Monday, June 24, 2019

Selaksa Do'a dan Air Mata

Selaksa Do'a dan Air Mata
Oleh: Joyo Juwoto

Sajak-sajakmu sungguh memilu
Untaian kalimat di setiap baitmu terasa mengharu sendu
Diksi-diksimu mewakili jeritan hati yang tersakiti

Ada kepahitan yang kau sembunyikan dalam senyuman
Ada kepedihan yang kau simpan dalam genggaman

Kusediakan selaksa doa tuk sembuhkan sembilu-sembilu kepedihan

Kesediakan selaksa air mata
Tuk membasuh luka duka lara

Ah, selaksa do'a dan air mata
Kupanjatkan ke langit jiwa
Kugelar dalam altar suci permohonan

Kutaburkan bunga-bunga doa dan harapan
Memohon anugerah dan kekuatan
Dalam dekapan cinta dan  kasih sayang Tuhan

Bangilan, 23 Juni 2019

Saturday, June 22, 2019

Mekar Sakura di Langit Senja

Mekar Sakura di Langit Senja

Di pelataran senja yang merona
saat langit berwarna jingga
Sakura tersenyum indah menggoda jiwa

Apapun tentangmu sakuraku,  adalah citra keindahan
Mekarmu memacu harapan
Bagi cinta dan kesetiaan

Mekar Sakura di langit senja
Bercerita di setiap helai kelopakmu
Pada binar yang memerah indah nan merekah

Mempesona bagi jiwa-jiwa
Yang terbakar  asmaradahana

Pada sepasang kekasih
Yang berjanji di penghujung musim semi
Saling bertemu dalam taman rindu yang menggebu

Mekar Sakura di langit senja
Menyatu dalam dekap ruang rindu

Mekar Sakura di langit senja
Meluruh runtuh
Dalam kesatuan jiwa.


*Bangilan, Di bawah pohon imaji Sakura*.

Friday, June 21, 2019

Mata Air Keberkahan Bumi Tremas Pacitan

Mata Air Keberkahan Bumi Tremas Pacitan
Oleh: Joyo Juwoto

Pesantren Tremas Pacitan berada di ujung selatan pulau Jawa, jaraknya dari tempat saya tinggal sekitar 200 KM. Untuk mencapai lokasi pesantren bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Medan dan viewnya  cukup bagus bagi yang suka petualang.

Secara umum letak geografis  daerah Pacitan bagian utara sebagian besar berkontur pegunungan yang kering dan panas di musim kemarau,  sedang Pacitan bagian selatan berupa pantai-pantai yang cukup menawan.

Jalur dari Ponorogo menuju Pacitan cukup indah namun sangat menantang. Di satu sisi jalan raya Pacitan berupa tebing-tebing yang cukup tinggi, sedang di sisi lainnya adalah bentangan sungai. Sayangnya waktu saya lewat kondisi sungai mengering. Saya membayangkan betapa indahnya jika sungainya mengalir jernih. Eksotik sekali.

Alhamdulillah, walau bukan sebagai santri pondok Tremas, kemarin saat liburan lebaran saya bersama teman-teman santri berkesempatan menginjakkan kaki kami di bumi Tremas yang penuh barakah. Kami sowan kepada Kiai Luqman, salah satu pengasuh pesantren Tremas generasi ke enam.

"Pondok pesantren Tremas termasuk salah pondok tertua di Nusantara". "Pondok Tremas ini berdiri sekitar tahun 1820 M, sekitar jaman Pangeran Diponegoro." Begitu dawuhnya Mbah Yai Luqman saat kami sowan  ke ndalem beliau.

Saya sendiri awal kali mendengar dan mengenal nama Pondok Tremas dari dawuhnya Mbah Yai saya,  Almaghfurlah KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Saat itu beliau bercerita kalau adik iparnya nyantri di sana.

Menurut kisah yang beredar di kalangan santri, jika mondok di Tremas kuat Istiqomah mondok dan tidak pulang selama tiga tahun insyaallah menjadi orang yang alim, kalaupun jika tidak alim insyaallah diganjar barakah gampang golek rejeki. Itu yang pernah diceritakan oleh Mbah Yai saya dulu.

Kisah seperti ini tentu bukan isapan jempol semata, tercatat banyak santri Tremas yang berhasil dan akhirnya menjadi kiai yang alim dan masyhur. Bahkan Kiai Mahfudz At-Termasie termasuk punjernya Kiai di Nusantara. Pendiri NU Mbah Hasyim Asy'ari  pernah nyantri di Tremas, KH. Munawir Krapyak Jogjakarta juga santri Tremas, salah satu pendiri Gontor, KH. Sahal juga pernah menjadi santri di Tremas. Dan masih banyak Kiai-kiai yang pernah menyesap mata air keberkahan dari pesantren Tremas ini.

Semoga keberkahan bumi Tremas menyebar semakin luas, dan memberikan keberkahan dan kebaikan bagi bumi Nusantara tercinta ini. Aamiin. Salam Santri sowan lan Sungkeman.