Saturday, October 1, 2016

Mutiara Surat AL Ikhlas

Mutiara Surat AL Ikhlas

Surat AL Ikhlas adalah surat Makkiyah yang dalam beberapa hadits disebut seperti sepertiganya Al Qur’an. Surat Al Ikhlas ini ayatnya ada empat. Walau hanya empat ayat namun surat ini adalah penegasan akan eksistensi keesaan Allah SWT.  Surat Al Ikhlas adalah surat yang murni berintikan ketauhidan kepada Allah, surat ini adalah jawaban kepada orang-orang yang mempertanyakan keberadaan Allah SWT.

Tidak seperti surat-surat yang lainnya, jika dinamakan dengan nama-nama tertentu biasanya nama surat itu tercantum di dalam ayat-ayatnya, namun nama surat al Ikhlas ini tidak ada satu pun kalimat atau kata yang berbunyi ikhlas,  hal ini menjadi tanda bahwa keikhlasan memang tidak harus ditunjuk-tunjukkan, karena keikhlasan yang sempurna hanya ia dan Allah saja yang tahu. Begitu pula mentauhidkan Allah SWT adalah panggilan dari kemurnian dan keikhlasan jiwa.

Dalam tafsir AL Iklil, KH. Misbah Zainul Mustofa menerangkan bahwa : Kalau kita sudah mengerti isi surat ini, kita harus waspada apabila kita mau menghadap Allah Swt pada saat mendirikan shalat atau pada saat-saat yang lainnya. Apabila ada bayang-bayang akan wujud Tuhan di dalam pikiran, hal itu harus segera disingkirkan. Semua bayangan-bayangan mengenai Tuhan itu pasti bukan Tuhan. Kalau ada suara-suara yang didengar telinga, atau jika ada semacam bisikan-bisikan dalam hati jangan sekali-sekali itu dianggap suara Tuhan. Seperti halnya orang-orang yang menjalankan ilmu kejawen seperti aliran Saptadarma dan lain-lainnya.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda :
تفكّروا في الخلق ولا تفكّروا في الخالق

Artinya : Berfikirlah kalian semua pada makhluk yang diciptakan oleh Allah, dan jangan berfikir tentang dzat yang membuat makhluk yaitu Allah Swt.

Dalam beribadah kepada Allah seorang hamba memang harus memposisikan diri beribadah seakan-akan ia melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat Allah maka sesungguhnya Allah pasti melihat seorang hamba, ini adalah konsep ihsan yang harus difahami dengan syar’i. Jangan sampai kita beribadah menyembah Tuhan namun tidak mengetahui siapa yang disembah, sehingga kita hanya menyembah nama belaka, pun demikian jangan sampai kita menyembah sesuatu yang tampak karena itu tentu bukan Tuhan sehingga kita salah jalan. Sebagimana yang di tulis oleh Sunan Bonang dalam Suluk Wujil dikatakan bahwa :
“Jangan menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat. Nanti martabatmu akan direndahkan. Kalau kamu tidak tahu akan yang disembah di dunia ini, kamu akan seperti menulup burung, pelurunya sudah disebarkan, tapi burungnya tidak akan kena, akhirnya menyembah adam sarpin, sembahnya sia-sia.”


Jadi seseorang dalam menyembah Tuhan itu harus dengan pengetahuan yang sempurna, karena ilmu pengetahuan merupakan petunjuk untuk mencapai eksistensi Allah SWT. Intinya menyembah Allah bukan dengan bayang-bayang dan perkiraan-perkiraan saja yang justru akan membingungkan dan menyesatkan. Ikutilah petunjuk syariat, dan surat Al Ikhlas ini menjadi jawaban dari kebingungan-kebingunan dalam menyembah Tuhan.

1 comment: