Wednesday, July 22, 2015

Seberapa Pentingkah Ibadah Sholat ?

“Seberapa Pentingkah Ibadah Sholat ?”

Sholat adalah perkara yang sangat penting dalam ritual peribadatan umat Islam. Tidak hanya sekedar penting bahkan yang menjadi pembeda antara seorang muslim ataupun kafir adalah urusan sholat. Besok di akhirat amalan seorang hamba yang akan dihisab terlebih dahulu juga perkara sholat. Jika agama Islam diibaratkan sebagai sebuah bangunan, maka  sholat menjadi tiang-tiang penyangganya, menjadi soko gurunya bangunan, jika tiang tersebut kokoh maka agama Islam akan kuat, namun sebaliknya jika tiang-tiang tersebut lemah maka akan runtuh pula bangunan Islam itu.
Kita sering mendengar sebuah ungkapan yang berbunyi :
الصّلاة عماد الدّين فمن اقامها فقد اقام الدّين ومن هدمها فقد هدم الدّين
“Sholat adalah tiangnya agama, maka barang siapa yang mendirikannya maka ia telah mendirikan agama itu, dan barang siapa yang merobohkannya maka ia telah merobohkan agama itu”

Begitu pentingnya urusan sholat hingga Rosulullah SAW ketika di akhir hayatnya pun yang di ucapkan adalah “Jagalah Sholat… jagalah Sholat…”Untuk urusan sholat ini pula Rosulullah dipanggil langsung oleh Allah SWT di Sidrotil Muntaha dalam peristiwa mi’rajnya yang luar biasa.

Walau demikian keras dan pentingnya urusan sholat ternyata ada pula seorang hamba yang masuk surga padahal ia tidak sholat. Seperti kisah Al Aswad seorang budak Yahudi pada peristiwa perang Khaibar, yang mana ia masuk islam pada saat itu dan meninggal dunia pada saat itu pula hingga Rosulullah mengatakan ia masuk surga walau belum pernah menjalankan ibadah sholat dan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam.

Karena memang pada dasarnya perkara masuk surga atau neraka seorang hamba bukan dikarenakan banyaknya sholat yang dikerjakan bukan pula seorang masuk neraka karena banyaknya kesalahan yang dilakukan. Bisa jadi seorang yang kelihatannya banyak amalan kebaikannya namun diakhir hayatnya su’ul khotimah maka ia akan masuk neraka, dan kita juga tidak pernah tahu seorang yang banyak melakukan dosa-dosa akhirnya di akhir kehidupannya bertobat dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah maka ia layak masuk surga. Hal ini memang tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk berbuat sekehendak kita karena Allah pun telah mewajibkan bagi kita untuk mengejar surga-Nya, mengejar ridho-Nya dengan kerja keras dan ikhtiyar. Baru setelah itu kita bertawakal.

Bagaimanapun alasannya sholat tetaplah wajib bagi orang islam, jika seluruh amalan ibadah dikerjakan jika dia tidak mengerjakan sholat tentu amalan-amalan itu tidak berguna baginya. Rosulullah SAW bersabda :
لا خير في دين لا صلاة فيه
“Tidak ada kebaikan di dalam agama yang tidak mengerjakan sholat”

Begitu pentingnya sholat hingga tidak ada toleransi bagi yang tidak mengerjakan kecuali ada udzur syar’i, seperti seorang perempuan yang haid, anak kecil yang belum baligh, hilang akal dan lain sebagainya. Selain dari itu walau seseorang sakit ia tetap wajib mengerjakan sholat. Jika tidak mampu berdiri maka dengan duduk, jika tak mampu duduk maka berbaring, dan jika tidak mampu kesemuanya maka boleh mengerjakan sholat dengan bahasa isyarat. Saat perang wajib sholat, saat bepergian wajib sholat, pokoknya selama nafas masih dikandung badan sholat wajib dilaksanakan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga sholat dimanapun kita berada, dan menjadikan sholat sebagai cahaya dalam kehidupan kita.
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Barangsiapa yang menjaga shalat, dijadikan baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan di hari kiamat.”
 Amien..amien ya Rabbal ‘alamain. Joyojuwoto

Berbagi Ceria di Penghujung Senja Ramadhan 1436 H

Berbagi Ceria di Penghujung Senja Ramadhan 1436 H

Pose bersama anak yatim dan santri TPQ Mushola Nur Hikmah
Bulan Ramadhan selalu memberikan sentuhan warna yang berbeda bagi kehidupan umat Islam. Pada bulan ini Allah membukakan pintu berkahnya kepada seluruh umat Islam dimanapun berada. Tidak terkecuali kepada anak-anak yang kurang beruntung yang dimasa kanak-kanaknya harus kehilangan kemanjaanya kepada ibu ataupun ayahnya.

Alhamdulilah dalam rangka mencari berkah dari Allah, dan ikut sedikit menyumbang kebahagiaan untuk anak-anak yatim-piatu dan dhuafa’ pada bulan Ramadhan tahun ini, komunitas Infaq Kita bekerjasama dengan para pemuda Bangilan dan  Laziz Al Haromain wilayah Tuban bagian Selatan mengadakan acara santunan dan buka bersama yang di adakan di mushalla Nur Hikmah Rondo Kuning Desa Bangilan Kec. Bangilan Kab. Tuban.

Bapak Camat Bangilan memberikan santunan kepada anak yatim

Acara yang dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2015 ini tidak terlepas dari dukungan dari semua pihak terkait di lingkungan mushola Nur Hikmah dan lebih-lebih juga dukungan dari tokoh pemuda Bangilan Mas Syahid. Kegiatan ini sejatinya telah menjadi agenda rutin komunitas Infaq Kita untuk menyelenggarakan buka bersama dan santunan untuk anak-anak yatim piatu dan dhuafa’. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara kali  ini lebih meriah dan berskala lebih besar. Jumlah anak yatim yang mendapat santunan sekitar lima puluh anak, dan turut hadir juga santriwan-santriwati TPQ Mushola Nur Hikmah untuk memeriahkan acara buka bersama.


KH. Yunan Jauhar Sedang memimpin do'a

Hadir dalam kegiatan ini bapak Camat Bangilan dan beberapa tokoh agama setempat. Dalam sambutannya Pak Camat memberikan apresiasi yang positif terhadap kegiatan yang digelar oleh anak-anak muda Bangilan. "Ini adalah acara luar biasa dari generasi muda", tutur beliau. Lebih jauh lagi beliau juga sangat terharu dapat mengikuti acara santunan dan buka bersama anak yatim, padahal seharusnya beliau ada acara yang serupa yang diadakan oleh Pertamina."Saya hari ini seharusnya buka puasa dengan direksi dan pegawai pertamina, namun saya telah biasa buka bersama mereka, dan hari ini saya memilih berbuka puasa ditengah-tengah majelis ini dengan para anak yatim, dan kita harus memperhatikan nasib mereka...", suara tulus beliau membuat saya pribadi merasa terenyuh. Selain itu Beliau juga mengajak kita untuk lebih care terhadap anak yatim karena menurut beliau, semua orang layak hidup dengan baik. Team Infaq Kita.

Tidak Pernah Sholat Namun Masuk Surga

Tidak Pernah Sholat Namun Masuk Surga

Apakah kita percaya bahwa sholat kita diterima Allah Swt, yakinkah kita bahwa sholat kita mampu menghantarkan ke surga-Nya ? tentu jawabannya belum tentu bukan, namun tahukah kita ternyata ada seorang muslim yang tidak pernah sholat namun Rosulullah SAW mengatakan bahwa ia masuk surga dan diiringi bidadari yang jelita.

Ini adalah sebuah kisah yang luar biasa yang banyak memberikan pelajaran bermakna dan hikmah bagi kita semua. Kisah ini terjadi pada saat perang Khaibar, di mana seorang budak Yahudi menemukan seberkas cahaya hidayah daan mendapatkan momentum yang tepat yang akhirnya menghantarkannya menuju jannah-Nya. Sebuah kisah yang sarat makna dan hikmah yang layak untuk kita renungkan bersama.

Alkisah pada saat Rosulullah SAW memimpin pasukan umat Islam untuk menaklukkan Khaibar pada tahun ke-7 Hijriyyah di tengah perjalanan menuju Khaibar ada seorang budak yang bernama Al Aswad yang sedang menggembalakan kambing milik salah seorang Yahudi. Melihat serombongan pasukan menuju Khaibar Al Aswad pun mendekati rombongan, kemudian ia menemui pimpinan rombongan yang tidak lain adalah Nabi Muhammad.

Setelah berbasa-basi akhirnya Al Aswad bertanya mengenai Islam, dan Rosulullah pun menjawabnya hingga Al Aswad menyatakan beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Karena saat itu Al Aswad sedang menggembalakan kambing milik tuannya yang Yahudi, ia meminta saran apa yang harus dilakukannya. Kemudian Rosulullah berkata : “Lemparlah kepala kambing-kambing itu, niscaya mereka akan kembali kepada tuannya” Al Aswad pun mengerjakan apa yang menjadi saran Rosulullah, seketika itu pula kambing-kambing itu berlari pulang ke arah Khaibar.

Setelah itu dengan tanpa banyak berfikir Al Aswad ikut bergabung dengan pasukan umat Islam yang akan melakukan penyerangan ke benteng-benteng Khaibar. Walau ia belum mendalami tentang Islam ia sangat percaya dan yakin dengan apa yang disabdakan Rosulullah SAW. Keimanan Al Aswad kepada Allah dan Rosul-Nya tulus tanpa tendensi dan tanpa alasan apapun.

Ketika peprangan telah berlangsung Al Aswad pun ikut terjun ke dalam kancah pertempuran. Namun naas baginya ketika ia baru saja akan mengangkat senjata untuk berperang, tiba-tiba sebuah lemparan batu dari arah musuh melayang menghantamnya hingga menyebabkan kematiannya. Baru saja Al Aswad menyatakan keislamannya, belum ada satu pun syariat Islam yang ia kerjakan, belum satu rakaat sholat pun yang ia jalankan, belum satu nisab zakat yang ia bayarkan, belum satu musuh yang ia bunuh dalam peperangan Al Aswad telah meninggal dunia.

Beberapa pasukan umat Islam yang mengetahui kematian Al Aswad selanjutnya menggotong jasadnya dan membawanya kehadapan Rosulullah SAW. Beliau mengkafani jasad itu dengan baju yang dikenakannya. Setelah itu Rosulullah SAW menatap jenazah Al Aswad dengan  pandangan mata yang seperti mengikuti sesuatu yang berjalan menjauh dari jasad itu. Para sahabat pun bertanya kepada Nabi : “Ya Rosulullah mengapa engkau menengok ?” Beliau pun menjawab : “Aku melihat dia pergi ke surga ditemani oleh dua bidadari yang kan menjadi istrinya di sana”

Subhanallah, Maha suci Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada Al Aswad. Semoga kita termasuk orang-orang yang membawa iman dan Islam hingga di akhir kehidupan kita kelak. Amien..amien ya Rabbal “alamin. Sekian. Joyojuwoto

Saturday, July 11, 2015

Corak dan Metode Dakwah Model Pesantren Sunan Bonang

“Corak dan Metode Dakwah Model Pesantren Sunan Bonang”

Hampir semua orang mungkin telah mengenal siapa Sunan Bonang, hal ini terbukti dengan banyaknya peziarah yang mengunjungi maqom beliau baik yang ada di Lasem maupun yang ada di kota Tuban. Walaupun Sunan Bonang sudah sangat akrab dengan kehidupan kita, namun masih  jarang diantara kita yang kalau tidak boleh dikatakan sama sekali tidak tahu tentang metode dakwah yang dipakai oleh Sunan Bonang kecuali hanya sekilas saja. Bahkan tidak jarang cerita-cerita mistik lebih banyak mendominasi sejarah penyebaran agama Islam yang dilakukan di Tanah Jawa.

Sekilas  ringkas saya ingin mengulas ulang kehidupan Sunan Bonang, hingga akhirnya beliau menjadi anggota dari Walisongo serta kiprah beliau dalam menyebarkan ajaran Islam yang salah satunya lewat dunia pesantren.

Sunan Bonang semenjak kecil sudah sangat akrab dengan bidang keagamaan. Beliau dididik lagsung oleh ayahnya di pesantren Ampel Denta Surabaya. Raden Makhdum Ibrahim itulah nama kecil dari Sunan Bonang putra dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Selain berguru kepada ayahnya Raden Makhdum Ibrahim bersama sahabatnyya Raden paku  berguru ke pesantren di Pasai kepada seorang ulama yang bernama Syekh Wali Lanang yang ternyata adalah ayah dari Raden Paku sendiri.

Di pesantren Pasai inilah Makhdum Ibrahim dan Raden Paku mendalami berbagai disiplin  ilmu pengetahuan seperti ilmu pengobatan, ilmu tasawuf,dan tentu ilmu keagamaan. Setelah dirasa cukup mereka berdua yang sejatinya ingin langsung berangkat menuaikan ibadah haji disuruh oleh gurunya untuk kembali ke tanah juga guna menyebarkan ajaran Islam. Karena tenaga mereka sangat dibutuhkan di Jawa.

Raden Paku mendapat amanat dari ayahnya untuk mendiirkan pesantren di tanah yang mirip ia bawa dari Pasai. Akhirnya raden paku mendirikan pesantren di bukit Giri yang kelak masyhur dengan sebutan Giri Kedaton. Sedang Makhdum Ibrahim oleh Sunan Ampel diberi amanat untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Tuban, Lasem, Madura, Bawean, dan Pati. Kemudian Sunan Bonang memilih wilayah Tuban sebagai basis perjuangannya dan beliau mendirikan pesantren di sebuah desa yang terkenal dengan pengrajin gamelan. Desa itu dikenal dengan nama Bonang.

Di Bonang inilah Makhdum Ibrahim mendirikan pesantren dan berbaur dengan masyarakat setempat untuk mendakwahkan ajaran Islam. Karena sering bergaul dengan para pengrajin gamelan beliau mahir memainkan alat musik tersebut dan akhirnya makhdum Ibrahim lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.

Dakwah pesantren sebenarnya bukanlah hal yang baru di tanah Jawa. Karena dulu ketika agama Hindu-Budha masih banyak dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Jawa juga terdapat lembaga keagamaan yang dihuni oleh para cantrik dan biksu dalam lingkungan padepokan. Bahkan ada yang menyatakan memang pesantren meniru model padepokan agama Hindu-Budha.

Pesantren sendiri merupakan sebuah sistem pendidikan khas yang dimiliki bangsa Indonesia. Orang-orang yang tinggal di pesantren lazim disebut “Santri”. Pada dasarnya kata santrilah yang membentuk istilah pesantren, yaitu dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang memiliki arti tempatnya santri. Semisal suatu tempat yang dekat dengan masjid biasanya disebut dengan istilah Kauman atau Santren. Karena tempatnya Kaum dan santri. Hampir diseluruh tempat yang dekat dengan masjid memakai istilah yang sama Kauman atau Santren.

Adanya pesantren awalnya adalah datangnya para santri yang kemudian membuat bangunan-bangunan sederhana disekitar rumah seorang guru atau Kyai dengan harapan bisa menuntut ilmu pada kyai tersebut. Dari sinilah awal mula terbentuknya pesantren, yaitu tempatnya para santri untuk menuntut ilmu pada seorang guru.

Asal-usul istilah santri sendiri ada yang menyatakan berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Sastri. Artinya adalah melek huruf. Pendapat lain menyatakan santri berasal dari bahasa Jawa dari kata cantrik, yakni seseorang yang mengikuti seorang guru dengan maksud berguru. Dan saya kira dua pendapat itu sama benarnya.

Begitu juga di pesantren Sunan Bonang, para santri berdatangan untuk menuntut ilmu kepada beliau. Santri pada saat itu tidak hanya belajar ilmu keagamaan saja, biasanya santri dilibatkan dalam kegiatan ekonomi juga semisal perdagangan dan pertanian. Hingga sekarang pun model pesantren yangdemikan masih banyak kita jumpai. Biasanya santri yang ikut membantu Sang Kyai dikenal dengan istilah Khodam Kyai atau ngenger sama Kyai.

Santri-santri Sunan Bonang telah dibagi-bagi menurut tingkatan masing-masing. Dalam pelajaran tasawuf biasanya santri akan dibedakan menjadi beberapa tingkatan yaitu:
1.       Santri Mubtadi’
2.       Santri Mutawasid
3.       Santri Kamil
4.       Santri Kamil Mukammil
Santri mubtadi’ mempelajari masalah syariat, santri mutawasid tingkat pengetahuannya naik pada tataran ilmu tarekat, santri kamil meningkat pada tataran ilmu hakekat, dan santri Kamil Mukammil telah sampai pada tingkat ma’rifat.

Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren sunan Bonang mengikuti pola dari gurunya yaitu menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Karena kebanyakan santri belum menguasai bahasa arab biasanya kitab-kitab tersebut diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa Jawa, yang dalam bahasa pesantrennya dikenal dengan istilahnya “Ngesahi” kitab atau maknani kitab.

Metode ngesahi kitab juga masih dipakai hingga kini di pesantren-pesantren salaf di tanah air. Jadwal mengaji yang disusun oleh Sunan Bonang biasanya menggunakan kitab Sanusi yang dikaji pada malam Kamis. Kitab al Barzanji dibaca pada malam Jumat, sementara malam-malam lain digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan yang diisi denganceramah umum dan hiburan tembang-tembangan yang berisi syi’ir pujian dan nasehat diiringi alat musik gamelan. Semisal tembang Tombo ati yang masyhur hingga sekarang.

Demikian sekilas corak dan metode dakwah yang dipakai oleh Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran Islam yang penuh hikmah dan kebaikan. Semoga kita bisa meniru dan meneladani dakwah beliau yang luar biasa. Amien. Joyojuwoto


Wednesday, July 8, 2015

Petilasan Kedung Banteng

Masyarakat Tuban Selatan mungkin sudah sangat akrab berziarah dan berwisata rohani di maqom Mbah Jabbar. Beliau adalah seorang waliyullah keturunan dari Keraton Pajang yang maqomnya berada di atas bukit Nglirip dekat tempat wisata alam air terjun yang berada di desa Mulyoagung Singgahan. Mungkin tidak banyak yang mengetahui Petilasan kedung Banteng yang sebenarnya juga masih memiliki hubungan historis dengan Mbah Jabbar. 

Menurut beberapa sumber, Petilasan Kedung Banteng adalah markas perlawanan Mbah Jabbar ketika dahulu melawan pemerintah Belanda. Konon di petilasan itulah Mbah Jabbar menyimpan benda-benda pusaka keraton dan perlengkapan persenjataan. Namun menurut sumber yang lain mengatakan di petilasan Kedung Banteng bersemayam jasad seorang waliyullah dari Yaman, Mbah Sanusi Al Yamani yang tidak lain adalah guru dari  Mbah Jabbar itu sendiri.



Dalam buku "Mbah Jabbar Leluhur dan Dzurriyahnya" disebutkan bahwasanya maqom Mbah Sanusi bersifat ghaib dan tidak ada yang mengetahuinya. Mbah Sholeh Ngerong Rengel pernah berziarah bersama seseorang, namun setelah wafatnya Mbah Sholeh tidak ada lagi yang mengetahui maqom Mbah Sanusi. Konon maqom Mbah Sanusi berada di tengah-tengah perkebunan jeruk yang asri.

Di petilasan kedung Banteng memang terdapat sebuah cungkup yang di dalamnya terdapat dua maqom, yang satu kemungkinan maqom Mbah Sanusi dan satunya lagi entah maqom siapa. Menurut juru kunci Kedung Banteng sebenarnya kata Sanusi berasal dari kata Jawa "Rasukannipun dipun unusi" maksudnya adalah pakaiannya dilepas, dan ditaruh ditempat itu.

Di depan cungkup terdapat sebuah langgar panggung dari kayu yang juga digunakan oleh orang-orang yang ketepatan waktu sholat masih bekerja di ladang. Selain itu juga dipakai penginapan orang-orang yang datang dari jauh untuk berkhalwat di petilasan Mbah Sanusi. 

Untuk menuju petilasan Kedung Banteng relatif mudah, kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat bisa menjangkau hingga di tepi sungai walau jalannya masih makadam. Rute yang bisa diambil dari sebelah utara sumber mata air Krawak ada jalan makadam ke arah kanan hingga tiba di tepi sungai. Pemandangannya pun sejuk karena berada di lokasi perhutani wilayah Montong walau pohon-pohon jatinya sudah banyak ditebang. Dinding-dinding batu tampak menjulang tinggi menambah indahnya panorama menuju petilasan. Sekian. Joyojuwoto.


Tuesday, July 7, 2015

Menyingkap Tabir “Lailatul Qodar”

Menyingkap Tabir “Lailatul Qodar”

Lailatul Qodar adalah malam yang agung, Lailatul Qodar adalah malam seribu bulan , malam dimana rahasia kegaiban dibeber dan dibukakan oleh Allah SWT. Malam dimana pintu langit dibuka, malam dimana segala keberkahan melimpah ruah, malam dimana segala pengetahuan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pada malam itu semua makhluk bersujud kepada-Nya, mengakui kebesaran dan keagungan-Nya. Angin berhenti berhembus, ombak lautan berhenti berdebur, gunung-gunung berhenti bergolak, hewan-hewan diam dalam keheningan, bersujud larut dalam dzikir-dzikir kesejatian.
Lailatul Qodar adalah malam ketetapan, ketetapan diturunkannya Al Qur’an sebagai cahaya semesta, cahaya keilahian yang menjadi penerang seluruh jagad raya.
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ  
1.   Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan

Lailatul Qodar adalah malam dimana puncak kesadaran dan ruhani manusia yang paling utuh menemukan muaranya. Malam dimana pengetahuan batin manusia dibuka oleh Allah SWT, malam dimana kesadaran syahadat manusia mencapai titik kulminasinya.
!$tBur y71u÷Šr& $tB ä's#øs9 Íôs)ø9$# ÇËÈ  
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?

Setiap orang pada hakekatnya akan menjumpai Lailatul Qodar. Dan perjumpaan itu tentu sesuai dengan kapasitas dan kesadarannya masing-masing. Lailatul Qodar pada hakekatnya adalah penyingkapan pengetahuan batin manusia, dalam pengertian sederhananya potensi dan bibit dari Lailatul Qodar itu ada di masing-masing jiwa manusia. Jadi tidak perlu kita sibuk mencari kesana-kemari. Karena yang kita cari ada dalam diri kita sendiri. Dalam heneng dan hening serta kebersihan jiwalah Lailatul Qodar akan bertahta.
ä's#øs9 Íôs)ø9$# ׎öy{ ô`ÏiB É#ø9r& 9öky­ ÇÌÈ  
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.


Itulah mengapa setiap manusia sama-sama berlomba mencari Lailatul Qodar, karena pada satu malam itu ibadah manusia berkelipatan dari yang dilakukan. Berkelipatan dengan jumlah yang sangat banyak dari ibadah yang dilakukan. Orang-orang Arab memang sering menggunakan kata Alf untuk menunjuk suatu jumlah yang sangat banyak. Hal ini memang telah menjadi kebiasaan mereka, selain menggunakan istilah Alf mereka juga sering menggunakan istilah lain seperti menggunakan angka tujuh, tujuh puluh atau kelipatan dari angka-angka itu.

Satu malam kesadaran manusia akan hadirnya esensi cahaya keTuhanan dalam dirinya akan memberikan dampak yang luar biasa dibandingkan seribu malam dimana ia bergelimang dosa dan tersesat dalam gelap. Inilah mengapa ketika selama hidup seseorang dalam dosa kekafiran namun ketika diakhir hidup menyebut lafal “Laa Ilaaha IllaAllah” maka dosanya diampuni dan ia akan masuk surga, padahal mungkin dalam hidupnya ia belum pernah melaksanakan ajaran Islam.

Pada malam Lailatul Qodar cahaya surga dibuka, malaikat dan ruh-ruh sama turun ke langit bumi atas izin Tuhan.
ãA¨t\s? èps3Í´¯»n=yJø9$# ßyr9$#ur $pkŽÏù ÈbøŒÎ*Î/ NÍkÍh5u `ÏiB Èe@ä. 9öDr& ÇÍÈ  
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.


Kata ruh berarti “jiwa”. Ruh ada hubungan dengan kata riihun, yang berarti “angin” sejienis juga dengan kata rahah yang berarti “kesenangan” seakar juga dengan kata ra’ihah, “bau harum” ataupun kata mirwahah yang berarti “kipas angin”. Jadi ruh di sini diibaratkan seperti angin yang halus dan lembut yang ditiupkan di dalam tubuh manusia. Pengetahuan tentang ruh sendiri Allah SWT telah berfirman :
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ  
85. dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Selain itu kata ruh di surat AL Qodar sendiri ada pula yang mengartikan sebagai malaikat Jibril, atau sering disebut sebagai Ar Ruhul Quddus.

Para malaikat sama turun atas perintah dan izin Tuhan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran pada diri manusia. Melalui daya malaikat dan ruh yang halus dan lembut itulah Allah menurunkan pesan-pesan ilahiah ke dalam jiwa manusia hingga manusia merasa tenang dan damai karenanya.
íO»n=y }Ïd 4Ó®Lym Æìn=ôÜtB ̍ôfxÿø9$# ÇÎÈ  
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Dari pengetahuan keilahian yang dibawa Malaikat dan para ruh atas izin Tuhan akan memberikan dampak ketenangan dan kedamaian ke dalam jiwa manusia. Batin yang tercerahkan dengan sinar ilahiyyah diibaratkan fajar yang merobek tirai malam hingga meneranginya dengan matahari kedamaian.

Al Fajr berarti “subuh”, cahaya pertama di pagi hari. Fajara, akar dari Al Fajr, berarti merobek, membuka, dan meletus. Jadi hati yang gelap kemudian tertimpa daya Lailatul Qodar akan seperti malam yang akhirnya dirobek oleh fajar, batiniahnya akan bersinar.

Fajr selalu dekat dengan gelap, karena biasanya aktivitas batin banyak dilakukan pada gelapnya malan hingga terbitnya fajr. Saat aktivitas fisik kita melemah maka pada saat itulah aktivitas batin akan meningkat. Karena akar dari segala sesuatu terletak dalam kebalikannya. Akar bunga bakung, akar bunga teratai yang lembut, putih dan indah terletak di dalam pekatnya lumpur, begitu pula akar dari aktivitas batin yang maksimal terletak pada kediaman batin. Heneng, hening,henung, “Dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan, dan dalam keheningan itulah kita akan mencapai keluhuran. Sekian. Joyojuwoto.