Sunday, March 12, 2017

ASSALAM Sudah Begini Ataukah Baru Begini?

Pic. Mbah Moel
ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?
Oleh : Joyojuwoto*

“ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?.” Begitulah salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh Abah Moehaimin, pendiri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan  Tuban kepada salah satu alumni era 80-an. Hal ini saya baca dalam buku “Surgaku Adalah Mengajar” sebuah buku kumpulan tulisan untuk mengenang KH. Abd. Moehaimin Tamam.

Dari pertanyaan Abah Mohtam di atas, para Hawariy penerus perjuangan Abah Mohtam harus menjawab dengan sebuah tindakan yang nyata, jelas, dan terukur agar apa yang ditanyakan oleh pendiri dari pondok pesantren ASSALAM ini menemukan titik jawaban yang memuaskan. Pertanyaan dari Abah mengandung sebuah harapan besar, agar kelak pondok pesantren ASSALAM Bangilan terus berbenah dan berkembang yang lebih baik lagi.

Perubahan-perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan, dan jika pondok pesantren ingin tetap eksis tentunya harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu. Kita tidak akan mungkin menang melawan perubahan zaman, jika kia tidak mengikuti arus besar perubahan, maka bersiap-siaplah untuk digulung, dihantam, dihempaskan dan akhirnya dihancurkan oleh arus perubahan itu  sendiri. Ingat teori evolusi, bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, begitu pula teori ini juga berlaku bagi pondok pesantren yang tidak mampu melihat arah perubahan zaman.

Perubahan-perubahan yang saya maksud untuk diikuti tentu bukan sembarang perubahan, masalah prinsip, masalah pokok tetaplah harus kita pegang erat, kita pertahankan, kita pegang teguh, namun kita juga jangan terlalu kolot statis, yang tidak bisa melihat modernitas dengan segala potensi kebaikan dan kemajuannya. Saya kira ulama-ulama salafus sholihin pun mengajarkan akan hal ini. Dalam sebuah kaidah ushul fiqih sering kita ucapkan “Al-muhaafadhotu ‘alal Qadiimis Shoolih, Wal akhdu bil Jadiidil Ashlah” (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Dari kaidah ushul fiqih di atas, mengajarkan akan dinamika perubahan harus diikuti, pesantren haruslah menerapkan dan melakukan gerakan inovasi positif untuk mampu mempertahankan diri dari perubahan zaman, pesantren harus bisa mempertahankan dan memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mampu mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik lagi. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan sebuah ungkapan yang luar biasa “Al Ma’hadu La Yanaamu Abadan” Pondok tidak pernah tidur, pondok selalu terbangun, pondok tidak pernah berhenti, pondok harus terus bergerak. Bergerak berarti hidup, bergerak berarti dinamis, bergerak untuk terus mengasilkan kebaikan bagi umat.

Jadi sebuah pondok pesantren tidak perlu alergi dengan perubahan yang membawa kebaikan bersama, karena itu ada dalilnya, ada petunjuknya dari ulama-ulama salaf, tinggal kita yang perlu merumuskan dengan baik perubahan seperti apa yang diinginkan.

Pondok Pesantren ASSALAM sejak mulai berdiri sudah memiliki visi dan misi yang besar, hal ini selalu digemblengkan oleh Abah Mohtam yang merujuk pada nilai dan ajaran dari Gontor bahwa, “Pondok pesantren ASSALAM berdiri di atas dan untuk semua golongan.” Visi dan misi besar ini harus diejawentahkan dalam program pesantren.

Abah Mohtam, adalah seorang yang visioner, beliau mendirikan pesantren tidak hanya untuk kelompok dan golongan saja, hanya untuk satu dan dua ormas saja, lebih-lebih hanya untuk keluarga. Abah Mohtam adalah seorang yang berjiwa besar karena visi dan misinya yang menglobal dengan semboyan beliau : “ASSALAM Lana Wa Lil Muslimiina, ASSALAM Fauqol Jamik, Wa Lil Maslahati Jamik.” jadi mengutip pertanyaan Abah Mohtam, ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?


2 comments:

  1. Selamat ulang tahun ponpes Assalam. Semoga menjadi ponpes yang lebih maju dari sebelumnya. Dan bisa mewujudkan visi misi sebagai ponpes yang bisa menerima semua golongan. Sukses teros untuk sang penulis dan Ponpea Assalam. :)

    ReplyDelete