Tuesday, March 31, 2015

“Makna Ritual Menyiram Pelataran Rumah Dengan Air Kembang”

“Makna Ritual Menyiram Pelataran Rumah Dengan Air Kembang”

Sabdalangit.wordpress.com
Masyarakat Jawa memiliki banyak ajaran adiluhung dan ritual yang kadang kita perlu mengerutkan dahi untuk mencernanya. Bahkan mungkin tidak jarang ajaran dan ritual tersebut dianggap primitif, bid’ah, tahayul, dan khurafat. Itu semua bersumber dari ketidaktahuan dan kurang fahamnya kita akan warisan leluhur nenek moyang kita. Mungkin juga karena sikap masa bodoh dan tidak ingin tahu akan apa yang sebenarnya ingin disampaikan leluhur kita kepada anak cucunya. Dan lebih ironi rasa minder  akan adat-istiadat yang dianggap ndeso serta ketinggalan jaman serta lebih silau dengan segala sesuatu yang berasal dari luar.

Padahal jika kita mengaku sebagai kaum terpelajar dan berfikiran maju, sesungguhnya tidaklah elok dan tak pantas kita menjustifikasikan sesuatu tanpa tahu secara mendalam apa yang kita tuding sebagai perbuatan sesat bin khurafat. Ingat apa yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer bahwa seorang terpelajar hendaknya bisa adil dalam menilai sesuatu sejak dalam pikiran. Dan jangan hanya mengandalkan prasangka dan opo jare wong (apa kata manusia). Sebagai generasi yang terpelajar kita harus terlebih dahulu melakukan studi kasus dan tabayyun terhadap hal-hal yang kita belum mengetahuinya secara jelas.

Semisal ritual menyiram air kembang yang sering kita temui di perempatan jalan ataupun di pelataran rumah seseorang yang masih ngugemi (memegang teguh) ajaran Jawanya. Biasanya ritual itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon. Dan dulu saya sering mendapati hal semisal itu ketika saya lewat di jalan atau di pelataran rumah seseorang. Dulu saya mengira bahwa orang yang melakukan ritual siram kembang di pelataran rumahnya adalah pelaku ilmu hitam, atau setidaknya mereka bersekutu dengan gendruwo maupun jenis makhul halus lainnya.

Saya maklum dengan anggapan tersebut, karena memang saya tidak tahu. Dan saya rasa banyak pula masyarakat kita yang melakukan ritual itu juga kurang memahami makna yang terkandung dari ritual siram kembang tersebut. Mereka biasanya kalau kita tanya hanya menjawab kata mbah-mbah dulu seperti itu. Dan mereka hanya melakukan karena latah terhadap tradisi yang mereka lihat dan mereka anut tanpa didasari ilmu yang memadai. Inilah susahnya jika masyarakat telah kehilangan jati diri dan ilang jawane.

Berawal dari ketidak pahaman inilah nantinya akan melahirkan suatu persepsi dan tindakan yang salah juga. Sehingga tidak heran jika ajaran dan ritual kejawen yang adiluhung itu dianggap sesuatu yang muspro dan dekat dengan ajaran sesat.
Ini yang menjadi PR kita bersama, menjembatani masyarakat awam dengan orang-orang yang mempertanyakan identitas dan ajaran Jawa. Semisal ritual menyiram air kembang di pelataran rumah atau jalan raya tadi kalau kita mau merenungi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah luar biasa. Coba perhatikan mantra yang dibaca saat menyiramkan air kembang ke pelataran :
“Ora nyebar kembang, nanging nyebar kabecikan, Gusti Kang Maha Kuwasa keparengana paduka paring kawilujengan lan karahayon dhumateng sedaya titah Paduka ingkang langkung ing prapatan/pelataran punika”

Artinya : “Tidak menyebarkan bunga, tetapi menyebarkan kebajikan, wahai Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Engkau memberikan kesejahteraan dan keselamatan kepada semua makhluk Engkau yang melewati jalan/ halaman rumah ini”.

Begitu luar biasa seja dan karep orang Jawa terhadap segala titah dan makhluk Tuhan di muka bumi. Mereka menginginkan kebaikan dan keselamatan untuk semua makhluk Tuhan tanpa membeda-bedakan, kenal atau tidak, dari jenis manusia ataukah jenis hewan, atau bahkan dari jenis gendruwo dan setan sekalipun semua mendapat berkah do’a dari orang Jawa.

Sikap yang sedemikian ini mencerminkan akan keluhuran manusia Jawa yang ingin membangun harmoni dan cinta untuk semua makhluk di muka bumi. Ini adalah perwujudan dari ajaran Jawa yang luhur tentang konsep “Memayu Hayuning Bawana”, menjadi khalifah fil ardhi, dan manifestasi dari sifat rahmatan lil ‘alamin. Dan inilah inti dari ajaran Tuhan dalam menciptakan manusia di muka bumi.

Bukankah setiap kebaikan berarti ada nilai shadaqah di dalamnya ?, bukankah menyingkirkan sesuatu rintangan di jalan juga dihitung sebagai pahala sedekah ?, sebagaimana yang terkandung dalam kitab hadits ‘Arba’in yang menjadi menu wajib di pesantren tersuratkan :
وتميط الأذى عن الطّريق صدقة (رواه البخارى ومسلم)
“Dan menyingkirkan sesuatu rintangan dari jalan adalah shodaqah...” (HR. Bukhori dan Muslim).

Jadi kita sebagai generasi muda dan generasi yang menamakan diri terpelajar hendaknya melihat peluang kebaikan terhadap segala sesuatu yang ada di tengah masyarakat, segala kearifan lokal (wisdom local) terwadahi dalam keluasan berfikir dan agar tercipta kehidupan masyarakat yang “tata tentrem kerta raharja” sebuah tatanan masyarakat yang sejalan dengan konsep “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofuurun”. Negara dan masyarakat yang baik dan dalam ampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Sekian. 31/3/2015-Joyojuwoto.

Saturday, March 28, 2015

"She yang menginspirasi"

Wow.............!!!! Koncoku.....boloku.....tanggaku.....adik kelasku.....muridku ;) (yang ini ngaku-ngaku) haha... masuk koran, begitu saat saya membuka lembaran Radar Bojonegoro pagi ini tanggal 28 maret 2015. Ada rasa bangga, senang, ada  euforia memenuhi kepalaku, ketika melihat foto di kolom SHE. Foto yang sangat kukenal, ya saya ulangi lagi sangat kenal sekali pakai banget..karena memang Ukhti Yuniarta Ita purnama satu almamater, satu pondok, satu madrasah dengan saya. 

Saya kira semua teman-temannya, bapak-ibunya, ustadz-ustadzahnya dan orang-orang yang berada dalam lingkarannya seperasaan dengan saya. Senang dan bangga. Dan kebanggaan itu memang harus dibayar lunas dengan pengorbanan dan kerja keras. Begitu yang saya baca dari gerak hidup yang dilakukannya setiap saat.

Satu yang layak menjadi catatan dari Ita sebagaimana yang ia katakan di Radar dan saya juga mengamiinya, bahwa hidup itu harus memberikan manfaat untuk banyak orang. Dan ia ingin terus tanpa putus beramal khususnya di dunia pendidikan. Dalam istilah jawanya "Urip kuwi kudu Urup" hidup itu harus bisa menghidupi dan menyinari sekitar, mengabdi penuh dedikasi kepada negeri.

Tekad gadis kelahiran Bangilan yang selalu muter Bangilan-Bojonegoro-Solo yang tak pupus itu tumbuh dan berkembang karena sosok yang ia kagumi dan kita kagumi bersama, beliaunya Abah moehaimin Tamam yang selalu memompakan semangat perjuangan di hati para santrinya. Diantara gemblengan yang sangat menginspirasi adalah "Berani Hidup Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja". sebuah mutiara hidup yang luar biasa. Membakar, menguatkan, menghidupkan, memprofokasi agar para santri siap untuk menghadapi segala persoalan hidup. Ini bukanlah radikalisme, bukan ekstrimisme, namun ini adalah jalan para pejuang, jalan para petarung, dan jalannya para juara.


Masuk koran bagiku adalah prestasi tersendiri, apalagi masuk kolom yang menginspirasi banyak orang, khususnya diseluruh pelosok Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan, asal jangan masuk koran karena kriminil saja. Dan Ita telah membuktikan itu, ia telah menuaikan janji pada Kyainya, pada pondoknya bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa keyakinan itu mampu menggapai apa-apa yang tidak dapat dipikirkan oleh otak. Oleh karena itu tutur Ita : "Sekali bermimpi perjuangkan mimpi itu sampai berhasil". 

Wah...!!! semangat sekali ya... apakah juga termasuk mimpi dia yang ingin menjadi pengasuh kanguru di negeri satu benua Australia ya !!!!!. sekian. Jwt


IPNU-IPPNU Anak Cabang Kec. Bangilan Gelar Istighosah Akbar

IPNU-IPPNU Anak Cabang Kec. Bangilan Gelar Istighosah Akbar

www.4bangilan.blogspot.com- Bangilan – Pelajar tingkat MTs/MA, SMP/SMA yang tergabung dalam IPNU-IPPNU di kecamatan Bangilan kemarin siang hari Jumat, 27 Maret 2015 mengadakan kegiatan Do’a bersama dan Istighosah Akbar dalam rangka menghadapi Ujian Nasional yang akan dilaksanakan bulan April mendatang.

Acara yang digelar di Gedung Serba Guna Kec. Bangilan itu dihadiri hampir seluruh siswa-siswi kelas IX  untuk tingkat SMP/MTs dan kelas XII untuk tingkat SMA/MA. Hal ini tampak dari ruangan yang penuh sesak oleh peserta istighosah yang datang dari berbagai sekolah di Kec. Bangilan.

Kegiatan semisal ini adalah hal  positif yang perlu dijaga dan dilestarikan, mengingat kondisi pemuda bangsa ini yang rentan dengan tawuran karena perbedaan-perbedaan yang sepele.  Namun tidak untuk pelajar di Kecamatan Bangilan. Mereka datang dari sekolah yang berbeda namun keakraban dan rasa persaudaraan serta tali silaturrahmi menjadi pengikat yang kuat diantara mereka.

Kegiatan yang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kec. Bangilan, yang mengambil tema “Kibarkan Semangat Diri Untuk Menghadapi UN, Bersama Kita Bisa Menggapai Keberhasilan di masa Mendatang”  yang dihadiri oleh Habib Musthofa Al Aydrus berjalan tertib dan khidmat. Ini menunjukkan kedewasaan pelajar kita dalam berfikir, mereka ternyata mempunyai gagasan dan wawasan serta visi yang besar buat negeri ini.  Hal ini layak dipupuk dan di support oleh pemegang kebijakan di tingkat pemerintah maupun satuan pendidikan. Dan kegiatan ini layak menjadi contoh untuk kita-kita yang dewasa.

Dalam sambutannya Habib Musthofa memberikan pesan dan ijazah kepada siswa-siswi yang hadir pada acara tersebut, pesannya agar para siswa-siswi untuk semangat belajar dan tidak putus-putus berdo’a kepada Allah Swt. Karena dengan menyeimbangkan ikhtiar dan do’a maka seseorang akan menggapai apa yang ia cita-citakan. Sedang ijazah yang beliau berikan diantaranya :
1.      Jika berdo’a, hatinya harus hudur (hadir) kepada Allah Swt, tidak hanya mulutnya saja yang berdo’a sedang hatinya lalai dari mengingat Allah. Karena hati yang hadir adalah rahasia do’a diijabahi-Nya.
2.      Ketika berdoa, baca juga surat Al Fatihah, kemudian ketika sampai pada ayat “Iyyaka na’budu, wa Iyyaka Nasta’iin” hendaknya dibaca tiga kali sambil menyebutkan dalam hati apa yang menjadi hajat kita. Insyallah do’a kita maqbul.
3.      Saat mengerjakan soal Ujian Nasional, hendaknya para siswa membaca bacaan ini 7 x :


الا يا الله بنظرة من العين الّرحيمة تداوى كلّ ما بى من امراض سقيمة 

Terima kasih yang mendalam dan penghormatan yang setinggi-tingginya dari penulis, untuk IPNU-IPPNU Anak Cabang Kec. Bangilan, kepada Ketua Panitia Kegiatan Do’a bersama dan istighosah Akbar, Mbak Siti Nur Hasanah, walau aku belum tahu dan belum ketemu beliaunya, terima kasih untuk kalian semua  siswa-siswi baik SMP/MTs, SMA/MA teruslah semangat belajar dan berkarya, ditanganmu takdir bangsa ini, pada pundakmu beban perjuangan kami titipkan, semoga “kuat nyonggo rohmate Gusti Allah”.

Do’aku, harapanku, semoga kegiatan ini menginspirasi untuk seluruh anak negeri. Sekian. Joyojuwoto.

Friday, March 27, 2015

Sekilas Tentang Thariqah


Pertanyaan Wawancara yang diajukan oleh Nanik
Mahasiswi Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya



1. Apa yang anda ketahui tentang tarikat ?
2. Sejauh mana anda paham dengan macam-macam tarikat ?
3. Bagaimana tahapan-tahapan tarikat itu sendiri ?
4. Apa manfa'at tarikat ?
5. Secara garis besar di indonesia lebih identik dengan tarikat apa ?
6. Siapa saja tokoh-tokoh tarikat itu ?


Jawaban Pertanyaan 1

Mbak nanik sendiri saya kira telah tahu apa itu pengertian thariqat, lebih-lebih secara lughotan (bahasa), kan dulu kamu mondok di KMI ASSALAM Bangilan, tapi tak apalah saya jawab pertanyaan kamu tentang thariqat sesuai kemampuan saya. Thariqah secara lughowi berasal dari bahasa Arab dari kata طريقة yang berarti jalan, way dalam bahasa Inggrisnya dan artinya sama yaitu jalan atau metode. Jalan di sini bermakna cara untuk mendekatkan dan menyucikan diri kepada Allah Swt. Lha masalah menyucikan diri ini tempatnya pada ilmu tasawuf, dan memang thariqat itu salah satu bagian dari tahapan-tahapan  ilmu tersebut.


Jawaban Pertanyaan 2
Kalau bertanya sejauh mana saya memahami thariqat, sebenarnya saya belum faham kecuali hanya sekedar teori-teori seperti yang tertulis dalam buku-buku tasawuf atau hanya sekedar membacanya saja. Tidak lebih dari itu. Namanya faham itu kan tidak hanya sekedar tahu dan hafal tapi  benar-benar meresapi. Faham ilmu tasawuf itu seperti api dengan sifat panasnya, seperti air dengan sifat basahnya, seperti laut dengan ombaknya. Adakah api tanpa panas, adakah air tanpa basah, adakah laut tanpa gelombang, begitulah kira-kira pengertian faham menurut saya.

Jadi jika sampeyan bertanya sejauh mana, maka saya jawab sangat jauh sekali kefahaman saya dalam arti jauh dari faham itu sendiri…hehe

Jawaban Pertanyaan 3
Tahapan thariqah yang sering saya dengar itu ada empat yaitu :
1.    Syariat
2.    Thariqat
3.    Hakikat
4.    Ma’rifat
Kalau sampeyan pengin tahu arti dari semua tingkatan itu ya minimal kembalikan kepada makna kata dari kata itu sendiri. Soalnya memang kadang kata telah terjajah oleh pengertian yang membingungkan kita sendiri. Kita kadang perlu belajar kemurnian dari sebuah kata tanpa perlu menafsiri dengan berbagai macam tafsir.

Jawaban Pertanyaan 4
Emm.. manfaat thariqat saya kira tak perlu dipertanyakan Nik.. sebagaimana sampeyan tidak perlu mempertanyakan apa sih manfaat jalan raya ? atau bertanya apa sih manfaat sinar matahari, apa sih manfaat air dan lain sebagainya. Karena sesuatu yang jelas kan tidak membutuhkan pertanyaan atau jawaban sekalipun. Dan hanya orang yang bergurau saja kalau tidak tahu manfaat jalan raya, sinar matahari, air dan lain sebagainya.

Gini Nik pasti sampeyan masih ingat sebuah mahfudhot yang dulu kamu pelajari di Pondok ASSALAM Bangilan. Kalau saya salah monggo dikoreksi Nik :
من سار على الدّرب وصل
“Barang siapa yang berjalan di jalannya maka ia akan sampai”

Lha maqolah ini mungkin sedikit memberikan gambaran akan manfaat dari thariqat yang kamu pertanyakan tadi. Faham kan !

Jawaban Pertanyaan 5
Indonesia itu luas Nik, lha saya tak pernah keluar kecuali sampai di kota kabupaten, atau paling banter pernah keluar kota dan itu saja kalau saat study tour bareng-bareng gitu.  Tapi kalau sampeyan memaksa saya untuk menjawabnya ya gini aja Nik, mayoritas masyarakat Indonesia kan NU, lha dalam  wadah organisasi yang didirikan oleh Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari terdapat banyak sekali aliran-aliran thariqat yang tergabung dalam wadah “Jam’iyyah Ahli Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah, Diantaranya adalah :
-       Qodiriyyah
-       Nagsabandiyyah
-       Qodiriyyah wa-Naqsabandiyah
-       Syatariyah
-       Sadziliyyah
Dan masih banyak lagi aliran-aliran thariqah di Indonesia, sebagaimana banyaknya jalan menuju Surabaya. Pernah dengar peribahasa itu kan ? “Seribu jalan menuju Surabaya, ehh.. Roma maksudku Nik, hehe…

Jawaban Pertanyaan 6
Tokoh-tokoh pendiri dan penyebar ajaran thariqah sangat banyak, namun setidaknya ada beberapa tokoh thariqat yang saya kenal dan pernah membaca biografi beliau, seperti thariqat sadziliyyah didirikan oleh Syekh Abu Hasan As Sadzili, thariqat Nagshabandiyyah didirikan oleh Shah Bahauddin Nagshaband al Bukhori, thariqah Qodiriyyah dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qodir Al Jilani, thariqah Syattariyyah didirikan oleh Abdullah as Syattar.

Dan ini luar biasa ternyata Ulama Indonesia yaitu Syekh Ahmad Khatib As Sambasi yang mendirikan  thariqah hasil dari ijtihad beliau, serta perpaduan dua thariqat besar Qodiriyyah dan Nagshabandiyyah, thariqah ini lazim dikenal sebagai thariqah Qodiriyyah wa Naqshabandiyyah. Beliau adalah seorang yang alim lagi tawadhu’ seorang sufi dan syekh besar di Masjidil Haram Makkah al Mukarramah.

Berbicara masalah tokoh thariqat sangatlah banyak jumlahnya, karena jika salah satu tokoh ulama’ thariqat meninggal dunia maka akan digantikan oleh yang lain dengan tata cara dan mekanisme sesuai dengan aturan masing-masing thariqah. Seperti pohon silsilah yang tidak ada habisnya mulai Nabi Muhammad Saw hingga ulama’-ulama’ di akhir zaman kelak.
Sekian !

Saturday, March 14, 2015

Di bawah pohon Kamboja

dikerumunan masa
di bawah pohon kamboja
tetes air mata kesedihan
tetes air mata kehilangan
tetes air mata
tergurat
pucat
di papan semen 4x50 cm
13-3-2015
lantunan do'a
Allahumma ighfirlaha
War hamha
wa 'aafiha
wa'fu 'anha
khusu'
dipersembahkan
pada Tuhan
mengiringi perjalanan
tokoh dan panutan
warga Bangilan
yang tlah menunaikan
janji suci
pada Rabbul Izzati
kembali
ke mula jadi
teladanmu
ikhlasmu
Jasamu
abadi
#Ilaa ruuhi Bu Nyai Hj. Hanifah Muzadi, Al Fatihah..

Wednesday, March 11, 2015

Resensi Novel “Kerudung Santet Gandrung”

Resensi Novel “Kerudung Santet Gandrung”
Identitas Buku
Judul Buku          : Kerudung Santet Gandrung
Penulis                 : Hasnan Singodimayan
Penerbit              : Desantara
Cetakan               : 1, Mei 2003
Tebal                     : 214
Kategori               : Novel

Ulasan buku
Membaca sekilas novel yang berlatar belakang kebudayaan suku Osing di daerah paling timur pulau Jawa ini terasa ada semangat untuk mendeskritkan nilai-nilai ajaran Islam yang diwakili oleh simbol kerudung. Setidaknya dari judul novel itu kita bisa merabanya “Kerudung santet Gandrung”. Penulis yang notabenenya adalah juga seorang muslim disengaja atau tidak telah mengambil sebuah fragmen dari banyak fragmen yang ada di tengah masyarakat tentang seorang yang disimbolkan memakai kerudung, tetapi melakukan perbuatan yang kontra produktif dengan simbol yang dipakainya yaitu kerudung.

Memang seorang yang memakai kerudung bukanlah Malaikat yang nir salah, dia tetaplah sosok manusia lumrah, yang tentu juga melakukan kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Tokoh Nazirah mantan Iqbal yang digambarkan seorang lulusan pesantren dan juga seorang muballigah yang kolot akhirnya harus pisah dengan suaminya Iqbal, karena beda prinsip dalam memandang persoalan kesenian.

Iqbal yang seorang penulis gending-gending Gandrung akhirnya jatuh hati kepada Merlin, seorang penari Gandrung dari Desa Candirejo kemudian mereka menikah. Kehidupan rumah tangga mereka dibilang sukses. Nazirah yang sudah menikah lagi dengan seorang ustadz honorer di Madrasah swasta yang bernama Mansub menjalani kehidupannya dengan serba kekurangan. Karena sakit suaminya meninggal dunia.

Dari sini konflik mulai dibangun, Nazirah yang ketemu dengan Iqbal ingin rujuk kembali, namun istilah rujuk disalahkan oleh Iqbal, karena memang antara Iqbal dan Nazirah telah talak tiga jadi istilah rujuk tidaklah tepat. Disini penulis ingin membangun image bahwa Iqbal yang dianggap awam agama oleh keluarganya ternyata lebih memahami persoalan agama dibanding Nazirah yang lulusan pesantren.
Selain itu Nazirah juga digambarkan silau melihat kehidupan Iqbal yang sukses, karena selain sebagai pegiat seni Iqbal adalah petambak yang sukses. Nazirah merasa iri dengan kehidupan mantan suaminya, apalagi istri Iqbal yang baru ternyata seorang Gandrung. Masyarakat umum memandang bahwa Gandrung biasanya mempraktekkan ilmu santet atau ilmu guna-guna untuk memikat hati seorang lelaki, semisal “sabuk mangir” dan “kopi batokan” atau “jaran guyang”.

Terdorong oleh obsesinya untuk bisa kembali dengan Iqbal Nazirah akhirnya mendatangi seorang dukun santet di wilayah tersebut. Di sini penulis ingin menegaskan kembali tentang Nazirah yang berkerudung tapi ternyata melakukan perbuatan santet terhadap istri Iqbal yang seorang Gandrung. Dan tentu dari alur inilah Hasnan Singodimayan memberi judul novelnya “Kerudung Santet Gandrung”. Simbol kerudung kembali ditampilkan negative oleh Hasnan. Namun sebenarnya fenomena orang-orang yang memakai kerudung dan melakukan hal yang naïf dan negative memang sangat banyak. Apalagi sekarang kerudung telah dibajak dari fungsi pokoknya. Kerudung ibarat asesoris yang dipergunakan untuk menunjang mode dan gaya hidup bukan lagi kerudung sebagai symbol ideologi dan penerapan nilai-nilai Qur’ani.

Selain banyak membicarakan tentang konflik yang berbau agama yang diwakili Iqbal dengan rival utama keluarganya sendiri, novel ini juga memaparkan masalah politik dan budaya yang tak pernah usai. Tokoh Drs. Budoyo seorang Kepala Cabang kebudayaan yang awalnya gandrung dengan Merlin harus memupus cintanya yang mulai bermekaran. Sebagai orang pemerintahan haram baginya menjalin asmara dengan seorang gadis yang ayahnya adalah seorang PKI. Dia oleh atasannya akhirnya dipindah tugaskan ke Surabaya. Pada alur cerita ini menegaskan bahwa kemerdekaan masyarakat belum mendapat tempat di negeri yang katanya menjunjung kebebasan hak asasi manusia. Bagaimanapun seorang Merlin yang tidak tahu menahu masalah politik harus ikut menanggung dosa turunan dari ayahnya yang belum pernah dilihatnya. Kita boleh melarang PKI namun kita juga harus adil dalam bersikap terhadap hal-hal seperti kasus Merlin ini. Hak-hak hidup, hak-hak social kemasyarakatan mereka jangan sampai kita abaikan hanya karena mereka dekat atau punya hubungan dengan partai komunis yang terlarang itu. Menarik seperti apa yang diucapkan Cak Nun bahwa apakah ketika kita berada di dalam kandang kambing kita juga menjadi seekor kambing ? tentu tidak kan.

Mungkin saja novel ini adalah fiksi, namun karya fiksi sekalipun tentu tidak terlepas dari akar kenyataan yang ada di tengah masyarakat. Novel yang memiliki dua sub judul ini sebenarnya sedang menggambarkan keadaan yang sebenarnya yang terjadi di masyarakat kita. Sosok Iqbal, Budoyo, Merlin, Nazirah, dan beberapa peran lain mungkin adalah kita sendiri. Dengan jujur dan berani Hasnan Singodimayan menuliskannya dalam sebuah novel yang singkat. Ia tidak takut dituduh sekuler dan liberal karena memang kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat kadang seperti itu. Pada awalnya saya sendiri juga agak underestimate dengan penulis, namun semua itu sirna setelah ending dari cerita novel ini ditutup dengan rencana keberangkatan Iqbal dan istrinya untuk menunaikan ibadah haji. Karena bagaimanapun juga ibadah haji dianggap merepresentasikan seseorang itu taat dan sadar  terhadap ajaran agama dan  memiliki nilai lebih dibanding orang yang belum menjalankannya. Lebih menghentak lagi ternyata saat acara walimatus safar orang yang ditunjuk untuk membaca ayat suci Al qur’an atau qira’at adalah Merlin mantan penari Gandrung, walau sebenarnya Iqbal telah menskenariokan itu semua.

Jadi seharusnya kita layak berterima kasih kepada penulis yang telah menyediakan sebuah kaca bengkala buat melihat sisi-sisi gelap yang mungkin belum kita sadari. Sisi-sisi yang kadang kita bungkus dengan kedok-kedok syar’I namun ternyata ambisi pribadi dan nafsu ingin menguasai yang kadang muncul dalam diri.

Terlepas dari semua itu semua novel ini bagus dan layak untuk kita baca dan kita renungi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekian. Jwt11/03/15

Monday, March 9, 2015

Cerita Kematian

Cerita Kematian

Kematian
Adakah yang lebih menakutkan
Dibanding sebuah kematian
Adakah yang lebih menyedihkan
Dibanding sebuah kematian
Air mata meleleh
Jerit tangis
menyayat
Pilu


Kematian
Kematian lebih dekat dari urat
Kematian lebih dulu hadir
Sebelum ruh kehidupan
Ditiupkan

Tak ada yang perlu ditakutkan
Dari kematian

Kematian bukanlah  misteri
Kematian adalah kepastian
Kematian tak pernah ingkar 
Kematian raga
Adalah hal yang lumrah
wajar
Biasa

Ada yang lebih menakutkan
Dibanding itu kematian
Ada hal yang lebih menyedihkan
Dibanding itu kematian
Kematian hati
Mati rasa
Mati nurani
Mati nalar
Dan mati
Dari kematian itu sendiri.
Jwt. 09/03/15

Sunday, March 8, 2015

“Seorang Ustadz Tidak Lebih Mulya Dibandingkan Seorang Pedagang”

“Seorang Ustadz Tidak Lebih Mulya Dibandingkan Seorang Pedagang”

 Gambar : http://2.bp.blogspot.com/
Kadang kita berfikir bahwa seorang Ustadz atau bahkan Kyai lebih mulya dibandingkan dengan profesi  lain, pedagang misalnya. Sehingga tidak jarang seseorang ingin dipanggil Ustadz, Kyai dan sejenisnya, agar ia kelihatan lebih mulia dibanding orang-orang dengan profesi selain itu. Kira-kira begitu yang menjadi pandangan umum di tengah masyarakat. Padahal kemuliaan seseorang  menurut pandangan Allah tentu tidaklah demikian. Dalam Al Qur’an dengan gamblang Allah berfirman :
إنّ أكرمكم عند الله أتقكم

Artinya “ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al Hujurat ayat : 13 )

Dari ayat ini sangat jelas bahwa Allah tidak menganggap profesi satu dengan profesi yang lain ada yang lebih tinggi dan unggul, semua sama di hadapan Allah Swt. Yang membedakannya adalah ketaqwaannya, keikhlasannya, amal sholehnya, dan ketundukannya kepada Allah Swt. Jadi jangan pernah menganggap profesi seseorang itu lebih rendah dengan profesi yang lain hanya dari sisi lahiriah saja, hanya dari sisi manusiawinya saja, lihatlah dengan cahaya Ilahiyyah biar segalanya tampak jelas dan tidak menipu. Karena Allah tidak memandang rupa kita tetapi Allah memandang kepada hati kita.

Seperti yang saya tuliskan dalam judul artikel bahwa profesi seorang ustadz tidak lebih mulia dibanding seorang pedagang, di sini bukan maksud saya untuk merendahkan antara satu profesi dengan profesi yang lain, dan bukan pula maksud saya membanding-bandingkan, karena nanti yang akan membedakan kemuliaan seseorang adalah hati, jiwa, dan kepasrahannya kepada Allah Swt bukan profesinya. Memang sangat banyak baik dari hadits maupun nash Al Qur’an yang menyebutkan kemuliaan seorang ahli ilmu, karena secara khusus para ustadz dan Kyai dianggap sebagai manifestasi dan pewaris para Nabi. Namun hal ini tidaklah menjadi alasan bahwa gelar ustadz maupun Kyai lebih mulia. Karena Rosulullah SAW sendiri juga telah memberikan jaminan akan kemuliaan pedagang jika dalam menjalankan aktivitas perdagangannya mengedepankan nilai-nilai luhur seperti apa yang diajarkan oleh Nabi. Seperti nilai kejujuran, tidak mengurangi timbangan, dan tidak menipu.

Bahkan lebih tegas lagi dalam haditsnya Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa para pedagang yang meneladani beliau, kedudukannya di akhirat kelak akan dibangkitkan bersama para Nabi, Siddiqin, dan para Syuhada’. Beliau bersabda :
لتَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِين مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

Artinya : Pedagang yang jujur dan terpercaya,  akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama para Nabi, para Siddiqin, dan para Syuhada’. (HR. At Tirmidzi dari Abu Sa’id al Khudri).

Kesimpulannya apapun, bagaimanapun, dan siapapun, Allah tidak peduli dengan gelar dan kemegahan keduniaan kita, karena Allah sendiri Maha Segalanya. Hanya orang-orang yang bertaqwa dan tunduk padanya kelak yang akan mendapatkan keberkahan dan keberuntungan. Jadi Kun Ma’allah, bersama Allah lah selalu. Sekian. Jwt. 09/03/15

Thursday, March 5, 2015

“Para Pedagang Adalah Para Pendosa”

“Para Pedagang Adalah Para Pendosa”
Foto : Koleksi BBS

Perdagangan adalah satu dari sekian banyak pekerjaan yang  dilakukan oleh masyarakat. Sejak zaman dahulu perdagangan telah ada dan menjadi bagian dari proses kehidupan. Lalu bagaimana hukumnya perdagangan ?. Dalam Al Qur’an jelas dikatakan bahwa jual beli atau perdagangan itu dihalalkan oleh Allah sebagaiamana Firman yang berbunyi :
واحلّ الله البيع وحرّم الرّبى
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba”

Lalu mengapa saya katakan dalam judul artikel singkat saya bahwa para pedagang itu adalah para pendosa ?. Sebenarnya yang mengatakan itu bukanlah saya, namun hal itu saya dapati dalam sebuah hadits Nabi yang berbunyi :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ : "إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ"
 قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ

Artinya : Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dlm berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/43, 99, 100, At Thahawi dalam Musykilul Atsar 3/12, Al Hakim 2/6-7)

Dalam hadits ini Rosulullah Saw mengatakan bahwa at Tujjar (pedagang) sama dengan al Fujjar (Pendosa), hanya beda di awal huruf saja. Pedagang menggunakan  huruf Ta’ sedang pendosa menggunakan huruf Fa’. Disini kita sedang diajari bahwa beda tipis antara perdagangan dengan perilaku dosa, oleh karena itu kita harus berhati-hati jangan sampai pekerjaan perdagangan yang kita lakukan menjerumuskan kita kepada perbuatan dosa. Karena seorang pedagang kadang sangatlah mudah melakukan tipu-tipu terhadap pembeli. Penipuan jelas-jelas perbuatan yang dilarang agama sehingga masuk dalam kategori dosa.

Jadi tidak semua kegiatan perdagangan adalah perbauatan dosa, karena Nabi telah memberikan pengecualian dan alasan dalam hadits diatas. Para pedagang adalah para pendosa jika dalam perdagangannya ia melakukan dusta dalam berkata, dan juga yang sering bersumpah namun sumpahnya palsu. Karena hal ini disadari atau kadang tanpa disadari banyak dilakukan oleh para pedagang agar dagangannya laris dan laku di pasaran. Sekian. Jwt.




Monday, March 2, 2015

Resensi Buku Satria Piningit

Resensi Buku Satria Piningit

Identitas Buku
Judul Buku          : Satria Piningit
                                  Menyingkap Tabir Falsafah Kepemimpinan Ratu Adil
Penulis                 : Sri Wintala Achmad
Penerbit              : Araska
Cetakan               : 1, Maret 2014
Tebal                     : 196 halaman
Kategori               : Falsafah

Ulasan buku
Kepemimpinan adalah hal yang mutlak bagi sebuah bangsa. Di tengah semrawutnya kepemimpinan di negeri kita ini, selalu ada harapan bahwa kelak akan muncul seorang pemimpin yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang seperti inilah yang sering disebut sebagai Satria Piningit Sang Ratu Adil.

Buku yang ditulis oleh Sri Wintala Achmad mulai dari bab I hingga bab V membabarkan siapa sebenarnya Satria Piningit itu. Dalam bab-bab itu dibahas tentang sasmita datangnya Satria Piningit yang bersumber dari literatur kuno semisal Wangsit Siliwangi, Serat Musarar Jayabaya, Serat Sabda palon, Serat Kalatidha, dan Serat Centini.

Oleh penulis kita diajak menyelami mutiara-mutiara filosofis Jawa yang adiluhung. Salah satu contohnya adalah ajaran falsafah kepemimpinan  Jawa yang disebut sebagai ajaran Hasta Brata, ajaran ini menjadi ciri kepemimpinan Sang Ratu Adil yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu :
1.       Mulat Jantraning Surya (meneladani sifat Matahari)
2.       Mulat Jantraning Candra (meneladani sifat Rembulan)
3.       Mulat Jantraning Kartika (meneladani sifat Bintang)
4.       Mulat Jantraning Angkasa (meneladani sifat Langit)
5.       Mulat Jantraning Maruta (meneladani sifat Angin)
6.       Mulat Jantraning Samudra (meneladani sifat  Lautan)
7.       Mulat Jantraning Dahana (meneladani sifat Api)
8.       Mulat Jantraning Bantala (meneladani sifat Tanah)

Alam memang dianggap sebagai guru sejati yang memberikan bimbingan kepada manusia. Karena alam semesta sejatinya adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu kita baca sebagaimana Kitab Tuhan lainnya yang diturunkan melalui seorang Rosul.

Pada bab VI hingga bab VIII, Sri Wintala Achmad mengajak pembaca untuk menelusuri dimensi jagad pewayangan yang menjadi salah satu sumber ajaran masyarakat Jawa. Selain itu kita juga diajak menjelajah waktu mengenang ulang prestasi yang ditorehkan raja-raja yang pernah memerintah di Nusantara hingga masa kepemimpinan Republik Indonesia. Dan ini adalah hal yang positif karena sejarah mengedukasi generasi selanjutnya agar meneladani hal-hal yang dianggap baik dan meninggalkan yang perlu untuk ditinggalkan. Hal ini selaras dengan filosofi Jawa “Mikul Dhuwur, Mendem Jero”.

Secara umum buku ini sangat baik, namun di bab IX saya kaget, buku yang dicetak bulan Maret 2014 ini secara khusus mengupas tentang sosok Jokowi yang dianggap perwujudan dari Satria Piningit. Saat itu adalah saat ramai-ramainya survei tentang sosok presiden periode 2014-2019. Dengan gaya seperti politikus profesional Sri Wintala Achmad memaparkan keterkaitan Jokowi dengan sosok yang dirindukan oleh banyak orang itu. Yang lebih tepatnya memaparkan biografi Jokowi yang mungkin memang dikagumi oleh penulis. Menurut saya ini menjadi kelemahan buku ini, walau kita memang tidak bisa memaksa orang untuk tidak condong kepada yang ia idolakan.

Kalau dalam prespektif sebagian masyarakat menganggap angka sembilan adalah angka keberuntungan dan angka keramat, maka di buku ini bab IX adalah bab yang sekarat, bab yang menjadikan buku ini terasa mengkhianati logika ilmu pengetahuan. Nilai-nilai filosofis yang dikemukakan dibuku ini dibajak dan digunakan sarana mendukung salah satu calon presiden. Semoga istilah “Karena nila setitik rusak susu sebelanga” telah dihapus dari kamus peribahasa Indonesia, agar saya khususnya bisa melihat sudut positif dalam buku ini. Sekian. Jwt.2.3.15