Saturday, January 30, 2016

Istiqamah

Istiqamah

Diantara sikap yang mendatangkan karamah adalah Istiqamah. Walau demikian karamah bukanlah tujuan daripada istiqamah itu sendiri. Karamah hanyalah bunga-bunga kebahagiaan yang diberikan oleh Allah agar manusia bisa terus beristiqamah. Namun tidak jarang orang-orang yang tertipu pada maqam karamah ini, kadang mereka tertipu dan merasa telah mendapatkan buah dari kesejatian istiqamah. Padahal jika kita ingin mengetahui dan mengunduh buah kesejatian dari pada istiqamah maka kita harus terus berada pada maqam istiqamah, bukan malah berpaling darinya.

Istiqamah berarti tekun, terus-menerus, tidak terputus, konsisten, dan lestari dalam kebaikan amal. Ibarat tetesan air yang perlahan namun pasti mampu melubangi kerasnya batu. Begitu juga dalam hal kebaikan perlu dilakukan dengan terus-menerus sehingga mampu merontokkan kekerasan hati kita.

Dalam banyak kata-kata hikmah juga disebutkan bahwa istiqamah itu derajadnya lebih baik dibandingkan dengan seribu karamah, sebagaimana yang sering kita dengar dari guru-guru kita bahwasanya :
الاستقامة خير من الف كرامة
Artinya : “Istiqamah itu lebih baik dari seribu karamah.”

Oleh karena itu para Ulama berpesan dengan sungguh-sungguh bagi para Salikin agar memperhatikan benar tentang istiqamah, jangan sampai mereka tergoda dengan bunga-bunga kesenangan yang sementara. Dalam sebuah maqalah dinyatakan bahwa “Kun Thalabal Istiqamah Wa La Takun Thalabal Karamah” artinya “Carilah selalu  istiqamah dan jangan mencari karamah.” Di sini para Ulama berpesan agar kita tidak putus-putusnya untuk selalu berada pada jalan keistiqamahan dan jangan sampai tertipu hanya karena mengejar-ngejar karamah.

Kata istiqamah adalah bentuk kata kerja aktif dan cair, konsteksnya bisa bermacam-macam dan dapat dimaknai dalam berbagai situasi dan kondisi. Istiqamah tidak hanya berkenaan dengan masalah ubudiyah semata, namun lebih dari itu istiqamah bisa menjadi satu keajaiban dalam berbagai urusan manusia baik itu yang berdimensi duniawi maupun yang berdimensi ukhrawi. Istiqamah berarti melakukan kebaikan secara terus menerus, konsisten, tekun dan tak kenal putus. Sikap ini tentu memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan seseorang baik yang berkenaan dengan amal dunia maupun amal akhiratnya.

Memang istiqamah sering memunculkan hal-hal yang tak terduga, ambillah contoh seorang yang dianggap miskin namun tekun menabung setiap hari pada akhirnya ia mampu pergi haji, mampu menjalankan ibadah qurban dan lebih mampu melakukan hal-hal lain dibanding dengan orang yang lebih mampu dan lebih kaya darinya secara materi. Dalam hal ibdah orang yang merutinkan dua rakaat shalat tahajud misalnya, lebih dicintai Allah SWT dibanding orang yang langsung menjalankan tahajud seribu rakaat namun setelah itu ia tidak menjalankannya sama sekali. Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda :
احبّ الأعمال إلى الله أدومها وإن قلّ (رواه الشيخان عن عائشة)
Artinya : “Pekerjaan-pekerjaan (yang baik) yang lebih disukai Allah adalah pekerjaan yang terus-menerus dikerjakan walaupun pekerjaan itu sedikit.” (HR. Bukhori Muslim dari Aisyah).

Kata istiqamah sendiri termasuk bagian dari Jawami’ul Kalamnya Nabi Muhammad SAW, yaitu suatu kata singkat namun memiliki makna yang padat, hal ini sebagaimana yang termuat dalam Syarh matan AL-Arba’in Al-Nawawiyyah bahwasanya Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Al-Tsaqafiy Radiyallahuanhu, bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai Islam :
قلت يارسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه احدا غيرك, قال : قل آمنتُ بالله ثمّ استقم (رواه مسلم)
Artinya : “Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu.’ Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu.” (HR. Muslim).

Dalam Al Qur’an sendiri Allah SWT menjadikan keimanan dan keistiqamahan  sebagai prasyarat manusia hidup dalam ketenangan, dijauhkan dari segala jenis ketakutan dan kesedihan serta mendapatkan bantuan dari para malaikat. Tidak hanya itu, bahkan Allah SWT menegaskan dan memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang beristiqamah akan mendapatkan surga sebagaimana yang Allah SWT janjikan. Dan tentu sebuah kepastian bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-janji-Nya. Dalam surat Fusshilat ayat 30 Allah SWT berfirman :

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qä9$s% $oYš/u ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó$# ãA¨t\tGs? ÞOÎgøŠn=tæ èpx6Í´¯»n=yJø9$# žwr& (#qèù$sƒrB Ÿwur (#qçRtøtrB (#rãÏ±÷0r&ur Ïp¨Ypgø:$$Î/ ÓÉL©9$# óOçFZä. šcrßtãqè? ÇÌÉÈ  
30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Semoga kita dipermudahkan oleh Allah untuk mencapai maqam istiqamah, istiqamah dalam iman, terus-menerus dalam kebaikan, tekun dalam beribadah, serta berkesinambungan dalam beramal untuk menggapai puncak tertinggi ridlo Tuhan. Joyojuwoto

Friday, January 29, 2016

Wuludomba Pancal Panggung

Wuludomba Pancal Panggung

Pangeran Benawa adalah putra dari Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain yaitu Pangeran Jatikusuma, Pangeran Jatiswara, Pangeran Warihkusuma, Pangeran Warsakusuma, dan Pangeran Anom (Pangeran Panjaringan) pergi ke kadipaten Jipang untuk memerintah dan menjadi Adipati di sana. Karena sepeninggal Sultan Hadiwijaya yang menggantikan jabatan sultan adalah menantunya yang bernama Arya Pangiri. Walau sebenarnya yang berhak menjadi sultan Pajang adalah Pangeran Benawa karena dialah sebenarnya yang menjadi putra mahkota. Karena saudaranya yang pertama adalah seorang perempuan yang kemudian menikah dengan Arya Pangiri tadi.
Ketika Pangeran Benawa madeg Ratu di Jipang Panolan, Mataram di bawah kepemimpinan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati menginginkan wilayah-wilayah di brang Wetan tunduk di bawah kekuasaan Mataram termasuk diantaranya adalah Jipang, namun Pangeran Benawa tidak mau. Hingga pada suatu ketika Jipang Panolan menyerang Rajekwesi sebuah kadipaten di sebelah timur Jipang yang telah menyatakan tunduk pada Mataram. Penyerangan itu gagal Rajekwesi berhasil menghalau pasukan Jipang Panolan.
Melihat keadaan yang demikian akhirnya Rajekwesi meminta Mataram untuk membantu kadipaten itu untuk menumbangkan Jipang. Namun sayang Jipang masih cukup kuat saat itu, bahkan pasukan Mataram yang dikirim untuk membantu Rajekwesi dalam menghadapi Jipang melalui jalur bengawan Solo dapat dihalau. Setelah diselidiki mengapa Jipang sangat berani menghadapi gempuran dari Mataram dan Rajekwesi, ternyata Jipang memiliki piyandel berupa pusaka peninggalan dari Pajang yang dikenal dengan nama Wuludumba Panjal Panggung. Yaitu lima buah pusaka yang terdiri dari Pedang Kyai Kangkam, Keris Kyai Karawelang, Keris Kyai Sengkelat, Cundrik Kudi Trantang, dan Tombak Kyai Tunggulwulung. Pusaka yang tersimpan dalam gentong silatung itulah yang dianggap mengayomi kebesaran dan kedigdayaan Jipang Panolan.
Karena dengan cara kekerasan Jipang tidak dapa dilunakkan maka Adipati Rajekwesi, Sosrodingrat berunding dengan para punggawa kadipaten rajekwesi bagaimana caranya bisa menaklukkan Jipang Panolan. Atas usul dari patih Yudanagara agar supaya mencuri piyandel kadipaten Jipang Panolan itu. Usul pun diterima kemudian Tumenggung Danalapa juga memberikan masukan agar yang melakukan pencurian pusaka diserahkan kepada Modin Nguken dan Modin Kuncen, mereka berdua adalah murid dari Pangeran Andongwilis Sukalila yang terkenal memiliki kesaktian ilmu sirep tingkat tinggi.
Setelah dicapai kata sepakat Adipati Sosrodiningrat memerintahkan kepada Bekel Ngasem untuk memberi kabar kepada Modin Kuncen dan Modin Nguken agar menghadap kepada Adipati. Dengan tergesa Bekel Ngasem menaiki kudanya dan memacunya menuju ke arah barat untuk menemui kedua Modin itu.
Sesampainya di Nguken Bekel Ngasem pun memberitahukan agar kedua Modin itu segera sowan kepada Kanjeng Adipati. Karena tidak diberi tahu maksud dari Adipati Sosrodiningrat kedua Modin itu dengan tergesa sowan menuju kotaraja. Di Pendapa kadipaten mereka berdua  diterima oleh Adipati Sosrodiningrat. Setelah berbasa-basi dan menanyakan kabar kedua modin itu Adipati Sosrodiningrat kemudian mengatakan maksud dan tujuan kedua modin itu di panggil ke kadipaten.
“Modin Kuncen dan Modin Nguken, ketahuilah keadaan sedang genting-gentingnya, Jipang Panolan dengan terang-terangan berani menyerang Rajekwesi, setelah Saya rundingkan dengan para punggawa ternyata Jipang Panolan berani menyerang Rajekwesi karena mereka memiliki piyandel pusaka Wuludomba Pancal Panggung. Oleh karena itulah kalian berdua saya minta sowan ke kadipaten. Kalian berdua saya tugasi agar mencuri pusaka itu dari Jipang Panolan” Dawuh Sang Adipati.
Karena menyangkut tugas bela negara mau tidak mau Modin Kuncen dan Nguken pun menerima kewajiban itu, mereka berdua kemudian meninggalkan kadipaten Rajekwesi dan selanjutnya pergi untuk mencuri pusaka Jipang Panolan. Modin Nguken sebagai penunjuk jalan, karena tempat tinggalnya dekat dengan wilayah Jipang, dengan penuh kehati-hatian mereka berdua akhirnya bisa mendekati gedung tempat penyimpanan pusaka.
“Adi Nguken, lihatlah banyak prajurit yang berjaga di sekitar gedung pusaka, kita tunggu hingga tengah malam baru kemudian kita matek aji sirep kita, karena pada saat itulah daya sirep Begananda sedang jaya-jayanya.” Kata Modin Kuncen sambil bisik-bisik kepada Modin Nguken.
“Baiklah Kang, kita tunggu di sini, nanti saat tengah malam mari kira rapal ajian sirep kita, sekalian mencoba daya kekuatan sirep Begananda dari Eyang Guru Andongwilis Sukalila.” Modin Nguken menimpali.
Waktu terus berjalan, para prajurit yang bertugas menjaga gedung pusaka masih mondar-mandir penuh kesiagaan, seakan tiap jengkal ruang dan tempat tidak luput dari perhatian mereka. Malam terus merayap menuju puncaknya, keadaan semakin sepi hanya suara kelepak kelelawar malam yang beterbangan kesana-kemari menyambar buah-buahan dari pohon-pohon di depan gedung pusaka.
Di tempat yang tertutup rerimbunan semak dan pohon-pohon Modin Nguken dan Modin Kuncen masih bersiaga, mereka bersiap-siap menebar kedigdayaan ajian sirep Begananda yang tanpa tanding.
“Kakang Kuncen ini saat yang tepat kita beraksi kakang.” Bisik Modin Nguken
“Baiklah di, ayo bersiaplah !.”
Kemudian kedua modin itu bersedakep mengosongkan pikiran memuja kepada dzat yang maha kuasa, memohon diperkenankan do-a-do’a mereka. Dari bibir kedua modin itu terlihat berkomat-kamit membaca mantra :
“Hong Ingsun amatek aji sirep begananda kang ana Indrajid, kumelun nglimputi ing mega malang, bul peteng ndhedhet alelimengan, upas racun darubesi, pet pepet kemput bawur wora-wari aliwaran tekane waminasara, kang katempuh jim setan peri parayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk, lemes wuta tan bisa krekat, bleg seg turu kepatisaking kersane Gusti Allah.”
Setelah selesai membaca mantra, kedua modin itu kemudian njejeg bumi tiga kali sambil menahan napas. Perlahan namun pasti daya sirep begananda mulai bekerja. Tiba-tiba angin bertiup semilir membawa hawa kantuk yang luar biasa, satu persatu para prajurit penjaga gedung pusaka ambruk ke tanah dan tertidur. Bahkan ada pula yang tidur dalam kondisi masih berdiri.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Modin Kuncen dan Modin Nguken, mereka berdua langsung masuk ke gedung pusaka dan mengambil piyandel Jipang Panolan berupa pusaka Wuludomba Pancal Panggung.
Setelah berhasil mereka berdua kabur membawa pusaka itu ke arah timur dengan maksud mereka bisa segera membawanya pulang ke Nguken yang memang tidak terlalu jauh dari Jipang Panolan. Wilayah itu hanya dibatasi oleh Bengawan Solo. Namun sayang pusaka yang diwadahi Gentong terlalu mencolok jika  dibawa langsung, akhirnya Modin Nguken dan Modin Kuncen membagi tugas.
“Adi Nguken, rumahmu kan dekat dari sini, engkau pulanglah terlebih dahulu ke Nguken kemudian setelah itu segera melapor ke Rajekwesi bahwa kita telah berhasil memboyong pusaka Jipang Panolan”
“Baik Kakang, lha Kakang Kuncen sendiri bagaimana ? tanya Modin Nguken
“Saya akan pergi ke Kedung Tuban Adi, di sana saya akan membeli satu gentong sehingga bisa saya pikul Adi, dan saya akan menyamar sebagai pedagang keliling” Jawab Modin Kuncen
“Baiklah Kang, saya pamit dulu dan Kakang Nguken berhati-hatilah, semoga Tuhan melindungi perjalanan Kakang”
“Terima kasih Adi segeralah berangkat, mumpung belum datang waktu Shubuh”
Kemudian Modin Nguken segera beranjak pergi meninggalkan Modin Kuncen yang menunggu datangnya pagi agar keberadaannya tidak dicurigai.
Pagi itu di Kadipaten Jipang Panolan geger, para prajurit disiagakan untuk melakukan pengejaran terhadap maling yang telah mencuri pusaka kadipaten. Di paseban Kadipaten Pangeran Benawa mengumpulkan adik-adiknya untuk merundingkan kejadian tadi malam.
“Dimas Jatikusuma, ketahuilah bahwa pusaka Jipang Panolan telah dicuri, dana kita tidak ada yang tahu siapa dan untuk apa maling itu mencuri pusaka kadipaten.”
“Iya Kangmas, para prajurit juga telah saya perintahkan untuk melakukan pengejaran terhadap maling itu Kangmas.” Kelihatannya malingnya memiliki kelebihan yang luar biasa hingga tak ada satupun dari para penjaga yang mengetahuinya.”
“Oleh karena itu Dimas Jatikusuma saya titahkan kepada kamu dan adik-adikmu semua, Jatiswara, Warihkusuma, Warsakusuma, dan Panjaringan untuk ikut serta melacak hilangnya pusaka kebesaran Jipang Panolan. Dan Jangan pernah kembali sebelum mendapatkan pusaka itu Dimas.” Kata Pangeran Benawa kepada Jatikusuma.
“Baik Kangmas !
Selanjutnya Pangeran Jatikusuma bersama keempat adiknya pun meninggalkan kadipaten untuk melacak hilangnya pusaka kadipaten. Mereka berempat masuk hutan keluar hutan, mendaki bebukitan serta menuruni lembah-lembah serta jurang yang dalam.
.......

Bagaimanakah kisah lima pangeran itu? simak kelanjutannya di lain waktu...terima kasih.












Tuesday, January 26, 2016

Wujil

Wujil

Pic : khilafi.wordpress.com
Dikisahkan  pada suatu hari Sunan Mbonang didatangi seorang yang bertubuh kerdil namanya Wujil. Ia awalnya adalah abdi dalem  keraton Majapahit, setelah agama Islam mulai masuk tanah Jawa ia ingin berguru kepada Sunan Mbonang yang konon memiliki kemampuan lebih dibanding manusia kebanyakan. Walau di istana keraton Majapahit Wujil dimuliakan serta mendapat kehormatan sebagai aji-ajining keraton, namun hatinya gundah. Dahaga jiwanya menuntunnya untuk mencari-cari jawaban tentang apa yang menjadikan hatinya gelisah.

Wujil yang awalnya adalah penganut agama Syiwabodja selalu merasakan kekeringan nurani, tentang tata cara peribadatan dan penyembahan kepada Tuhan. Ia selalu bertanya-tanya dan tidak mendapatkan jawaban apapun yang memuaskan dahaga batinnya. Selama ini di dalam agama yang dipeluknya ia hanya mendapat jawaban bahwa peribadatan dan penyembahan kepada Tuhan harus sesuai dengan adat-istiadat yang telah diajarkan oleh nenek moyang tanpa dasar yang otentik.

Mendengar akan datangnya agama baru, agama yang datang dari negeri Arab yang dibawa oleh para Sunan, Wujil kemudian keluar dari lingkungan keraton ia pergi melanglang buana, njajah desa milang kori mencari guru yang bisa menuntaskan dahaga ruhiyahnya. Hingga sampailah Wujil di tlatah kadipaten Tuban, tempat di mana ia ingin berguru kepada Sunan Bonang.

Di siang yang terik saat matahari tepat berada di garis langit tengah, Wujil yang berjalan di jalanan setapak merasa bahwa perjalanannya  hampir sampai tujuan. Di kiri-kanan jalan tampak pohon-pohon  Tal berdiri tegak memayungi dirinya dari cahaya matahari yang sedang pada titik panasnya. Dilihatnya sebuah gubuk di tegalan, karena merasa haus dan kelelahan Wujil berniat meminta tumpangan istirahat barang sejenak, untuk melepas lelah dan penatnya perjalanan yang ditempuhnya.

“Kulo Nuwun kisanak, bolehkah saya singgah di sini barang sebentar ? tanya Wujil kepada seorang petani yang sedang beristirahat di gubuknya.

“Monggo-monggo, silahkan mampir. Kisanak kelihatannya dari jauh bukan orang Tuban sini ? jawab sang petani dengan ramah.

“Benar kisanak, saya datang dari jauh, dari kota raja Majapahit, nama saya Wujil” jawab Wujil sambil memperkenalkan diri.

“Bolehkah saya meminta barang seteguk air untuk membasahi dahaga saya kisanak ? pinta Wujil
Petani itu kemudian mengambilkan bumbung di pojok gubuk, kemudian menyodorkan centak, gelas yang terbuat dari bambu, ia tuangkan minuman ke dalam centak itu lalu ia sodorkan kepada Wujil. “Silahkan diminum kisanak”.

Wujil pun menerima centak itu kemudian mereguknya. Minuman yang diberikan petani Tuban itu terasa segar membasahi kerongkongannya. Tak berselang lama minuman itu habis ditenggaknya. “Terima kasih kisanak, itu tadi minuman apa, kok segar sekali” tanya Wujil.

“Namanya legen kisanak, minuman itu dari hasil derasan pohon-pohon Tal yang banyak tumbuh di tegalan ini, aku sendiri yang menderas dan mengambilnya langsung dari pohon” kata petani sambil menunjuk pohon tal yang berada di depannya.

Setelah menghabiskan secentak legen, Wujil mengucapkan terima kasih kepada petani yang baik itu, kemudian ia berpamitan dan melanjutkan perjalanannya ke pesantren Sunan MBonang. Menurut perkiraannya sebelum matahari tenggelam ia tentu sudah sampai di tempat tujuan. Wujil terus berjalan ke arah barat mengikuti arah matahari tenggelam.

Senja mulai bersolek, temaram jingga di ufuk barat tampak indah mempesona, angin sore bertiup sepoi-sepoi membawa aroma air laut. Debur ombak terdengar perlahan, cericit camar bersahutan dari atas langit yang mulai gelap. Sayup-sayup dari arah dermaga Tuban terdengar senandung tembang-tembangan yang dinyanyikan dengan nada-nada kekhusyuan.

Tombo ati iku lima sak wernane
Kaping pisan moco Qur'an sak maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Insyaallah Gusti Allah nyembadani

Wujil merasa lega karena ia telah sampai di pesantrennya Sunan Mbonang, dengan bergegas Wujil melangkah menuju tempat yang mirip dengan sanggar pamujaan. Di dalam bangunan itu tampak orang-orang sama berkumpul dengan berjajar rapi dan duduk bersila menghadap barat. Setelah agak dekat, Wujil tampak ragu dan bingung dengann apa yang akan dilakukannya. Namun hal itu tak berlangsung lama, ada seorang yang menghampirinya dan menyalaminya dengan sopan.

“Owh ada tamu dari jauh nampaknya, silahkan-silahkan, monggo saya antar  saudara ke gothakan tamu.” Sapa salah seorang dengan ramah.

“Terima kasih Kisanak” Jawab Wujil

Sesampai di gothakan tamu Wujil disuruh menunggu hingga nanti Sunan Mbonang selesai mengerjakan sholat magrib. Wujil hanya menurut, ia duduk bersila di sebuah ruangan yang tidak begitu lebar, namun bersih dan harum  bau gaharu memenuhi ruangan itu. Sambil menunggu seperti apa yang diberitahukan oleh salah orang yang menemuinya tadi, Wujil bersemadi, mengosongkan hati dan pikiran berkontemplasi menuju kepada Sang Hyang Suci.

Hati wujil terasa tenang apa yang menjadi impiannya untuk berguru kepada salah satu begawan di tanah Jawa sebentar lagi kesampaian, suara tembang-tembangan yang tadi didengarnya mulai menghilang berganti kesunyian. Senyap, kosong dan seakan alam berhenti berputar. Wujil merasakan energi kema’rifatan melingkupi diri dan alam di sekitarnya. Seakan pintu-pintu langit terbuka dan rahasia-rahasia keTuhanan terbabarkan.


“Wujil untuk apa engkau kemari Ngger ?” bukankah kau telah banyak menikmati indahnya kehidupan istana ?, hidupmu telah bergelimang gemerlapnya kesenangan yang tidak semua orang mendapatkannya bukan ?” Sapa seorang kakek tua berjubah putih yang tiba-tiba telah duduk di depannya.

“Ampun Kanjeng Sunan, hamba datang jauh-jauh dari Majapahit, ingin mengerti dan memahami kesejatian hidup dan kebahagiaan yang sejati, bukan kebahagiaan yang hanya tertumpu pada hal-hal materi belaka, hamba juga ingin mengerti dengan sedalam-dalamnya tentang rahasia ajaran-ajaran yang Kanjeng Sunan bawa.”

“Wujil terlalu jauh apa yang engkau angan-angankan Ngger !, engkau jangan pernah berfikir akan menemukan kesejatian itu di sini atau di manapun, engkau tak perlu jauh-jauh dan ke sana-kemari mencari kesejatian, karena pada dasarnya kesejatian itu ada pada dirimu sendiri. MAN “AFARA NAFSAHU FAQODA “ARAFA RABBAHU, barang siapa mengenal kesejatian dirinya, maka ia telah mengenal kesejatian Tuhannya.

Manusia sejati adalah manusia yang kenal diri dan kenal Tuhan, mengenali diri dengan cara dzikrullah, mengenal Tuhan dengan selalu bersembahyang sepanjang waktu atau shalat daim namanya. Tetapi Wujil ingatlah jangan pernah menyembah tetapi tidak mengetahui siapa yang engkau sembah. Tapi jangan pula kau sembah apa-apa yang terlihat.

Sholat Isya, Shubuh, dan sholat-sholat lainnya bukanlah sholat yang sebenarnya itu hanya sekedar bunganya sholat, hanya sekedar rangkaian sholat syariat. Sedang sholat yang sebenarnya adalah sholat daim tadi, yaitu sholat yang tanpa perlu hitungan rakaat, tanpa rukuk, dan tanpa sujud. Namun demikian jangan pernah meninggalkan sholat syariat Wujil karena itu telah menjadi ketetapan Gusti Allah di dalam firman-Nya.

Wujil hanya diam merenungi setiap kata dan ucapan dari Kanjeng Sunan. Dia berfikir disetiap untaian kata sang Sunan yang penuh hikmah. Wujil berusaha mencerna setiap wejangan Kanjeng Sunan dengan kemurnian dan kesunyian jiwanya, hingga terbuka rahasia langit Ketuhanan yang selama ini terhijab dari batinnya.

“Kanjeng Sunan lalu ketika kita menjalankan sholat kepada siapa sholat itu kita persembahkan ?” sedang saya sendiri tidak tahu di mana Tuhan sesembahan saya itu ? Tanya Wujil kemudian.

Kanjeng Sunan pun berdiri dengan tersenyum ia mengelus-elus rambut Wujil, kemudian berjalan mengitari Wujil  yang duduk bersila di hadapannya. “Dengarkan Ngger ! Gusti Kanjeng Rosul telah memberitahukan dalam Sabdanya bahwa ketika kita beribadah sholat kepada Allah, hendaknya kita dalam keadaan melihat-Nya, dan jika kita tidak melihat-Nya hendaknya kita berkeyakinan bahwa Gusti Allah itu sedang melihat kita.”

“Dan perlu kau ketahui Wujil agar sholatmu  sempurna dalam menyembah Allah, maka fahamilah hakekat sholat itu sendiri.”

“Lalu apa sebenarnya hakekat sholat itu kanjeng Sunan ?”

“Ingat-ingatlah Wujil, hakekat sholat itu empat perkara, yaitu Berdiri, Ruku’, Sujud, dan Duduk.

“Berdiri adalah lambang dari huruf Alif, ruku’ perlambang dari huruf Lam awal, sujud adalah perlambang dari huruf Lam akhir, sedang duduk dalam tahiyyat adalah perlambang dari huruf Ha. Jika digabungkan huruf-huruf tadi membentuk kata Allah. Jadi pada hakekat sholat adalah cara hamba untuk bertemu langsung dengan Allah tanpa hijab. Sebagaimana dalam sabda Kanjeng Nabi bahwa sholat adalah mi’rajnya orang mu’min. ASSHOLAATU MI’RAAJUL MU’MIN.”

Wujil terdiam makin dalam, meresapi seluruh wejangan dari Kanjeng Sunan, ia seakan terlempar ke dalam luasnya samudra ma’rifat, jiwanya menjadi tenang, hijab-hijab batinnya tersingkap, pendar-pendar cahaya rahmat Tuhan menyirami kegersangan jiwanya, dan dahaga ruhaniyahnya pun terpuaskan sudah. Wujil pun  tenggelam dalam samudra ma’rifat, samudra penghambaan kepada Dzat Tuhan yang Maha Tunggal.

Wujil tersentak dari duduknya, mesin waktu seakan berhenti, entah berapa lama Wujil berada di ruangan itu. Kemudian ia membuka matanya, dari arah pintu ruangan muncullah sosok kakek tua berjubah putih menghampirinya, Wujil seolah telah mengenali orang tua itu. Kemudian ia melangkah dan menghaturkan sembah kepada sang kakek.

“Selamat datang Wujil, semoga engkau betah nyantri di sini.” Kata sang kakek berjubah putih yang langsung menjawab pertanyaan yang belum sempat diajukan olehnya. Joyojuwoto


Friday, January 22, 2016

Legenda Bledug Kuwu dan Keajaiban Padang Garam Bumi Grobogan

Legenda Bledug Kuwu dan Keajaiban Padang Garam Bumi Grobogan

Kabupaten Grobogan Jawa tengah termasuk wilayah yang sudah sangat tua, setidaknya menurut legenda masyarakat wilayah ini menjadi bagian dari awal peradapan tanah Jawa. Di desa Kuwu Kec. Kradenan Kab. Grobogan terdapat keajaiban alam yang menakjubkan. Hamparan tanah tanpa tanaman seluas + 45 Ha yang disertai adanya letupan-letupan gelembung lumpur menjadi fenomena alam yang mengagumkan. Masyarakat setempat menamakan tempat ini sebagai Bledug Kuwu.

Menurut legenda masyarakat setempat terjadinya Bledug Kuwu tidak terlepas dari kedatangan Ajisaka ke tanah Jawa untuk datang ke kerajaan Medang Kamolan. Sesampai di suatu desa di wilayah Medang Kamolan Ajisaka bertamu di rumah Kaki Grenteng yang memiliki seorang gadis cantik bernama Rara Cangkek. Diceritakan setelah Ajisaka yang ditemani sahabatnya Dora menikmati jamuan dari tuan rumah Ajisaka pamit ke kamar kecil untuk buang air seni. Di pemandian inilah Ajisaka bertemu dengan Rara Cangkek. Singkat cerita Ajisaka buang air kecil, di luar kamar kecil ada seekor ayam jago yang sedang haus meminum air yang bercampur dengan air seninya Ajisaka. Keajaiban muncul ayam jago itu akhirny bertelur dan telurnya menetas menjadi seekor ular raksasa.

Ular itu ternyata bisa berbicara layaknya manusia, dan mengatakan ia adalah anak dari Rara Cangkek dan Ajisaka. Ular itu kemudian pergi untuk mencari ayahnya di Medang Kamolan. Dari perjalanan ular raksasa dalam mencari pengakuan diri sebagai anak Ajisaka inilah keajaiban Bledug Kuwu muncul. Konon Bledug Kuwu muncul dari bekas di mana ular raksasa itu masuk ke dalam tanah.

Dari legenda tersebut menurut saya kejadian-kejadian yang kelihatannya tidak masuk akal sebenarnya adalah sebuah peristiwa yang sebenarnya atau fakta. Walau tidak dipungkiri banyak pula hanya sekedar dongeng saja. Seperti pertemuan Ajisaka dan Rara Cangkek kemungkinan benar-benar terjadi, kemudian peristiwa Ajisaka yang membuang hajat hingga air seninya diminum ayam jago hingga kemudian bertelur dan menetaskan seekor ular raksasa adalah sebuah peristiwa kiasan. Begitulah halusnya masyarakat Jawa berkisah mengenai seorang Raja yang menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik dari kalangan rakyat jelata yang akhirnya melahirkan anak yang tidak diakui secara sah. Si anak digambarkan hanya sebagai seekor ular, karena ayahnya adalah orang besar maka ularnya digambarkan sebagai ular raksasa. Kisah tentang seorang Raja yang menikahi kembang desa adalah hal yang lumrah dan banya terjadi di masa lampau hingga ada istilah lembu peteng, yaitu seorang anak hasil dari perkawinan dari seorang raja dengan istri yang tidak sah atau dari garwa selir.

Terlepas dari legenda masyarakat, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa fenomena alam Bledug Kuwu adalah fenomena alam yang terjadi ratusan bahkan jutaan tahun yang silam di mana kemungkinan tempat ini adalah dasar lautan yang akhirnya menjadi daratan, hal ini dibuktikan dengan keluarnya gelembung-gelembung lumpur yang bercampur dengan air yang mengandung kadar garam.

Di Kuwu inilah Salt Lake (Padang Garam) tanah Jawa, masyarakat sekitar memanfaatkan air garam ini diolah menjadi garam dapur yang konon kemasyhuran garam Bledug Kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton Surakarta. Selain di Kuwu di Kec. Sulursari tepatnya di Bumi Kesongo juga terdapat fenomena Bledug, namun skalanya lebih kecil tidak sebesar Bledug yang ada di Kuwu. Selain itu di daerah-daerah sekitar juga banyak ditemui sumber-sember air yang mengandung garam, seperti di desa Jono Kec.  Tawangharjo, di Crewek, Banjarsari, dan tempat lain di Ngramesan Kec. Ngaringan.

Dari fenomena sumber garam yang begitu banyak di wilayah Kab. Grobogan membuktikan bahwa dulu wilayah tersebut adalah dasar lautan yang telah menjadi daratan. Jika anda penasaran silahkan kunjungi tempat-tempat tersebut yang telah dijadikan objek wisata daerah, khususnya Bledug yang ada di Kuwu. Joyojuwoto

Thursday, January 21, 2016

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Sumber : Infoblora.com
Masyarakat Indonesia memiliki ribuan hasanah kebudayaan suku bangsa yang beragam, baik berupa adat-istiadat, sistem kemasyarakatan, bahasa, kepercayaan, foklore dan lain sebagainya. Indonesia merupakan surga dan laboratorium kebudayaan yang paling lengkap di dunia. Oleh karena itu kita sebagai warga negara perlu bangga dengan cara mensyukurinya dan mengembangkan potensi budaya itu dengan sebaik-baiknya.

Keragaman budaya di bentangan bumi Nusantara kita ini merupakan warisan budaya leluhur yang perlu kita lestarikan dan layak untuk kita abadikan. Sekecil apapun mutiara-mutiara kebudayaan yang ada di tengah masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang serius khususnya di kalangan generasi muda sebagai penerus peradapan bangsa agar kelak tidak kehilangan jatidiri.

Di lingkungan sekitar kita mungkin masih banyak kearifan lokal yang luput dari perhatian kita, baik itu berupa pamali, cerita-cerita, legenda, permainan tradisional dan lain sebagainya. Ini menjadi tugas kita semua untuk menyelamatkan dan mewariskan kembali wisdom lokal itu kepada generasi sesudah kita. Jangan sampai terjadi lost civilisation sehingga anak cucu kita tidak mengenali budayanya sendiri.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk melindungi dan mengkonservasi nilai-nilai budaya adalah dengan menggiatkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum terpelajar guna mengikat makna dan mengabadikan khasanah kebudayaan bangsa. Cara lain yang lebih efektif adalah dengan membuat desa budaya pada masing-masing daerah yang menjadi pusat dari kebudayaan itu. Namun cara kedua ini saya agak pesimis karena ini tentu melibatkan banyak komponen khususnya peran langsung yang  berkesinambunan dan terarah dari banyak pihak khususnya pemerintah daerah tentunya.

Contoh kongkritnya semisal di daerah pegunungan Kendeng yang meliputi Tuban-Bojonegoro, dan Blora dulu kita mengenal peradapan Samin yang dipelopori oleh Eyang Samin Surosentiko. Sebuah kelompok masyarakat yang berusaha mempertahankan nilai-nilai agung warisan nenek moyang di Kab. Blora.

Untuk melindungi dan melestarikan ajaran Saminisme ini pemerintah perlu menetapkan satu wilayah sebagai laboratorium budaya dari masyarakat Samin. Semisal Perkampungan Karang Pace di Blora, di mana adat dan budaya masyarakat Sedulur Tunggal Sikep ini dilestarikan oleh para penganutnya. Pemegang kebijakan di wilayah yang dihuni oleh masyarakat Samin tentu dituntut untuk memahami karakter dan budaya masyarakat sehingga dalam mengambil kebijakan tidak berseberangan dengan nilai-nilai lokal masyarakat.

Bukan berarti dengan membangun laboratorium budaya di suatu wilayah menjadikan masyarakat stagnan dan anti kemajuan. Masyarakat budaya harus tetap ditransformasikan menjadi masyarakat yang modern tanpa kehilangan jatidirinya. Ini menjadi tugas besar bagi para pemikir dan para ilmuan untuk mengawinkan dua variabel yang kelihatannya saling berlawanan. Antara masyarakat budaya yang dianggap udik dengan masyarakat yang telah disentuh oleh warna modernitas zaman.

Kasus penolakan pembangunan pabrik semen di Pati dan Rembang menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa pemerintah tidak peka dan kurang memahami  sosiokultural yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Kadang kebijakan pemerintah memang bukan terlahir dari rahim kerakyatan, namun lebih mengikuti selera kaum borju sehingga mengabaikan nilai-nilai kerakyaatan itu sendiri. Tidak aneh memang kebijakannya jauh dari akar rumput dan bumi di mana dipijak. Padahal jika pemerintah memahami potensi kearifan lokal suatu masyarakat tentu pemerintah lebih  arif dan bijaksana dalam mengatur, mengelola, dan membuat kebijaksanaan yang menyangkut hajat kerakyatan.

Kita berharap wisdom lokal masyarakat di manapun berada di bumi Nusantara ini mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat penyangga kebudayaan itu sendiri, sehingga kelak mata rantai kebudayaan bangsa tidak terputus dan dapat kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Karena pada dasarnya eksistensi dan kebesaran suatu bangsa bersumber dan berpijak pada nilai-nilai lokalitas kemasyarakatan itu. Joyojuwoto

Wednesday, January 20, 2016

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam


± 50 km ke selatan dari kota Tuban ada sebuah desa Bangilan namanya, di desa tersebut terdapat seorang kepala keluarga yang bernama Abu Bakar Wustho dan beliau mempunyai tujuh anak, tiga putra empat putri dan salah satu anak beliau bernama Bapak Badrut Tamam, beliau mempunyai istri bernama Ibu Mutmainnah dari kota Tuban, leluhur Bu Mutmainnah ada yang keturunan Tiong Hua. Pak Tamam dengan Ibu Mutmainnah dikarunai dua anak, Abdul Muhaimin dan Siti Azizah, sejak kecil sudah meninggal dunia. Tidak lama kemudian Ibu Mutmainnah pun menyusul wafat, pada saat itu umur Abdul Muhaimin Tamam + dua setengah tahun, kemudian Abdul Muhaimin kadang diasuh oleh seorang pembantu yang dapat dipercaya saat Pak Tamam sibuk berdagang. Tak lama kemudian beliau memperistri seorang wanita dari desa Baorno Timur Kabupaten Bojonegoro bernama Ibu Halimah, sehingga Abdul Muhaimin Tamam di asuh oleh Ibu Halimah. Dalam asuhan ibu Halimah inilah Abdul Muhaimin Tamam dibesarkan, dididik dan diarahkan, juga dipondokkkan, mengaji dan belajar dipondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia.
Di Pondok Darussalam yang dikenal dengan Pondok Gontor inilah Pak Muhaimin diajar, diasuh dan digembleng sampai tamat dan pulang serta beliau bertekad untuk mendidirikan balai pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Tekad tersebut dituangkan dalam pernyataan tertulis yang dihaturkan kepada  Bapak K.H. Imam Zarkasyi pendidiri dan direktur KMI Pondok Modern Gontor Ponorogo (bahwa beliau ingin pulang serta mengabdikan ilmunya dikampung) serta membantu program yang didawuhkan oleh Bapak K.H. Imam Zarkasyi bahwa harus ada seribu Gontor di Indonesia.

Pernyataan tekad yang biasa dilaksanakan oleh setiap santri kelas enam di KMI Darussalam Gontor Ponorogo itu dijawab oleh Pak Zar ( Panggilan K.H. Imam Zarkasyi) dengan jawaban positif artinya Pak Zar setuju bahwa Pak Muhaimin direstui untuk pulang ke kampung halamannya dan mengabdikan ilmunya dimasyarakat, yang mengandung arti bahwa ridho Kyai itu penting.
Di Bangilan beliau mulai mengajar di Madrasah yang telah ada rintisan para sesepuh yaitu MI Salafiyah Bangilan. Saat itu kedaaan gedungnya sangat memprihatinkan , karena itu beliau menggoda Bapaknya, tidak mau mengajar kalau gedungnya tidak direhab. Bapak Tamam mengajak para pengurus  bertekad untuk merehab bentuk gedungnya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Kemudian sebab prestasinya beliau diangkat oleh sidang pengurus  menjadi Ka di MI Salafiyah tsb. (periode th 61 – 65 ). Pada saat itu, beliau juga bermaksud mendirikan MTs dengan membuat Kls VII di madrasah ini tetapi hanya kuat 1 tahun dan gagal.
Karena dikawinkan dengan istri dari desa Weden yang berada di sebelah selatan desa Bangilan, tahun 1965 beliau pindah ke Weden merintis berdirinya Madrasah di Desa ini serta mengilhami berdirinya sebuah gedung Madrasah.
Sebelumnya, Madrasah dimulai dengan membuat TPA di rumah mertua. Caranya, 7 orang anak diajak dan diajak bermain-main di halaman rumah mertuanya. Anak-anak lain yang tahu, kemudian ikut main dan didaftarkan oleh orang tuanya. Hari demi hari muridnya bertambah banyak sehingga pada th 1965 ia berhasil mendorong Bapak Kandung , Bapak mertua dan masyarakat setempat mendirikan gedung MI dan beliau namakan MI Al-Iman, buku utama yang digunakan pegangan mengajar ialah : SINAHU MAOS HURUF AL-QUR’AN, oleh K.H. Imam Zarkasyi. Walau banyak mendapat cemooh dan tiupan-tiupan isu bohong yang mengatakan bahwa weden bukan lahan untuk pendidikan, sehingga keluarga rumahpun menjadi goyah hatinya yang menyebabkan Pak Moehaimin mengajar dengan tertekan serta menderita batin. Tetapi kesabaran, ketabahan, serta keuletan beliau, tegaklah MI Weden hingga sekarang.
Karena pindah tempat, maka tahun 70 an kepengurusan Madrasah diserahkan dan diteruskan oleh masyarakat Weden, walau semula masyarakat memprekdisikan bahwa Weden tak mungkin didirikan Balai Pendidikan.
Untuk kesejahteraan keluarga, beliau beliau pindah mengontrak rumah di desa Santren yang berada di sebelah  utara desa Bangilan. Didesa baru ini beliau mendirikan perusahaan kayu jati dengan maksud apabila sudah berhasil menyusun ekonomi, baru akan mengajar lagi. Usaha ini berkembang dengan pesat, sayang beliau selalu sibuk didunia bisnis, tenggelam dalam kenikmatan duniawi lupa jati diri serta belok dari jiwa dan tujuan aslinya, mendidik dan mengajar. Toh sewaktu dipondok Gontor beliau di  pesan oleh Pak Zar agar mampu menyisihkan waktu untuk mendidik dan mengajar di tengah-tengah kesibukan bisnis. Karena itu Allah mengingatkannya dengan cara beliau bangkrut dari dagangannya, perusahaan terpaksa tutup dengan menanggung hutang yang tidak sedikit.
Alhamdulillah beliau memahami dan menyadari. Karena itu walau dengan penuh derita pada tahun 1977 beliau pindah meninggalkan Santren menuju desa Sidokumpul, untuk memulai dunia yang baru sesuai dengan jiwanya serta ingat kembali dan melaksanakan wejangan lama Pak Zar. Karena itu beliau mulai kiprah lagi dibidang dibidang pendidikan dan pengajaran sambil membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuat sabun cream. Mengingat kecilnya kapital maka beliau bertindak sebagai pimpinan, pegawai pengedar sekaligus penjual berkeliling dari desa satu ke desa yang lain untuk menjual sabun sambil mendirikan Masjid Al-Ihsan di desa Ngrojo serta mengajar, juga merintis Madrasah Tsanawiyah dan berhasil mendirikan sebuah gedung didesa Sidokumpul dekat rumah kediamannya yang beliau namakan MTs ASSALAM sedang bisnis sabun cream hanya berjalan 1 (Satu) tahun saja. Selanjutnya beralih dalam kesibukan menterjemah kitab pada dunia percetakan.
Gedung Madrasah Tsanawiyah yang baru ini, didirikan diatas tanah milik seseorang. Karena kurang kefahaman antara Ka Guru (Pak Moehaimin) dengan penguasa tanah, menyebabkan kesulitan demi kesulitan , akhirnya setelah Madrasah komplit dengan murid dan segala sarana, terpaksa beliau tinggalkan dan diserahkan kepada Umat Islam setempat. Nama ASSALAM pun mereka rubah dengan nama lain.
Peristiwa gagalnya MTs ASSALAM di desa Sidokumpul Kec. Bangilam mengilhami berdirinya Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Pondok Pesantren ASSALAM baru di lokasi baru.
Istikhoroh Pak Moehaimin serta mujahadah dan perihatin yang dalam, menyebabkan pada tahun 1983 beliau mampu membeli sebidang tanah + 1 ha di jantung kota Kec. Bangilan. (lokasi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang sekarang ini), dan berhasil mendirikan 1 (satu) gedung Madrasah tiap tahun, di samping berhasil membeli tanah di belakang masjid Jami’ Bangilan. Di Desa Suwalan Jenu Tuban dan Di Desa Banjarworo Bangilan Tuban.
Tetapi karena beberapa sebab, Pak Moehaimin belum mampu untuk berdomisili di tengah-tengah lokasi ASSALAM baru. 12 tahun kemudian baru ditempati sebab masih berumah tangga di desa Sidokumpul yang jaraknya + 1 km dari lokasi Madrasah. Karena itu, Madrasah dipimpin dari kejahuan yang menyebabkan jalannya pendidikan dan pembangunan mengalami kelambatan.
Mengingat cerita Ust. Mahrus pimpinan Pondok Darunnajah yang diperintah Pak Zar agar bertekad segera pindah ke lokasi Madrasah dan pertukangan ke lokasi Pondok di ‘Ulu Jami’, maka pada tahun 1993 Pak Moehaimin memberanikan diri untuk mendirikan rumah di tengah-tengah lokasi Madrasah agar dapat hijroh meninggalkan rumah lama menuju daerah baru, berdomisili dan beristiqomah sebagai Kyai, memimpin membangun ASSALAM yang baru di tengah-tengah Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang baru  pula. Rencana ini terlaksana mulai tahun 1995.

Jadi baru sekitar + 10 tahun akhir-akhir ini ASSALAM baru dan memiliki jati diri, sehingga mampu untuk maju dalam  mendidik dan mengembangkan pembangunan setiap tahunnya sebab di tengah-tengahi dan di istiqomahi oleh pendiri (Kyai) nya, setelah dengan gigih sabar dan tawakal menghadapi terpaan pasang surutnya gelombang hidup menuju ASSALAM sukses. Doc. PP. ASSALAM Bangilan 2005.

Tuesday, January 19, 2016

Warning Gafatar telah memasuki Kota Tuban

Warning Gafatar telah memasuki Kota Tuban

Masih ingat dengan hilangnya seorang dokter cantik dari Yogyakarta Rica Tri Handayani dan anaknya yang masih balita, dari hasil investigasi aparat kepolisian ternyata banyak korban-korban  hilang yang modusnya hampir sama dengan ibu dokter tadi. Pergi tanpa pamit sambil meninggalkan pesan akan mengubah nasib yang lebih baik, atau juga akan pergi berjihad.

Tidak hanya di Jogja, peristiwa itu ternyata juga terjadi di kota Kabupaten saya Tuban. Bersumber dari sebuah fans page masyarakat Tuban MIOT (Media Informasi Orang Tuban) terdapat sebuah foto dan video yang diunggah oleh seorang akun facebook yang bernama Iksan Fauzi menyatakan bahwa “Warga Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban Ikut Gafatar, Orang tuanya setiap hari menangis. Videonya bisa dilihat di link ini.” katanya pemilik akun facebook tersebut.

Disinyalir Wawan beserta istrinya Yuanita Wulansari bersama balitanya pergi ke Kalimantan untuk pergi bekerja di perkebunan sawit dan peternakan, namun sebelum itu keluarganya mau diajak semuanya dan menyuruh orang tuanya untuk menjual rumah yang mereka tempati. Orang tuanya tidak mau, lalu Wawan beserta istri dan anaknya pergi tanpa pamit dengan menjual semua perhiasan dan motornya dan digunakan pergi ke Pontianak.

Menurut salah satu teman korban, baik Wawan maupun istrinya orangnya baik bermula dari pengaruh temannya Wawan dari Lamongan entah karena dijanjikan apa Wawan mau dan tertarik untuk bergabung dengan organisasi Gafatar. Dan ia memaksa istrinya ikut serta dengannya, kalau tidak mau Wawan akan menceraikan Yuanita, begitu tutur Eza Vina Selalu dihatimu di laman facebooknya.

Akhirnya pasutri dan balitanya yang tinggal di Jl. Cendana III No. 23 Perum Tasikmadu  Palang Tuban itu  berangkat ke Kalimantan tanpa berpamitan kepada keluarganya hingga sekarang keluarganya berharap Wawan dan istrinya segera kembali ke kampung halamannya kembali.

Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran buat kita semua khususnya orang-orang yang memiliki idealisme berlebih dan orang-orang yang labil baik karena dijanjikan kesuksesan duniawi maupun orang-orang yang ingin instan untuk masuk surga. Waspadalah !. Joyojuwoto



Sumber

Friday, January 15, 2016

Sumpah Mati Sang Kyai

Sumpah Mati Sang Kyai

“Duh Gusti Yen Menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Mboten Manfaati Monggo Enggal-Enggal Panjenengan Pundut Kulo, Nanging Yen menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Manfaat Kulo Nyuwun Umur Ingkang Panjang”
(KH. ABD. MOEHAIMIN TAMAM)

Di salah satu ruangan gedung pesantren*  yang baru saja didirikan, di hadapan para santri yang duduk khusu', kurang lebih lima puluh tahun yang silam sebuah perjanjian suci antara hamba dan Sang Maha Kuasa diikrarkan. Dari kedalaman jiwa dan kemurnian hati Sumpah Mati itu diucapkan. Dari keikhlasan dan kesucian niat proposal kematian itu dikirimkan kepada Tuhan.

Tidak ada rasa khawatir dan gentar bahwa Tuhan akan serta-merta mencabut nyawanya saat itu juga, karena beliau yakin dengan jalan yang sedang ditempuhnya. Jalan  yang selalu beliau harap-harapkan di setiap untaian do’a-do’anya, di kedalaman sujudnya, di samudra munajatnya kepada Tuhan dan di dalam setiap sholatnya. Jalan ihdinas shirotol mustaqim. Jalan lurus itulah yang memberikan keberaniannya untuk tawar menawar dengan Tuhan. Walau pada dasarnya kematian bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawarkan.

Jika kita mendatangi Tuhan dengan kemurnian niat dan kejujuran jiwa, tentu kita akan diterima di altar suci-Nya. Tuhan akan memperkenankan segala do’a-do’a dan permohonan kita. Jangankan hanya meminta hal-hal yang bersifat keduniaan, surga dan segala isinya pun akan Tuhan berikan. Jadi jangan pernah takut untuk menjalani hidup ataupun kematian itu sendiri. Jika kita bertekad untuk berani mati Allah akan memberikan kehidupan kepada kita, karena perasaan kematian itu telah terlampaui.
Jiwa perjuangannya telah bergelora, berkobar-kobar membakar segala halangan dan cobaan dalam merintis dan mendirikan pesantren di kampung kelahirannya. Tidak peduli apa kata dunia, tidak peduli apa kata orang-orang, bendera jihad telah dikibarkan pantang surut ke belakang. Semboyan perjuangannya cetar membahana, mengangkasa dan berkobar-kobar dalam jiwa santri-santrinya, Sir Wa la Taqif, Ever on word never retret, maju terus pantang mundur.

Pesantren ASSALAM Bangilan, sebuah nama pesantren yang memiliki arti keselamatan, sebuah pesantren yang dinamai mirip seperti almamater dimana beliau mondok “Gontor Darussalam.” Rintangan demi rintangan, kesusahan-demi kesusahan, kesulitan dan demi kesulitan beliau anyam, beliau rajut dengan penuh keistiqomahan sehingga menjelma menjadi benang-benang keberhasilan, hingga berdirilah sebuah pesantren yang kelak akan diperhitungkan oleh dunia “Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.”

Pesantren ASSALAM beliau belani hingga toh-tohaning nyowo, beliau belani hingga toh-tohaning raga, bahkan beliau belani hingga toh-tohaning keluarga. Tidak salah jika Abah Moehaimin Tamam ngucap sabda : “ASSALAM berdiri di atas landasan dan linangan air mata Moehaimin Tamam.”

Pesantren yang baru seumuran jagung ini beliau belani dengan sepenuh jiwa dan raga. Tetesan air mata, keringat, dan perjuangan yang keras menjadi saksi akan berdirinya pesantren yang kelak bisa menjadi ladang ibadah bagi seluruh umat Islam seluruhnya“ASSALAM Lana Wa Lil Muslimin” begitu dawuh beliau.

Kini pesantren ASSALAM yang dulu diperjuangkan oleh beliau Abah Moehaimin Tamam telah menginjak dewasa, estafet tali kepemimpinan telah diwariskan pada genersi selanjutnya. Tuhan telah memeluk kekasihnya dalam kasih dan cinta-Nya. Semoga beliau Abah Moehamin Tamam tersenyum bahagia melihat taman surga membumi, semoga beliau bangga melihat bunga-bunga pesantren yang dulu ditanamnya kini telah bermekaran mewangi semerbak memenuhi bumi Persada Nusantara. Amin. Joyojuwoto

*ada dua versi tempat menurut Mbak Ana di lokasi masjid Bangilan dan Gus Yunan di Pondok Weden