Tuesday, September 12, 2017

Student Hidjo-nya Mas Marco

Student Hidjo-nya Mas Marco
Oleh : Joyo Juwoto*

Student Hidjo adalah sebuah novel yang ditulis sekitar tahun 1918 oleh Mas Marco Kartodikromo. Walau terbilang lawas namun ide dari cerita Mas Masco ini kekinian banget. Membahas mengenai penindasan yang dilakukan oleh suatu kelompok manusia yang merasa lebih tinggi derajadnya dari manusia lainnya. Selain itu Mas Marco juga mengisahkan tentang kehidupan pola kehidupan muda-mudi saat itu yang ternyata juga tidak jauh-jauh dari kehidupan muda-mudi era sekarang.

Walau sebuah novel, namun saya curiga bahwa sebenarnya yang ditulis oleh Mas Marco bukanlah kisah fiksi semata, namun hal itu adalah sebuah kejadian yang benar-benar dialami oleh seseorang atau siapapun yang akhirnya ditulis oleh Mas Marco. Hal ini terlihat dari cara bercerita Mas Marco yang begitu lancar, jelas, runtut, dan bahkan seperti mengisahkan ceritanya sendiri.

Memang sebuah cerita fiksi bukan datang dari lembar kosong kehidupan, sebuah karya fiksi tentu tetap berpijak pada realitas yang dibaca oleh seorang penulis. Bahkan sebenarnya cerita fiksi adalah fakta yang disembunyikan. Karena dengan menulis fiksi sebenarnya penulis sedang bermain-main di ruang yang imaji untuk mengolah sebuah hal yang faktual menjadi  sebuah karya imajiner.

Begitulah kuasa penulis, dia mau membuat cerita fakta menjadi sebuah cerita fiksi atau bahkan fiksi difaktakan adalah haknya. Dan saya sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh mereka para penulis. Yang terpenting dari sebuah tulisan adalah ada hal yang tertinggal di hati pembaca, untuk direnungi dan diambil manfaat dari sebuah karya tulis.

Mas Marco dengan tokoh seorang anak pedagang sukses yang bernama Hidjo, mampu menceritakan dengan baik kondisi masyarakat kala itu, yaitu pertentangan kelas di tengah masyarakat. Dengan membaca karya dari Mas Marco, Saya berfikir bahwa Mas Marco seperti bukan hidup di tahun 1918, namun di zaman sekarang ini. Karena apa yang diceritakannya tidak seperti yang saya bayangkan di kala itu.

Mungkin karema Mas Marco sendiri adalah dari kalangan priyayi, sehingga apa yang ditulisnya menggambarkan kehidupan priyayi Jawa yang hidup dengan penuh kemewahan. Saya tadinya menyangka Mas Marco akan menulis kondisi masyarakat Jawa yang teraniaya dan menderita akibat dari penjajahan Belanda. Namun saya salah, ternyata Mas Marco menceritakan kehidupan anak-anak priyayi yang hidup penuh kesenangan dengan plesiran ke tempat-tempat hiburan.

Selain itu Mas Marco juga menceritakan tentang studi Hidjo ke negeri Belanda yang akhirnya membuka pengetahuan Hidjo akan kenyataan-kenyataan yang ia hadapi di sana. Ternyata di manapun kehidupan adalah sama, ada yang menjadi majikan, jongos, orang baik dan buruk. Sangat sendiri saat membaca juga tertawa saat Mas Marco menulis “Hidjo menikmati sedikit “hiburan” ketika dirinya memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau rumah kosnya. Di mana, hal ini mustahil dilakukan di Hindia Belanda.”

Latar belakang kisah dari Student Hidjo adalah kota Solo yang ternyata saat itu sudah sangat ramai. Bahkan di situ Mas Marco memotret pergerakan Nasional yang dipelopori oleh Syarikat Islam (SI). Dalam konggresnya saat itu SI mampu menghadirkan massa lebih dari tiga puluh ribu orang, suatu prestasi yang sangat luar biasa tentunya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh SI, padahal saat itu segala pergerakan sedang dipantau oleh kolonial Belanda tentunya.

Apapun itu, apa yang ditulis Mas Marco Katodikromo sangat baik dan menyenangkan. Saya mungkin memang telat membacanya, namun saya suka dengan novel ini.

*Joyo Juwoto, Pegiat Sastra Kali Kening

3 comments:

  1. Jadi ingin baca novelnya, sembari belajar sejarah tempo dulu mbah joyo.

    ReplyDelete
  2. Ditulis sekitar tahun 1918? Lama banget ya, mbah. Tapi sepertinya meski karya lama patut untuk dibaca. Selain menambah wawasan, juga dapat dijadikan referensi untuk membuat membuat tulisan di saat ini.

    ReplyDelete
  3. Sudah lama rasanya nggak baca karya sastra. Apalagi yang klasik.

    Ada banyak kisah yang sejatinya adalah realita yang dialami penulisnya. Entah sepersekian bagian dalam sebuah novel. Dan itu bisa membuat sebuah karya seolah memiliki nyawa. Enak dibaca.

    ReplyDelete