Friday, August 26, 2016

Sebuah Kesaksian "Louncing Komunitas Kali Kening"

Sebuah Kesaksian
"Louncing Komunitas Kali Kening"

Senja dipinggiran Kali Kening, pukul 16.00 WIB, belasan pemuda berkumpul di bawah rindangnya pohon Kepoh. Mereka berkumpul tidak untuk mancing atau mencari ikan di kali pada saat banjir pertama yang menjadikan ikan pusing sehingga muncul kepermukaan air, karena memang ini bukan musimnya iwak munggut. Atau apalagi hanya sekedar untuk nyangkruk membuang jeda waktu tanpa kegiatan apapun yang berguna. Menyitir perkataan Pak Urip Soemoharjo, “Negara kok zonder tentara”, kalau kita aplikasikan menjadi “Pemuda kok zonder karya”, begitu kira-kira slogannya.

Memang senja itu adalah senja yang bersejarah, setidaknya sebuah lembaran baru sedang dibuka. Pemuda-pemuda itu sedang menjangkau titik komitmen untuk membangun sebuah komunitas literasi di Kabupaten Tuban bagian selatan, khususnya daerah yang dilewati aliran sungai Kali Kening. Oleh karena itu kumpul-kumpul sore itu jika dibahasa semi kerenkan menjadi sebuah acara Louncing Komunitas Kali Kening yang bergerak di bidang literasi.

Sebuah banner terpampang sebagai background berwarna biru beridentitas “Komunitas Kali Kening”, yang kemudian disusul tulisan yang penuh rasa poetika di bawahnya “Membaca setabah bebatuan, berfikir sejernih air, dan berkarya sederas arus” menjadi penanda pentasbihan diri bahwa komunitas itu akan berkomitmen untuk menempuh jalan  sunyi, menggerakkan dunia literasi, membangunkan semangat berkarya untuk anak-anak muda guna bakti nusa dan bangsa.



Acara yang dipandu oleh saudara Mashari itu berjalan gayeng, semi protokoler, dan penuh dengan keakraban. Setelah kalimatul iftitah dibaca serentak bersama, tampillah ketua dari komunitas kali kening saudara Ical memberikan sambutannya. Ia menceritakan proses awal berdirinya komunitas kali kening, dan diakhir sambutannya Ical berharap kali kening mampu menjadi wadah literasi bagi pemuda-pemuda Bangilan dan sekitarnya dan bagi siapa saja yang peduli terhadap dunia kata.

Acara semakin hangat tatkala sesepuh dari kali kening Mas Rahmat Sholihin maju ke depan dengan orasi kebudayaannya. Beliau sangat bergembira dan mendukung adanya komunitas itu. Mengawali orasinya Mas Rahmat mengupas mengenai tradisi menulisnya masyarakat Arab jahiliah dengan berbagai perlombaan syairnya di pasar Ukaz dan Zulmajas. Selanjutnya menurut beliau syair-syair itu di tempel di dinding-dinding Ka’bah sebagai kebanggaan dan apresiasi bagi para jawara-jawara tiap kabilah. Begitulah karya tulis jaman dahulu sangat dihargai. Lebih lanjut menurut Mas Rahmat sebagaimana yang beliau pahatkan di kain prasasti “Menulis adalah merajut harapan untuk abadi” wah..sangat luar biasa.
Di akhir sesi, acara di tutup dengan musikalisasi puisi yang diiringi petikan dawai-dawai gitar oleh Saudara Rouf, sedang yang membaca puisi sang maestro pemilik nama misterius  di instagram @mawarhitam. Ah puisi ibarat ilham fitri (ilham suci) dari Tuhan yang dibisikkan ke dalam hati para hamba-Nya yang terpilih. Keindahan puisi yang dibacakan Mbak Linda Si Mawarhitam seakan menyatu dengan senja yang mulai temaram, indah, menyihir dan mempesona. Mungkin engkau kebal dengan sihir dan santet terganas sekalipun, namun  engkau tak akan pernah selamat dari daya pesona sihir puisi yang mengalir bersama derai angin senja, atau puisi yang lirih bagai ritmis gremicik arus sungai.

Tak lupa saya sebutkan di sini pemuda-pemuda yang hadir dan menyemarakkan peristiwa louncing kali kening, mereka-mereka adalah Mas Zainal Fanani, Mas Dwi Djafu, Mas Adib, Mas Kafabih, Mas Ardi, Mas Rofiq, Mas Habibi, Mas Yayang, Mas Faqih, Mas Zakaria, Mbak Aulia, kehadiran kalian sangat berarti, terima kasih, semoga Tuhan membalas dengan keberlimpahan berkah dan kebaikan. Juga terima kasih kepada komponen suasana saat itu, pohon Kepoh, debu-debu, daun, rumput, ilalang, kali kening, kebeningan, keheningan dan juga pada senja yang mengguratkan keindahan pesonanya sore itu.

Sebagai penyempurna acara seluruh anggota komunitas yang hadir menorehkan kata-kata saktinya di selembar kain prasasti, sebagai tanda dan sebagai bukti bahwa gerakan literasi di sepanjang aliran sungai kali kening di mulai.

Demikian sebuah kesaksian yang dapat saya sampaikan. Dari saya, senyawa kimiawi  air, bumi, angin, dan api dalam balutan firman Tuhan “Kun, jadilah Fayakun, maka jadilah”. Salam.

1 comment: