Minke, Anelis, Nyai Ontosoroh dan tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia yang membuat Tofik terpesona.

Kisah-kisah para pelaku dan pembaca buku-buku Pram yang mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Tofik sering kita dengar, betapa rezim saat itu begitu ketat membelenggu dan membatasi ruang gerak dari pikiran-pikiran Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya buku-bukunya saja yang dilarang dicetak dan diedarkan, namun para pembacanya juga bernasib sama, mengalami diskriminasi dari lingkungan dan dari institusi negara dengan dalih undang-undang.

Saya merasa beruntung tidak mengenal perlakuan diskriminatif sebagaimana yang dirasakan oleh Tofik dan Tofik-Tofik lainnya, karena saat itu saya belum mengenal siapa Pram dan belum pernah melihat apa itu Tetralogi Pulau Buru dan buku-buku Pram lainnya. Saya Cuma mendengar cerita dan dari bisik-bisik mahasiswa pergerakan yang yang tergabung di Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB), itupun masa diskriminasi terhadap karya Pram sudah surut.

Dari bisik-bisik itulah saya merasa penasaran, seperti apa sih tulisan Pram kok sampai negara melarang peredaran karya dari Pramoedya Ananta Toer. Kemudian saya mulai membaca buku Pram, Ada Bumi Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, Midah Si Manis Bergigi Emas, Cerita Dari Blora, Perburuan, Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Cerita Calon  Arang, Panggil  Aku Kartini Saja, dan beberapa buku lainnya saja baca. Saya orangnya memang banyak lupanya jika membaca, namun dari pengalaman membaca buku Pram, saya bingung merumuskan di sisi mana buku Pram itu dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. kebingungan ini saya pendam sendiri sambil terus saya renungi.

Sampai pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan seorang teman mengatakan kepada saya bahwa “Yang menuduh dan tahu ajaran komunis itu, mungkin saja seorang komunis itu sendiri. Atau yang merekayasa tentang ajaran komunis di bukunya Pram,” terangnya. Saya sering mengatakan, apa institusi atau lembaga negara yang mengatakan buku Pram berisi ajaran komunis memangnya sudah pernah membacanya, atau setidaknya mengkonfirmasi tuduhannya tersebut kepada Pram sendiri?

Di dalam pembelaannya, Pram pernah mengatakan sebagaimana yang saya kutip dari tulisan Tofik di halaman 133, Pram menegaskan: “Apa mereka tahu komunisme? Ini sama halnya ketika Kejaksaan Agung mengirimkan tiga jaksa kepada saya, pada 1988. Mereka menuduh saya menyebarkan Marxxisme dan Leninisme. Saya bilang, kalau pemerintah menuduh, silakan buka pengadilan, tapi saya menuntut didampingi pengacara dari negara netral yang tahu betul tentang Marxisme dan Leninisme, Komunisme. Tanpa pendamping, nanti kedodoran. Saya sendiri tidak paham, hakimnya tidak tahu, jaksanya tidak mengerti. Dagelan. Mereka setuju, tapi sampai sekarang tidak dijalankan.”

Lebih lanjut Pram juga membela diri, “Saya tidak pernah pelajari Marx,  jadi saya tidak kenal betul Marx. Saya, dalam pandangan saya, hanya berpihak pada yang adil, benar, dan berperikemanusiaan.” Dan masih banyak lagi argumen yang dibangun oleh Pram, bahwa ia sama sekali tidak paham apa itu Marxisme, Leninisme, Komunisme dalam tataran politik sebagaimana yang dituduhkan oleh rezim Orde Baru.

Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari beberapa pengakuan Pram tentang dirinya dan ajaran komunisme yang selalu dilekatkan pada sosok Pramoedya Ananta Toer. Saya tentu berterima kasih pada Tofik Pram, walau hanya bertemu di untaian tulisannya, sedikit banyak saya mengetahui gambaran dari seorang Pram. Saya juga sangat menyukai dan setuju dengan slogan yang ditulis oleh Tofik, entah itu untuk menggambarkan isi bukunya atau bahkan untuk menggambarkan Pram dalam tulisannya, “Untuk Manusia, Untuk Kebebasan, Untuk Keberanian, Untuk Cinta, Untuk Indonesia.” Sungguh luar biasa.

Menurut saya, Tofik Pram ini orangnya sangat telaten sekali, buku yang ditulisnya yang berjudul The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer berisi apapun yang ditulis Pram baik itu kutipan yang ada dibuku-buku maupun esai-esainya. Dengan teliti Tofik mengumpulkan apapun yang berhubungan dengan Pram kemudian mendokumentasikannya dalam sebuah buku. Sebuah kerja yang patut mendapatkan apresiasi dari para pramis maupun para pembaca buku-buku Pram seperti saya. Terima kasih.


Saturday, August 18, 2018

Peringati Kemerdekaan RI yang Ke 73, ISBAT bersama Camat Bangilan Membagikan 73 Paket Sembako

Doc. ISBAT
Menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 73, Komunitas Informasi Seputar Bangilan Tuban (ISBAT) kemarin (16-17 Agustus 2018) menggelar kegiatan ketuk pintu bagi sembako kepada sejumlah 73 orang dhuafa'  yang ada di wilayah kecamatan Bangilan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Bangsa Indonesia Tercinta. 

Selain membagikan paket sembako, ISBAT juga menyalurkan bantuan yang diberikan oleh Baznas Tuban. Turut serta dalam kegiatan ini Ibu Iin Fatimah, Kasi Kesra Kecamatan Bangilan, dan juga bapak camat Bangilan, Bapak Deny Susilo Hartono. Beliau berdua ikut serta memeriahkan dan mensuport kegiatan yang dilaksanakan oleh teman-teman ISBAT. Pak Camat yang masih muda ini turun langsung ke lapangan menyapa masyarakat, bersalaman, dan turut serta berpanas ria dengan rombongan ISBAT keliling ke desa-desa.

"Mari kita selalu fastabiqul khoirot, lanjutkan perjuangan!" Kata Pak Deny, memberikan suntikan semangat kepada teman-teman ISBAT.

Pak Camat Bangilan memang sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan ketuk pintu bagi sembako yang dilaksanakan oleh ISBAT, sehingga beliau bisa  terjun langsung ke pelosok-pelosok desa melihat dan menyapa masyarakat secara langsung. 

"Paket sembako yang dibagikan ISBAT biasanya lebih dari 73 paket, namun karena menyamakan dengan momentum kemerdekaan RI yang ke 73, maka ISBAT sengaja membagikan sejumlah 73 paket sembako kepada dhuafa.'" Tutur salah seorang anggota ISBAT yang ikut serta dalam kegiatan ketuk pintu yang dilaksanakan oleh team ISBAT.


Selain pembagian paket sembako dan penyaluran dana Baznas, kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan RI yang ke 73, ISBAT juga menggelar bazar pada malam harinya di lapangan gelora 17 Agustus Bangilan. Walau di siang harinya capek keliling desa membagikan sembako, pada malam harinya teman-teman ISBAT penuh semangat mensukseskan kegiatan bazar. Kegiatan bazar ISBAT ini juga mendapatkan support yang luar biasa dari masyarakat.

"Selain kerja keras dari anggota ISBAT, dalam pelaksanaan bazar kita disupport oleh banyak pihak,  seperti Wings Food, toko Lukito, juga temen-temen ISBAT yang ikut meramaikan bazar ISBAT.  Sebagaimana tema kemerdekaan tahun ini "Kerja kita Prestasi Bangsa." Kata Pak Maskin, koordinator sekaligus motor penggerak dari kegiatan  ISBAT.  


Friday, August 17, 2018

Merah Putihku

*Merah putihku*
Oleh: Joyo Juwoto

Merah putihku tegar berkibar di seluruh persada Nusantara

Merah putihku gagah berdiri
Mengayomi seluruh sudut bumi Pertiwi 

Merah putihku

Merahmu menyalakan semangat kebangsaan
Putihmu menyucikan cita-cita perjuangan

Merah putihku

Tetaplah tegar berkibar
Kabarkan pada dunia
Bahwa tak ada kata gentar
Untuk melawan segala  kesewenangan

Merah putihku

Teruslah tegak berdiri tinggi
Hadapi segala bentuk penjajahan kemanusiaan

Merah mengalir dalam darahku
Putih menopang tulang-belulangku

Merah putihku
Engkaulah cahaya
Penerang persada Nusantara

Bangilan, 17-08-2018

Thursday, August 16, 2018

Aku Pada-Mu

*Aku Pada-Mu*
Oleh : Joyo Juwoto

Pada keheningan malam aku mengadu
Pada denting sunyi aku berkontemplasi

Bercengkrama dengan gulita
Bercumbu dengan sepi

Bersama Semesta raya melantunkan kidung cinta
bertasbih
Memuji dan mengagungkan-Mu

Gunung-gunung bersenandung
Langit dan bukit bertahmid

Gelombang dan laut bersujud
Batu-batu dan partikel debu menggebu
mengeja asma-asma-Mu

Tanpa alpa, tanpa jeda
Tanpa lelah, penuh gairah
Hanya pada-Mu
Segala perhatian dan rasa tertuju
Pada-Mu, aku Pada-Mu

Ilaahii Anta Maqsuudii
Wa ridhaa-Ka Madluubii

Bangilan bumi cinta, 16-08-18

Percik Cahaya Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan

*Percik Cahaya Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan*
Oleh : Joyo Juwoto

Siang tadi saat menjemput anak saya pulang dari sekolah, saya bertemu dengan bapak K. Mukhlishin, S.Pd.I. Beliau adalah kepala madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan, di mana anak saya bersekolah. Setelah berjabat tangan, dan berbasa-basi, Pak yai Mukhlishin mengundang saya secara lisan untuk menghadiri acara milad Madrasah Ibtidaiyyah Salafiyah Bangilan yang akan dilaksanakan malam nanti, bakda sholat Isya'.

Saya tentu merasa senang dan terhormat mendapatkan undangan dari pak yai Mukhlishin. Selain sebagai media komunikasi dan informasi antara pihak madrasah dengan wali santri, yang notabene adalah saya sendiri, saya juga ingin ikut menelusuri dan meneladani uswah hasanah, serta limpahan barakah dari para pejuang madrasah.

Walau siang harinya harus bergelut dengan kegiatan gerak jalan, tapi saya sudah meniatkan diri untuk menghadiri undangan yai Mukhlishin yang tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya. Bisa-bisa su'ul adab jika saya tidak mengiyakan undangan beliau. Dan yang terpenting menolak undangan makan bersama bagi saya  adalah sebuah  kerugian yang  nyata. Bismillah, insyaallah berangkat.

Singkat waktu, bakda Isya' tiba, saya pun dengan semangat berangkat mencari berkat, menghadiri malam ulang tahun madrasah salafiyah ibtidaiyyah Bangilan, yang berada di lokasi masjid besar Alfalah Bangilan.

Madrasah salafiyah ibtidaiyyah Bangilan memperingati HUT yang cukup matang, yaitu di angka 72, berarti madrasah ini berdiri tahun 1946 terpaut satu tahun dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Sungguh suatu usia yang cukup matang dan tentunya banyak hal dan sejarah yang telah ditorehkan oleh madrasah generasi awal di kecamatan Bangilan.

Tema yang saya baca di banner yang dijadikan background cukup cetar membahana, sebuah tema reflektif yang menggambarkan dari visi misi madrasah yang berskala nasional dan berwawasan Nusantara yang luar biasa. Berikut saya tuliskan tema yang diusung dalam banner yang merah putih gagah perkasa:

*"Refleksi Kebangsaan*
*73 Tahun Indonesiaku*
*Kerja Kita Prestasi Bangsa*

*72 Tahun MI Salafiyah Bangilan*
*Mendidik Dengan Hati Nurani*
*Menuju Madrasah yang Harmoni*
*Hebat, bermartabat, dan Berakhlakul Karimah"*


Acara yang digelar di halaman madrasah walau sederhana namun cukup khidmat, selain berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi antara madrasah dengan wali santri, dengan tokoh masyarakat, dan hubungan antara madrasah dengan lapisan masyarakat Bangilan, kegiatan ini juga sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat dan karunia Allah swt.

Mengirimkan doa, membaca tahlil, bertawassul dengan membaca dibaiyyah, serta mengingat kebaikan dan jasa para pejuang madrasah adalah salah satu cara menghargai para pendahulu, karena tanpa perjuangan mereka tentu kita bukanlah apa-apa. Oleh karena itu Bung Karno selalu bilang, "Jas Merah" Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pendahulunya.

Setelah rangkaian acara doa dan refleksi selesai, maka acara pun berlanjut dengan membuka tumpeng dan makan bersama. Tumpeng sendiri adalah tumuju marang Pengeran, di mana kita semua berdoa semoga apa yang menjadi harapan baik dari seluruh keluarga besar MI Salafiyah Bangilan terkabulkan. Aamiin allahumma qabul ya Allah ya Rabbal 'alamin.

Saya pun dengan lirih dalam hati yang paling suci, dalam jiwa yang paling bercahaya ikut berdoa, ikut menitipkan asa dan harapan, semoga MI Salafiyah Bangilan menjadi bagian dari percik cahaya Ketuhanan yang menyinari persada bumi Nusantara. Bibarkatil Hadi Muhammad ya Allah, semoga terijabah. Aamiin ya rabbal 'alamin.

*Bangilan, 15 Agustus 2018*

Thursday, August 9, 2018

Memoar Dalang Kentrung Terakhir

Memoar Dalang Kentrung Terakhir
Oleh : Joyo Juwoto

Dalang Kentrung  Terakhir adalah judul buku saya yang terbit tahun 2017 silam, buku ini berisi beberapa kumpulan cerpen yang kemudian saya terbitkan menjadi sebuah buku. Seperti buku-buku saya sebelumnya, Dalang Kentrung Terakhir juga saya terbitkan indie pada penerbit Pataba (Pramoedya Ananta Toer  Anak Semua Bangsa) yang dikelola Mbah Soesilo Toer, adik kandung Pramoedya Ananta Toer. Buku ini juga dipengantari oleh Soesilo Toer, seorang doktor lulusan Rusia.

Saya cukup gembira berhasil menulis beberapa cerpen yang kemudian saya terbitkan, karena bagi saya menulis cerpen cukup sulit, walau menulis yang lainnya juga tidak kalah sulitnya. Cerpen yang berhasil saya tulis hingga selesai di akhir tahun 2016 berjudul Jalan Pulang, yang juga saya masukkan dalam kumpulan cerpen saya Dalang Kentrung Terakhir. Setelah berhasil menyelesaikan cerpen Jalan Pulang, saya mulai menulis beberapa cerpen yang akhirnya cukup saya terbitkan menjadi sebuah buku.

Buku Dalang Kentrung Terakhir nasibnya cukup bagus, saya tidak perlu menawarkan dan menjualnya kepada khalayak, karena buku ini dijualkan oleh Pataba dan dipesan oleh Perpusda sebanyak 16 eksemplar. Bagi saya ini adalah capaian yang luar biasa, dibandingkan dengan dua buku saya sebelumnya, yang harus saya titipkan di toko santri dan menunggu habis. Tapi sebenarnya saya tidak begitu ambil pusing dengan buku saya, bisa menulis dan menerbitkannya menjadi buku sudah cukup membahagiakan, apalagi tulisan itu ada yang ikut membacanya, tentu saya sangat bahagia.

Buku Dalang Kentrung Terakhir yang dibeli Perpusda kemudian dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan yang ada di wilayah Kecamatan, saya pernah difotokan oleh salah seorang teman bahwa buku saya ada di perpustakaan yang ada di wilayah kecamatannya. Tentu berita ini menggembirakan bagi saya dan menjadi motivasi untuk terus berkarya melalui tulisan.

Sebelum menulis genre cerpen, ada dua buku saya yang terlebih dahulu terbit, yaitu Jejak Sang Rasul dan Secercah Cahaya Hikmah. Saya sangat senang berhasil menerbitkan buku walau masih secara indie, dan tentu saya punya keinginan, suatu saat mampu dan berhasil menerbitkan buku di penerbit mayor. Atau setidaknya saya harus mencoba mengirimkan naskah untuk buku di penerbit mayor, masalah berhasil diterbitkan atau tidak itu urusan belakangan.

Soal menulis saya memang masih selalu berkutat pada kesulitan-kesulitan yang laten, walau sudah sering kali mendengar dan membaca motivasi bahwa menulis itu mudah. Tapi nyatanya dan prakteknya saya masih terbelenggu dengan kesulitan dalam hal tulis-menulis. Walau demikian saya berusaha untuk tidak patah arang dan terus menerus belajar dan belajar.

       Saya merencanakan, minimal bisa menerbitkan satu buku dalam satu tahun, target yang memang sangat rendah, tapi dapat memenuhi target itu saya sudah sangat bahagia. Tahun ini (2018) calon buku saya sudah persiapan terbit, nomor ISBN-nya sudah keluar, tinggal menunggu proses selanjutnya. 

Monday, July 30, 2018

Cerita Anak Kucing Yang Malang


Cerita Anak Kucing Yang Malang
Oleh : Joyo Juwoto


Anak kucing malang itu mengeja resah
Diantara deru debu dan panas menyengat
Warna hitam bulunya tampak lusuh
Dan ekor panjangnya menyentuh langit perasaan

Anak kucing yang entah itu
Mengeong-ngeong parau
Menggedor pintu hatimu
Membuka ruang untuk sekedar berteduh

Mencicipi sisa duri dan sekedar remahan
Dari makanan yang tak termakan
menghindar dari haus dan lapar
yang meneror perut dan kerongkongan

Anak kucing yang malang itu
adalah anak-anak waktu
yang menunggu uluran hati
dan tangan-tanganmu


 Bangilan, 30 Juli 2018






Sunday, July 29, 2018

WhatsApp dan Peluru Dakwah Kontemporer


WhatsApp dan Peluru Dakwah Kontemporer
Oleh : Joyo Juwoto

“Satu Peluru Hanya Bisa Menembus Satu Kepala, Tapi Satu Tulisan Bisa Menembus Ribuan Bahkan Jutaan Kepala” (Sayyid Qutub)

Perkataan Sayyid Qutub di atas sangat relevan dengan era sosmed (sosial media) jaman sekarang. Betapa hari ini belantara media sosial dipenuhi dengan arus informasi dan komunikasi yang tak terbatas. Setiap detik, menit, dan jam, disegala waktu tanpa jeda. Desingan peluru dan bombardir informasi dan komunikasi menerjang smarphone yang ada di tangan kita, menghabiskan paketan quota internet dan ruang penyimpanan dan memori smartphone, baik itu berupa pesan yang berbentuk tulisan, gambar, maupun yang berbentuk video.
Berbagai macam konten kiriman di smartphone yang kita pegang tentu sedikit banyak akan kita lihat dan kita baca, jika pesan-pesan itu berisi hal yang bermanfaat tentu akan memberikan dampak kebaikan bagi kita, namun jika pesan-pesan berantai yang masuk di smartphone kita hanya sekedar guyonan atau berisi hal-hal yang kurang bermanfaat tentu juga akan mempengaruhi kita juga. Oleh karena itu pintar-pintarlah memilih group jejaring sosial yang akan kita ikuti, baik itu group WhatsApp, Line, BBM, Wechat, Kakao dan lain sebagainya.
Jejaring media sosial ini pada dasarnya adalah media untuk menjalin komunikasi dengan sekelompok orang atau dengan anggota group, baik itu group profesi tertentu, group famili, group satu hobi, dan group-group lain yang dibuat untuk tujuan tertentu. Namun tidak jarang pesan-pesan di group kadang-kadang keluar dari tema dan tidak terkendali, baik itu berupa berita hoax, ujaran kebencian, kebohongan, gambar-gambar dan video yang tidak pantas dan berbagai macam konten yang jauh dari nilai kebaikan dan tidak mendidik, ini yang perlu kita waspadai.
Sejatinya jika kita mau menyadari dan memanfaatkan jejaring media sosial semisal WhatsApp untuk menangguk amal kebaikan yang berbuah pahala tentu akan sangat berguna sekali. Karena diakui atau tidak hari ini benda yang paling banyak dipegang dan dilihat di setiap waktu adalah smartphone. Bangun tidur pertama kali yang dipegang HP atau smartphone, kumpul-kumpul dengan teman HP tidak akan lepas dari tangan, di rumah, di tempat kerja, di pasar, bahkan di tempat ibadah HP selalu eksis dan tidak pernah ketinggalan.
Jika melihat fenomena perilaku masyarakat yang sedemikian, dan melihat revolusi informasi dan komunikasi di jejaring sosial yang sangat marak, maka ini adalah kesempatan bagi kita untuk menjadikan WhatsApp dan media sosial lainnya sebagai salah satu media alternatif dan jalan dakwah di era sekarang.
Dakwah memiliki banyak jalan, sebagaimana pepatah “Seribu Jalan Menuju Roma” Begitu pula dakwah memiliki seribu jalan yang lika-likunya bisa ditempuh oleh para da’i. Da’i yang saya maksud di sini bukan sekedar para ustadz dan pembicara di mimbar-mimbar agama, di panggung-panggung pengajian, di majelis-majelis ilmu, namun da’i di sini adalah kita semua, seluruh umat Islam yang mempunyai kewajiban untuk berdakwah sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan Al-Banna “Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in” (Kita adalah da’i sebelum segala sesuatu).
Dakwah dengan tulisan sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Qutub di atas sangat cocok dengan model dakwah WhatsApp dan media sosial lainnya. Satu tulisan yang kita lepaskan bisa menjadi peluru dakwah kontemporer yang menembus ribuan bahkan jutaan kepala para pembaca di majelis WhatsApp, oleh karena itu mari menulis dan menyebarkan tulisan yang baik agar tulisan tersebut membawa manfaat dan menjadi media dakwah di media sosial.
Selain menulis sendiri kita juga bisa ikut menyebarkan konten-konten yang bermanfaat yang ditulis dan dibuat oleh orang lain. Hanya saja kita harus saring sebelum sharing berita-berita dan tulisan di media sosial, kita harus mampu menahan jari-jari kita untuk tidak memencet tombol forward tanpa membaca isi dari berita dan mengecek kebenaran suatu berita, atau jika kita memang belum tahu lebih baik kita diam saja tanpa perlu ikut menyebarkan sesuatu yang tidak jelas. Diam dan menahan diri itu lebih baik daripada kita asal pencet, asal share.
Oleh karena itu mari membiasakan diri menulis dan mengeshare sesuatu yang baik dan bermanfaat di group-group media sosial yang kita ikuti, atau setidaknya jangan ikut-ikutan dan latah mengeshare berita-berita yang tidak jelas jluntrungnya.

*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Buku yang sudah ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) Cerita Dari Desa (proses) (2018) dan telah menulis beberapa buku antologi. Penulis bisa dihubungi via whatsApp di nomor 085258611993 atau kunjungi blognya di www.joyojuwoto.com.

Thursday, July 19, 2018

Yang Terkenang Dari Langgar Kampung

Berbahagialah jika Anda masih berada di kampung, atau di sebuah kota atau tempat mana saja yang masih memegang teguh dan mempertahankan adat tradisi Islam Nusantara. Adat-adat ini biasanya menjadi pengobat kerinduan bagi orang-orang yang hidup di perantauan, atau jauh dari kampung halamannya.

Salah satu dari tradisi Islam Nusantara  adalah puji-pujian yang dikumandangkan untuk menunggu imam langgar datang dan memimpin shalat berjamaah. Tradisi ini tentu tidak ditemui di negara-negara Timur Tengah, karena memang puji-pujian ini adalah bagian dari tradisi Islam Nusantara.

Tidak semua tempat ibadah baik itu masjid ataupun langgar yang ada di Indonesia yang melakukan tradisi puji-pujian ini,  karena biasanya masjid atau langgar yang dikelola oleh Islam moderat tidak ada puji-pujian. Islam yang berbasis ormas Muhammadiyah juga tidak ada pujiannya, begitu pula Islam yang berbasis Salafi, dan Islam perkotaan kebanyakan tidak pujian sebelum shalat didirikan.

Masalah puji-pujian kadang menjadi perdebatan diantaranya ormas-ormas agama Islam, namun di sini saya tidak sedang membahas perbedaan pendapat diantara banyak kubu dan ormas. Saya hanya ingin menuliskan kerinduan masa kecil saya dan mungkin juga kerinduan  Anda dengan dunia langgar yang mengasyikkan.

Biar para pakar dan ahli yang membahas apakah puji-pujian sebelum shalat itu bid'ah atau tidak? Apakah hal itu pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw,  para sahabat, dan para ulama shalafus sholeh? Apakah puji-pujian itu ada dalilnya atau tidak? Jika dilakukan berpahala atau berdosa? Dan masih banyak pertanyaan yang mungkin mengganjal. Karena saya bukan pakarnya, maka saya hanya ingin berbagi kerinduan dengan orang-orang yang sehati dengan kerinduan hati saya ini.

Bagi saya, puji-pujian yang dilantunkan di langgar - langgar ataupun masjid sebelum shalat adalah sesuatu yang terkenang indah di palung kenangan jiwa, suara dari orang-orang yang melantunkan pujian dengan sepenuh hati terasa menyentuh perasaan.

Puji-pujian itu menjadi daya cinta dan rindu terhadap altar suci ketuhanan dan pemupuk terhadap kerinduan kepada Nabi Muhammad saw. Itu yang saya pahami dari tradisi pujian yang menjadi produk dari Islam Nusantara. Saya tidak melihat gelagat adanya punya kepentingan membuat sesuatu yang baru dalam beribadah, apalagi upaya - upaya menandingi ajaran baku yang telah digariskan oleh kitabullah wa sunnatarrasul.

Berikut saya tuliskan pujian yang tadi baru saya dengar di langgar yang ada di kampung saya menjelang shalat Isya'. Sebenarnya saya ingin menulis dan mengumpulkan banyak puji-pujian tersebut. Kalau perlu didokumentasikan dalam bentuk audio agar tidak hilang dan terlupakan oleh sejarah. Agar generasi mendatang tahu salah satu produk kearifan dari sebuah peradaban Islam Nusantara, sebuah peradaban langgar.

Allahumma shalli ala Muhammad,
Allahumma shalli alaihi wa sallim 2x

Nabi Muhammad iku nabi kang mulya
Moco sholawat iku diakeh-akehono
Mumpung lawang tobat lawange iseh mengo
Yen wis ditutup bakal susah awak ira.

Jika kebetulan para pembaca memiliki dokumentasi puji-pujian ini, saya sangat senang dan bergembira. terlebih sekiranya pembaca juga mengirimkan filenya kepada saya, baik itu berupa dokumentasi tulisan maupun audio. File bisa diemailkan di joyojuwoto@gmail.com atau lewat Whatshap di 085258611993. Terima kasih.

Friday, July 13, 2018

Inilah Tiga Langkah Memperpanjang SIM

Hampir setiap dari kita yang taat dan sadar hukum, dan bagian dari masyarakat yang memiliki kendaraan  bermotor tentu memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), baik SIM A, B, lebih-lebih SIM C.

Karena masa berlaku SIM yang cukup lama, yaitu lima tahunan kadang-kadang kita lupa untuk memperpanjang masa aktif dari sim kita. Ini tentu akan menjadi permasalahan bagi anda sendiri. Oleh karena itu, jika mendekati masa habis berlakunya SIM, saya sarankan  agar mengecek atau melingkari dan memberi tanda pada kalender, agar jangan sampai sim kita kadaluwarsa .

Jika SIM kita mati atau kadaluwarsa walaupun itu hanya sehari, menurut aturan baru dari pihak kepolisian, maka anda harus mengulangi tes untuk mendapatkan SIM. Dan itu tentu lebih merepotkan daripada sekedar memperpanjang masa berlakunya SIM kita.

Syarat untuk memperpanjang masa berlakunya sim cukup mudah. Berikut beberapa hal yang harus kita siapkan untuk mendapatkan perpanjangan masa berlakunya sim kita:
1. Cek kesehatan agar mendapatkan surat sehat dari pihak puskesmas ataupun pihak rumah sakit. 
2. Foto copy KTP dan map warna kuning 
3. Mengisi selembar formulir identitas

Setelah tiga langkah tersebut kita lalui, kemudian kita ambil nomor antrian yang telah disediakan oleh petugas, biasanya kita dibantu oleh petugas yang berjaga.

Langkah selanjutnya kita tinggal menunggu dipanggil oleh pihak kasir untuk melakukan pembayaran. Dari pihak kasir inilah kita akan mendapatkan selembar kertas tanda bukti pembayaran. 

Setelah mendapat tanda bukti pembayaran perpanjangan sim yang kita ajukan, kita tinggal menunggu sesi sidik jari dan pemotretan. Proses ini waktunya cukup singkat, tinggal sidik sepuluh jari di perangkat sidik jari, kemudian  herek-herek tanda tangan, dan cekrek selesai sudah proses pengajuan perpanjangan sim. Terakhir sim tinggal kita ambil di loket pengambilan sim. Singkat mudah dan simple. 

Terima kasih kepada pihak kepolisian yang telah memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Semoga ke depannya pelayanan publik yang sedemikian lebih mudah murah dan berkualitas. 

Joyo Juwoto

Tuesday, July 10, 2018

Tentang Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono


Tentang Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono
Oleh : Joyo Juwoto

Membaca puisi adalah salah satu cara saya meneguk kejernihan mata air nurani, menghirup kesegaran udara batiniyyah di alam kekosongan. Membaca puisi adalah  tentang bagaimana kita sibuk menengok ke dalam diri yang paling murni dari pada menengok ke kanan dan ke kiri. Membaca puisi adalah membaca ayat-ayat Tuhan yang tersirat dalam kelindan dan jalinan kata yang kadang sulit dimengerti, sebagaimana agama yang memiliki ruang iman dan keyakinan, begitu pula bagi saya membaca sebuah puisi kadang walau musykil, namun selalu ada ruang untuk percaya pada sebuah kekuatan dan daya kata.

Di sini tentu saya tidak ingin berdebat dan didebat tentang menyamakan atau mensejajarkan puisi dengan agama. Bukan, bukan itu yang saya maksudkan. Agama tetaplah agama yang saya junjung tinggi kesakralan dan kesuciannya, sedangkan puisi bisa menjadi bagian daripada penjabaran dan pengejawentahan dari nilai-nilai agama itu sendiri. Mungkin ini hampir mirip dengan tema yang lagi viral, Islam Nusantara.

Namun,saya tidak punya kapasitas maupun otoritas berbicara tentang Islam Nusantara, maka dari itu saya hanya ingin menulis dan membahas tentang puisi cinta Sapardi Djoko Damono yang pernah mampir di lembaran kenangan saya masa silam.

Membaca puisi cinta yang ditulis penyair legendaris Sapardi Djoko Damono cukup misterius atau entah apa saya sendiri susah mengungkapkan bahasa rasa ke dalam bahasa tulisan, puluhan tahun yang lalu, saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya membaca puisi Sapardi tentang cinta yang berjudul “Aku ingin.” Mungkin pembaca juga pernah membaca dan merasakan sebuah “rasa” ketika membaca puisi itu. Silakan dikenang kembali gerak rasa dan amukan kenangan tentang puisi cinta dari Sapardi.

Sapardi memang piawai dalam meramu kata hingga memiliki ruh dan daya. Ya, puisi-puisi sapardi sangat melegenda, seperti Hujan bulan Juni misalnya. Puisi Hujan Bulan Juni ini bahkan telah ditransformasikan menjadi sebuah novel, lalu difilmkan juga. Sungguh luar biasa.

Selain pintar bermain kata, dan mencipta puisi yang romantis dan menyentuh perasaan, menurut penilaian saya, Sapardi juga pandai melambungkan angan-angan dan perasaan berbunga-bunga para pembaca puisi-puisinya. Silakan simak puisi Sapardi yang sempat dikira puisinya Kahlil Gibran ini.
“Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat
diucapkan
kayu kepada api yang
menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu
dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan
kepada hujan yang
menjadikannya tiada”

Duh, serasa meleleh hati ini jika membaca puisi Sapardi ini, ada angan-angan yang mengangkasa dan perasaan yang melambung saat membaca bait-bait puisi Sapardi. Terasa cinta yang sakral dan suci dimiliki oleh seseorang yang mencintai orang lain. Cinta tanpa pamrih, cinta suci, cinta tanpa tanda.  Saya pun merasakan hal yang demikian, saudara-saudara.

Namun benarkah yang ditulis oleh Sapardi tentang cinta yang sedemikian hebohnya? Ah, ternyata tidak, alih-alih tentang cinta dan luapan kebahagiaan, justru puisi ini ditulis sebagai luapan patah hati seseorang yang ditinggalkan kekasih hatinya, duh...ini yang mungkin musibah diubah menjadi berkah. Saya mendengar langsung hal ini dikatakan oleh Sapardi di sebuah situs youtobe, sayang saya lupa apa judulnya.

Patah hati bukan untuk ditangisi, kegagalan  cinta bukan untuk diratapai, namun segala kegagalan-kegagalan itu diubah menjadi sebuah kata-kata yang luar biasa. Patah hati bagi para penyair adalah amunisi untuk terus berkarya, patah hati adalah bahan bakarnya para barisan penjomblo untuk menuangkan perasaan dan ide-idenya ke dalam sebuah tulisan. Kadang-kadang saya sempat berfikir, apakah para barisan patah hati yang susah move on itu memang sengaja memelihara kedukaannya demi sebuah asa? Ah, semoga tidak ada lagi para peternak patah hati yang tidak bahagia.


Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis


Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis
Oleh : Joyo Juwoto

Aktivitas menulis adalah sebuah keahlian yang harus selalu diasah setiap waktu, tidak jarang setelah kita vakum beberapa saat dari aktivitas menggerakkan jari di tombol keyboard, atau sekedar membuat coretan di selembar kertas terasa sangat berat. Ada tembok tebal yang menjadi penghalang untuk menuangkan ide dari pikiran melalui sebuah tulisan. Pokoknya bingung, mau memulai menulis dari mana, dan apa yang akan kita tulis.

Saya sendiri belum berwawancara dengan para penulis handal dan profesional, apakah kondisi yang sedemikian ini pernah mereka rasakan atau tidak. Jadi apa yang saya tuliskan di paragraf pertama mungkin hanya terjadi pada penulis pemula yang masih mencari-cari bentuk sebuah tulisan. Saya yang memang masih  amatiran dalam dunia tulis-menulis sangat merasakan kemampatan ide dalam membuat sebuah tulisan. Walau itu sebuah tulisan yang sangat sederhana sekalipun.

Jika  seseorang sudah membiasakan diri dalam menulis, dan berkomitmen untuk selalu menulis setiap hari, menurut apa yang saya amati di group-group literasi, seakan ada saja yang mereka tulis, dari hal yang sederhana hingga ke hal-hal yang rumit bin njlimet, ilmiah, dan bahkan bernas. Hal ini yang mungkin masih menjadi masalah dan kendala bagi para rombongan penulis pemula dan amatiran seperti saya.

Di bulan-bulan lalu hampir setiap dua hari sekali ada saja tema yang bisa saya tulis, dalam sebulan paling tidak ada sekitar 15-19 buah tulisan yang saya hasilkan. Namun bulan kemarin (Juni) saya baru bisa memproduksi 5 judul tulisan, sungguh kemunduran yang sangat ekstrim. Untuk bangkit dari keterpurukan tidak menulis ternyata juga tidak mudah, perlu semangat dan asupan gisi literasi untuk mencairkan kebekuan otak. Di bulan Juli hingga saat ini baru tulisan ini yang berusaha saya buat. Dan saya bertekad tulisan ini harus sampai di titik paragraf terakhir.

Menilik dari kebekuan saya dalam menulis ada beberapa sebab yang bisa saya petakan, diantaranya adalah:

Pertama, kurangnya tekad untuk selalu menulis setiap hari. Ya, benar tekad ini sangat menentukan seseorang untuk menulis, dan saya kira bukan hanya dalam hal menulis saja, semua hal membutuhkan kata tekad. Jika tidak ada kata tekad, maka selamanya kita tidak akan melakukan apapun kecuali hanya kesia-siaan belaka.

Kedua, Kurangnya istiqamah dalam menulis. Jika seseorang sudah mengikrarkan diri menjadi penulis, atau setidaknya punya keinginan menulis, maka sifat istiqamah ini sangat penting sekali. Usahakan setiap hari harus menulis, sesibuk apapun jangan sampai berdiam diri tanpa menulis sedikitpun, sebuah tema tulisan tidak harus jadi dalam satu waktu dan tanpa berpindah tempat duduk, kita bisa menuliskannya secara bertahap, yang penting istiqamah setiap hari.

Ketiga, Kurang asupan gizi dalam membaca. Aktivitas membaca memang tidak ada kaitannya dengan aktivitas menulis secara langsung,tetapi diakui atau tidak tanpa membaca seseorang akan kebingungan mau menulis. Membaca di sini tidak hanya sekedar membaca buku, namun membaca dalam arti lebih luas lagi yaitu melihat lingkungan dan sekeliling kita. Jika seseorang mau menulis tentu ia harus pintar-pintar membaca.

Keempat, malas beli buku. Mungkin ini bisa dikatakan sesuatu yang mengada-ada, atau hanya sekedar mitos atau pun iklannya bakul buku dan penulis, tapi menurut pengalaman saya pribadi, saya punya tekad menulis karena saya banyak membeli buku. Dengan membeli buku akhirnya terbit dalam hati saya keinginan untuk menulis, walau hasil tulisan saya belum sebanyak buku yang saya beli, tetapi dari kecintaan beli buku ini akhirnya memantik kecintaan saya dalam menulis. Mendapatkan sebuah buku memang tidak hanya dengan cara membeli, bisa jadi dari hadiah teman, pinjam dari teman, pinjam dari perpustakaan dan beragam cara lainnya, namun yakinlah dengan banyak membeli buku maka keinginan menulis itu akan muncul, setidaknya begitulah yang selama ini saya yakini.

Demikian beberapa hal yang saya rasakan ketika menghadapi bencana kebuntuan menulis itu melanda. Walau secara teori saya mampu mendeteksi faktor dan sebab kebuntuan saya dalam menulis, tetapi lagi-lagi saya tetap kesulitan dan gagal jika mengalami masa kebuntuan. Karena pada dasarnya jika ingin menulis jangan banyak berteori dan bermotivasi, cukup lakukan tiga hal saja, menulis, menulis, dan terus menulis. Jangan pernah berhenti menggerakkan jari, walau nanti yang muncul kata yang tak terbaca sekalipun. Wjdkvbkdslkmlkagds,rbhdvisjkan,,,,jkbdjhd.vdsj.ksafb. Salam Literasi.


Monday, June 18, 2018

Perburuan Yang mencekam

Perburuan Yang mencekam
Oleh : JoyoJuwoto

Saya benar-benar tercekam, khawatir,  dan ikut merasakan kecemasan demi kecemasan ketika membaca lembar demi lembar novel “Perburuan” yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya itu saja, kondisi kemiskinan rakyat Blora dan sekitarnya akibat ulah Nippon menerbitkan rasa pedih yang tak terkira. Begini ternyata nasib bangsa yang kalah dan terjajah, menderita tiada terkira.

Setting cerita dalam novel ini bersebelahan langsung dengan tempat tinggal saya. Banyak tempat yang disebutkan Pram masih ada sampai kini, dan saya pun melihatnya dengan mata kepala secara langsung. Seperti Karangjati, Kaliwangan, Kali Lusi, Jembatan Kali Lusi, Stasiun kereta api, waduk Tempuran, Plantungan, gua Sampur dan beberapa nama tempat lainnya.

Ada satu tempat yang disebutkan oleh Pram sebagai tempat persembunyian tokoh utama perburuan dalam novel ini, “Kere” sebutan Raden Hardo anak mantan wedana Karangjati, tempat itu adalah gua Sampur sebagaimana saya sebut di atas, saya belum pernah mendengar dan tahu gua ini, dan saya ingin mengunjunginya. Entah gua ini benar-benar ada atau hanya sekedar kisah buatan Pram. Saya tidak tahu.

Blora yang memang berada di kawasan pegunungan Kendeng utara tentu banyak gua di sana, dan sangat mungkin gua-gua itu menjadi tempat persembunyian dan markas para pejuang kemerdekaan dari kejaran pasukan Nippon. Sebagaimana tokoh “Kere” yang juga bersembunyi di gua Sampur. Karena kegagalan dalam peristiwa pemberontakan melawan Nippon, para pejuang termasuk “Kere” menjadi target perburuan Nippon yang dibantu oleh para pamongpraja setempat.

Dari perburuan inilah Pram meramu berbagai ragam kisah yang heroik, romantisme, pengkhianatan, harapan, kesetiaan, kemiskinan, ambisi, dan berbagai sentimen kehidupan masyarakat. Bahkan lebih dalam lagi A. Teeuw mengatakan bahwa novel yang ditulis oleh Pram ini merupakan kisah pencerminan diri. Tokoh utamanya sesudah melancarkan pemberontakan, kemudian secara khas Jawa bertapa mengekang diri dengan ketat, dan dalam meditasinya itu sampailah ia kepada suatu wawasan yang lebih luhur; ia menemukan kaidah untuk diri sendiri dan bagi orang lain dengan mana hidup dan perbautan setiap insan harus diuji...” A. Teeuw menyimpulkan ini mungkin terinspirasi dari percakapan antara anak dan bapak, si Kere dan Penjudi di sebuah gubuk di tengah ladang jagung, “Bertapa adalah menjalani jalan yang menuju pada dirinya sendiri dengan langsung.”

Novel Perburuan yang ditulis Pram menggambarkan secara detail bagaimana keadaan masyarakat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. Walau hanya beberapa tahun saja, namun kesadisan dan kengerian teror yang ditebar makhluk cebol yang kedatangannya memang sudah diramalkan oleh Jayabaya ini betul-betul membuat rakyat Blora menderita. Sangat menderita. Penderitaan rakyat karena ulah Nippon terekam dalam jejak kalimat lisan yang ditinggalkan secara turun-temurun oleh kakek buyut kita, “Pagupon omahe dara, melu Nippon tambah sengsara” (Pagupon rumah burung dara, ikut Nippon semakin sengsara).

Dari novel perburuan ini kita tentu bisa belajar banyak tentang sifat dan watak manusia yang berbeda-beda, ada lurah Kaliwangan yang berusaha menjilat penguasa demi keselamatan dan kebahagiaan diri dan keluarganya, ada si Kere, Dipo, Kartiman, para pejuang yang harus rela dicap sebagai pemberontak oleh Nippon, hidup terlunta-lunta menjadi pengemis, dan selalu diburu maut Kenpei, ada Si Ningsing guru Darmorini (Sekolah gadis yang didirikan oleh abang R.M Tirto Adhisoejo), tunangan den Hardo yang memilih setia hanya untuk kekasih hatinya hingga ajal menjemputnya, ada penjudi bekas wedana Karangjati,  ada shodanco Karmin yang karena keadaan dianggap sebagai pengkhianat rakyat, dan berbagai watak manusia dengan segala rupa-rupanya.

Pram memang luar biasa, mampu menceritakan lika-liku peristiwa yang terjadi di kampung halamannya dengan sangat cermat dan gamblang dalam sebuah novel Perburuan. Silakan yang belum baca bukunya bisa segera berburu di took-toko buku.


Karena dari buku apapun bentuknya kita bisa belajar tentang kearifan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari buku pula kita belajar tentang kesadaran, ketekunan, bahkan keberanian. Karena lembaran buku pada hakekatnya bukan hanya sekedar susunan kertas tanpa makna, dari buku terkandung jejak rekam sejarah peradaban umat manusia dari zaman ke zaman, yang kita bisa membukanya dari tempat duduk kita. Selamat membaca buku.

Monday, June 11, 2018

ISBAT Berbagi Kebahagiaan Dari Ujung Ke Ujung Kota Bangilan

ISBAT Berbagi Kebahagiaan Dari Ujung Ke Ujung Kota Bangilan
Oleh : Joyo Juwoto

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita semua, teman-teman komunitas ISBAT (Informasi Seputar Bangilan Tuban), untuk bisa berbagi kebahagiaan dari ujung ke ujung dalam program “Ketuk Pintu Bagi Sembako” untuk kaum dhuafa yang ada di desa-desa se-kecamatan Bangilan.

Acara “Ketuk Pintu” ISBAT ini dilaksanakan hari Minggu, tanggal 10 Juni 2018. Start acara jam 09.00 WIB, berangkat dari base camp ISBAT di rumah Pak Maskin dusun Pulut desa Bangilan. Ada sebanyak 115 paket sembako yang dibagikan dari ujung dusun Ngleri desa Sidotentrem hingga ke puncak dusun Tawun desa Kumpulrejo. Kegiatan ini nantinya diakhiri dengan buka bersama di rumah sahabat ISBAT, Mas Suliswanto. Untuk yang terakhir ini, kita semua dari ISBAT mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Mas Suliswanto atas undangan buka bersama dengan menu andalan yang maknyus, sambel terongnya.


Walau kegiatan ini dilaksanakan saat puasa, dan cuacanya cukup panas, namun tidak mengurangi keguyuban dan kekompakan pengurus dan Sahabat ISBAT membagikan sembako. Dengan penuh semangat empat lima dan tetesan keringat yang membasahi badan, satu per satu paket sembako tersalurkan kepada yang berhak. Alhamdulillah, luar biasa.

Jalan berbelok dan berliku, naik turun lembah dan tanjakan, kerikil tajam dan debu-debu jalanan membuat kegiatan ini sangat seru, apalagi di desa-desa terpencil yang tidak semua jalannya beraspal, sungguh menjadi pengalaman yang luar biasa mengasyikkan bagi kami semua.

Banyak pengalaman fisik maupun ruhani yang membuat kita bergumam, Masya Allah, Subhanallah, Astagfirullah, melihat secara langsung dari dekat, sebagian saudara-saudara kita yang mungkin belum seberuntung kita, ada rasa kesyukuran-kesyukuran yang harus kita rayakan dengan lebih banyak berbagi kebahagiaan kepada mereka, walau mungkin hanya sekedar senyuman ringan.

“Progam “Ketuk Pintu” ISBAT dapat terlaksana dengan baik atas dukungan warga Bangilan dan orang-orang yang mempunyai empati dan kepedulian terhadap nasib dhuafa. Terima kasih Pak Maftuchin, Mbak Siti Rokhani, Mbak Erna Haliyanti S, Mbak Dwik Elviana yang telah melibatkan diri dalam acara ini.” demikian yang disampaikan oleh Pak Maskin, selaku kordinator kegiatan ISBAT.

“Selaku ketua ISBAT secara pribadi saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pengurus dan donatur sahabat ISBAT yang ikut serta menyukseskan program ISBAT peduli, semoga acara ini bisa rutin dilaksanakan sebulan sekali.” Begitu kata Pak Muin Bekam.

Bersyukurlah kita semua masih bisa menikmati keberkahan bulan yang mulia yaitu bulan ramadhan, boleh jadi ini adalah ramadhan kita untuk terakhir kalinya, bersyukurlah dengan rezeki yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, rasa syukur ini bisa dengan lisan maupun perbuatan. Ucapan syukur alhamdulillah dan perbuatan berbagi kebahagiaan dengan cara menyedekahkan kepada orang-orang yang berhak adalah wujud kesyukuran atas berlimpahnya reseki yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, mumpung kita masih di bulan pelipatgandaan amal kebaikan.


Bukalah gorden, jendela, dan pintu rumah Anda, untuk melihat di sekeliling kita, tetangga kita, tengoklah orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita. Ternyata masih banyak ornag-orang yang membutuhkan uluran tangan, rengkuhan dan dekapan kita. Mari berbagi senyum dan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan cara mengunjungi mereka, menyapa mereka, dan berbagi sedikit rezeki yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Wednesday, June 6, 2018

ISBAT dan Pak Camat Dalam Majelis Bukber


ISBAT dan Pak Camat Dalam Majelis Bukber
Oleh : Joyo Juwoto

Selain sebagai bulan yang penuh keberkahan, bulan ramadan adalah bulan kebersamaan. Sekian banyak kegiatan kebaikan yang digelar di bulan ramadan, seperti bagi ta’jil bersama, buka bersama, santunan bersama, tarawih bersama, tilawah Al qur’an bersama, ta’lim bersama, dan masih banyak lagi kebersamaan yang dilaksanakan pada bulan ramadan. Tentu kebersamaan-kebersamaan dalam kebaikan ini sangat bagus dan banyak nilai positif yang bisa kita raih bersama.

Makan-makan memang menjadi aktivitas rutin setiap orang, namun dibalik aktivitas rutin ini bisa kita sematkan nilai –nilai lebih dari hanya sekedar makan-makan. Majelis bukber pada bulan ramadhan sangat lazim dilakukan oleh sekelompok komunitas, teman sejawat, teman kantor, dan kelompok sosialita lainnya. Jika kita menengok sekilas mungkin kita akan bergumam, Ah! acara kok makan-makan terus, apa tidak lebih baik dananya dipakai untuk membantu orang lain?, atau mungkin juga ada yang nyinyir sambil mencurigai “Makan-makan saja bisa, masak membantu ini dan itu kok tidak bisa.”

Ya, begitulah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, tiap orang punya kepala sama hitamnya namun isi dan pendapatnya tentu berbeda-beda. Wajar, dan itu sah-sah saja, asal masih dalam azas kepatutan dalam mengomentari kesibukan dan aktivitas orang lain. Nanti kalau dia capek kan ya berhenti sendiri tanpa ada yang menyuruh, orang capek kan butuh istirahat.  Lha wong, memang orang yang suka komentar ini itu, kebanyakan belum kenal dan belum tahu , sedang kita yang dikomentari anggap saja sebagai tukang keplok dan cheersleader saja. Mengasyikkan bukan?

Makan-makan, kumpul-kumpul memang menjadi agenda kegiatan ISBAT, tapi fokusnya sebenarnya bukan di acara makan-makannya, bukan di acara yang sekedar njagong kumpul-kumpul tanpa output yang jelas.  Ada agenda besar yang selalu digodog dan dimatangkan dalam sebuah ajang makan-makan dan kumpul-kumpul, dan terbukti dalam beberapa bulan ISBAT bersama masyarakat Bangilan sudah banyak bergerak dan berkhidmat bersama, mulai dari kegiatan ketuk pintu bagi sembako, donor darah, memberikan santunan kepada dhuafa, memperbaiki rumah manula, memberikan jatah makan bulanan manula, program bagi seribu ta’jil, dan berbagai program lain yang terus dikordinasikan melalui ajang makan-makan dan kumpul-kumpul ISBAT.

Alhamdulillah dengan semangat kebersamaan, saling mendukung dan saling menghargai, antara ISBAT dengan banyak pihak termasuk pihak Kecamatan, pihak pemerintah desa, dengan semangat sinergitas yang baik, ISBAT berusaha terus bergerak untuk masyarakat,  sesuai dengan slogan ISBAT yang berbunyi “Dari Desa Untuk Bangsa.” (dibaca dengan tangan mengepal dan ekspresi penuh semangat)

Waduh, saya ini sebenarnya ingin menulis keseruan majelis bukber ISBAT dan Pak Camat di moment ramadan, tapi kok ngelantur ke mana-mana. Ok, kembali fokus ke acara makan-makan, kemarin ketepatan dengan purna tugasnya Pak Camat di kec. Bangilan dan kepindahan beliau ke tempat tugas yang baru, kami keluarga ISBAT mengundang Pak Camat untuk berbuka puasa bersama. Bukan apa-apa, kami merasa Pak Camat seperti keluarga sendiri yang telah banyak memberikan dukungan dan support kepada kami, sehingga kami perlu merayakan kebersamaan antara ISBAT dan Pak Camat di sebuah majelis bukber.

Wah, masalah makan-makan dan menikmati berbagai macam masakan yang telah disiapkan oleh tuan rumah di base camp ISBAT, di rumahnya Pak Maskin Pulut Bangilan, sebenarnya lebih enak dinikmati kecapan lidah, daripada hanya sekedar ditulis panjang lebar dan bertele-tele. Jadi harap maklum akan kesulitan saya untuk menuliskannya, lebih baik segera undang team ISBAT untuk makan bersama Anda, semoga keberkahan selalu menaungi kita semua.