Friday, December 30, 2016

Cermin Buat Ani

Cermin Buat Ani
Oleh : Joyojuwoto

Dia seorang gadis umur tujuh belasan, wajahnya konon terlihat cantik, hidungnya mancung seperti Cleopatra, bibirnya seksi indah menawan, kedua pipinya proporsional karena terbentuk dari susunan kulit dan daging yang seimbang kiri dan kanannya, dan juga perpaduan tulang geraham yang kedua sisinya simetris dan matematis, sudutnya jelas dan beraturan. Tiada aib dan cela pada wajah gadis itu. Itu yang ada dalam benak dan pikiran sang gadis, Ia membayangkan dirinya adalah Putri Salju, atau kadang juga Cinderela. Atau bahkan ia merasa dirinya adalah bidadari Tuhan yang dikirim ke langit dunia. Begitu yang selalu Ani katakan kepada teman-temannya.

“Apa mungkin bidadari Tuhan hidup dan tinggal di bumi Ani?

“Jika Tuhan menghendaki, apa yang tidak sich di dunia ini, semua serba mungkin, tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan” jawabnya sambil tersenyum.

“Bukankah dulu Jaka Tarub berhasil mengintip bidadari yang sedang mandi di sendang ini, Sari ? lanjut Ani sambil memainkan kedua kakinya di air sendang Jaka Tarub yang jernih dan dingin itu.

Dua gadis itu sedang duduk-duduk di atas sebongkah batu yang ada di sendang Jaka Tarub  kaki-kaki mereka bergerak ritmis mengoyak air sendang sehingga bayangan di dalam air pecah berserakan ke tepian sendang. Siang yang panas membuat mereka menikmati kesejukan alam yang berada di dekat jalan raya Plumpang-Tuban. Angin semilir sepoi-sepoi meniup pucuk ubun-ubun daun, pohon-pohon besar nan lebat serta menjulang tinggi melingkupi sendang yang ada dalam dunia dongeng.

Bagi Ani dunia adalah apa yang dipikirkan, apa yang ada dalam kepalanya, tanpa itu semua sebenarnya tidak pernah ada. Bukankah seorang failusuf berkata “Dengan berfikir maka kamu ada” jika tesisnya itu, maka antitesanya apa yang tidak ada dalam pikiran itu sebenarnya tidak pernah ada.

Di rumahnya atau di mana saja ia menghindari satu benda yang bernama cermin. Baginya cermin adalah benda yang tidak berguna. Ia tidak pernah menyimpan cermin itu dalam sudut kepalanya. Perabot-perabot di rumahnya juga tidak ada yang memakai cermin, almari, buffet, jendela, tidak ada yang berfungsi sebagai cermin. Jika ada kaca di rumahnya pasti itu kaca tembus pandang yang tidak memantulkan kembali objek yang ada di depannya.

Gadis itu kepercayaan dirinya sangat tinggi, ia memang tidak mau bercermin karena khawatir kecantikan yang ada dalam pikirannya luntur oleh cermin. Jika ia telah berfikir bahwa dirinya tidak cantik, maka tamatlah riwayat kecantikannya, karena baginya kecantikan itu apa yang ada di dalam pikiran. Atau kalau tidak begitu ia merasa ada orang lain yang lebih cantik dari dirinya, minimal wajah yang ada di dalam cermin itu. Dia memang lebih sering dibuat bingung oleh satu benda yang bernama cermin.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wajah Ani, lazimnya gadis-gadis seumurannya, namun sayang karena kenarsisannya yang melewati garis demarkasi, justru membuatnya dijauhi oleh teman-temannya. Baik itu sesama kaum hawa, lebih-lebih kaum adam. Karena Ani terlalu dalam menempatkan wajahnya di depan teman-temannya. Ia tidak pernah menyadari bahwa kecantikan wajah bukan segala-galanya, namun justru itu yang dibuat segala-galanya olehnya.

Hanya Sari teman satu-satunya yang berusaha memahami watak dan karakter dari temannya itu. Sari berusaha menyenangkan hati temannya itu dengan berusaha mengiyakan apa yang ada dalam kepala Ani. Walau ia sebenarnya juga tahu itu tidak baik buat perkembangan Ani ke depan, lalu apa boleh buat kalau memang kehendak Ani demikian, Sari tidak ingin menyakiti hati sahabat karibnya.

“Ani, kenapa engkau membenci cermin ? bukankah ia adalah barang yang jujur kepada kita, cermin akan memberitahukan dan menampakkan apa yang ada di wajah kita, tidak lebih dan tidak kurang”.

“Bagaimanapun juga kecantikanmu tidak akan berkurang dengan adanya cermin Ani, jadi kamu tidak perlu takut yang namanya cermin bukan ? lanjut Sari

“Ah Sari ! buat apa cermin, tanpa cermin pun wajahku sudah cantik, imut, dan nggemesin kan ? jadi aku tidak membutuhkan barang itu Sari. Jawab Ani sekenanya.

“Betul Ani, kamu sudah cantik, tapi cermin bukan hanya sekedar memantulkan wajah cantik kita, namun lebih dari itu ia akan menunjukkan juga kemungkinan-kemungkinan yang kita sendiri tidak menyukainya, seperti jerawat, flek, ataupun yang lainnya. Dengan cermin kita bisa bercermin akan kekurangan diri kita itu, kemudian kita bisa berbenah diri. Sungguh mulia kan fungsi sebuah cermin Ani ?

“Jadi jangan sampai karena wajah kita kurang cantik di cermin, kita marah dan benci sama cermin. Jangan buruk muka cermin dibelah, Karena pada hakekatnya cermin adalah diri kita sendiri Ani.

Mumpung udara sedang sejuk-sejuknya, dan angin berhembus sepoi-sepoi, di bawah pohon rindang di tepi sendang yang airnya jernih adalah pilihan yang sangat tepat. Perlahan dan tanpa sadar ritmis kaki kedua gadis itu berhenti, perlahan dengan penuh kesadaran semesta, kejernihan air sendang itu perlahan memantulkan wajah cantik dua gadis yang sedang duduk di atas batu di tepi sendang. Air sendang yang jernih adalah cermin yang baik bagi kedua gadis itu, keduanya tersenyum manis, kemudian derai tawa mereka memecahkan kesunyian sendang di alam legenda seperti tawa para bidadari yang sedang mandi di dimensi waktu ketika Jaka Tarub mengintip makhluk dari kayangan.

Di balik semak, seorang pemuda sedang mengintip dua gadis cantik yang dianggapnya bidadari, namun sayang mereka berdua tidak sedang mandi. Sayup-sayup terdengar syair berdendang dari arah langit kayangan “Berkacalah pada air telaga karena ia lebih jujur dari kita, jangan mengaku Harimau kalau bayang-bayang seekor kambing hutan”.



Thursday, December 29, 2016

Ziarah Ke Maqam Raden Sahid Moro Teko di Soko Medalem Senori

Sunan Kalijaga atau juga dikenal dengan nama Raden Sahid adalah putra dari Adipati Tuban Wilatikta. Setelah mengalami suluk mulai dari seorang berandal Lokajaya hingga akhirnya ia mendapatkan cahaya hikmah melalui perantara Kanjeng Sunan Bonang. 

Mantan berandal ini kemudian melakukan perjalanan njajah desa milang kori dari satu tempat ke tempat yang lain dalam rangka berdakwah mengislamkan masyarakat Jawa.

Dalam berdakwah Sunan Kalijaga tidak pernah menetap secara permanen dalam waktu yang sangat lama. Beliau banyak melakukan safari dakwah dari wilayah ke wilayah yang lain, sehingga tidak mengherankan jika di berbagai tempat terdapat petilasan atau bahkan maqam yang diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir dari sang Guru Sejati Tanah Jawa ini.

Masyarakat umum mengenal bahwa maqam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu Demak, namun sejak kunjungan mantan presiden RI, KH. Abdurrahman Wakhid sekitar tahun 1999 ke sebuah maqam yang ada di wilayah Kab. Tuban, yaitu di Dusun Soko, Desa Medalem Senori dinyatakan di situ terdapat sebuah maqam yang juga diklaim sebagai maqamnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Maqam itu oleh warga masyarakat dikenal dengan nama Maqam Raden Sahid Moro Teko, atau juga disebut sebagai Maqam Ploso Songo, karena terdapat sebanyak sembilan pohon Ploso. Namun sekarang pohonnya tinggal tujuh batang saja.

Kemarin  bersama keponakan saya, Rafiqul Islam (Afiq) dan juga Naila anak pertama saya, kami bertiga berziarah ke Maqam Sunan Kalijaga di Medalem. Di sana kami bertemu mbah Mariadi warga sekitar, beliau bercerita bahwa "Di Kadilangu itu Kantornya Sunan Kalijaga, sedang maqamnya ya di sini ini", kata mbah Mariadi.


Selain maqamnya Sunan Kalijaga, di sebelah baratnya terdapat maqam yang konon isteri beliau, yaitu Dewi Amirah. Dalam beberapa literatur saya sendiri belum menemukan nama istri Sunan Kalijaga yang bernama Dewi Amirah, sementara yang saya ketahui istri Sunan Kalijaga ada dua, pertama Dewi Sarokah binti Syarif Hidayatullah, dan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq.

Sedang satu kilo meter dari maqam Ploso Songo di dusun Soko Medalem juga terdapat maqam adiknya Sunan Kalijaga yang bernama Dewi Rasa Wulan. Maqam itu berada di tengah hutan. Sayang saya belum berziarah ke sana.


Wednesday, December 28, 2016

Tempat Bluron Asyik di Kedung Krapak Senori

Foto : Rofiqul Islam (Afiq)
Tempat Bluron Asyik di Kedung Krapak Senori
Oleh : Joyojuwoto

Anak desa selalu punya cara untuk bahagia, mereka punya alam yang menjadi sahabat sekaligus tempat bermain bersama yang mengasyikkan dan menyenangkan. Ada hamparan lapangan rumput tempat anak-anak bermaian bola, ada sawah dan ladang di mana anak-anak desa mencari belut dan belalang, hutan dan gunung-gunung tempat mereka menggembalakan ternak-ternak, dan sungai-sungai yang mengalir jernih tempat mereka mandi dan bermain.

Di desa Kaligede Senori terdapat sebuah ceruk sungai yang di kenal dengan nama Kedung Krapak yang biasa dipakai mandi atau bluron anak-anak dan warga sekitar. Kedung Krapak tempatnya sejuk, di sekelilingnya di sepanjang sungai tumbuh pohon-pohon indang dan hijau yang membuat suasana semakin asri saja.

Kedung Krapak Kaligede Senori

Kedung Krapak lokasinya tidak begitu luas namun cukup dalam, kedung ini tersusun dari batu Krapak putih yang dialiri air sungai, karena sifat batu krapak yang agak lunak maka sungai di sepanjang kali krapak ini tampak bersusun-susun indah. Guratan-guratan alami yang dibentuk oleh aliran sungai membentuk batu-batu yang berjenjang. Suara gremicik airnya di sela-sela bebatuan terdengar seperti melodi alam yang indah dan menenangkan jiwa. Tempat ini cocok untuk merefres diri dan melepas lelah dan penat dari kesibukan kita sehari-hari. Saya sudah sering kali datang dan mandi di kedung ini bersama Rofiqul Islam (Afiq), keponakan saya. Suasananya sangat sejuk dan menyenangkan sekali.

Untuk mencapai lokasi kedung krapak, dari Senori menuju arah Banyuurip, sesampai di pertigaan ambil ke arah desa Kaligede. Kedung ini berada di pinggiran di sebelah barat desa Kaligede tempatnya dekat persawahan warga. Masyarakat  sudah sangat akrab dan tahu tempat ini jika kita ingin kesana, langsung saja bertanya kepada warga. Dengan senang hati para warga akan menunjukkan tempat ini.

Tiap pagi hari atau sore hari kedung ini selalu ramai oleh anak-anak yang bermaian dan mandi, air kedung krapak jernih dan sejuk. Biasanya anak-anak akan berenang, menyelam, melompat, bersalto, bermain musik dengan air kedung dengan kombinasi-kombinaasi tertentu, dan juga bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya di dalam air. Keceriaan anak-anak desa ini mungkin saja tidak dimiliki oleh mereka-mereka yang berada di kota-kota besar.

Begitulah cara anak-anak desa bermain dan mengisi waktu senggangnya dengan bermain bersama. Baik itu di sungai, di lapangan, di sawah dan tempat-tempat lain yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak. Hal ini sangat penting bagi tumbuh dan berkembangnya jiwa bersosialisasi anak. Karena sebagai makhluk sosial anak-anak perlu mendapatkan perhatian dan dibiasakan menjalin hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya agar kelak mereka mampu hidup bersama di tengah-tengah masyarakat yang komplek dan majemuk.

Berbahagialah jika kita dilahirkan di alam dan lingkungan pedesaan, karena alam akan mengajari berbagai kearifan dan menjadi guru terbaik. Sebagaimana pepatah yang mengatakan “Alam terkembang menjadi guru”.  Mari bersama menjaga kelestarian alam di sekitar kita agar kelak anak cucu kita bisa menikmati kasih sayang dan sentuhan cinta dari alam yang kita tinggali ini. Lestari alamku lestari desaku.

Tuesday, December 27, 2016

Misteri Gunung Butak Sale Rembang

Misteri Gunung Butak Sale Rembang
Oleh : Joyojuwoto

Warga masyarakat di Indonesia selalu mempunyai mitos dan misteri tentang suatu tempat, baik itu mitos yang berkaitan dengan cerita terjadinya suatu tempat, tempat-tempat yang angker, tempat untuk mencari kesaktian dan kedigdayaan, untuk penyembuhan, hingga tempat untuk mencari pesugihan atau kekayaan. Seperti tempat-tempat yang lainnya Gunung Butak yang berada di Bitingan Sale Rembang juga menyimpan misteri dan mitos yang sampai sekarang masih dipercayai dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

Gunung Butak memiliki dua puncak gunung, di sisi barat disebut sebagai puncak Gunung Jati, karena konon di puncak itu terdapat maqamnya seorang tokoh sakti yang bernama yag Jati Kusumo. Sedang puncak satunya berada di sisi sebelah timur dari puncak Gunung Jati yang terdapat batu pertapaan Eyang Jatikusumo. Selain pertapaan di puncak yang sebelah timur ada suatu lokasi tanahnya tidak ditumbuhi rumput atau dalam istilahnya disebut Butak/botak. Sebab inilah gunung yang tingginya sekitar 679 MDPL disebut sebagai Gunung Botak.



Konon tempat atau tanah yang tidak ditumbuhi rumput itu bekas ditancapi keris pusakanya Eyang Jatikusumo. Keris itu bernama Kyai Ampal Bumi. Menurut penuturan Mbah Ngadiyo, salah satu sesepuh di Maqam Jatikusumo, dahulu di wilayah sekitar Gunung Butak terdapat seekor ular besar yang mengganggu ketentraman warga, karena ular itu sangat besar dan sakti maka tidak ada satupun warga yang berani mengusik keberadaan siluman ular itu. Kemudian ular itu di taklukkan oleh Eyang Jatikusuma, dan menjadi penjaga di sekitar maqam.

Selain ular, di sekitar wilayah Gunung Butak juga terdapat makhluk siluman Putri Celeng dan siluman Rambut Geni. Putri Celeng ini biasanya ditemui dalam wujud badan seorang putri cantik namun kepalanya berwujud celeng, kadang juga badannya celeng kepalanya seorang putri. Sedang Siluman Rambut Geni ini badannya hanya separo, dari perut ke atas saja, rambutnya menyala seperti api. Mirip seperti tokoh Grenda Seba dalam film legenda  Angkling Darmo. Kedua Siluman itu biasanya berada di area telaga Jambangan, dan menjaga wilayah tersebut. Oleh karena itu berhati-hatilah jika kita berkunjung kesana, jangan sampai membuat kerusakan alam dan berbuat yang tidak-tidak.

Peziarah yang datang ke maqam Jatikusumo tidak hanya penduduk sekitar, banyak juga yang datang dari luar wilayah Sale, seperti dari wilayah Tuban, Bojonegoro, Rembang, Blora dan lain sebagainya. Para peziarah datang dengan niat dan tujuan yang macam-macam, ada yang sekedar jalan-jalan, berwasilah mencari kesembuhan, mencari pesugihan, naik pangkat dan lain sebagainya. Namun yang perlu diingat bahwa manusia hanya sekedar berdo’a dan meminta, dan hanya kepada Tuhan saja kita percaya yang mengijabahi permohonan kita. Selain itu sebenarnya tujuan dari berziarah sendiri adalah dalam rangka mendo’akan orang yang telah meninggal dunia dan dalam rangka mengingat akan kematian.



Menurut Mbah Ngadiyo, ritual yang perlu dijalankan oleh para peziarah sebelem mencapai maqam Jatikusumo adalah bersuci terlebih dahulu di telaga Jambangan yang berada di bagian selatan lereng Gunung Butak. Setelah bersuci dan membersihkan diri mereka hendaknya melepaskan niat-niat yang tidak baik dan membersihkan hati dari pikiran-pikiran kotor untuk pasrah kepada Tuhan di tempat yang disebut Pasepen yang tidak jauh dari Telaga Jambangan. Setelah itu pengunjung atau peziarah baru naik menuju puncak Jatikusumo. Hal ini dilakukan agar para peziarah bersih lahir batin sebelum mencapai puncak Jatkusumo. Jika seseorang telah bersih lahir batin, insyallah segala do’a dan permohonannya akan mudah diterima dan diijabahi oleh Tuhan.

Benar tidaknya mengenai sebuah misteri dan mitos tinggal kita menyikapinya secara arif dan bijaksana, karena bagaimanapun juga misteri dan mitos adalah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur nilai dan kekayaan budaya lokal suatu masyarakat yang perlu kita hormati.



Santri Al Isyroq Desa Bate Kec. Bangilan Ngaji Literasi

Santri Al Isyroq Desa Bate Kec. Bangilan Ngaji Literasi
Oleh : Joyojuwoto

Ngaji atau mengaji adalah aktivitas rutin dan kewajiban para santri, baik mengaji Al Qur’an, mengaji dan mengkaji kitab-kitab kuning, mengaji secara temporer dan rutinan dalam rangka hari-hari besar Islam maupun ngaji dalam rangka selametan dan ngaji di hari-hari kematian sesama saudara seiman. Istilah ngaji literasi mungkin agak aneh dan asing di telinga para santri, walau sebenarnya aktivitas ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia santri itu sendiri.

Bersama Komunitas Kali Kening Bangilan, hari ini (26/12/2016) Santriwan-santriwati Madrasah Diniyyah Al Isyroq Desa Bate Kec. Bangilan mengadakan ngaji literasi yang di kemas dalam kegiatan Kelas Menulis dan Workshop Jurnalistik di lokasi Madin yang diasuh oleh KH. Nurus Shobah, atau akrab dipanggil Gus Sobah. Kegiatan kelas menulis yang diadakan di Madin Al Isyroq ini memang telah menjadi salah satu agenda dan program dari Komunitas Kali Kening dalam rangka ikut serta menebarkan virus cinta membaca dan menulis di kalangan para santri khususnya dan masyarakat Bangilan dan sekitarnya pada umumnya.


Kegiatan Kelas Menulis dan workshop yang diadakan oleh Kali Kening ini dipandu langsung oleh anggotanya mulai dari nol hingga santri berhasil membuat sebuah karya. Kali ini yang menjadi agenda kegiatan adalah pembuatan Majalah Dinding (Mading) Santri. Acara yang dipandu oleh Mbak Linda, seksi kegiatan ini berjalan cukup ceria dan menghibur. Tampil perdana membuka perkenalan Komunitas Kali Kening dengan para santri dibawakan oleh Kak Mashari berjalan cukup sukses dan menawan perhatian para peserta wokshop.


Acara yang dimulai jam sembilan pagi itu dilanjutkan dengan road materi yang dibawakan secara berurutan mulai dari Sang Maskot Kali Kening Mas Rohmat Sholihin, dengan materi pengantar jurnalistiknya, disusul kemudian materi tentang motivasi menulis oleh Joyojuwoto penulis buku Jejak Sang Rasul, kemudian acara semakin meriah dengan turun gunungnya wartawan media online bloktuban mas Rofiq. Acara semakin mengerucut dengan materi terakhir sistematika mading yang disampaikan oleh Ketua Komunitas Kali Kening Mas Ikal Hidayat Noor yang kemudian dilanjutkan dengan praktek menulis secara langsung.

Dalam sebuah Mading memuat beberapa rubrik tulisan yang perlu diisi oleh tim kreatif Mading, dan inilah yang menjadi garapan tim jurnalistik Kali Kening untuk mendampingi para santri membuat karya. Ikut hadir meramaikan kegiatan anggota Komunitas Kali Kening lainnya seperti Mas Kafabih, Mbak Sulistiani, dan Mbak Novita. Ustadz dan Ustadzah Madin Al Isyroq pun tidak ketinggalan ikut mensuport dan meramaikan kegiatan kelas menulis  ini hingga acara berjalan semakin meriah saja.

Salah satu pesan dari kegiatan ini menurut Mbak Linda sebagai ketua koordinator kegiatan Kali Kening Goes To School adalah : “Santri punya banyak potensi yang perlu digali, mereka juga butuh wadah untuk mengekspresikan diri dan berkreasi, dan tugas kita salah satunya memberikan motivasi agar mereka bisa berkembang” demikian papar mbak Linda yang menghantarkan acara hingga di garis finisnya.

Semoga ke depan acara Kelas Menulis atau semisal bisa terselenggara di berbagai lembaga dan kalangan serta mendapat dukungan baik secara moril dan spiritual dari semua pihak, karena pada dasarnya kerja literasi adalah kerja bersama seluruh elemen anak bangsa guna  menjembatani perkembangan kebudayaan bangsa. Karena bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang melek tulis dan baca.



Monday, December 26, 2016

Muncak Ke Gunung Butak

Muncak Ke Gunung Butak
Oleh : Joyojuwoto

Gunung Butak berada di wilayah Kec. Sale Kab. Rembang tepatnya di lingkaran desa Pakis, Bitingan, Dowan dan beberapa desa lain yang melingkupinya. Di gunung Butak terdapat dua puncak gunung yang berdekatan, yang pertama puncak Gunung Jati yang terdapat maqamnya Eyang Jatikusuma dan yang kedua puncak gunung Butak yang di atasnya konon terdapat pertapaan Eyang Jatikusuma.  

Setelah mendengar info tentang lokasi Gunung Butak, saya bersama tim traveler yang terdiri dari Mas Faqih, Mas Andik, dan Mas Puput, meluncur menuju lokasi. Perjalanan dari Bangilan-Jatirogo hingga Sale sangat lancar dengan jalan yang mulus. dan udara yang sejuk. Hutan-hutan jati di pinggiran jalan masih cukup banyak, dan sangat asri.

Sesampainya di pertigaan kuburan desa Ngandangan, arah Gunung Butak ke selatan. Melewati desa Tengger, dan terus hingga ke desa Bitingan. Di batas akhir desa Bitingan menuju Gunung Butak jalannya berbatu, walau demikian secara umum jalannya bisa diakses dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat hingga di puncaknya, khususnya puncak Jatikusuma. Jika musim penghujan, kayaknya jalannya akan sangat licin jadi perlu berhati-hati.

Gunung Butak ternyata juga menjadi kawasan konservasi alam yang melalui SK Penetapan Menteri Pertanian No : 55/Kpts/Um/2/1975 tanggal 17 Februari 1975, sebagaimana yang tertulis di plang yang dipasang di jalan menuju lokasi.

Udara pegunungan Gunung Butak sangat sejuk, di sepanjang perjalanan udara terasa dingin, suara hewan-hewan hutan menyemarakkan sepanjang perjalanan. Ada beberapa ekor kera hutan yang duduk-duduk di bebatuan dan dahan-dahan pohon. Di ceruk lembah Gunung Butak terdapat sebuah telaga yang menjadi jujugan liburan penduduk sekitar. Dari telaga untuk menuju puncak melewati petilasan yang disebut Pasepen.

Dari Pasepen pengunjung langsung bisa menuju puncak maqam Eyang Jatikusuma. Puncak Gunung Butak tingginya diperkirakan  sekitar 679 MDPL, viewnya sangat indah dan sejuk. Sepanjang memandang tampak desa-desa dan sawah yang menghampar yang berada di bawahnya.

Di puncak Jatikusuma inilah pengunjung bisa berziarah dan menikmati pemandangan yang sangat menawan. Setelah melewati medan jalan berbatu akhirnya kami berempat pun sampai di puncaknya. Keringat dan lelah terbayar sudah. 


Saturday, December 24, 2016

Pasujudan Syekh Jumadil Kubro di Jatirogo

Syekh Jumadil Kubro bisa dibilang sebagai sesepuhnya Walisongo, beliau adalah ayah dari Sunan Gesik Harjo dan kakek dari Sunan Ampel. Sebagai tokoh yang keramat Syekh Jumadil Kubro memiliki banyak petilasan bahkan konon makamnya juga banyak diklaim berada di beberapa tempat.

Ada beberapa tempat yang konon dianggap sebagai petilasan ataupun makam tokoh penyebar agama Islam dari Champa ini, diantaranya berada di Mojokerto, Semarang, Jogjakarta, Wajo Sulawesi, dan satu lagi yang belum banyak diketahui ternyata maqam dan petilasan Syekh Jumadil Kubro ada  di Kabupaten Tuban.

Salah satu petilasan dari Syekh Jumadil Kubro  atau juga disebut dengan nama Syekh Jamaludin yang ada di Kabupaten Tuban berada di Kec. Jatirogo, tepatnya di desa Jati Klabang, dusun Jambe. Berada di tepi jalan raya Jatirogo-Bojonegoro.

Di area petilasan ini berdiri sebuah langgar kecil, di sisi langgar bagian selatan terdapat ruangan yang ada batu pasujudannya, konon batu ini dipakai oleh Syekh Jamaludin untuk menjalankan ibadah kepada Allah swt sehingga batu ini dianggap sebagai bekas pasujudan beliau.


Lokasi pasujudan terasa tenang dan sejuk serta nyaman.  Di sekelilingnya tumbuh tanaman yang tumbuh menghijau dan asri. Di belakang langgar pasujudan Syekh Jamaludin, terdapat sebuah sumur  atau sendang kecil berbentuk tapal kuda yang airnya jernih. Air ini selain dipakai untuk keperluan langgar juga dipakai untuk air minum warga sekitar. 

Selain terdapat petilasan yang berupa pasujudan, di sebelah selatan petilasan juga ditemukan makam yang dianggap tempat disemayamkannya jasad Syekh Jumadil Kubro. Wallahu 'alam

Friday, December 23, 2016

Inilah Wisata Embung Lodan Yang Menawan

Inilah Wisata Embung Lodan Yang Menawan
Oleh : Joyojuwoto

“Jangan sampai kesibukanmu mengganggu waktu bermainmu”


`         Kata-kata di atas saya kira sangat tepat untuk menggambarkan musim liburan panjang sekolah di semester pertama ini. Sibuk bekerja sebuah keharusan dan penting, namun liburan pun tak kalah pentingnya, bahkan kerja hasilnya juga untuk liburan juga. Berbagai rencana dan dana tentu telah disiapkan untuk mengisi waktu liburan, baik bersama keluarga, sahabat, komunitas, maupun dengan sesama penghobi traveling lainnya.

          Sebagai penghobi traveling saya pun tak mau ketinggalan mengisi liburan kali ini dengan jalan-jalan. Saya tak butuh banyak persiapan untuk berhappy ria karena saya lebih suka liburan di alam terbuka dan di lokasi yang dekat-dekat saja. Tak perlu jauh keluar kota, tak perlu menginap, dan tidak membutuhkan banyak biaya. Cukup dengan motor saya bonceng istri dan kedua anakku Nafa dan Naila menjelajahi aspal-aspal di perjalanan dari Banjarworo Bangilan menuju Lodan Sarang.

          Pukul 08.30 WIB motor dengan muatan 160 Kg meluncur menjauhi matahari terbit. Sesampai di pertigaan Jatirogo-Paseyan saya mengambil jalur ke arah Bader-Bancar dan sampai di perempatan Ngoro. Dari perempatan ini saya ambil arah ke barat melewati desa Latsari Bancar-desa Tlogo Agung-Sampung-Bonjor dan akhirnya sampai di Lodan Wetan. Perjalanan cukup indah dan segar dengan pohon-pohon juwet, jambu mente, dan pohon-pohon penghijauan di tepi-tepi jalan yang buahnya bergelantungan.


          Sekitar pukul10.00 WIB sampai lokasi bendungan Embung Lodan yang dibangun atas bantuan dan kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Menurut penduduk sekitar bendungan itu mulai dibangun tahun 2005 dan selesai pembangunannya tahun 2008. Panorama Embung Lodan sangat menawan,airnya melimpah menghampar luas dengan bukit-bukit dan hutannya yang menghijau di balik embung. Di pinggir embung betebaran gethek (rakit) dari susunan bambu yang dipakai penduduk sekitar untuk menyeberang dan sebagai sarana transportasi guna mengangkut hasil pertanian, hasil hutan seperti kayu, daun-daun maupun rumput dan daun-daunan untuk makanan ternak.

          Saya lihat dan saya rasakan petani di daerah ini sangat perkasa, mereka harus memakai gethek untuk mengangkut hasil panennya. Tak ada perahu mesin, mereka harus menariknya dengan manual. Agar gethek atau rakit tidak keluar dari jalur penyebrangan maka dibuatkan tali yang melintangi Embung.

          Saya membayangkan jika saja Embung Lodan ini selain dipakai untuk PDAM juga bisa dimanfaatkan sebagai wisata air dengan jukung-jukungnya yang mengantarkan wisatawan mengelilingi sepanjang waduk, kemudian bisa dipadu juga dengan wisata kuliner ikan bakar, warung kopi, oleh-oleh khas Sarang Rembang tentu Embung ini lebih menarik wisatawan untuk berkunjung.

          Sungguh panorama Embung Lodan indah, sejuk dan sangat menawan pandangan, panoramanya pun mendukung untuk dikembangkan menjadi alternatif tempat wisata lokal yang bagus dan representatif. Tinggal kita menunggu sentuhan manis dari pihak pemerintah daerah atau yang terkait.

Jamprong Bergincu Metropolitan

 Jamprong Bergincu Metropolitan
Oleh : Joyojuwoto

Desa Jamprong adalah sebuah desa yang secara administratif masuk wilayah di Kec. Kenduruan Kab Tuban. Jamprong di sebelah timur berbatasan dengan desa Nglateng, di sebelah barat berbatasan dengan Sokogunung, di sebelah selatan persawahan dan hutan. Desa ini berada di daerah pegunungan rendah dan dikelilingi oleh hutan-hutan jati. Kondisi tanahnya yang berbukit-bukit menjadikan tata letak rumah penduduknya tidak rata.

Hutan, sawah, dan ladang penduduk menghijau luas sepanjang mata memandang. Kebanyakan sawah dan ladang penduduk bertingkat-tingkat dibuat secara terasiring karena kondisi alamnya yang berbukit-bukit. Sebagaimana lazimnya sebuah desa di pedalaman udaranya pun asri, bebas dari polusi dengan pohon-pohon rindang di tepian jalan yang menyejukkan pandangan mata.

Sungai-sungai kecil mengalir jernih dengan air dari sumber di hutan yang mengelilingi Jamprong. Gremicik airnya berpadu dengan desau angin senja dan suara burung liar menjadi musikalisasi alam dengan nada-nada yang mengekstasekan relung-relung jiwa.

Penduduknya ramah, tegur sapa dengan senyum merekah tersungging di bibir akan terlontar terhadap siapa saja yang ditemuinya. Begitulah kemurnian alam telah mengajarkan harmoni cinta semesta tanpa batas dan kelas sosial yang membuat sekat-sekat ruang kemanusiaan.

Mungkin aku terlalu lebay dalam menggambarkan Jamprong dengan segala pesonanya. Namun begitulah bisikan dan nyanyian jiwaku setiap kali berkunjung untuk sekedar menikmati dan jalan-jalan menyusuri hutan, lembah, dan bebukitan di Jamprong.

 Kemarin sore aku pun berkunjung ke sana, bersama istri dan anakku Naila. Sambil menjumputi senja yang berwarna jingga, dan menjaring angin gunung yang sedang lembut-lembutnya. Ketika sampai di puncaknya aku melihat wajah lain Jamprong. Jamprong tampak bergincu metropolitan. Tepatnya Jamprong akan bersolek kemajuan dan modernitas. Kendaraan-kendaraan berat membolduser gunung-gunungnya, meratakan sawah dan ladang. Di salah satu titiknya ada sumber minyak yang segera dieksploitasi.

Tentu penduduknya akan senang dan menyambut dengan gembira, tanah-tanah akan dibebaskan untuk keperluan industri pengeboran minyak. Mereka akan mendapatkan lembar-lembar rupiah  yang tebal dan berwarna-warni. Perekonomian rakyat pun akan menggeliat, warung-warung mulai bermunculan menyambut peluang usaha untuk kemakmuran rakyatnya.

Sumber daya alam yang terkandung di bumi Jamprong semoga membawa berkah pula untuk penduduknya. Berpuluh-puluh tahun sumber daya alam itu dikandung di dalam rahim bumi Jamprong semoga kelak setelah anak itu lahir dia bisa berbakti dan mengenali ibu tanah tumpah darahnya. Memuliakan, menyejahterakan, dan membawa dampak yang positif bagi penduduk Jamprong.

Jalan-jalan telah dipadatkan, kendaraan berlalu-lalang siang dan malam. Mobil-mobil mengkilat dan mewah berseliweran, tiang-tiang pancang telah ditancapkan, lampu-lampu pada malam hari menyala terang bak siang hari. Jamprong benar-benar akan bergincu metropolitan, berbedak kemajuan dan modernitas, serta berwajah kota industri.

Penduduk senang, aku pun ikut senang. Di sebuah warung kopi di dekat lokasi pengeboran minyak, aku diam merenung sambil menyeruput kopi penghabisan, semoga penduduk Jamprong tidak melupakan telo menyok walau mungkin mereka sedang menyantap pizza hut dan fried chicken di tangan.


Thursday, December 22, 2016

Inilah 9 Ayat Al Qur’an Tentang Hari Ibu Oleh : Joyojuwoto

Inilah 9 Ayat Al Qur’an Tentang Hari Ibu
Oleh : Joyojuwoto

Ibu adalah sosok yang dimuliakan oleh Allah swt karena ibu adalah sumber kemuliaan. Barang siapa yang hidupnya ingin mulia maka hendaknya ia memuliakan ibunya.

Diantara memuliakan sosok ibu tentu kita harus berbuat baik kepadannya, termasuk di dalamnya memperingati hati ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.

Berikut beberapa ayat Al Qur’an yang berkenaan dengan kemuliaan kedua orang tua kita khususnya sang ibu.

1.    Surat Al Baqarah (2) ayat 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا لا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٢٣٣)

233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.


2.    Surat AL Isra’ (17) ayat 23-24

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (٢٤)

24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

3.    Surat Luqman (31) ayat 14-15

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤
(
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)

15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

4.    Surat Al  Ahqah (46) ayat 15

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥)

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri".

5.    Surat Maryam (19) ayat 32 dan ayat 47

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (٣٢)
32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (٤٧)

47. berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.



6.    Al Ankabut (29) ayat 8

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٨)
8. dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


7.    Surat Ibrahim (14) ayat 41
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (٤١)  

41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".

8.    Surat An Nisa’ (4) ayat 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا (٣٦)
36. sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,


9.    Surat Al An’am (6) ayat 151

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٥١)
151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).