Thursday, September 14, 2017

Karomahnya Istri Cerewet bin Bawel

Karomahnya Istri Cerewet bin Bawel
Oleh : Joyo Juwoto

Bulan-bulan ini banyak sekali undangan mantenan maupun hajatan lainnya, maklum memang bulannya bulan baik dan penuh berkah untuk menyelenggarakan event hajatan. 

Kemarin saya juga mendatangi walimahannya salah seorang temen, saya selalu senang datang ke walimahan selain silaturrahmi banyak ilmu yang kita dapatkan dari mauidhoh yang disampaikan oleh para Kiai pembicara. Lain daripada itu, tentunya dalam walimahan juga bisa kita jadikan sebagai ajang memperbarui sensasi menjadi temanten anyar bagi kita-kita yang sudah menikah. Setidaknya kenangan kebahagiaan menjadi temanten anyar akan muncul kembali di benak kita.

Dalam mauidhoh yang kemarin disampaikan oleh pembicara di walimah teman saya, Pak Kiai membahas mengenai kesabaran dari seorang Umar bin Khattab di hadapan kemarahan istrinya. Kisahnya sebagai berikut :

Suatu ketika, salah seorang Sahabat Abu Dzar Al Gifari* merasa gusar karena di rumah istrinya selalu memarahinya.  Di tengah kekalutannya, Abu Dzar berencana menceraikan istrinya yang dianggap terlalu cerewet kepada dirinya. Namun sebelum itu, Abu Dzar ingin meminta pendapat terlebih dahulu kepada seniornya yaitu Umar bin Khattab.

Berangkatlah Abu Dzar ke rumah Umar. Sesampai di sana Abu Dzar berdiri di depan pintu kemudian akan mengucapkan salam. Namun ia urungkan niatnya, karena Abu Dzar mendengar suara wanita yang juga sedang marah-marah di dalam rumah.

Abu Dzar Al Gifari tertegun, ternyata itu adalah suara Atiqah istri dari sahabatnya Umar bin Khattab. Di tengah kemarahan Atiqah istrinya Umar, Abu Dzar sama sekali tidak mendengar suara Umar membalas kemarahan istrinya.

Tak berselang lama suasana hening, namun Abu Dzar mengurungkan mengucapkan salam, ia segera berbalik untuk pulang. Ketika kakinya akan diputar untuk melangkah ke belakang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Umar bin Khattab.

“Wahai Abu Dzar, ada urusan apa engkau datang kemari? dan mengapa engkau belum bersua denganku kok akan pergi? Tanya Umar.

“Owh, engkau wahai Umar” Jawab Abu Dzar sambil kembali ke arah pintu rumah Umar bin Khattab.

“Iya, kemarilah ada urusan apa engkau datang ke rumahku?

“Begini Umar, tadinya saya mau meminta pendapat engkau tentang istriku yang suka marah-marah kepadaku. Hampir saja saya menceraikan istriku itu karena kebawelannya, wahai Umar.

“Tapi, ketika saya datang ke rumahmu, engkau ternyata juga sama seperti saya, sedang dimarahi oleh istrimu, dan saya sama sekali tidak mendengar engkau membantah omelan istrimu itu, wahai Umar.”

“Hehe...hehe...iya Abu  Dzar, saya tidak mungkin memarahi istri saya, karena saya selalu mengingat akan pengorbanan istri saya lebih besar dari segalanya. Di seluruh waktu dan kehidupannya, istriku hanya digunakan untuk keperluanku. Memasak untukku sepanjang waktu, mengasuh dan mendidik anak-anak, padahal itu semua sebenarnya bukanlah kewajibannya”. Jawab Umar kepada Abu Dzar.

Selain kisah Umar yang sabar menghadapi kemarahan istrinya, Pak Kiai juga menceritakan ada seorang sufi yang bekerja sebagai pembuat kapak, pisau, dan parang. Sufi itu bernama Abu Ibrahim. Setiap hari Abu Ibrahim membuat kapak dan parang untuk dijual ke pasar.

Di rumah Abu Ibrahim memiliki istri yang sangat galak, sehingga Abu Ibrahim harus bekerja keras untuk memenuhi tuntutan si istri yang kadang-kadang kelewat batas kemampuan Abu Ibrahim. Namun Abu Ibrahim tetap sabar menghadapi kebawelan istrinya.

Ada satu karamah yang dimiliki oleh Abu Ibrahin, yaitu ketika ia bekerja membakar besi yang akan dijadikan kapak dan parang tadi, Abu Ibrahim tidak memerlukan penjepit dari besi. Cukup besi yang membara itu dipegang dengan tangnnya. Atas kebesaran Tuhan, Abu Ibrahim sama sekali tidak merasakan panasnya besi yang merah membara.

Selain sebagai pandai besi, Abu Ibrahim juga bekerja mencari kayu bakar di hutan. Saat dia mencari kayu bakar, Abu Ibrahim bertemu dengan seekor singa hutan yang garang. Namun aneh singa itu seakan takluk dan tunduk di hadapan Abu Ibrahim. Bahkan ketika ia pulang, singa itu membawakan kayu-kayu yang seharusnya dipikul oleh Abu Ibrahim.

Suatu ketika entah karena apa, istrinya Abu Ibrahim meninggal dunia atau mungkin berpisah karena diceraikan oleh Abu Ibrahim. Soalnya saya lupa ceritanya, namun kelanjutan cerita, Abu Ibrahim memiliki istri baru. Beda dengan istrinya yang lama, istri Abu Ibrahim kali ini orangnya sangat penurut dan sangat mencintai Abu Ibrahim. Berapapun uang belanja yang diberikan oleh Abu Ibrahim diterimanya dengan senang hati dan penuh syukur.

Seperti biasa Abu Umar berangkat bekerja seperti biasanya untuk membuat peralatan dari besi. Saat Abu Ibrahim membakar besi itu, dan akan dipegang dengan tangannya, ternyata ia kepanasan. Ketika Abu Ibrahim ke hutan untuk mencari kayu bakar, singa yang biasanya membantunya pun tidak ada, hingga Abu Ibrahim harus berpayah-payah memikul kayu-kayu itu sendiri.

Abu Ibrahim jadi bertanya-tanya, kenapa karamah yang diberikan kepadanya sekarang sudah lenyap. Ternyata karamah Abu Ibrahim mampu memegang panasnya besi yang membara, dan mampu menaklukkan kegarangan singa hutan, dikarenakan kesabaran dan keihklasannya dalam menghadapi kecerewetan dan kebawelan sang istri terdahulu. Karena istrinya sekarang taat dan patuh kepadanya, maka karamahnya telah diangkat dari dirinya.


Demikian kisah yang diceritakan oleh Pak Kiai di dalam mauidhoh temanten di teman saya kemarin. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat.


*Sahabat Abu Dzar Al Gifari : Untuk nama laki-laki yang mendatangi Umar belum saya cek kebenaranya, entah dia Abu Dzar atau bukan.

No comments:

Post a Comment