Wednesday, September 20, 2017

Pulung Lurah

Pulung Lurah
Oleh : Joyo Juwoto

Udara dingin musim kemarau di desa Bangilan belum sirna, penduduknya biasanya masih berselimut sarung, duduk-duduk di depan bediang menghangatkan badan sambil menikmati kretek dan secangkir kopi hitam. Asap dari perapian yang sebenarnya untuk menghangatkan ternak-ternak di kandang dan pengusir nyamuk itu masih mengepulkan asap putih dengan bau sangit yang sangat menyengat. Tapi aroma itu sudah biasa bagi warga desa, sangat biasa dengan kehidupan mereka di desa.

Pagi itu penduduk Bangilan tidak berangkat ke ladang maupun ke pasar. Hari itu penduduk kampung sedang menyelenggarakan pesta rakyat, pemilihan lurah baru. Pagi-pagi sekali penduduk telah bersiap untuk pergi ke balai desa, mereka akan memberikan suaranya kepada calon lurah baru yang dipilihnya.

“Kang Parjo, nanti kamu pilih siapa? Tanya Diman kepada teman ngopinya di warung Mbok Darmi

“Ah, rahasia to Kang, yang pasti jagoku jelas menang” Jawab Parjo dengan penuh kebanggaan dan kepedean tingkat dewa.

“Kalau aku siapapun yang menang sih sama saja, kita rakyat akan tetap menjadi rakyat jika tidak bekerja toh tidak akan makan. Ya hanya saat pencalonan lurah saja suara kita ada harganya, diperhitungkan. Setelah ini toh kita tetap sebagai rakyat biasa.” Sahut Paimo yang duduk di sudut warung.

“Benar sekali, hanya kali ini saja wong-wong gede itu peduli sama kita, lha wong ada maunya. Coba nanti kalau sudah terpilih, mereka tidak akan kenal dengan wajah kita-kita wong cilik ini, jadi siapapun yang memberi kita uang yang paling banyak itu yang kita pilih nantinya” Kata Diman penuh semangat.

Di warung mbok Darmi pagi itu cukup ramai, rata-rata bapak-bapak yang akan berangkat ke balai desa untuk memberikan suaranya. Warung mbok Darmi memang bisa dikatakan punya peran penting dalam menyukseskan pemilihan lurah. Dari warung itu segala informasi bisa diserap oleh para botoh calon lurah, kemudian strategi apa yang selanjutnya akan dimainkan. Bahkan tidak jarang pula warung mbok Darmi dipakai sebagai markas pemenangan salah satu calon lurah.

Para botoh biasanya memboking warung mbok Darmi, siapapun yang marung di situ di hari tertentu dalam masa pencalonan gratis tis tanpa di suruh membayar. Tidak heran warung yang memiliki tanda bokingan salah satu calon lurah ramai dikunjungi oleh penduduk kampung. Bisa ditebak siapa yang memiliki amunisi dana kuat yang mampu menggaet suara dari warung itu.

Kali itu calon lurah baru desa Bangilan ada tiga orang, pertama Kang Sogol dengan lambang gambar jagung, kedua Pak Amin dengan lambang gambar kelapa, dan Kang Mukri dengan lambang gambar padi. Ketiga calon lurah baru desa Bangilan ini memiliki pendukung yang solid.

Kang Sogol yang berlatar belakang sebagai seorang tokoh pemuda yang malang melintang di dunia jalanan, memiliki peluang suara dari anak-anak muda. Kang Sogol pun memiliki banyak akses ke orang-orang pemerintahan, karena keluwesannya dalam pergaulan. Pak Amin, yang seorang santri dermawan, baik hati, dan tak memiliki cela yang berarti memiliki peluang mendapatkan suara dari kaum santri dan orang-orang soleh. Dengan kebaikannya itu Pak Amin bertaruh dengan dalam pemilihan jabat lurah. Sedang Kang Mukri yang seorang abangan, mengandalkan kerja botohnya yang cukup piawai dalam memenangkan seorang calon lurah. Kang Mukri memang kurang luwes dalam pergaulan, namun uang bisa menjadikannya tampak baik, hari-hari ini. Apalagi didukung dana yang cukup kuat, Kang Mukri merasa berada di atas angin dalam memenangkan kontes pemilihan lurah kali ini.

Walau dibilang pemilihan lurah adalah ajang demokratisasi di desa, namun sebenarnya penduduk tidak begitu memahami tetek bengeknya demokrasi-demokrasi itu, penduduk masih mempercayai bahwa lurah adalah jabatan yang mengandalkan semisal wahyu keprabon. Atau orang-orang menyebutnya sebagai pulung lurah. Calon yang mendapatkan pulung itulah yang nantinya akan keluar sebagai pemenang di pemilihan calon lurah.

Jadi selain sibuk berkampanye dengan mendatangi satu persatu rumah penduduk untuk meminta dukungan, atau menempelkan lambang gambarnya di jalan dan pohon-pohon untuk sosialisasi, seorang calon lurah juga berikhtiar agar pulung lurah jatuh kepada dirinya. Tidak ada gunanya didukung rakyat banyak jika pulung itu ternyata hinggap di calon lain. Mereka mempercayai pulung itulah yang akan memenangkan pencalonan mereka sebagai lurah.

Seperti dalam dongeng pewayangan, seorang calon raja harus menerima wahyu cakraningrat terlebih dahulu dengan cara bertapa di suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Begitu pula seorang lurah, biasanya para calon itu akan mendatangi punden desa untuk meminta restu akan pencalonan mereka sebagai lurah desa. Setelah melakukan ritual tertentu di punden tersebut biasanya masing-masing calon akan mendapatkan isyarat yang berbeda-beda.

***
Beberapa pekan sebelum pencalonan lurah, para calon lurah maupun botohnya sibuk mencari dukungan, baik secara moril maupun spiritual. Ada yang mendatangi dukun-dukun sakti, ada yang mendatangi tempat-tempat keramat, menggelar istighosah pemenangan, hingga mencari syarengat yang sesuai petunjuk dari masing-masing tokoh spiritual.

Malam itu adalam malam Jumat Kliwon, tepat satu minggu sebelum digelarnya pemilihan lurah. Kang Mus bersama Kang Jo yang mendukung pencalonan salah satu calon lurah mendapat tugas untuk mencari tujuh sumber mata air dan segenggam tanah di satu dusun dekat punden desa. Dan pekerjaan itu jangan sampai diketahui oleh pendukung calon lainnya. Tensi persaingan pemilihan lurah kali ini memang terasa panas, sehingga para botoh perlu berhati-hati dalam bertindak.

“Kang Jo, nanti tepat tengah malam kita ke punden desa ya? ajak Kang Mus mengawali obrolannya di rumah Kang Jo. Rumah kang Jo memang berada di tepi desa dekat dengan punden, sehingga memudahkan mereka untuk melancarkan maksudnya.

“Iya, nanti siapkan botol wadah air, sebentar lagi kita berangkat, ini mendekati tengah malam, dan jangan lupa senternya sekalian kamu bawa” Jawab Kang Mus sambil melihat jam yang ada di atas dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

Saat jam dinding menunjukkan angka 12, dua botoh dari Kang Sogol itu keluar rumah. Mereka berdua berjalan menerobos jalan setapak, agar tidak diketahui oleh orang-orang yang mungkin belum tidur. Kang Mus dan Kang Jo berjalan beriringan dalam gelap, menuju punden desa yang berada di tengah sawah. Punden desa itu berupa sumur kecil di bawah pohon trembesi besar yang usianya mungkin sudah ratusan tahun, sumur kecil itu airnya tidak pernah kering. Orang-orang menyebutnya sebagai sumur Ngasinan.

Sesampainya di sumur itu, Kang Jo segera mengambil gayung sumur dari tempurung kelapa. Kang Jo menahan nafas kemudian menghentakkan kakinya ke tanah tiga kali, setelah itu merapal doa yang telah diajarkan oleh guru spiritual Kang Sogol, baru kemudian ia mengambil air dan memasukkannya ke wadah botol  yang dibawanya.

“Ayo kita berburu dengan waktu, Kang Jo, saya akan mengambil segenggem tanah di sini, setelah itu mari segera meninggalkan tempat ini, dan kita ambil air dari sumur-sumur penduduk di dusun sini”. Kata Kang Mus mengomando dirinya sendiri.

Setelah selesai dari sumur punden, mereka berdua bergegas kembali ke dusun. Dengan perlahan Kang Mus dan Kang Jo mengendap mencari sumurnya penduduk. Tak berlangsung lama, tugas yang diemban oleh kedua botoh itu selesai dengan tanpa meninggalkan masalah. Kemudian mereka berdua kembali ke rumah Kang Jo.

***
Di hari pemilihan orang-orang sama berbondong-bondong mendatangi TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ada di balai desa. Satu demi satu antrian masuk ke bilik suara. Beberapa Hansip desa mengatur masuknya antrian, agar tidak berdesak-desakan. Tiga calon lurah duduk di pendopo balai desa dengan latar belakang lambang gambar masing-masing. Padi, jagung,dan kelapa, tiga lambang gambar untuk pemilihan lurah di desa Bangilan.

Kang Sogol calon lurah dengan gambar padi telah datang di awal sebelum kedua calon datang. Bahkan matahari belum muncul Kang Sogol telah menduduki kursinya, Ia berharap kedatangan awalnya menjadi pertanda baik sebagai pemenang di pemilihan lurah. Kang Mukri datang paling akhir, karena atas petunjuk dukunnya ia disuruh berkeliling kampung dulu dengan tanpa memakai alas kaki, sebelum sampai ke balai desa, dengan harapan seluruh tempat yang ia lewati dan terkena telapak kakinya akan memilihnya menjadi lurah baru. Sedang Kang Amin, santai saja. Ia mempercayai bahwa Tuhan akan membela orang-orang baik. Di belakangnya ada Tuhan. Dia datang pukul tujuh, sebagaimana orang-orang berangkat untuk beraktivitas. Kang Amin tidak melakukan hal-hal yang aneh, dia seorang rasionalis dan terlalu baik untuk melakukan hal-hal yang diluar nalar.

Demokrasi memang sebuah misteri, walau kebenaran adalah milik mayoritas, namun mayoritas belum tentu memilih yang benar. Belum tentu orang baik akan dipilih sebagai lurah. Pimpinan dalam demokrasi tidak perlu orang baik, asal terpilih mayoritas ia punya legalitas menjadi pemimpin masyarakat. Entah bagaimana dulu asal muasal dan legenda tentang lahirnya demokrasi di negeri ini.

Dalam penelusuran jejak-jejak sejarah nenek moyang, zaman dahulu proses memilih pimpinan kelompok tidak menggunakan demokrasi. Entahlah mungkin demokrasi memang belumlah lahir. Hanya orang hebat, kuat, dan memiliki kecerdasan lebih yang akan dijadikan pimpinan, orang-orang pintar menyebutnya sebagai proses primus interpares. Semenjak demokrasi lahir yang entah kapan, hal itu sudah tidak berlaku kembali.

Hari telah siang, orang-orang masih berkerumun di dekat balai desa. Mereka menunggu hasil penghitungan suara. Setelah semua orang memberikan hak suaranya, penghitungan pun di mulai oleh pihak panitia. Pak Pandi yang bertugas membaca kertas suara meraih microfon, setelah lipatan kertas dibuka dan ditunjukkan ke khalayak, ia pun membaca kertas itu dengan suara keras, “Jagung, jagung, padi...” kemudian bagian saksi meneliti bekas coblosan di kertas suara dan menimpali suara pak Pandi dengan teriakan juga, “Sah”.

Penghitungan dilaksanakan hingga menjelang senja, para calon lurah masih juga duduk di kursinya, berharap dirinya yang mendapatkan suara terbanyak. Wajah ketiga calon lurah itu tampak lelah dan tegang, maklum seharian mereka duduk di sana.

Setelah penghitungan selesai panitia pun merekap data, dan pemenangnya ternyata adalah Kang Sogol, kemudian disusul suara dari Kang Mukri, dan itu terpaut sekitar ratusan suara.

“Keparat!!! Hai Tarmu, kau kemanakan uang-uangku? Mengapa orang-orang yang kau beli tidak memilih gambarku? Kang Mukri merah padam, ia murka karena uang yang dikucurkan untuk pemenangan dirinya ternyata tidak sampai ke penduduk, uang itu entah raib kemana. Para kerabat Kang Mukri menenangkannya, karena bagaimanapun pemilihan telah usai, dan ia harus menerima kekalahan yang menyakitkan itu.

Orang-orang di balai desa sama berteriak menyanjung nama Kang Sogol sebagai pemenang lurah desa Bangilan, “Sogol, Sogol, Sogol!” Pulung lurah desa Bangilan jatuh ke pangkuan Kang Sogol. Para pendukung Kang Sogol kemudian mengerumuninya, suasana histeria menyelimuti senja penghabisan di pendopo balai desa. Dengan berjalan kaki para pendukung Kang Sogol membobong lurah baru itu hingga ke rumahnya. Dan dipastikan malamnya akan ada pesta besar di rumah Kang Sogol. Seekor sapi besar telah disiapkan untuk menjamu orang-orang yang datang ke rumahnya.

Pak Mukri akhirnya hanya diam pasrah, ia pun pulang dengan langkah gontai dan menundukkan kepala. Ada beberapa orang yang mengikutinya, dipastikan itu bukan botoh-botoh dari Pak Mukri. Karena ternyata botoh-botohnya berkhianat. Uang yang dikucurkannya sejumlah ratusan juta ludes tanpa membawa hasil yang diharapkannya.  Sedang Pak Amin juga harus menerima dengan dada terbuka akan kekalahannya, kini ia mengerti bahwa demokrasi ternyata belum memberikan tempat kepada orang baik seperti dirinya. Budi baiknya kalah dengan suara “Tuhan”.

Di pojok balai desa di sebuah warung kopi, Kang Mus dan Kang Jo duduk dengan tenang sambil menyeruput kopi pengabisan di cangkirnya. Kretek yang di hisap juga hampir padam, tinggal tersisa beberapa hisapan. Mereka berdua kemudian bergegas meninggalkan warung kopi.



No comments:

Post a Comment