Saturday, July 1, 2017

Kisah Maling Sakti dan Maling Aguna

Kisah Maling Sakti dan Maling Aguna
Oleh : Joyo Juwoto

Syahdan disebuah negeri antah berantah, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja selalu memperhatikan kondisi dan keadaan rakyatnya secara menyeluruh, sehingga ia menugaskan kepada para punggawa kerajaan untuk selalu keliling kampung-kampung, guna melihat dan melaporkan kondisi terkini dari rakyat yang dipimpinnya.
Namun sayang perhatian Sang Raja kepada rakyatnya melalui para punggawa itu diselewengkan dan tidak dikerjakan dengan amanah. Khususnya sikap dari Sang Patih kerajaan sebagai penanggung jawab dari tugas Raja, Patih ini selalu memberikan laporan yang menyenangkan Sang Raja, seakan tidak pernah ada masalah yang terjadi atas rakyat yang dipimpinnya.
Suatu ketika, di sebuah perkampungan dipinggiran dari kerajaan terjadi suatu musibah. Entah sebabnya apa, kampung itu para lelakinya sama meninggal dunia, yang tinggal hanya para janda-janda tua yang lemah. Namun ajaib ada seorang pemuda yang selamat dari musibah yang aneh itu. Sebut saja namanya Jaka. Maksud hati, Jaka ingin meninggalkan kampungnya yang telah mati. Tapi hatinya tidak tega melihat janda-janda tua yang nantinya akan mati satu persatu karena wabah lapar yang melanda mereka. Nasib mereka tentu tidak ada yang mempedulikannya. Dan tinggal Jaka seorang diri.
“Apa yang harus aku lakukan? orang-orang itu membutuhkan makanan untuk menyambung hidupnya, sedang tanah di kampung ini sedang dilanda paceklik, dan tidak ada yang bisa saya lakukan” pikir Jaka.
Jaka bingung, ia merenung seorang diri, apa yang harus dilakukannya ? Karena tidak memiliki keahlian apapun Jaka berfiir untuk menjadi pencuri saja, mencuri makanan yang digunakan untuk menyelamatkan puluhan nyawa yang tak berdaya di kampungnya.  Jika para pencuri yang diincarnya adalah harta kekayaan, lain dengan Jaka, ia adalah seorang pencuri spesialis makanan yang ada di rumah-orang-orang kaya. Ia tidak mau mengambil lebih daripada makanan. Karena memang niatnya hanya untuk memberi makan para janda-janda tua yang tidak berdaya.
Dengan menggunakan pakaian hitam-hitam, Jaka hampir setiap malam keliling kampung-kampung disekitarnya, menyilap masuk rumah dan menguras makanan yang ada di rumah orang-orang kaya. Jaka dalam menjalankan aksinya menggunakan nama samaran Maling Aguna.
Pada suatu kesempatan, dii istana kerajaan, Sang Raja sedang mengadakan pasewakan agung, dalam rangka mendengarkan kondisi yang terjadi di tengah-tengah rakyat. Para punggawa beserta sang Patih menghadap Sang Raja, mereka melaporkan hasil blusukannya ke kampung-kampung. Seperti biasa Sang Raja yang duduk di atas singgahsana mendengarkan dengan seksama apa yang dilaporkan oleh para bawahannya.
“Wahai Sang Patih, bagaimana kondisi rakyatku di luar sana? tanya Sang Raja kepada patih yang duduk di sebelahnya.
“Ampun Paduka Raja, berdasarkan pengamatan para petugas kerajaan, rakyat di luar sana dalam kondisi yang makmur, turah sandang, turah pangan. Masyarakat tata tentrem kerta raharja, gemah ripah lohjinawe” Atur Sang Patih kepada Paduka Raja.
Setiap ada pertemuan kerajaan, selalu kata itu yang diucapkan oleh Sang Patih, berulang-ulang dan tidak ada yang berubah, sedangkan para punggawa yang lain hanya mengiyakan dan sendiko dawuh atas laporan dari Sang Patih.
“Jika memang kondisinya demikian, maka pertemuan kali ini cukup sekian” begitu titah Sang Raja, kemudian ia undur diri meninggalkan pasewakan agung kerajaan. Raja sebenarnya kecewa, karena setiap pertemuan dari waktu kewaktu, seakan laporan dari bawahannya hanya satu lagu, itu-itu saja. Raja menjadi bosan.
Di tengah kebosanannya, Sang Raja akhirnya berkeinginan untuk keluar istana sendiri. Beliau ingin melihat dan mendengar langsung kondisi rakyat di luar dinding istana. Apakah yang dikatakan oleh bawahannya memang benar adanya.
Sang Raja kemudian menyamar dengan memakai pakaian rakyat jelata, tanpa pengawalan beliau keluar istana dengan diam-diam. Di luar dinding istana ternyata keadaannya sungguh mencengangkan, Sang Raja bisa melihat secara langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya. Sang Raja terus berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu kampung k kampung lainnya. Hingga pada suatu malam beliau sampai di sebuah tanah lapang, di situ ada pesta rakyat pasar malam. Berbagai macam tontonan digelar, orang-orang sama berdatangan, melihat tontonan pasar malam.
Di sana-sini para pedagang juga banyak yang berjualan, menggelar dagangannya. Ada penjual singkong goreng, penjual tahu, penjual kacang, dan aneka ragam makanan lainnya. Di sudut lapangan, ada seorang tua yang menggelar tikar, pak tua itu duduk sendiri diterangi oleh obor yang menyala-nyala. Tidak ada seorang pun yang datang mendekat, karena memang tidak ada satu pun makanan atau barang yang dijualnya. Karena penasaran sang Raja yang menyamar pun mendekat.
“Wahai Pak Tua, apa yang sedang engkau lakukan di tempat keramaian ini? apakah engkau sedang menjual sesuatu?
“Wahai orang asing, saya memang sedang jualan, dan yang saya jual itu ilmu, namun sayang tidak ada yang datang mendekat” jawab si bapak tua tadi.
“Memang ilmu apa yang engkau jual pak tua? apakah ilmu kesaktian, kedigdayaan, atau ilmu sihir? selidik Sang Raja lebih jauh.
“Bukan Kisanak, saya menjual ilmu yang sangat bermanfaat, jika Kisanak bersedia membeli, setiap dua kalimat Kisanak harus membayarnya seharga dua keping dirham, dan nanti akan lanjut ke kata berikutnya, juga berlaku harga yang sama” jawab Pak Tua yang aneh itu.
“Wah!!! sangat mahal sekali, dua kalimat seharga dua dirham”
“Jika engkau tidak bersedia, ya tidak apa-apa, silahkan pergi dari sini” jawab pak tua.
Tapi karena Sang Raja penasaran dengan penawaran pak tua tadi, akhirnya Sang Raja memutuskan untuk membeli ilmu yang ditawarkan oleh pak tua tadi.
“Baiklah Pak Tua, saya membeli ilmu yang engkau jual” Jawab Raja.
“Dengarkan wahai kisanak, ilmu yang saya berikan tidak akan saya ulang, oleh karena itu dengarkan baik-baik” Kata pak Tua melayani permintaan calon pembeli ilmunya.
Tinimbang turu aluk tenguk-tenguk” sudah kisanak, itu dua kalimat yang harus engkau bayar dengan dua dirham, sini uangnya. Pinta Pak Tua sambil menyodorkan tangannya kepada Sang Raja yang menyamar.
Sang Raja bingung, dua kalimat itu dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat, lalu apa manfaatnya? pikir sang raja.
Seperti tahu yang dipikirkan oleh pembelinya,Pak Tua berkata : “Jika engkau ingin tahu kelanjutannya, engkau harus membayar dengan harga yang semisal, Kisanak”
 “Baiklah, lanjutkan, nanti akan saya bayar semuanya”, jawab Sang Raja dengan agak jengkel.
“Hehe...hehe...baiklah, tapi jangan lupa, kau bayar sejumlah kalimat yang akan aku sampaikan, dan dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan pernah mengulanginya lagi” jawab Pak Tua sambil terkekeh.
“Tinimbang tenguk-tenguk aluk njongok, tinimbang jongok aluk ngadeg, tinimbang ngadeg aluk mlaku, tinimbang mlaku nganggur, aluk mlaku sing ana tujuane. Tinimbang mlaku ana tujuane aluk mlaku ngubengi omah, tinimbang mlaku ngubengi omah aluk mlaku ngubengi kampung”
“Sudah itu ilmu yang aku jual kepada engkau Kisanak,dan bayarlah sesuai dengan kesepakatan awal kita”
Walau masih terheran dan penasaran dengan ilmu yang dibelinya, Sang Raja pun membayar permintaan dari Pak Tua. Kemudian ia pun pergi meninggalkan tanah lapang yang mulai sepi. Sambil berjalan Sang raja merenungi ilmu yang telah diterimanya dari Pak Tua yang aneh itu.
Sang Raja terus berjalan di tengah kegelapan malam, hingga sampailah ia disebuah pertigaan jalan perkampungan, saat itu kondisi sangat sepi.
Tiba-tiba dari arah jalan di depan Raja muncullah seorang yang berpakaian hitam-hitam. Lelaki yang berpakaian hitam itu kaget, spontan ia berkata : “Hah! siapa kamu, malam-malam keluyuran di tempat ini! Sang Raja yang menyamar pun tak kalah kagetnya, ia pun menjawab sekenanya, “Aku maling Sakti” Kamu siapa? “Aku Maling Aguna” Jawab laki-laki berpakaian hitam tadi.
“Owh, kita sama-sama maling ya, ayo nanti tak tunjukkan tempat yang banyak harta benda yang dapat kita curi” Ajak maling Sakti kepada sahabat barunya, Maling Aguna.
“Baiklah, tapi saya initidak pernah maling harta benda, saya hanya maling nasi dan makanan saja. Kampungku kena musibah, penduduknya hanya tinggal janda-janda tua yang tidak ada yang memberikan makan, oleh karena itu saya mencuri makanan untuk mereka” Jawab Maling Aguna.
 Singkat cerita mereka berdua kemudian pergi ke Istana Raja untuk mencuri.
“Tempat apa ini kok indah sekali, banyak makanan pula? tanya Maling Aguna kepada Maling Sakti.
“Ini adalah istana Raja, dia bukan orang baik, ayo kita ambil dan kita habiskan harta-hartanya” Jawab Maling Sakti.
Namun Maling Aguna enggan dan takut untuk mencuri di Istana, karena ia beranggapan Raja adalah pemimpin yang baik, yang tidak patut hartanya untuk dicuri.
“Tidak, saya hanya akan mengambil makanan saja, saya tidak tega mencuri di tempat raja saya, raja orangnya baik” Jawab Maling Aguna sambil menangis karena sedih telah mencuri di istana raja yang dianggapnya baik itu.
Setelah peristiwa itu Maling Aguna meninggalkan sahabatnya Maling Sakti, ia merasa gak enak diajak mencuri di istana rajanya sendiri. Kemudian unuk memenuhi kebutuhan makanan di kampungnya, Maling Aguna mencuri dari orang-orang kaya di tetangga desa seperti biasa.
Suatu ketika, karena penjagaan semakin ketat, Maling Aguna mulai mencuri dengan cara melubangi tanah dari sisi luar pagar. Kemudian ia membuat lubang yang menghubungkan ke dalam rumah. Tidak disengaja saat Maling Aguna melubangi tanah dan masuk sebuah kamar di kepatihan, lubang itu tepat berada di bawah ranjangnya Sang Patih.
Saat itu Sang Patih sedang tiduran dan bercengkrama dengan istrinya di atas ranjang, mereka tidak menyadari kalau di bawah sudah ada Maling Aguna.
“Diajeng istriku, seandainya kamu memilih, suka mana, Kang Masmu ini menjadi Patih ataukah menjadi Raja?
“Ah Kang Mas, tentu aku suka jika Kang Mas menjadi Raja saja, bukan hanya seorang Patih” jawab istrinya.
“Baiklah Diajeng, sebentar lagi keinginanmu akan menjadi kenyataan, saya punya sebuah semangka ajaib, besarnya satu jun, itu saya letakkan di bawah ranjang. Semangka itu telah aku racuni, dan besok akan aku hadiahkan kepada Raja, Ia pasti senang, dan kau akan tahu sendiri cerita selanjutnya” Kata Sang Patih kepada istrinya.
Mendengar percakapan itu, Maling Aguna ketakutan, ia segera kembali menutup lubang yang ada di bawah ranjang Sang Patih. Dengan tergesa Maling Aguna berlari keluar lubang. Maling Aguna kebingungan, ia mencari-cari temannya Maling Sakti, di sekitar Istana Raja. Karena menurut pengakuan Maling Sakti, ia sering mencuri harta kekayaan Raja.
Benar saja, Maling Aguna bertemu dengan Maling Sakti di dekat tembok luar Istana, dengan terbata dan gugup, Maling Aguna menceritakan apa yang telah didengarnya dari pembicaraan Sang patih dengan Istrinya di ranjang yang sempat dicuri dengar oleh Maling Aguna.
“Wahai Maling Sakti, saya mohon selamatkan Sang Raja dari rencana pembunuhan Sang Patih, engkau pernah  bilang, bahwa engkau punya kenalan orang dalam istana, maka saya mohon sampaikan ini kepada Raja, benar saya tidak bohong” pinta Maling Aguna kepada saahbatnya yang tidak lain adalah Sang Raja itu sendiri.
“Baiklah, saya percaya dengan ceritamu, pulanglah kamu ke kampungmu, saya akan ke istana dan menceritakan ini kepada sahabat saya yang ada di dalam istana” Jawab Maling Sakti.
Legalah hati Maling Aguna, ia kemudian pulang meninggalkan sahabatnya. Maling Sakti sendiri merenungi segala kejadian yang dialami di istananya. Mulai dari laporan-laporan para punggawanya yang selalu baik-baik saja, hingga akhirnya ia keluar istana dan bertemu dengan seorang bapak tua penjual ilmu. Dari ilmu bapak tua itulah Sang Raja mengamalkan ilmu tersebut, sehingga ia mengetahui keadaan sesungguhnya rakyat yang dipimpinnya. Dari situ pula ia bertemu dengan maling budiman, Maling Aguna, Maling yang hanya mencuri makanan sekedar untuk menutupi rasa lapar penduduk kampungnya.
Dari perjalanannya itu akhirnya terbongkar pula muslihat busuk yang sedang dijalankan oleh Patihnya, yang akan mendongkel kekuasaannya, hingga Sang Patih tega akan membunuhnya, dengan cara meracuninya. Untung ada Maling Aguna sahabatnya yang mengetahui akan hal itu, sehingga ia selamat dari pembunuhan yang telah direncanakan oleh Patihnya sendiri.
Sebelum Sang Patih pergi ke istana dan memberikan hadiah semangka ajaibnya, lebih dulu Sang Raja datang ke kediaman Sang Patih dengan membawa pasukan bersenjata lengkap. Patih yang tidak punya  rasa terima kasih itu ditangkap dan diadili oleh kerajaan sesuai dengan rencana makar yang akan dijalankannya.

Setelah peristiwa itu kerajaan yang dipimpin oleh Sang Raja menjadi kerajaan yang makmur nan sentausa. Rakyat hidup bahagia dalam perlindungan raja yang adil dan bijaksana.

No comments:

Post a Comment