Thursday, April 30, 2015

Kisah Qusman Mujahid Uhud yang masuk Neraka

Kisah Qusman Mujahid Uhud yang masuk Neraka


Wikipedia.org
Perang Uhud yang terjadi pada pertengahan bulan Syawal tahun ke 3 H menyisakan pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua.  Diantara kisah itu adalah gugurnya seorang dari kalangan umat Islam namun ia oleh Rosulullah SAW dikatakan masuk neraka.
Mungkin memang tidak tepat Qusman mendapat sebutan seorang mujahid. Karena Qusman berperang bukan karena ingin menegakkan kalimatullah, namun hanya karena niat ashobiyyah semata. Pada awalnya Qusman tidak ikut serta dalam barisan pasukan umat Islam. Namun ketika ia tinggal di Madinah ia diejek oleh wanita-wanita dari bani Zafar. Karena ejekan itulah Qusman akhirnya  ia berangkat perang dan bergabung dengan pasukan umat Islam yang telah dulu tiba di Uhud.
Qusman terkenal sebagai seorang yang pemberani, ia tidak ingin tanah kelahirannya Madinah diinjak-injak oleh kaum Quraisy karena itulah ia rela mengorbankan nyawanya demi tanah airnya. Hal ini terungkap saat Qusman sedang sekarat setelah ia berhasil membunuh sebanyak tujuh orang dari kaum Quraisy.  Kemudian lewatlah Abu Khaidaq di tempat itu.
“Qusman, beruntunglah kau, karena kau akan segera Syahid Fi Sabilillah” katanya
Qusman pun menjawab : “Sungguh saya bertempur bukan atas dasar agama. Saya bertempur hanya sekedar menjaga jangan sampai Quraisy memasuki tempat kami dan melanda kehormatan kami, menginjak-injak kebun kami. Saya berperang hanya untuk menjaga nama keturunan masyarakat kami. Kamau tidak karena itu saya tidak akan berperang”.
Karena itulah ketika para sahabat mengatakan bahwa Qusman mati syahid, maka Rosulullah SAW mengatakan bahwa Qusman masuk neraka. Karena pada saat sekarat itulah Qusman tidak kuat menahan penderitaan karena sakit dan luka-lukanya kemudian ia bunuh diri. Dan Qusman mati bukan karena jihad fi sabilillah, namun karena panggilan untuk membela dan mempertahankan tanah kelahirannya.
Rosulullah  SAW bersabda :
ليس منّا من دعى إلى عصبيّة وليس منّا من قاتل على عصبيّة, وليس منّا من مات على عصبيّة .....(رواه أبو داود)
Bukan termasuk golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashobiyyah, bukan termasuk golonganku yang membunuh karena ashobiyyah, dan bukan termasuk golonganku orang yang terbunuh karena ashobiyyah
Begitulah amal kita akan sia-sia jika tidak kita niati dengan niat yang benar. Karena niat akan menentukan amal itu diterima atau tidaknya di hadapan Allah SWT.
انّما الاعمال بالنّيات وانّما لكلّ امرئ ما نوى ...
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya..”
Kisah Qusman memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa niat adalah hal yang pokok dalam kehidupan ini, dan iman adalah sesuatu yang sangat berharga. Iman ibarat mutiara yang bertahta dalam jiwa kita. Jangan sampai iman lepas dari segala kehidupan dan aktivitas kita. Amien. 30.4.2015. Joyojuwoto.



ليس منّا من دعى إلى عصبيّة وليس منّا من قاتل على عصبيّة, وليس منّا من مات على عصبيّة .....(رواه أبو داود)
NB : Hadits diatas berdasarkan yang penulis ingat, mohon koreksi jika ada kesalahan

Tuesday, April 28, 2015

“Keutamaan Bulan Rajab”*

“Keutamaan Bulan Rajab”*

 Gambar : https://riairwanty.wordpress.com
Rajab adalah nama salah satu sungai yang berada di surga. Airnya lebih putih dibanding susu, lebih manis dibandingkan madu, dan lebih sejuk dibanding air es sekalipun.

Diceritakan dari Abu Hurairoh, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 27 Rajab maka ditulis baginya puasa 60 bulan”.

Tanggal 27 Rajab adalah permulaan Malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad SAW dan memberikan kabar ketetapan dari Allah SWT bahwa Nabi diangkat sebagai Rosul. Pada tanggal 27 Rajab pula Rosulullah SAW di Isra’ Mi’rajkan oleh Allah SWT.

Dan sebuah qaul mengatakan  bahwa Rajab adalah bulannya Allah SWT. Bulan Rajab juga disebut sebagai bulan a’dzom (bulan yang agung), maka barang siapa yang berpuasa di salah satu hari pada bulan Rajab maka orang tersebut akan mendapatkan anugerah keagungan dari Allah SWT.

Dalam kitab Durrotun Nashikhin disebutkan : “Barang siapa yang menghidupkan awal malam bulan Rajab, maka orang itu hatinya tidak akan mati saat orang-orang lainnya mati hatinya. Dan Allah SWT akan menurunkan segala kebaikan untuk orang tersebut sehingga ia  seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Makna hidup hatinya maksudnya adalah orang tersebut selalu ingat kepada Allah serta memperbanyak amalan-amalan ibadah seperti : shalat jama’ah, berdzikir, membaca Al Qur’an, memperbanyak shalawat dan lain sebagainya. Sedang pengertian mati hatinya ialah kondisi hati orang tersebut lalai, hatinya selalu dipenuhi dengan kesibukan duniawi dan lupa akan amal akhirat.

Ada hadits lain yang mengatakan : “Ketahuilah bahwasanya bulan Rajab adalah bulannya Allah, yang disebut sebagai bulan a’dzom. Barang siapa yang berpuasa di salah satu hari di bulan Rajab dengan penuh keyakinan lillahi ta’ala maka orang tadi akan mendapatkan ridho yang agung dari Allah Ta’ala. Dan barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab maka orang itu mendapatkan kemuliaan yang tidak bisa disifati oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Dan barang siapa yang berpuasa yiga hari di bulan Rajab maka orang itu akan diselamatkan dari segala macam bahaya di dunia, dan terbebas dari siksa akhirat, dan selamat dari sakit jiwa, sakit buduk, serta selamat dari fitnah dajjal. Dan barang siapa yang berpuasa tujuh hari di bulan Rajab maka tujuh pintu neraka akan ditutup baginya, maksudnya orang itu tidak akan masuk neraka. Dan barang siapa yang berpuasa delapan hari di bulan Rajab maka dibukakan baginya pintu surga. Dan barang siapa yang berpuasa sepuluh hari di bulan Rajab maka segala permintaannya akan dikabulkan oleh Allah SWT.  Dan barang siapa yang berpuasa selama lima belas hari di bulan Rajab maka dosa-dosanya yang lalu diampuni oleh Allah SWT serta keburukannya akan diganti dengan kebaikan. Dan barang siapa yang menambahi puasanya lagi maka Allah juga akan menambah pahala orang tersebut.

Terdapat hadits lain tentang puasa bulan Rajab yakni :
-          Berpuasa ditanggal 1 Rajab dosanya dihapus selama satu tahun
-          Berpuasa ditanggal 2 Rajab dosanya dihapus selama dua tahun
-       Berpuasa ditanggal 3 Rajab dosanya dihapus selama tiga  tahun, dan selanjutnya hingga genap satu bulan dosanya juga akan diampuni oleh Allah SWT. Wallahu a’lamu bisshowab. Joyojuwoto.

*Dari kitab berbahasa Jawa tulisan huruf Arab pegon

“Sungkeman”

“Sungkeman”

Sungkeman adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pada saat-saat tertentu, semisal saat ritual upacara pernikahan, saat perayaan halal bi halal di hari raya Idul fitri, maupun pada saat-saat seorang anak meminta berkah do’a kepada orang tuanya.

Sungkeman berasal dari kata sungkem, yaitu duduk posisi berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, sambil meminta do’a kepada orang yang kita sungkemi. Sungkem bukan berarti menyembah, namun hanya sebatas bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan. Sungkeman  adalah wujud ketawadu’an seorang yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Biasanya orang yang lebih muda akan sowan (menghadap) kepada yang lebih tua, kemudian berjongkok dan bersalaman sambil mencium tangan orang yang lebih tua sambil mengucapkan kalimat pokok sungkeman. Seorang santri yang sowan kepada gurunya pada saat idul fitri misalnya akan berucap begini :
"Ustad/ustadzah lahir batin, Sugeng riyadin ngaturaken sedaya lepat nyuwun pangapunten, nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados siswo-siwi ingkang sholeh, migunani dhateng agami, nusa, bangsa, lan nagari, lancar anggenipun pados ilmu, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thayyib, saha sukses nglampahi gesang ing donya lan akhirat.

Dan si guru pun menjawab ucapan murid dengan permintaan maaf dan do’a pula :
"Ngger cah bagus, ngger cah ayu tak sepuro opo kang wus kalampahan,semana uga  wong tuwa akeh lupute, muga-muga isa kalebur ing dina riyaya iki, tak dongakke muga-muga apa sing tak citak-citakke dikabulke marang Gusti Allah…
Amien... amien ya Rabbal 'Alamin.

Dalam tradisi Jawa, sungkeman menjadi salah satu tradisi yang meneguhkan akan rasa hormat dari generasi yang lebih muda kepada yang lebih tua, sungkeman juga menjadi penanda kasih sayang yang diberikan orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ajaran saling menghormati dan saling menyanyangi menjadi dasar dari seluruh aspek kehidupan beragama. Islam sendiri yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga mengemban risalah rahmatan lil ‘alamin, dalam konsep kehidupan masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Memayu Hayuning Bawana”

Tradisi semisal ini perlu kita fahami, dan kita fahamkan kepada generasi mendatang agar tidak terjadi salah persepsi, yang akhirnya mengundang polemik yang tidak berkesudahan. Semisal dikatakan sebagai amalan bid’ah, syirik, khurafat dan lain sebagainya. Karena memang sungkeman jauh dari maksud itu semua. Bagaimanapun juga kalau tidak berkenaan dengan ibadah mahdhoh saya kira ritual ini sah dan halal untuk dilakukan, dengan catatan yang melakukannya mengerti dan tidak salah niat. Sekian. Joyojuwoto.

Thursday, April 23, 2015

“Kartini Maaf Aku Telat Memberimu Ucapan Selamat”

“Kartini Maaf Aku Telat Memberimu Ucapan Selamat”

Raden Ajeng Kartini begitulah namamu disebut, masyhur diseluruh penjuru negeri.lagu tentang dirimu pun dinyanyikan di mana-mana dan sepanjang masa. Dihapal oleh jutaan generasi anak bangsa dari balita hingga manula.

Bulan April adalah bulanmu, semua orang mengenangmu, tentu aku pun ikut mengucapkan selamat buatmu Raden Ayu, walau mungkin ini sedikit telat. Tapi tak apalah daripada tidak sama sekali.

Jika kita anak bangsa ini tidak mengenalmu, tidak mengadakan seremonial peringatan untuk memperingati hati terkhusus untukmu, saya khawatir khususnya untuk diri saya pribadi dicap sebagai anti kemajuan, anti modernisasi, dan yang paling parah tentu dianggap anti dengan sebuah kata emansipasi.

Walau kadang peringatan-peringatan itu jauh dari semangat yang kau ajarkan kepada kaummu. Kadang saya juga geli melihat anak-anak TK, anak-anak SD, bahkan SMP, SMA menjadi korban ambisi orang-orang dewasa. Ritualistik itu tidak salah, namun makna yang terkandung dalam sebuah ritual jangan sampai hilang tertelan hingar-bingar tetek bengek dari sebuah ritual seremonial dan live service belaka.

Lebih menggelikan lagi jika saya melihat, membaca tentang jargon-jargon emansipasi perempuan yang selalu dilekatkan pada nama besarmu Rara Ayu,  saya yakin kamu pun sebenarnya tidak pernah mengenal istilah itu. Saya yakin itu bahkan haqqul yakin.  Sebenarnya saya tidak anti dengan kata emansipasi, sayang kata itu maknanya telah dikerdilkan oleh kelompok-kelompok yang menamakan dirinya sebagai pembela kaummu Rara Ayu.

Jujur saja sebenarnya saya masih bingung juga mendefinisasikan kata yang aneh dan mirip-mirip bahasa Jawa itu. Emansipasi, kalau bahasa Jawa ada istilah “eman” tinggal nambahi si, kayak paving menjadi istilah pavingisasi, paving adalah kata benda dan pavingisasi adalah sebuah gerakan untuk memasangi paving. Tapi apakah seperti itu antara emansipasi dan kata eman ya ?, yang jelas kata emansipasi dan eman dalam bahasa Jawa tidaklah ada hubungan kekerabatan, apalagi saudara dekat. Namun makna yang dikandung sebenarnya memiliki semangat yang sama buat kaum perempuan.

Eman (jw) berarti sayang, sedang emansipasi terpaksa saya harus membuka kamus ilmiah populer yang ditulis oleh Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, di situ emansipasi dijabarkan “Pembebasan diri dari perbudakan” dan ada makna lain yang sepadan yang tak perlu saya tulis di sini. Nanti makin membingungkan saja.

Berbicara masalah definisi adalah berbicara masalah konteks yang terkandung di dalam kata, dan tentu tidak ada yang salah dengan definisi emansipasi kaum perempuan. Yang menjadi masalah justru makna yang begitu luar biasa ini sering disalah artikan guna mendukung teori emansipasi menurut sekelompok tertentu tanpa melihat secara adil dan beradab tentang sosok perempuan yang sebenarnya.

Masak hanya gara-gara emansipasi seorang perempuan harus sama persis dengan yang namanya laki-laki. Padahal kata emansipasi saja hanya ada untuk kaum perempuan. Kalau laki-laki saya belum pernah dengar istilah itu. Emansipasi menjadi mantra ajaib yang digunakan untuk merorngrong pranata keluarga yang telah ajeg dan mapan. Dan biasanya yang menjadi objek kritikan emansipasi adalah ajaran Islam. Karena dalam Islam mengatur peran perempuan yang dianggap membelenggu hak-hak yang ingin diperjuangkan oleh kelompok gender. Seperti stigma bahwa perempuan itu tugasnya hanya di segitiga wilayah macak, manak, dan masak.

Lalu benarkah ajaran Islam menempatkan posisi perempuan seperti itu ?. tidak dipungkiri bahwa Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fitrahnya. Seorang laki-laki bertanggung jawab terhadap nafkah istri dan anak-anaknya, dan perempuan biasanya bertugas mengurus rumah tangga dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi yang sholeh dan tangguh. Dan ini bukanlah peran yang sepele. Dibutuhkan seorang ibu yang hebat agar kelak anak-anaknya menjelma menjadi generasi yang hebat pula.

Dalam Islam pun tidak ada larangan untuk berkarier bagi seorang Ibu, asal kariernya masih dalam wilayah fitrahnya sebagai seorang perempuan. Menjadi guru, menjadi dokter, menjadi ilmuan, dan seabrek profesi lainnya yang layak dilakukan oleh seorang perempuan. Bahkan sangat-sangat tegas Rosulullah SAW mewajibkan setiap orang baik muslim maupun muslimah untuk terus menuntut ilmu. Sebagaimana yang beliau sabdakan :

طلب العلم فريضة على كلّ مسلم ومسلمة
“Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim dan muslimah”

Di sini sangat jelas sekali teks hadits yang tidak mendeskritkan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam soal menuntut ilmu. Jadi salah besar jika ada larangan menuntut ilmu bagi seorang perempuan karena anjuran agama. Yang ada dulu bukan hanya kaum perempuan saja yang tidak boleh sekolah oleh Belanda, namun dari pihak laki-laki pun tidak diperbolehkan sekolah kecuali orang-orang tertentu saja. Dalam Islam tidak ada urusan emansipasi perempuan semua telah diatur sedemikian rapi dan baik, tinggal masing-masing memaksimalkan perannya agar terjaga dan terjalin harmonisasi kehidupan.

Jika kata emansipasi tadi dipakai untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan maka saya sangat setuju, namun jika slogan emansipasi itu hanya sekedar menuruti  selera nafsu dan dipakai sebagai alat untuk mencabut fitrah perempuan dan melengserkan kedaulatan kaum perempuan dari singgahsananya di dalam keluarga maka saya sangat menolaknya.

Kebanyakan pesan yang saya tangkap dari teriakan sumbang para pegiat emansipasi adalah pemahaman yang sakit akan peran perempuan itu sendiri. Kelihatannya mereka meneriakkan kebebasan pada kaum perempuan namun nyatanya justru mereka membelenggu dan membebani perempuan dengan hal-hal yang berada diluar fitrah seorang perempuan.

Jadi mohon maaf Rara Ayu jika saya agak memprotes para pegiat gender yang selalu mengatasnamakan ide-ide mereka dengan bersembunyi di balik nama besar engkau. Karena saya yakin walau Rara Ayu banyak bergaul dengan Nyonya-nyonya londo, namun pemikiran Rara Ayu tetap murni, karena itulah engkau dijuluki sebagai seorang putri yang sejati. Putri yang bermakna mruput katri, yaitu gemi, nastiti, dan ngati-ati, tidak ceroboh dengan nilai-nilai luar yang belun tentu kebenarannya.

Saya semakin yakin bahwa Rara Ayu memang seorang pembela dan pahlawan bagi kaum perempuan yang sebenarnya setelah saya membaca surat yang Rara Ayu kirimkan kepada Nyonya Abendanon (1900) yang berbunyi :

Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi perempuan sepenuhnya”.

Sangat, sangat luar biasa sebuah ide yang menancap kuat dan berakar pada ajaran luhur nenek moyang kita dan lebih-lebih sesuai dan sejalan dengan ajaran fitrah manusia. Salam ta’dzim kulo kagem panjenengan RA. Ajeng Kartini. Sekian. Joyojuwoto. 23 April 2015





Monday, April 20, 2015

“Wahyu Panca Darma”

“Wahyu Panca Darma”

Di pedalaman rimba Kamiyaka, Yudistira berjalan tergesa menuju pemondokannya khawatir kalau-kalau ada mata-mata Kurawa yang memergokinya. Karena saat itu ia dan kelima saudaranya sedang menjalani hukuman buang. Jika dalam waktu yang ditentukan kok sampai tertangkap basah oleh Kurawa maka para Pandawa harus mengulangi masa pembuangannya mulai dari awal lagi.

Dalam ketergesaannya tiba-tiba Yudistira dikejutkan oleh datangnya seekor merpati, dan yang membuatnya terpana ternyata merpati itu bisa bercakap layaknya manusia. “Wahai paduka tolonglah saya, saya sedang dikejar oleh seekor elang dan akan memangsa saya” begitu kata merpati dengan raut wajah ketakutan. Yudistira pun menyanggupi untuk memberikan perlindungan kepada merpati yang malang itu.

Tak berselang lama muncullah seekor elang, burung pemakan daging itu pun bisa berbicara, “Wahai tuanku kenapa engkau menghalangi langkahku untuk memburu dan memakan merpati itu ? bukankah telah menjadi kodrat alam bahwa saya harus memakannya ? “ protes elang yang dihalang-halangi oleh Yudistira.

Yudistira menjadi bingung, membiarkan merpati untuk dimangsa elang ataukah tetap melindunginya, namun akhirnya Yudistira tetap pada pendirianya untuk melindungi merpati itu. Ia pun berkata kepada elang : “Wahai elang, saya telah berjanji untuk memberikan perlindungan kepada merpati ini, jadi mohon kau lepaskan dia, kau boleh mencari binatang lain semisal rusa, tikus ataupun kelinci” jawab Yudistira.
“Tidak tuanku, hari menjelang malam jika saya tidak segera memangsa merpati itu, kasian anak-anak saya menunggu dirumah,apakah  tuanku rela anak-anak saya menunggu saya dengan kondisi lapar dan kedinginan ?” ucap elang membela diri.
Yudistira makin dilema, janjinya untuk melindungi merpati harus dipenuhi, namun di sisi lain ada seeekor elang yang juga perlu dikasihani karena sedang meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil disarang, sedang hari mulai gelap. Da tak ada satupun mangsa yang ia dapat. Yudistira akhirnya berkata : “Wahai elang aku akan menukar daging merpati dengan daaging saya, silahkan kau ambil mana yang kau suka”.

Selanjutnya tanpa disangka Yudistira menghuus pedang dan mengayunkan kearah tangannya. Namun sebelum pedang itu menyentuh kulitnya burung elang menerjangnya, hingga jatuhlah pedang dalam genggaman Yudistira.
Seketika itu berubahlah elang menjadi Batara Guru, sedang merpati tadi berubah menjadi Batara Narada. Dewa penguasa Kayangan itu sengaja datang untuk menguji keteguhan dan ketulusan Yudistira. Nyatalah anak Pandu itu lulus dia memang layak mendapat gelar Darmaputra. Selanjutnya Batara Guru memberikan wejangan kepada Yudistira dengan “Wahyu Panca Darma”.
Wahyu panca darma tidak berwujud seperti benda-benda pusaka sakti, wahyu panca darma merupakan lima ajaran kebaikan yang hanya bisa ditangkap oleh perasaan dan  pemahaman yang purna tentang kemuliaan hidup. Dan Yudistira adalah orang yang tepat untuk mendapatkan wahyu itu.
Dalam wejangannya wahyu panca darma dilambangkan dengan empat elemen kehidupan yang bersumber dari cahaya Tuhan. Lambang-lambang itu meliputi :
-          Elemen Bumi, yang melambangkan ibu pertiwi yang selalu mengasuh seluruh kehidupam makhluk yang berada diatasnya
-          Elemen Api, yang berarti kekuatan yang mampu meleburkan benda-benda keras dan menjadi penerang bagi sekitarnya
-          Elemen Air, yang menjadi sumber kehidupan di muka bumi
-          Elemen Angin, memiliki daya menguasai segala ruangan baik luas maupun sempit
Empat elemat diatas menjadi dasar dari unsur kehidupan dan kesadaran manusia. Bumi ibarat tubuh, Api adalah nafsu, Angin adalah nafas, dan Air adalah darah. Keempat elemen tadi bersumber dari nur Ilahiyyah yang menerangi kehidupan manusia.
Panca darma adalah kewajiban yang harus dilakukan makhluk Tuhan ketika ia ditunjuk menjadi khalifah fil ardi mengusung tugas mulia sebagai rahmatan lil ‘alamin, memayu hayuning bawana dan menjaga keseimbangan jagad semesta. Secara tegas ajaran panca darma mengajarkan kepada manusia untuk selalu ingat kepada sangkan paraning dumadi, ingat wajibing agesang. Ingat dari mana kita ada dan ingat akan kewajiban hidup yang kita emban.
Secara gamblang ajaran panca darma meliputi :
1.      Tak ada yang kau sembah pertama kali, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa
2.      Menghormati dan menjaga martabat orang tua, khususnya Ibu
3.      Suka menolong para ahli agama, karena dari mereka kita mampu mengenal ajaran Tuhan
4.      Suka menolong dan memberi makan kepada anak yatim piatu
5.      Suka menolong dan menghibur hati orang yang menderita cacat tubuhnya.
Itulah inti ajaran Panca darma yang diberikan oleh Batara Guru kepada Yudistira alias Darmaputra. Ajaran vertikal dan horisontal secara utuh dan seimbang. Menyembah kepada Tuhan dan berbakti kepada sapada padaning tumitah di alam semesta. Sekian. Joyojuwoto.

Sunday, April 19, 2015

Pejabat adalah Pelayan Rakyat

Sosoknya tegap, berbaju doreng, sepatunya sepatu PDL asli standart TNI, walau aku lebih suka menyebutnya sebagai sepatu model hansip, potongan rambutnya cepak. Ia bertanya dengan suara yang digagah-gagahkan, khawatir penampilan fisiknya tak selaras dengan mimik muka dan bahasanya.

 “Apakah Anak bapak punya sim  ?”
“Apakah anak bapak menyalakan lampu riting ?
“Apakah ia memakai helm SNI ataukah hanya memakai helm standart pekerja bangunan ?“
“Apakah..???
??
?
Dan suara tentara betulan itu tertahan oleh tuan rumah.
Stop...stop...berhenti, tidak usah diteruskan pertanyaannya, kalau memang bapak tidak mau menyelesaikan urusan kecelakan ini secara kekeluargaan ya tidak apa-apa. Ayo kalau mau main Polisi !

Ternyata janji yang diberikan pelaku yang menabrak korban hanya bualan. Ia mengatakan siap menanggung seluruh biaya pengobatan rumah sakit, eh..datang-datang bukan bawa uang malah bawa tentara yang dipakai senjata untuk menakut-nakuti dan menundukkan korban. Ini bukan jaman Orba bung... kekuatan sekarang bukan pada baju doreng, bukan pula pada seragam dan logo Polisi, kekuatan sekarang adalah keadilan dan kebenaran.
............................
Begitu mungkin pengalaman yang pernah kita rasakan, atau minimal pernah mendengar peristiwa yang ada disekitar kita. Kekuatan aparat baik dari pihak TNI ataupun Kepolisian kadang disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu dan untuk tujuan-tujuan yang tertentu. semisal diatas untuk menakut-nakuti wong cilik.

Padahal seharusnya rakyatlah pemegang kekuatan dan kekuasaan tertinggi yang sebenarnya di negeri ini, walau kadang prakteknya justru rakyat yang dikebiri hak-hak kekuasaannya. Rakyat yang seharusnya pemilik keadilan justru diperlakukan tidak adil di rumahnya sendiri, di tanah kelahirannya sendiri. Seyognyanya secara filosofis telah kita akui bahwa dalam berdemokrasi, rakyat sebagai pemegang legitimasi kekuasaan harus dibela. Karena negara ini ada karena rakyat. Bangsa ini wujud karena rakyat. Itu baru namanya demokrasi yang sesungguhnya, kepentingan dan kedaulatan rakyat adalah segala-galanya bukan yang lainnya. Karena memang istilah demokrasi lahir dari rakyat itu sendiri. “Demos” yang berarti rakyat, dan “Kratos” yang berati kekuasaan.

Salah besar jika kita menjadi lurah, kita menjadi camat, bupati, gubernur, dan presiden sekalipun, kita menganggap rakyat adalah bawahan kita, justru si lurah, camat, bupati, gubernur dan presiden itu adalah bawahan rakyat. Karena mereka digaji oleh rakyat. Mereka ada untuk melayani rakyat, bukan minta dilayani. Namun kenyataan ini berbeda, menjadi pemimpin justru ingin dilayani oleh rakyat. Keblinger itu namanya.

Seyogyanya pemimpin adalah abdi rakyat, sebagaimana yang menjadi slogan pejabat pemerintahan, “Abdi Negara”. Sudahkah slogan itu dilaksanakan, bahwa pejabat adalah abdi, pelayan, dan khadimnya rakyat.
سيّد القوم خادمهم
“Pemimpin suatu kaum, adalah khodimnya (abdinya) kaum itu”

Jika kita siap jadi pemimpin, kita harus siap melayani kepentingan-kepentingan rakyat. Kita harus menempatkan urusan rakyat diatas urusan pribadi dan golongan. Tirulah pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyatnya yang berani berkorban demi rakyatnya seperti Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz dan pemimpin-pemimpin lain yang memperhatikan urusan kaumnya. Karena sesungguhnya seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

كلّكم راع وكلّكم مسئول عن راعيته

Sekian. jwt

Friday, April 10, 2015

“Sepenggal Kisah Bu Nyai Hj. Hanifah”

Sepenggal Kisah Bu Nyai Hj. Hanifah

Siapa diseluruh pelosok Kabupaten Tuban yang tidak mengenal Bu Nyai Hj. Hanifah Muzadi. Dari namanya saja tentu kita bisa menebak bahwa beliau adalah orang yang luar biasa. Nama belakang yaitu Muzadi juga melekat pada mantan ketua PBNU yaitu KH. Hasyim Muzadi pengasuh pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang dan Depok. Tidak aneh memang karena Hj. Hanifah adalah kakak dari sosok Kyai lulusan Gontor itu.

Ketenaran Bu Hanif panggilan akrab beliau bukan karena embel-embel Muzadi, namun memang beliau adalah seorang yang luar biasa. Selain mengasuh Majelis Ta’lim Al Wustho beliau juga aktif di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama. Bisa dibilang Bu Hanif adalah ibunya Fatayat dan Muslimat di Bumi Wali Tuban.

Figur Bu Hanif sampai detik ini belum tergantikan, baik beliau sebagai pengurus Cabang Muslimat Tuban ataupun sebagai sosok Bu Nyai yang kharismatik di Kecamatan Bangilan. Setiap hari Selasa dan Jumat Bu Hanif mbalah kitab, dan ini adalah pengajian satu-satunya di kecamatan Bangilan yang melibatkan masa banyak. Santri-santri beliau berdatangan dari berbagai penjuru dan berbagai kalangan sosial di Kecamatan Bangilan. Khususnya ibu-ibu Fatayat, Muslimat, dan ibu-ibu alumni KBIH Al Wustho.

Saya sendiri merasa menjadi santri beliau, walau sebenarnya secara muwajahah saya belum pernah ngaji sama beliaunya. Karena memang santri Al Wustho khusus perempuan. Merasa menjadi santri Bu Hanif ketika saya dan beberapa teman disuruh menempati ndalemnya Bu Muyas yang ketepatan kosong. Beliau adalah saudara dari Bu Hanif. Rumah itu dulu berada di sebelah selatan ndalemnya Bu Hanifah. Namun sekarang rumah itu telah dibongkar dan menyatu dengan rumah induk keluarga Abu Bakar Wustho yang sekarang.

Saat itu saya dan beberapa teman sedang nyantri di PP. ASSALAM Bangilan Tuban yang diasuh oleh Abah Kyai Abdul Moehaimin Tamam. Perlu diketahui Abah Moehaimin juga masih keluarga dari Bu Hanif. Secara garis keturunan masih misanan. Karena gothakan santri penuh, kami yang telah dipercaya sebagai ustadz muda terpaksa pindah di ndalemnya Bu Muyas tadi. Dari situlah kami berinteraksi dan bisa melihat secara langsung keteladanan  beliau.

Sebagai sosok Bu Nyai beliau selalu rendah hati, dan tentu yang tidak bisa kami lupakan adalah hampir setiap pagi kami menerima kiriman nasi goreng. Setiap beliau masak atau baru pulang dari bepergian kami pun mendapatkan jatah makanan dan oleh-oleh. Beliau memang mempunyai prinsip  jika ada tamu siapapun orangnya akan di jamu makan. Jika musim buah tiba kami pun dibebaskan mengambil mangga yang kebetulan tumbuh di antara ndalemnya Bu Muyas dan Bu Hanif. Tidak hanya itu kami pun sering memetik buah kelapa muda yang berada di depan rumah dan samping rumah. Pokoknya semuanya serba boleh, asal tidak berlebihan dan mubadzir saja.

Sikap beliau yang pemurah dan baik kepada tamu dan santri-santri serta segala lapisan masyarakat memberikan sebuah nilai keteladanan bahwa menjadi seorang yang rendah hati itu tidak menyebabkan seseorang menjadi rendah justru sebaliknya,  seseorang akan semakin tinggi derajadnya dan mendapatkan penghormatan dan kecintaan diantara sesama manusia. Beliau tidak membeda-bedakan antara si A dan si B. Tidak sopo sira sopo ingsun, semua sama, sama-sama makhluk Tuhan.

Lebih mengharukan lagi dan masih terkenang di hati saya adalah pengakuan beliau bahwa saya dan beberapa santri lainnya adalah anaknya. Santri diaku anak bu Nyai tentu akan senang dan bangga begitu pula dengan saya. Sebagai seorang yang bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa terasa mendapatkan sebuah penghargaan dan kehormatan. Ibarat pepatah serasa mendapat durian runtuh (wkwkw...apa gak salah nih peribahasa...!!!). Namun itulah sebuah sikap kerendah hatian beliau yang layak untuk diteladani.

Walau mungkin kata-kata itu hanya sekedar basa-basi, atau istilahnya sekarang sekedar pencitraan namun itu sudah sangat menggembirakan dan membanggakan saya khususnya. Namun saya yakin beliau tulus mengucapkan itu dan tidak ada maksud apapun kecuali hanya untuk merekatkan silaturrahmi dan memberikan contoh sikap seorang tua kepada yang lebih muda. Yang tua menyayangi yang muda, dan yang muda hormat kepada yang lebih tua.

Sebagai anak tentu kami ikut mendo’akan kebaikan, kesejahteraan, dan kemuliaan beliau yang telah pergi meninggalkan kami. Semoga segala kesalahannya diampuni oleh Allah Swt dan beliau di tempatkan di sisi-Nya. Walau beliau telah tiada namun keteladannya, keikhlasannya abadi bersama jiwa kami anak-anaknya. Amien. Joyojuwoto

Sunday, April 5, 2015

KELAHIRAN "SAHABAT PENA NUSANTARA"

KELAHIRAN "SAHABAT PENA NUSANTARA"

Pada Selasa, 17 Maret 2015, grup “Sahabat Pena” terbentuk. Sesuai namanya, grup WhatsApp ini memang untuk menghimpun para penulis dan pencinta dunia tulis. Harapannya, selain sebagai sarana tukar ide dan pengalaman, grup ini dapat melahirkan karya tulis. Sebab itu, siapa saja yang bergabung dalam grup ini wajib setor tulisan sesuai tema yang sudah disepakati.

Untuk sekarang, kita sedang bikin buku tentang menulis. Sudah terkumpul tulisan dari 40 lebih penulis Tanah Air. Masing-masing berisi pengalaman, motivasi, dan kiat menulis. Akhir bulan Maret adalah batas pengumpulan naskah. Setelah itu, naskah kemudian kita siapkan untuk terbit. Kita berdoa semoga buku ini nanti disusul dengan buku-buku lain yang bermanfaat.

Kita juga berharap grup ini dapat berkembang. Semua anggota akhirnya urun rembuk. Maka, dibuatlah logo untuk grup ini. Perancangnya adalah Bapak Masruhin Bagus dari Tuban. Nama grup yang semula “Sahabat Pena” juga diubah menjadi “Sahabat Pena Nusantara.” Dan, Minggu, 29 Maret 2015, ditetapkan sebagai kelahiran komunitas ini. Semoga membawa manfaat.