Friday, July 13, 2018

Inilah Tiga Langkah Memperpanjang SIM

Hampir setiap dari kita yang taat dan sadar hukum, dan bagian dari masyarakat yang memiliki kendaraan  bermotor tentu memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), baik SIM A, B, lebih-lebih SIM C.

Karena masa berlaku SIM yang cukup lama, yaitu lima tahunan kadang-kadang kita lupa untuk memperpanjang masa aktif dari sim kita. Ini tentu akan menjadi permasalahan bagi anda sendiri. Oleh karena itu, jika mendekati masa habis berlakunya SIM, saya sarankan  agar mengecek atau melingkari dan memberi tanda pada kalender, agar jangan sampai sim kita kadaluwarsa .

Jika SIM kita mati atau kadaluwarsa walaupun itu hanya sehari, menurut aturan baru dari pihak kepolisian, maka anda harus mengulangi tes untuk mendapatkan SIM. Dan itu tentu lebih merepotkan daripada sekedar memperpanjang masa berlakunya SIM kita.

Syarat untuk memperpanjang masa berlakunya sim cukup mudah. Berikut beberapa hal yang harus kita siapkan untuk mendapatkan perpanjangan masa berlakunya sim kita:
1. Cek kesehatan agar mendapatkan surat sehat dari pihak puskesmas ataupun pihak rumah sakit. 
2. Foto copy KTP dan map warna kuning 
3. Mengisi selembar formulir identitas

Setelah tiga langkah tersebut kita lalui, kemudian kita ambil nomor antrian yang telah disediakan oleh petugas, biasanya kita dibantu oleh petugas yang berjaga.

Langkah selanjutnya kita tinggal menunggu dipanggil oleh pihak kasir untuk melakukan pembayaran. Dari pihak kasir inilah kita akan mendapatkan selembar kertas tanda bukti pembayaran. 

Setelah mendapat tanda bukti pembayaran perpanjangan sim yang kita ajukan, kita tinggal menunggu sesi sidik jari dan pemotretan. Proses ini waktunya cukup singkat, tinggal sidik sepuluh jari di perangkat sidik jari, kemudian  herek-herek tanda tangan, dan cekrek selesai sudah proses pengajuan perpanjangan sim. Terakhir sim tinggal kita ambil di loket pengambilan sim. Singkat mudah dan simple. 

Terima kasih kepada pihak kepolisian yang telah memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Semoga ke depannya pelayanan publik yang sedemikian lebih mudah murah dan berkualitas. 

Joyo Juwoto

Tuesday, July 10, 2018

Tentang Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono


Tentang Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono
Oleh : Joyo Juwoto

Membaca puisi adalah salah satu cara saya meneguk kejernihan mata air nurani, menghirup kesegaran udara batiniyyah di alam kekosongan. Membaca puisi adalah  tentang bagaimana kita sibuk menengok ke dalam diri yang paling murni dari pada menengok ke kanan dan ke kiri. Membaca puisi adalah membaca ayat-ayat Tuhan yang tersirat dalam kelindan dan jalinan kata yang kadang sulit dimengerti, sebagaimana agama yang memiliki ruang iman dan keyakinan, begitu pula bagi saya membaca sebuah puisi kadang walau musykil, namun selalu ada ruang untuk percaya pada sebuah kekuatan dan daya kata.

Di sini tentu saya tidak ingin berdebat dan didebat tentang menyamakan atau mensejajarkan puisi dengan agama. Bukan, bukan itu yang saya maksudkan. Agama tetaplah agama yang saya junjung tinggi kesakralan dan kesuciannya, sedangkan puisi bisa menjadi bagian daripada penjabaran dan pengejawentahan dari nilai-nilai agama itu sendiri. Mungkin ini hampir mirip dengan tema yang lagi viral, Islam Nusantara.

Namun,saya tidak punya kapasitas maupun otoritas berbicara tentang Islam Nusantara, maka dari itu saya hanya ingin menulis dan membahas tentang puisi cinta Sapardi Djoko Damono yang pernah mampir di lembaran kenangan saya masa silam.

Membaca puisi cinta yang ditulis penyair legendaris Sapardi Djoko Damono cukup misterius atau entah apa saya sendiri susah mengungkapkan bahasa rasa ke dalam bahasa tulisan, puluhan tahun yang lalu, saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya membaca puisi Sapardi tentang cinta yang berjudul “Aku ingin.” Mungkin pembaca juga pernah membaca dan merasakan sebuah “rasa” ketika membaca puisi itu. Silakan dikenang kembali gerak rasa dan amukan kenangan tentang puisi cinta dari Sapardi.

Sapardi memang piawai dalam meramu kata hingga memiliki ruh dan daya. Ya, puisi-puisi sapardi sangat melegenda, seperti Hujan bulan Juni misalnya. Puisi Hujan Bulan Juni ini bahkan telah ditransformasikan menjadi sebuah novel, lalu difilmkan juga. Sungguh luar biasa.

Selain pintar bermain kata, dan mencipta puisi yang romantis dan menyentuh perasaan, menurut penilaian saya, Sapardi juga pandai melambungkan angan-angan dan perasaan berbunga-bunga para pembaca puisi-puisinya. Silakan simak puisi Sapardi yang sempat dikira puisinya Kahlil Gibran ini.
“Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat
diucapkan
kayu kepada api yang
menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu
dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan
kepada hujan yang
menjadikannya tiada”

Duh, serasa meleleh hati ini jika membaca puisi Sapardi ini, ada angan-angan yang mengangkasa dan perasaan yang melambung saat membaca bait-bait puisi Sapardi. Terasa cinta yang sakral dan suci dimiliki oleh seseorang yang mencintai orang lain. Cinta tanpa pamrih, cinta suci, cinta tanpa tanda.  Saya pun merasakan hal yang demikian, saudara-saudara.

Namun benarkah yang ditulis oleh Sapardi tentang cinta yang sedemikian hebohnya? Ah, ternyata tidak, alih-alih tentang cinta dan luapan kebahagiaan, justru puisi ini ditulis sebagai luapan patah hati seseorang yang ditinggalkan kekasih hatinya, duh...ini yang mungkin musibah diubah menjadi berkah. Saya mendengar langsung hal ini dikatakan oleh Sapardi di sebuah situs youtobe, sayang saya lupa apa judulnya.

Patah hati bukan untuk ditangisi, kegagalan  cinta bukan untuk diratapai, namun segala kegagalan-kegagalan itu diubah menjadi sebuah kata-kata yang luar biasa. Patah hati bagi para penyair adalah amunisi untuk terus berkarya, patah hati adalah bahan bakarnya para barisan penjomblo untuk menuangkan perasaan dan ide-idenya ke dalam sebuah tulisan. Kadang-kadang saya sempat berfikir, apakah para barisan patah hati yang susah move on itu memang sengaja memelihara kedukaannya demi sebuah asa? Ah, semoga tidak ada lagi para peternak patah hati yang tidak bahagia.


Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis


Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis
Oleh : Joyo Juwoto

Aktivitas menulis adalah sebuah keahlian yang harus selalu diasah setiap waktu, tidak jarang setelah kita vakum beberapa saat dari aktivitas menggerakkan jari di tombol keyboard, atau sekedar membuat coretan di selembar kertas terasa sangat berat. Ada tembok tebal yang menjadi penghalang untuk menuangkan ide dari pikiran melalui sebuah tulisan. Pokoknya bingung, mau memulai menulis dari mana, dan apa yang akan kita tulis.

Saya sendiri belum berwawancara dengan para penulis handal dan profesional, apakah kondisi yang sedemikian ini pernah mereka rasakan atau tidak. Jadi apa yang saya tuliskan di paragraf pertama mungkin hanya terjadi pada penulis pemula yang masih mencari-cari bentuk sebuah tulisan. Saya yang memang masih  amatiran dalam dunia tulis-menulis sangat merasakan kemampatan ide dalam membuat sebuah tulisan. Walau itu sebuah tulisan yang sangat sederhana sekalipun.

Jika  seseorang sudah membiasakan diri dalam menulis, dan berkomitmen untuk selalu menulis setiap hari, menurut apa yang saya amati di group-group literasi, seakan ada saja yang mereka tulis, dari hal yang sederhana hingga ke hal-hal yang rumit bin njlimet, ilmiah, dan bahkan bernas. Hal ini yang mungkin masih menjadi masalah dan kendala bagi para rombongan penulis pemula dan amatiran seperti saya.

Di bulan-bulan lalu hampir setiap dua hari sekali ada saja tema yang bisa saya tulis, dalam sebulan paling tidak ada sekitar 15-19 buah tulisan yang saya hasilkan. Namun bulan kemarin (Juni) saya baru bisa memproduksi 5 judul tulisan, sungguh kemunduran yang sangat ekstrim. Untuk bangkit dari keterpurukan tidak menulis ternyata juga tidak mudah, perlu semangat dan asupan gisi literasi untuk mencairkan kebekuan otak. Di bulan Juli hingga saat ini baru tulisan ini yang berusaha saya buat. Dan saya bertekad tulisan ini harus sampai di titik paragraf terakhir.

Menilik dari kebekuan saya dalam menulis ada beberapa sebab yang bisa saya petakan, diantaranya adalah:

Pertama, kurangnya tekad untuk selalu menulis setiap hari. Ya, benar tekad ini sangat menentukan seseorang untuk menulis, dan saya kira bukan hanya dalam hal menulis saja, semua hal membutuhkan kata tekad. Jika tidak ada kata tekad, maka selamanya kita tidak akan melakukan apapun kecuali hanya kesia-siaan belaka.

Kedua, Kurangnya istiqamah dalam menulis. Jika seseorang sudah mengikrarkan diri menjadi penulis, atau setidaknya punya keinginan menulis, maka sifat istiqamah ini sangat penting sekali. Usahakan setiap hari harus menulis, sesibuk apapun jangan sampai berdiam diri tanpa menulis sedikitpun, sebuah tema tulisan tidak harus jadi dalam satu waktu dan tanpa berpindah tempat duduk, kita bisa menuliskannya secara bertahap, yang penting istiqamah setiap hari.

Ketiga, Kurang asupan gizi dalam membaca. Aktivitas membaca memang tidak ada kaitannya dengan aktivitas menulis secara langsung,tetapi diakui atau tidak tanpa membaca seseorang akan kebingungan mau menulis. Membaca di sini tidak hanya sekedar membaca buku, namun membaca dalam arti lebih luas lagi yaitu melihat lingkungan dan sekeliling kita. Jika seseorang mau menulis tentu ia harus pintar-pintar membaca.

Keempat, malas beli buku. Mungkin ini bisa dikatakan sesuatu yang mengada-ada, atau hanya sekedar mitos atau pun iklannya bakul buku dan penulis, tapi menurut pengalaman saya pribadi, saya punya tekad menulis karena saya banyak membeli buku. Dengan membeli buku akhirnya terbit dalam hati saya keinginan untuk menulis, walau hasil tulisan saya belum sebanyak buku yang saya beli, tetapi dari kecintaan beli buku ini akhirnya memantik kecintaan saya dalam menulis. Mendapatkan sebuah buku memang tidak hanya dengan cara membeli, bisa jadi dari hadiah teman, pinjam dari teman, pinjam dari perpustakaan dan beragam cara lainnya, namun yakinlah dengan banyak membeli buku maka keinginan menulis itu akan muncul, setidaknya begitulah yang selama ini saya yakini.

Demikian beberapa hal yang saya rasakan ketika menghadapi bencana kebuntuan menulis itu melanda. Walau secara teori saya mampu mendeteksi faktor dan sebab kebuntuan saya dalam menulis, tetapi lagi-lagi saya tetap kesulitan dan gagal jika mengalami masa kebuntuan. Karena pada dasarnya jika ingin menulis jangan banyak berteori dan bermotivasi, cukup lakukan tiga hal saja, menulis, menulis, dan terus menulis. Jangan pernah berhenti menggerakkan jari, walau nanti yang muncul kata yang tak terbaca sekalipun. Wjdkvbkdslkmlkagds,rbhdvisjkan,,,,jkbdjhd.vdsj.ksafb. Salam Literasi.