Wednesday, November 29, 2017

Kembali ke akar kembali ke asal

Kembali ke akar kembali ke asal
Oleh : Joyo Juwoto

Kampung halaman adalah sumber air bening asal muasal kehidupan anak manusia, kampung halaman adalah kemurnian udara yang kita cecap yang kemudian mengalir bersama darah dan denyut nadi kita, Kampung halaman adalah matahari yang menjadi penerang bagi derap langkah manusia ke depan, kampung halaman adalah ibu bumi pertiwi yang melahirkan anak-anak manusia menjadi yang sekarang.

Kampung halaman adalah tanah tumpah darah di mana kesetiaan janji primordi digantungkan. Di manapun manusia berada tentu ia akan sangat merindukan kampung halamannya. Sejauh dan setinggi apapun manusia mengepakkan sayap-sayapnya ia akan selalu terbayang dan terkenang jua di mana ia berasal dan dilahirkan.

Kampung halaman ibarat tanah subur di mana akar-akar kehidupan mencecap hara kesucian dan tempat air kehidupan tersimpan. Setinggi apapun pohon tidak akan pernah lepas dari tanah dimana ia berpijak.  Kampung halaman menyimpan sejuta cinta dan selaksa rindu yang tersimpan di relung jiwa, yang pada saatnya akan terurai dalam pertemuan agung yang dikenal dengan nama pulang kampung.

Kampung halaman adalah tempat di mana kakang kawah adi ari-ari, getih dan puser kita bersemayam, terpendam di kedalaman bumi yang kita pijak, di kesunyian bumi batin yang terdalam dalam diri manusia. Maka ingatlah selalu kawah, ari-ari, getih dan pusermu, urip kuwi aja lali marang udele dewe, agar engkau tidak tersesat, karena pada dasarnya hidup haruslah mengerti sangkan dan paran. Sangkan Paraning Dumadi.

Sangkan berarti darimana engkau berasal, siapa engkau sesungguhnya, dan paran berarti akan kemana engkau kelak, untuk apa engkau dicipta, tujuan apa yang akan engkau capai di bayang-bayang kehidupan yang sementara ini, dan bagaimana akhir dari kehidupanmu.

Yang dari tanah kembali ke tanah
yang dari api kembali menjadi api
yang dari air kembali menjadi air
yang dari angin kembali menjadi angin
semuanya kembali menjadi cahaya
cahaya putih, cahaya kuning, merah, dan hitam
tenggelam, menyatu dalam cahaya kesejatian
kembali, kembali dalam kesejatian
Kun ma’allah


Setiap fase kehidupan pasti memiliki muara untuk kembali ke asal, kembali ke akar, kembali ke sumber, orang Jawa mengatakan bali marang mula mula nira, kembali kepada asal muasal kita. Dari tidak ada menuju ketiadaan, hanya yang sejati yang selalu ada dan tidak pernah hilang. Kesejatian itu hayyun la yamut, Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Orang yang lupa jalan kembali akan tersesat dan kehilangan kesejatian, karena pada dasarnya kesejatian adalah puncak dari segala tujuan hidup manusia. Kun Ma’allah.

Monday, November 27, 2017

Berkemah di Halaman Rumah

Berkemah di Halaman Rumah
Oleh : Joyo Juwoto

Siang itu sangat panas, waktu menunjukkan pukul 10 WIB. Naila baru saja pulang dari sekolah.  Dengan tergesa ia segera masuk ke rumah, mencopot sepatu dan kaos kakinya, berganti pakaian, meletakkan tasnya, kemudian  bergegas menuju kamarnya. Tidak seperti biasanya Naila kelihatan sibuk di dalam kamarnya. Membongkar-bongkar almari mencari-cari sesuatu di dalam almarinya.
“Bunda, bunda, ransel tendaku di mana? teriak Naila dari dalam kamar.

“Wah baru datang kok langsung mau bermain! ajak dulu adikmu makan, setelah itu baru bunda ijinkan untuk bermain” Jawab bunda Naila dari dapur sambil menyiapkan makan untuk kedua putrinya. “Itu ransel tendanya ada di lemari depan” Lanjut bunda Naila menunjukkan tempat penyimpanan ransel tenda.

Ternyata Naila sedang mencari ransel tenda yang baru saja dibelikan oleh ayahnya. Tenda Naila berwarna merah, kuning dan hijau, tenda itu  dibelikan dari kota sebagai hadiah diusianya yang ke tujuh tahun, dan keaktifan Naila selama ini dalam menjalankan sholat lima waktu. Sejak usia TK Naila memang sudah belajar sholat di rumah bersama bundanya, dan di sekolah Naila juga belajar sholat bersama teman-teman dan ibu gurunya.

Naila tidak sabar ingin segera bermain dengan kemah barunya. Naila dan Nafa memang sangat menyukai permainan kemah-kemahan. Biasanya mereka membuat kemah dari kain sarung dan jarit yang diikatkan dari satu kursi ke kursi lainnya. Mereka berdua meniru salah satu adegan di film kartun di layar televisi yang menayangkan kegiatan perkemahan.

“Baiklah Bun, ayo Nafa kita makan, setelah itu kita bermain kemah-kemahan di depan rumah” Ajak Naila penuh semangat kepada Nafa adiknya.

Kedua gadis kecil itu kemudian menyusul bundanya ke dapur, mereka ingin segera makan dan kemudian bermain perkemahan di halaman rumah. Sudah sejak lama mereka berdua menginginkan tenda itu untuk bermain kemah-kemahan.

“Bunda, nanti ikut berkemah ya? tanya Naila sambil mengambil piring untuk makan siang. Nafa yang masih kecil diambilkan dan disuapi makan siang oleh bunda, sedang Naila sudah mandiri mempersiapkan makan siangnya sendiri.
“Bunda masih ada pekerjaan di dapur, nanti Naila dan adik main sendiri dulu ya? nanti Bunda susul deh” Kata bunda sambil menyuapi Nafa.

“Baiklah, siap! jawab Naila penuh semangat. Naila siang itu tampak ceria dan senang sekali, karena keinginannya bermain kemah-kemahan sekarang terwujud.

“Bun, nanti saya mau mengajak Mbak Fani dan Dik Fida untuk bermain kemah-kemahan, mereka pasti senang”.

Suapan demi suapan telah dihabiskan oleh Naila, begitu pula dengan Nafa  dia tampaknya juga telah kenyang. “Bunda, sudah ya makannya, sudah kenyang” kata Nafa sambil membuka bajunya dan menunjukkan perut gendutnya kepada bunda.

Setelah Naila dan Nafa selesai makan, mereka berdua segera bergegas ke halaman untuk memasang kemah baru mereka.

“Horee...horee!!! kita akan berkemah! teriak Naila dan Nafa berbarengan.  Mereka berdua melangkah keluar, Naila menjinjing ransel tenda sambil bernyanyi kegirangan.

Di tengah-tengah hutan
di bawah langit biru
tenda terpancang ditiup Sang Bayu

api menjilat-jilat
terangi rimba raya
membawa kelana dalam impian
dengarlah-dengarlah, sayup-sayup

suara nan merdu memecah malam
jauhlah dari kampung turuti kata hati

guna bakti pada Ibu Pertiwi

Saturday, November 25, 2017

Absen di Kopdar-V Unesa

Absen di Kopdar-V Unesa
Oleh : Joyo Juwoto*

Komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) selalu mengadakan kopdar (kopi darat) dan launcing buku tiap lima bulan sekali. Ini rutin dan menjadi agenda yang selalu dilaksanakan semenjak komunitas SPN berdiri. Jadi sebenarnya jauh-jauh hari kita bisa mempersiapkan diri baik secara finansial, fisik, do’a dan kesiapan jiwa untuk bisa hadir di acara kopdar.

Saya sendiri tidak semua kopdar yang diadakan SPN bisa berkesempatan hadir, tentu banyak hal yang melatarbelakanginya, namun yang pasti saya selalu punya keinginan untuk bisa hadir di tengah-tengah atmosfir orang-orang yang mendedikasikan dirinya di dunia tulis menulis.

Seperti kopdar ke V SPN kemarin yang dilaksanakan di Unesa, jauh-jauh hari saya sudah menata jadwal kesibukan saya agar bisa hadir. Namun keinginan itu hanya tinggal keinginan belaka, saya absen di kopdar –V SPN yang sebenarnya saya punya keinginan kuat untuk berangkat. Ya begitulah saya tidak akan menyalahkan apapun dan siapapun, saya hanya bisa berdo’a semoga di kopdar selanjutnya saya bisa ikut hadir dan bisa ikut berkontribusi walaupun hanya sekedar menampakkan batang hidung saya yang tidak bisa dikatakan mancung ini.

Kehadiran di kopdar SPN bagi saya memang bukan hanya sekedar ajang ketemuan, saling sapa, dan saling mengenal. Silaturrahmi di group WhatsApp SPN sudah sangat baik dan akrab, walau kadang antar anggota belum pernah berjumpa sekalipun.

Saya merasa nyaman berada di tengah-tengah group yang penuh dengan keramahan dan keguyupan para anggotanya, nilai-nilai ukhuwwah serta pendidikan berliterasi di SPN sangat berarti, dan saya merasakannya sendiri secara langsung. Walau demikian kopdar adalah salah satu cara untuk lebih mengakrabkan diri diantara anggota yang memang jaraknya berjauhan tentunya. Oleh karena itu di setiap kopdar para anggota SPN diharapkan kehadirannya, lebih-lebih yang belum pernah datang sama sekali.

Seperti diawal telah saya singgung bahwa saat kopdar SPN ke-V di Unesa saya tidak bisa hadir. Sungguh menyesal rasanya, karena puncak dari acara Kopdar diisi oleh sastrawan kenamaan Prof. Budi Darma. Saya ingin sekali bertemu dengan beliau dan belajar langsung di bawah tatapan mata Sang Penulis kumpulan cerpen “Orang-orang Blomington” ini.

Namun bagaimana lagi, keadaan memaksa saya harus absen dan urung belajar serta bertatap muka dengan beliau. Tak apalah, semua akan tetap baik-baik saja dan saya juga akan terus belajar menulis dan menulis. Bahkan saya merasa akan terus berproses untuk belajar menulis sepanjang masa.



*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Buku yang sudah ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”

Thursday, November 16, 2017

Laron Terbang Mengangkasa

Laron Terbang Mengangkasa
Oleh : Joyo Juwoto

Bulan Desember menjadi puncak musim penghujan tahun ini, hampir setiap hari hujan turun dari langit membasahi bumi, udara menjadi lembab dan dingin khususnya di pagi hari. Tidak jarang sebelum matahari terbit hujan telah mengguyur bumi yang masih tertidur pulas.

Pagi itu mendung tampak tergantung menghitam di atas langit, dari arah timur semburat merah matahari malu-malu menyinari pagi yang beku. Naila sudah sejak tadi bangun tidurnya, setelah menjalankan sholat shubuh ia masih saja bermalas-malasan di atas kasurnya.

Nafa masih tertidur pulas, udara dingin membuat pagi itu menjadi malas untuk beraktifitas. Dari luar rumah terdengar suara bebek yang ada di kandang di samping pekarangan rumah ribut sekali. Bebek-bebek itu seperti berkejaran merebutkan sesuatu.

“Suara bebeknya kok berisik sekali ya? ada apa dengan bebek-bebek itu? Apa ia sudah lapar? batin Naila sambil merapatkan selimutnya. Naila memang sudah bangun, namun ia masih bermalas-malasan dan tidur-tiduran di atas kasur dan bersembunyi di balik selimut hangatnya. Udara di luar rumah bertiup dingin, mendung-mendung di langit telah turun menjadi rintik-rintik hujan.

Suara bebek-bebek di luar semakin berisik,  mau tidak mau keributan itu memancing Naila melepas selimutnya kemudian bergegas membuka jendela rumahnya melihat mengapa bebek-bebeknya sepagi itu telah ribut.

“Wow! banyak laron beterbangan...asyik! pantas bebek-bebek itu ribut sekali” gumam Naila. Nafa...Nafa...ayo bangun, banyak laron di luar rumah”. Dengan spontan Naila berteriak membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas.

Mendengar teriakan Naila, Nafa terbangun. Ia mengucek-ucek matanya, dengan tampak malas Nafa turun dari kasurnya kemudian ia berjalan mendekati Naila yang ada di depan jendela kamar. “Aku masih mengantuk mbak” Kata Nafa.

“Lihat itu Fa, laronnya banyak sekali, seperti pesawat terbang” Seru Naila menuding ke arah luar rumah.

“Wow! laronnya banyak sekali, ayo mbak kita tangkap laron-laron itu! Demi melihat banyaknya laron yang beterbangan di halaman rumah, Nafa yang tadinya masih malas bangun menjadi bersemangat.

Di luar rumah dari bawah pohon pisang laron-laron itu bermunculan. Terbang melesat ke angkasa seperti pesawat keluar dari pangkalannya. Bebek-bebek Naila masih saling berebut dan mengejar laron yang terbang rendah di atas mereka.

Naila dan Nafa berlari keluar rumah, mereka berdua membawa baskom yang diisi dengan air. Baskom itu dipakai untuk wadah laron yang ditangkapnya.

Pagi yang dingin itu menjadi semarak dengan suara bebek dan laron yang beterbangan. Naila dan Nafa berlari ke sana ke mari mengejar laron-laron yang terbang mengangkasa.


Tuesday, November 14, 2017

Hibernasi di Akhir Pekan

Hibernasi di Akhir Pekan
Oleh : Joyo Juwoto

Rentetan kesibukan kadang menyita waktu dan pikiran sehingga membuat hari-hari kita menjadi tegang. Akumulasi dari ketegangan-ketegangan tidak jarang membuat pikiran stres, suntuk, yang memicu pada kelelahan baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu kita perlu membagi waktu antara kesibukan dengan waktu untuk berhibernasi.

Memanfaatkan liburan akhir pekan untuk bersantai adalah pilihan yang bijak untuk mengurangi ketegangan pikiran setelah satu minggu disibukkan dengan berbagai macam aktifitas yang melelahkan.

Beberapa pilihan yang dapat kita gunakan untuk bersantai sejenak cukup banyak, diantaranya :

1.   Ngopi bersama kawan karib dan kerabat.
2.   Mengunjungi tempat-tempat bersantai di dekat rumah, bisa jalan-jalan di sawah, di sungai, atau tempat rekreasi lokal.
3.   Membaca buku dan bercerita dengan anak-anak di rumah, pergi keperpustakaan desa/ kecamatan.
4.   Menulis yang ringan dan menyenangkan.
5.   Mengunjungi sanak saudara yang dekat.
6.   Pergi memancing
7.   Bisa Anda tambahkan sendiri sesuai dengan hobi dan kesukaan masing-masing.

Tak perlu memikirkan berlibur jauh keluar kota, atau mencari tempat hiburan yang mahal untuk mengisi waktu hibernasi, menghabiskan akhir pekan dengan anak-anak, dengan keluarga dengan teman-teman dekat juga bisa mengurangi beban pikiran akibat ketegangan-ketegangan tadi. Karena bagaimanapun manusia membutuhkan istirahat agar rasa penat dan lelah setelah bekerja bisa terkurangi. Dan tentu fisik dan jiwa manusia memang membutuhkan untuk rehat.


Rehat atau masa hibernasi bukan berarti kita diam tanpa melakukan aktivitas apapun. Dalam masa rehat ini kita bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyenangkan dan mengendorkan ketegangan urat syaraf, agar kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga terus terjaga. Karena pada hakekatnya rehat adalah ganti pekerjaan, bukan menganggur  bengong tanpa aktivitas apapun.


Dalam sebuah maqolah dikatakan “Ar-Raahatu Hiya Tabaadulul A’mal” artinya : Istirahat sebetulnya adalah ganti pekerjaan. Oleh karena itu sesibuk apapun kita dari pekerjaan-pekerjaan rutin jangan sampai lupa kita menyempatkan waktu untuk berhibernasi, mengisi energi baru untuk melakukan aktifitas yang lebih baik dan produktif. Silakan nikmati masa hibernasi dengan menyenangkan dengan orang-orang dekat Anda.

Sunday, November 12, 2017

Selamat Hari Jadi Tuban Yang Ke 724

Selamat Hari Jadi Tuban Yang Ke 724
Oleh : Joyo Juwoto

Saya sebenarnya  sedang mandeg ide dalam menulis, maklumlah penulis pemula selalu kebingungan untuk mengeksekusi ide, bahkan kadang tak mempunyai ide sama sekali untuk ditulis. Menulis kali ini pun sekedar melepas beban dipikiran untuk menulis, seperti kata Pak Hernowo Hasyim menulis mengalir bebas tanpa beban, tanpa terbebani susunan kalimat atau kosakata apapun, bahkan mungkin tanpa bentuk.

Karena di media sosial sedang banyak ucapan hari jadi Tuban yang ke 724, yaitu setiap tanggal 12 Nopember, maka tulisan ini saya anggap sebagai ucapan selamat dan doa untuk hari jadi Tuban saja. Memang saya tidak memiliki kata-kata yang bagus untuk bumi Tuban tercinta, dan juga tidak ada puisi yang mendayu mengharu biru, semoga dengan ucapan doa dan harapan keberkahan untuk seluruh masyarakatnya, Tuban menjadi bumi yang diberkahi oleh Tuhan.

Tuban memang luar biasa dan istimewa, saya merasa bersyukur terlahir dari bumi Tuban ini. Tentu perasaan semacam ini dimiliki oleh siapapun yang terlahir dari bumi manapun, namun memang beginilah salah cara manusia bersyukur kepada Tuhan dengan mencintai tanah tumpah darahnya. Lha wong jasad kita ini tersusun dari sari pati tanah, air dan udaranya, tentu ikatan primordial yang positif ini harus tetap kita jaga. Tanpa harus terjebak pada nilai isbiyyah tentunya.

Tuban sebuah nama yang sudah cukup lama dikenal, tentu nama Tuban lebih tua dari Indonesia sendiri. Sebagai tempat yang lebih tua dari negaranya tentu Tuban harus ikut serta ngemong dan menggendong Indonesia. Filosofi ngemong dan gendong ini harus difahami bersama, tidak hanya oleh pejabat pemerintahan namun juga masyarakat luas tentunya. Seperti lagunya mbah Surip almarhum, “Tak Gendong ke mana-mana, tak gendong ke mana-mana, enak dong, mantep dong” Haha...saya selalu seneng jika mendengar lagunya mbah Surip ini. Bagus.

Memperingati hari jadi adalah sama halnya mengingat asal muasal, orang yang lupa asal muasalnya itu seperti kata pepatah kacang lupa akan kulitnya, dia kacang lupa setelah jadi pecel, lupa setelah jadi canghe, lupa setelah jadi kacang asin dan menjadi aneka ragam jenis kacang lainnya. Begitupula seseorang yang lupa asal muasalnya seperti orang yang lupa dengan jati dirinya, lali marang mula mula niro. Dalam khasanah kejawen orang yang lupa asal muasalnya dia akan lupa jalan pulang, jika lupa jalan pulang ia akan tersesat dan kelak jika meninggal dunia menjadi hantu gentanyangan.

Saya kayaknya terlalu nglantur dalam menulis, maklum memang hanya sekedar menulis tanpa bentuk, tanpa pola, hanya mengikuti jari jemari yang menghentak di tombol keyboard saja. Walau demikian tentu menulis harus berfikir juga sih, karena memang menulis itu menuangkan apa yang ada dipikiran, bukan memikirkan apa yang akan kita tulis. Kalau terus berfikir kapan nulisnya. Ayoklah pokok nulis.

Kembali tentang hari jadi Tuban, jika menilik angka 724 maka secara histori nama Tuban telah ada sejak jaman Majapahit. Namun nama Tuban sendiri juga memiliki legenda yang masyhur di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan Tuban dari kata meTU BANyune, ada yang bilang Tuban dari kata waTU tiBAN, semuanya memiliki dasar foklore sendiri di tengah masyarakat. Semua kearifan lokal menyangkut nama itu tentunya perlu dimengerti dan dipahami, dan berdasarkan pengantar buku Dalang Kentrung Terakhir nama Tuban juga bisa diwedar menjadi “Tempat Utama Budaya Baca-Tulis Anak-anak Nusantara” demikian kata Mbah Soesilo Toer. Apakah Anda punya tafsir tersendiri untuk nama kota Tuban? dipersilakan.

Friday, November 10, 2017

Ziarah Ke Maqam Wali Janjang

Ziarah Ke Maqam Wali  Janjang
Oleh : Joyo Juwoto

Maqam Wali Janjang memang tidak setenar maqam wali-wali lain di tanah Jawa seperti maqam Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan sunan-sunan lainnya yang jamak disebut oleh masyarakat sebagai Wali Songo. Walau demikian bukan berarti maqam wali janjang sepi pengunjung. Ada saja masyarakat yang datang dan berziarah di maqam yang berada di desa Janjang kecamatan Jiken Kabupaten Blora itu.

Konon Maqam Wali Janjang adalah maqam dua orang bersaudara keturunan dari keraton Jipang Panolan. Mereka adalah Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Swara. Mereka berdua sampai di perbukitan Janjang kemudian menetap di sana hingga meninggal dunia. Maqam Janjang dianggap sebagai cikal bakal dan pepunden desa Janjang yang sekarang.

Saya kemarin (7/11/2017) berkesempatan berziarah untuk yang kedua kalinya ke maqam Janjang bersama beberapa orang teman. Ada Kamituo Kedungmulyo, Juru Kunci Maqam Keramat Dopyak, Pak Dhe Masyhari, ada calon Carik Sidokumpul, dan ikut serta dalam rombongan Mas Adi pemangku masjid Banaran Sidotentrem.

Jika di ziarah yang pertama saya tidak ketemu juru kunci maqam, untuk kunjungan saya yang kedua ini cukup istimewa, kami berlima berkesempatan masuk ke maqam Mbah Janjang. Walau harus menunggu lengsernya matahari senja, kami merasa gembira karena Pak Dhe Masyhari mengabarkan bahwa pak Inggi sebagai pemangku maqam Janjang siap datang dan membuka maqam.

Setelah hari hampir gelap, Pak Inggi datang, dengan ramah beliau mempersilakan kami menunaikan apa yang menjadi maksud kedatangan kami ke Janjang. Beliau pun membuka gembok maqam dan kami pun masuk untuk berziarah dan bertahlil di dalam maqam.


Setelah selesai bertahlil,kami pun duduk-duduk di beranda maqam sambil ngobrol-ngobrol sama Pak Inggi. Menurut Pak Ngasi, Kepala desa Janjang yang menjabat sekarang (2017) Mbah Janjang adalah seorang suci yang pada masa hidupnya suka menolong orang lain, banyak karomah yang dimiliki oleh Mbah Janjang, baik semasa hidupnya ataupun sesudah beliau berdua meninggal dunia.

Yang pasti hingga hari ini banyak orang-orang yang berziarah dan berwasilah dengan Mbah janjang. Masalah tujuan dan hasilnya kita serahkan kepada orangnya masing-masing, sebagai pemangku maqam saya hanya memfasilitasi keperluan peziarah saja. Ujar Pak Inggi Janjang.

Lebih lanjut pak Inggi juga mengatakan bahwa siapapun boleh berziarah di maqam Janjang, tidak peduli apapun agamanya, asal jangan saat pasaran legi dan wage. Karena itu sudah menjadi pantangan sejak mbah-mbah dulu, kata Pak Ngasi.
  

Thursday, November 9, 2017

Tiga Ekor Kucing Naila

Tiga Ekor Kucing Naila
Oleh : Joyo Juwoto

Naila dan Nafa sangat senang, induk kucingnya telah melahirkan tiga ekor anak kucing yang sangat lucu. Tiga ekor kucing itu warnanya berbeda-beda. Yang satu berwarna hitam legam, yang satu berwarna hitam kecoklatan, sedang satunya lagi berwarna  kembang telon, hitam, kuning, dan putih.

Tiap pagi tiga ekor kucing itu diberi makan nasi putih yang dicampur dengan ikan pindang, setelah makan biasanya kucing-kucing itu bermain-main di beranda depan rumah Naila. Tiga ekor kucing itu saling berkejaran, saling melompat dengan riang gembira.

Naila dan Nafa sangat senang dengan kucing-kucing itu. Mereka berdua suka menggendongnya dan mengajaknya bermain. Kadang-kadang kucing itu juga menemani mereka tidur-tiduran di lantai.

“Kucingnya lucu ya, mbak? kata Nafa saat mereka berdua bermain dengan kucing-kucing lucu itu.

“Iya kucingnya lucu sekali, saya sangat suka. Kucing yang hitam saya beri nama si blacky, yang coklat si browny, sedang yang kembang telon diberi nama apa ya bagusnya?

“Sebentar ya, saya tak berfikir dulu, mbak? jawab Nafa. “Emm...bagusnya dikasih nama apa ya? jadi bingung saya”

Sambil berfikir nama yang cocok untuk kucing yang berwarna kembang telon, Nafa dan Naila bermain tali dengan kucing-kucingnya. Tiga ekor kucing itu sangat suka bermain tali, mereka berlarian dan melompat mengejar tali yang dipegang oleh Nafa.

Kadang-kadang tali itu ditarik ke atas oleh Nafa, kucing-kucing itu pun melompat mengejarnya. Ke manapun Nafa berlari membawa tali, kucing itupun berlarian menyusul, bergulung-gulung, mencengkram, dan saling menggigit. Nafa sangat senang, ia pun tertawa-tawa riang melihat kelucuan kucing-kucing itu.

“Nafa. aku sudah punya nama untuk kucing kembang telonnya. bagaimana jika kita beri nama  si catty saja” Hehe...lucu kan? kata Naila penuh semangaat memberikan nama untuk kucingnya yang berwarna hitam, putih, dan kuning.

“Ya, nama yang bagus Si Catty. Saya suka nama itu” Kata Nafa sambil terus bermain dengan talinya.

“Nafa, Si blacky dan Catty kayaknya sudah lelah. Ayo berhenti dulu mainnya! kasihan Backy...kata Naila memperingatkan adiknya yang terus mengajak kucing-kucing itu berkejaran mengejar tali-tali yang dibawa oleh Nafa.

“Sini, kucingnya biar istirahat dan makan dulu, dia pasti lapar, tadi pagi kayaknya belum makan”

Kucing-kucing kecil yang lucu itu kemudian diberi makan oleh Naila, dengan sangat lahap tiga ekor kucing kecil itu menghabiskan nasi putih yang telah dicampur dengan kepala pindang. Naila dan Nafa menunggui tiga ekor kucingnya yang sedang makan pagi.


Wednesday, November 8, 2017

Suwuk, Obat Dokter dan Sakit Gigi

Suwuk, Obat Dokter dan Sakit Gigi
Oleh : Joyo Juwoto

Suwuk adalah istilah pengobatan suatu penyakit atau menyelesaikan suatu masalah tertentu dengan wasilah do’a.  Selain doa biasanya seorang yang ahli suwuk menggunakan media tertentu untuk nyuwuk pasiennya. Media yang dipakai bisa air, daun, bunga, tanah, amalan, maupun doa-doa yang harus di baca oleh orang yang meminta suwuk dengan bilangan tertentu.

Sebagai seorang yang pernah nyantri, saya sangat kenyang dengan yang namanya suwuk, baik itu minta disuwuk maupun nyuwuk sendiri. Untuk opsi nyuwuk sendiri ini hanya saya pakai untuk urusan pribadi saya, bukan nyuwuk orang lain. Saya jelaskan demikian karena khawatir setelah tulisan ini saya posting banyak yang datang ke saya untuk minta disuwuk. Hal ini tentu akan membuat saya kalang kabut, karena selaian memang tidak bakat nyuwuk, saya juga tidak punya keberanian untuk nyuwuk orang lain.

Kali ini saya ingin menceritakan suwuk yang berkenaan dengan sakit gigi yang saya alami beberapa pekan yang lalu. Karena berbagai macam obat telah saya minum dan berbagai saran dari teman-teman yang pernah sakit gigi telah saya jalankan dengan patuh, bahkan saya juga pergi ke dokter untuk dikasih resep obat sakit gigi, namun ternyata sakit gigi saya belum sembuh-sembuh juga, maka saya terus mencari informasi tentang obat sakit gigi yang saya alami.

Sebagai makhluk ikhtiar terus saya lakukan, doa-doa kepada Allah Swt pun saya panjatkan. Saya berusaha kyusu’ dalam berdoa, dalam shalat, pasrah kepada Allah, dan memohon kesembuhan sakit gigi yang saya derita. Saya yakin manusia berkewajiban berusaha, sedang kesembuhan hanyalah milik Allah semata. Ya begitulah, kadang manusia akan mendekat kepada Allah jika ia punya masalah. Jika masalah yang mendera selesai kadang juga akan kembali lupa kepada Tuhan.

Setelah saya bertanya ke sana ke mari, akhirnya saya mendapatkan saran untuk nethekna untu (istilah yang dipakai dalam pengobatan sakit gigi) di Pak Ud, sebut saja begitu. Menurut informasi yang saya dapat, media yang dipakai adalah bonggol dari tanaman pandan berduri. Entah bagaimana caranya saya sendiri juga belum bisa membayangkan.

Dengan semangat empat lima dan semangat NKRI harga mati, setelah pulang dari sekolah saya pun meluncur ke tempat Pak Ud. Jodoh memang tidak ke mana, asam di gunung, garam di laut akhirnya pun ketemu jua di belanga. Begitu kira-kira para pujangga menulis moment pertemuanku dengan dengan Pak Ud si tukang thethek untu.

Setelah memperkenalkan diri, saya pun menyampaikan maksud kedatangan saya siang itu. Pak Ud dengan wajah yang ramah dan senyumnya yang merekah saya dipersilakan duduk dan menunggu. Beliau kemudian mempersiapkan peralatan untuk prosesi nethek untu dengan media pandan duri yang telah diambilnya.

Saya hitung ada sekitar sembilan batang pohon pandan yang diambilnya. Kemudian beliau menata selang air dari kran. Sebagai pasien yang baik dan penurut, saya hanya diam menunggu dan tidak banyak bertanya.

Setelah selang tersalurkan dengan kran dan airnya telah mengalir saya disuruh duduk dengan badan condong ke depan. Satu persatu pohon pandan itu ditempelkan di pipi di mana gigi saya sakit. Setelah itu pohon pandan yang menempel di pipi saya disiram dengan air dari selang tadi. Saya tidak tahu dan tidak mendengar doa  atau mantra apa yang dibaca  oleh Pak Ud.

Sepersekian menit air dari selang itu terus dialirkan di pipi saya. Saya hitung waktu pipi saya disiram air sekitar 70 kali hitungan. Setelah itu air selang pun diletakkan. Kemudian Pak Ud memreteli helai demi helai daun pandan hingga tersisa batangnya saja. Batang itu kemudian dilepaskan dari pipi saya dengan perlahan. Saya tetap tidak tahu doa apa yang di rapal oleh Pak Ud.

Setelah batang itu dilepaskan pipi saya diusap dengan songkok hitam yang dipakai oleh Pak Ud. Aneh bin ajaib, ada banya ulat-ulat gigi kecil-kecil yang menempel di songkok beludru hitam itu. Prosesi nethek untu dilakukan berulang kali hingga seluruh batang pandan yang jumlahnya sembilan habis.

Di putaran terakhir, saya melihat  dua ekor ulat gigi yang lebih besar dari sebelumnya. Kata Pak Ud itu mungkin babonnya. Setelah prosesi nethek untuk selesai, saya pun diberi air satu botol oleh Pak Ud untuk saya minum dan sisanya saya bawa pulang untuk diminum di rumah.

Selain memberikan air, Pak Ud juga berpesan agar saya tidak makan yang pedas-pedas, terkhusus untuk tiga hari ke depan. Saya pun mengiyakan pantangan yang dinasehatkan oleh beliau. Setelah itu saya pun pulang. Rasa sakit yang saya derita memang masih terasa, namun berangsung reda. Mungkin karena ulat giginya sebagai biang sakit gigi sudah keluar dipancing dengan bonggol pandan duri, sehingga rasa sakitnya makin menghilang.

Saya bersyukur sakit gigi yang tak terkirakan yang saya derita beberapa hari sedikit demi sedikit mulai mereda. Padahal sebelumnya dengan berbagai macam obat yang saya minum tidak memberikan efek sama sekali. Obat dari dokter gigipun ternyata belum berjodoh dengan penyakit gigi saya.


Alhamdulillah berkat wasilah suwuk sakit gigi yang saya derita akhirnya diberi kesembuhan oleh Allah Swt. hingga tulisan ini saya buat gigi saya sudah tidak sakit lagi. 

Tuesday, November 7, 2017

Buku Pendidikan Karakter

Buku Pendidikan Karakter
Oleh : Joyo Juwoto

“Pendidikan Karakter Hidup dengan Energi Positif, Menjadi Pribadi yang Lebih Baik” adalah judul buku antologi Sahabat Pena Nusantara (SPN) yang kedelapan. Buku ini di launcing di Kampus Unesa, Minggu 22 Oktober 2017 pada saat Kopdar SPN yang ke V. Sayang saat itu saya tidak bisa menghadiri acara tersebut.

Buku bersampul merah ceria ini sangat istimewa, khususnya buat saya tentunya.  Karena di dalamnya terdapat tulisan saya, alhamdulillah saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada para guru dan sahabat-sahabat di komunitas literasi yang saat itu digawangi oleh ustadz M. Husnaini, yang dengan sabar dan tekun, tanpa rasa lelah memberikan teladan dan semangat untuk terus berkarya, berkarya tanpa jeda, berkarya sepanjang masa, demikian motivasi yang sering dikatakan oleh Pak Dosen Didi Junaedi.

Saya senang dan bangga menjadi bagian dari penulis buku Pendidikan Karakter tersebut, pengalaman di SPN memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya, bahwa menulis dan menerbitkan sebuah buku sangatlah mudah, bahkan sangat mudah sekali. Tinggal mau atau tidak, jika kita punya keinginan yang kuat dan dibarengi dengan aksi nyata, maka keinginan kita untuk memiliki buku insyallah pasti akan terijabahkan.


Kunci dari menulis adalah pemaksaan dan pembiasaan, satu, dua, tiga, bahkan seratus kali mungkin menulis sangat berat dan susah, karena masih tahap pemaksaan, namun jika sudah mencapai yang ke ratusan kali, maka akan menjadi kebiasaan, dan seiring dengan berjalannya waktu maka aktivitas menulis tadi akan lanyah dan mudah. Yang penting jangan pernah bosan untuk terus menulis dan menulis.

Saya sendiri masih belum bisa istiqamah untuk terus menulis setiap hari, tapi pasti saya akan terus belajar untuk menulis dan menulis. Walau sampai hari ini tulisan saya  ya begini-begini saja. Namun saya selalu merasakan jika selesai menulis hati ini terasa puas dan bahagia. Apalagi tulisan itu akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku, seperti buku yang baru saja saya terima dari Pak Halim selaku editor buku Pendidikan Karakter.

          Buku Pendidikan Karakter yang dikasih kata pengantar oleh Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc,. Ph.D Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya) sangat bagus baik dari segi material buku maupun isinya. Satu persatu tulisan di buku ini akan saya baca hingga tuntas tentunya,


          Buku ini juga di endors oleh tokoh-tokoh hebat dunia literasi Indonesia, ada Muhammad A.S, Hikam, Moh. Zina S.Pd.I., M.Pd, ada Mashdar Zainal, dan tentu yang sangat membuat saya bahagia ada juga penulis kondang dari Tuban yang memberikan endorsnya, siapa lagi kalau bukan penulis buku monumental “Jomblo Revolusioner”, Mas Amrullah AM. Ah, tentu saya sangat bahagia dan senang mendapat fatwa dari Kiai Literasi dari Bumi Wali itu. 

Monday, November 6, 2017

Lampion Kunang-Kunang

Lampion Kunang-Kunang
Oleh : Joyo Juwoto

Malam itu purnama lima belas yang ditunggu-tunggu para gadis kecil di pelataran rumah belum juga muncul. Langit tertutupi mendung gelap, angin malam bertiup pelan membawa hawa dingin, hanya pendar-pendar cahaya rembulan di balik awan hitam yang tampak menggores kanvas di atas langit. Keremangan malam membuat hati para gadis kecil yang sedang duduk melingkar di atas selembar tikar pandan itu menjadi gundah. Mereka sedang menunggu malam bulan purnama.

“Ah, langitnya mendung Nel, kita gak jadi bermain cublek-cublek suweng dong? ujar salah seorang diantara mereka dengan nada sedih.

“Iya, semoga tidak turun hujan, agar kita bisa bermain-main malam ini, jika gelap seperti ini, enaknya kita main apa ya? Naila salah seorang dari gadis kecil itu menimpali.

Malam purnama adalah malam keceriaan anak-anak desa, Naila, Nafa, Agis, Windi, dan Indah sejak pulang dari mengaji di langgar sore tadi sudah merencanakan akan mengisi malam purnama dengan bermain cublek-cublek suweng di halaman rumah. Namun sayang purnama tertutup mendung, sehingga malam menjadi gelap.

“Kalau gelap gini enaknya kita main petak umpet saja, bukankah begitu Win? kata Agis berusaha memecahkan kebuntuan teman-temannya karena purnama tak jadi muncul.

“Enggak ah, kalau gelap begini main petak umpet saya takut”

“Saya juga takut, hiii... gelap, ngerii! Nafa dan indah gadis yang paling kecil diantara mereka tidak mau bermain petak umpet dikarenakan takut dengan kegelapan.

“Ya...coba saja malam ini tidak mendung tentu suasananya akan indah dan meriah. Emm..aku punya ide kawan, bagaimana kalau kita bersama-sama mencari kunang-kunang saja? ajak Windi kepada teman-temannya. “Nanti kita bisa bermain lampion dengan cahaya kunang-kunang”

          “Baiklah, ayo kita cari kunang-kunang! bagaimana menurutmu Gis? tanya Naila mengiyakan ajakan Windi.

“Aku juga mau, daripada kita bengong di sini” jawab Agis.

“Horee...asyik, ayo kita menangkap kunang-kunang” teriak gadis-gadis kecil itu serentak berdiri dari tempat duduknya. Walau tidak jadi bermain cublek-cublek suweng seperti yang telah mereka rencanakan sejak sore hari, namun mereka tetap gembira karena ada ide untuk berburu kunang-kunang.

          Lima gadis kecil itu kemudian bergegas masuk rumah mencari wadah tempat kunang-kunang. Windi membawa botol plastik bekas air minum, Agis mengambil plastik milik ibunya yang dipakai untuk membuat es batu, sedang Naila justru ke belakang rumah, ia mengambil papah pohon pepaya untuk wadah kunang-kunang yang akan ditangkapnya.

          “Bagaimana teman-teman, sudah  siap dengan wadah kalian masing-masing? Seru Windi mengomando dan memastikan kesiapan kawan-kawannya.

“Siap! eh sebentar, saya ambil seser ikan milik kakek dulu, biar nanti mudah menangkap kunang-kunangnya” Kata Naila sambil berlari ke rumah kakeknya.

“Ingat ya, kita hanya menangkap kunang-kunang, kita tidak boleh menyakitinya, nanti kalau sudah selesai kunang-kunang itu harus kita lepaskan kembali, biarkan ia hidup bebas di alamnya” pesan Windi sebelum mereka berburu kunang-kunang.

“Baiklah, siap laksanakan komandan” kata Agis sambil mengangkat tangannya dengan posisi seperti seorang tentara yang menghormat kepada atasannya.
Setelah semuanya siap, mereka berlima ke pekarangan belakang rumah yang biasanya banyak kunang-kunang beterbangan. Tidak sulit untuk mencari kunang-kunang di tempat gelap, karena kunang-kunang memiliki cahaya di ekor belakangnya.

“Ini ada kunang-kunang, ayo tangkap pakai seser Mbak Nel! teriak Nafa. Ia berlari kegirangan menangkap kunang-kunang yang beterbangan. Namun tak ada satu pun yang berhasil ditangkapnya.

Nafa dan Indah yang memang paling kecil diantara kawan berlima itu hanya berlari-lari ke sana ke mari mengejar kunang-kunang, dengan tangan kosong mereka tampaknya kesulitan menangkap binatang yang terbang dengan cahaya kuning di ekornya.

Agis, Windi, dan Naila mengumpulkan satu persatu kunang-kunang yang mereka tangkap. Kunang-kunang itu dimasukkan ke dalam wadah yang mereka bawa. Kunang-kunang yang dimasukkan ke dalam wadah itu tampak kerlap-kerlip bersinar  indah. Seperti pesta lampion yang gemerlapan di tengah malam yang gelap.

Walau purnama tidak tampak namun gadis-gadis kecil itu bisa bermain dengan gembira dengan lampion-lampion yang mereka buat dari cahaya kunang-kunang. Betapa bahagia dan indahnya malam itu.

Gadis-gadis cilik itu kemudian membuat lingkaran, bergandengan tangan, berputar-putar sambil menari dan menyanyikan lagu kunang-kunang dengan riang gembira.

“Kunang-kunang, hendak ke mana
Kelap-kelip indah sekali
Gemerlap, bersinar
Seperti bintang di malam hari

Kunang-kunang, terbang ke sini
Ke tempatku, singgah dahulu
Kemari, kemari
Hinggaplah di telapak tanganku”

  (AT. Mahmud)